Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Andika tahu tentang saudara tiri Kasih


__ADS_3

"Dika, aku mohon." Kasih menyatukan kedua tangan nya di depan wajah Andika " Jangan beritahu siapapun, kalau aku saudara tiri Cempaka!" pinta Kasih dengan wajah memelas.


Andika terdiam, dia juga tidak bermaksud ingin mengurusi kehidupan Kasih. Andika hanya kasian melihat Kasih, jika harus terus di bully oleh Cempaka.


" Aku tidak akan memberitahu soal--" ucapan berhenti kala melihat Satria berdiri di belakang Kasih, " soal aku mencintaimu!" Andika memberi isyarat kepada Kasih dengan kedua matanya.


Terlihat Kasih membulatkan kedua bola matanya, karena terkejut mendengar penuturan Andika.


Seketika Satria pun emosi, kala mendengar Andika menyatakan perasaannya pada Kasih.


" Andika, apa yang barusan kau ucapkan?" tegur Satria dari arah belakang Kasih.


Kasih langsung memutar badannya, dia terkejut dengan suara Satria dari arah belakangnya.


" Satria, kenapa berbicara keras di belakangku?" Kasih mendengus kesal ke arah Satria. Dia terkejut dengan kehadiran Satria di belakangnya.


" Aku hanya memastikan, jika Andika juga menyukaimu!" ucap Satria lemah.


" Tapi tidak harus nengejutkan aku seperti itu," ungkap Kasih.


" Aku memang menyukai Kasih, lantas apa tidak boleh?" Andika mendekati Kasih seraya merangkul pundaknya.


Kasih terlihat jengah, saat di rangkul oleh Andika.


" Kita hanya berpura-pura!" Andika berbisik di telinga Kasih.


Kasih berpikir, inilah kesempatan dia untuk menjauh dari Satria. Karena Cempaka telah mengancamnya, agar tidak mendekati Satria.


" Ah iya, kami memang sudah jadian!" ucap Kasih sambil melingkarkan tangannya di pinggang Andika.


Satria terlihat geram melihat Kasih, yang begitu mesra dengan Andika. Satria pun langsung bergegas pergi, meninggalkan mereka berdua.


Setelah Satria berjalan menjauh, Kasih langsung melepaskan tangannya dari pinggang Andika.


" Huft, untung aja gak ketahuan!" ucap Kasih seraya mengelus dadanya.


" Memangnya Cempaka mengancam kamu?" tanya Andika menyelidik.


" Iya," jawab dengan wajah yang tertunduk lesu.


" Aku mohon, kamu jangan memberitahu siapapun tentang hubunganku dengan Cempaka," pinta Kasih memohon.


" Aku tidak akan menjadi ember yang bocor. Tenang saja, rahasiamu aman bersamaku." Andika sambil tersenyum ke arah Kasih.


" Terima kasih," ucap Kasih yang langsung pergi meninggalkan Andika.


Andika menatap nanar kepergian Kasih, dia begitu teringat dengan adiknya yang telah lama meninggal.

__ADS_1


Jam istirahat berakhir, seluruh siswa kembali ke bangku masing-masing.


Kasih terkejut saat kursinya tidak ada, berikut tasnya.


" Satria, dimana bangkuku?" hardik Kasih yang berdiri di sebelah Satria.


Satria terlihat mengacuhkan Kasih, sikapnya kembali berubah.


" Satria, dimana bangkuku?" Kasih menggebrak mejanya. Hingga membuat seluruh teman-temannya menoleh ke arahnya.


" Aku sudah buang!" ucap Satria kasar.


" Satria, apa yang telah kau lakukan?" tanya Kasih seraya mencengkeram lengan Satria.


" Dengar Kasih, kamu cari saja tempat duduk yang lain. Asal jangan duduk di sini lagi!" bentak Satria.


Kasih terlihat kesal dengan sikap Satria, yang kekanak-kanakkan. Segera Kasih mencari bangku dan tasnya. Dia berjalan ke arah depan kelas, dan juga tempat sampah. Berharap menemukan tasnya, seperti Cempaka membuangnya ke dalam tong sampah.


Kasih tak juga menemukan tas dan bangkunya. Dia pun berjalan menyusuri toilet dan juga gudang. Tak juga menemukan tas dan bangkunya. Seketika kakinya lemas dan dia pun duduk, di sebelah tempat pembuangan sampah. Kasih membuka kacamata tebalnya, lalu membersihkannya dengan sehelai saputangan berwarna putih.


