
Mereka pun berjalan menuju arah loket yang berada di sudut kanan. Terdapat beberapa stand makanan yang berjajar berseberangan dengan loket.
"Kamu mau nonton film apa?" tanya Satria yang telah berdiri di depan papan reklame.
"Aku mau nonton film horor," jawab Kasih.
"Memangnya kamu berani?" tanya Satria.
"Memangnya ada apa sama film horor, itu cuma film 'kan!" ucap Kasih menantang.
"Iya sudah, aku akan membeli tiket. Kamu tunggu di situ," ucap Satria seraya menunjuk bangku yang berada di belakang mereka.
Satria pun berjalan menuju ke arah loket, sedangkan Kasih menuju ke arah bangku tempat menunggu pintu studio di buka.
"Permisi, Mbak aku pesan tiket film horor dua." Satria memesan pada resepsionis.
"Mau duduk di sebelah mana, Kak?" tanya resepsionis seraya menunjukkan daftar bangku yang telah terisi.
Satria pun memilih bangku yang belum di pesan oleh pengunjung.
"Yang paling tengah, dua bangku," pesan Satria seraya mengeluarkan dompetnya. Kemudian dia mengeluarkan kartu sakti yang di berikan oleh sang papa. Sayangnya kartu sakti itu hanya bisa di pakai pada pusat perbelanjaan modern. Sedangkan untuk di bawa ke pasar tradisional maupun warung kelontong, pasti tidak akan bisa di pakai.
Usai memesan tiket, Satria langsung berjalan menghampiri Kasih. Namun dia membelokkan langkahnya menuju stand makanan.
Satria ingin membeli dua bungkus popcorn dan sebotol cola serta sebotol teh manis.
__ADS_1
Saat akan memutar badannya, Satria di tabrak oleh anak kecil seusia sepuluh tahun.
"Bugh!" Jatuhlah dua bungkus popcorn di tangan, hingga membuat berhamburan di lantai.
"Hey!" panggil Satria dengan nada emosi sambil memungut pop corn yang sudah berserakan.
"Maaf," ucap salah seorang wanita yang datang menghampiri Satria, yang sedang berjongkok memungut popcorn.
"Bu, anaknya jagain dong!" ucap Satria kesal tanpa melihat ke arah wanita di hadapannya.
"Maaf, sekali lagi saya minta maaf. Akan saya belikan lagi popcornnya," ucapnya yang berjalan menuju stand popcorn.
"Sudah, Mas. Biar saya yang sapu," ucap office boy yang datang membawa sapu dan pengki.
Kemudian datang Kasih yang menghampiri Satria.
"Popcornnya jatuh," ucap Satria dengan nada kesal sambil melihat ke arah anak kecil di hadapannya.
"Satria, kamu jangan pelototin dia kayak gitu. Dia masih kecil," ucap Kasih yang menenangkan Satria.
"Ini, Mas popcornnya." Ibu dari anak yang menjatuhkan popcorn pun akhirnya memberikan popcorn yang baru pada Satria.
Satria pun menoleh ke arah wanita yang ingin memberikannya popcorn.
Namun Satria urungkan kala dia terkejut, melihat wajah wanita di hadapannya.
__ADS_1
"Mama!" ucap Satria pelan.
Wanita di hadapan Satria hanya terdiam mematung, saat anak muda di hadapannya menyebut dirinya adalah mama.
Satria langsung memutar badannya dan meninggalkan wanita, yang sedang memegang dua bungkus popcorn.
Satria menuntun Kasih meninggalkan bioskop, padahal acaranya akan di mulai.
"Sat, kita mau kemana?" tanya Kasih yang tangannya di tarik oleh Satria.
"Pulang!" jawab Satria.
"Iya, tapi kita belum nonton." Kasih mencoba melepaskan tangan Satria.
Setelah tersadar wanita itu langsung memanggil nama Satria.
"Satria..." panggil Rosalina, mantan istri Hendi yang pergi setelah tahu suaminya bangkrut.
Rosalina mencoba mengejar Satria, namun langkahnya terhenti kala anaknya yang berumur sepuluh tahun memegang kakinya.
Satria terus berjalan meninggalkan ruangan bioskop.
"Satria, kamu sudah beli tiket. Kenapa kita harus pulang?" tanya Kasih.
"Kasih, aku bilang pulang. Atau kita ke tempat lain saja, karena aku tidak mau ketemu sama wanita itu!" ucap Satria.
__ADS_1
jangan lupa untuk like dan komentar