Peluh sudah keringatnya membanjiri kening Kasih. Dia sudah sangat lelah menyusuri setiap lorong dan juga tempat-tempat yang tidak pernah di jangkau oleh para siswa.


Kasih pun mengenakan kacamatanya, dan melihat samar-samar ke arah tempat pembuangan sampah.


Kasih melihat bangku yang terbalik, dengan tas di bawahnya. Segera Kasih bergegas, menghampiri bangku dan tas.


" Tasku," ucapnya lirih seraya membalikkan bangku dan juga tasnya.


Kasih menyeret bangkunya, menuju lorong kelas.


Tiba-tiba ada seorang guru, yang menghadang langkah Kasih.


" Kenapa kamu membawa bangku?" tanya seorang guru laki-laki di hadapan Kasih.


Kasih yang berjalan sambil menunduk, langsung mendongak untuk melihat guru di hadapannya.


" Pak Nino!" ucap Kasih lirih seraya mengusap air matanya.


" Ada apa dengan bangku dan tasmu?" tanya Nino yang menghampiri Kasih.


" Seseorang telah membuang bangku dan tasku, ke tempat pembuangan sampah." Kasih mengadu pada Nino.


Nino segera membawa bangku, dengan mengangkatnya ke atas pundak.


" Dimana kelasmu?" tanya Nino.


" Kelas 12C, Pak!" jawab Kasih sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


" Kelas 12C?" gumam Nino," Pasti kerjaan Satria," batinnya.


Nino sangat tahu, pasti dengan sifat adiknya yang suka membully anak yang tidak dia sukai.


Nino berjalan mendahului Kasih, dengan membawa bangku di atas pundaknya.


Seluruh siswi terpana kala melihat Nino membawa bangku, melewati kelas mereka.


Sepanjang perjalanan menuju kelas 12C, para siswi menoleh ke arah Nino yang sedang mengangkat bangku.


Namun mereka kecewa, saar melihat Kasih mengikuti Nino dari arah belakangnya.


Nino dan Kasih telah sampai di kelas 12C, sudah ada bu Lina yang mengajar di depan kelas.


" Permisi, Bu!" sapa Nino yang sudah masuk ke dalam kelas sambil membawa bangku di pundaknya.


" Iya, Pak Nino. Kok bisa bawa bangku?" tanya Lina bingung. " Loh kamu, Kasih! Kenapa bawa tas?" tanyanya semakin bingung


Nino meletakkan bangku, lalu melihat ke arah bangku Satria. Ternyata di sebelah Satria tidak ada bangku, dan yang pasti bangku yang dia bawa adalah ulah Satria. Nino memanggil adik kesayangannya.


" Satria ..." panggil Nino sambil menatap tajam ke arah Satria


Satria terkejut, ketika sang kakak memanggil namanya. Kedua bola matanya, seolah-olah ingin keluar dari tempatnya.


" Kenapa bengong? Cepat maju!" teriak Nino dengan tegas.


Semua siswa melihat ke arah Satria, mereka tidak tahu kenapa Nino begitu marah kepadanya.


Satria pun bangun dari duduknya, dan berjalan menghampiri Nino.


" Bawa bangku ini, kembali ke tempatnya!" perintah Nino seraya melipat tangan di dadanya.


"Maksudnya apa, Pak?" tanya Satria yang pura-pura tidak mengerti dengan perintah sang kakak.


" Apa perlu, aku lihat di rekaman cctv?" tekan Nino.


Satria pun mengalah, dia tidak bisa menyaingi kepintaran sang kakak. Satria mengangkat bangku di hadapannya, lalu membawanya ke tempat semula.


" Kamu, kembali ke tempat duduk kamu!" perintah Nino yang memutar badannya menghadap Kasih.


" Terima kasih, Pak!" ucap Kasih sambil membetulkan kacamatanya yang merosot ke hidung.


Kasih pun berjalan menuju tempat duduknya. Dia melengos melihat Satria, saat sudah duduk di bangku nya.


Satria nampak menahan amarahnya, karena rencananya di gagalkan oleh Nino.


" Baik, Bu. Saya pamit keluar," ucap Nino seraya melempar senyum kepada Lina.

__ADS_1


" Yah!" Siswi perempuan semua bersorak, mereka kecewa karena Nino pergi dari kelas mereka.


" Anak-anak, kita kembali belajar!" Lina menyerukan untuk kembali belajar.


__ADS_2