Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Kekaguman Satria


__ADS_3

Satria terlihat geram pada Andika, yang selalu mengejar Kasih. Kemudian Satria langsung menyusul Andika, lalu menarik lengannya.


"Dika, sebaiknya kamu pulang. Karena sudah mau malam," ucap Satria seraya menarik lengan Andika.


Andika menyadari, jika Satria memang cemburu kepadanya. Akhirnya Andika mengalah, dia langsung menuruti ucapan Satria.


"Baiklah, aku pulang! Salam, untuk Kasih," ucap Andika seraya mengedipkan satu matanya ke arah Satria.


"Ih..." Satria terlihat jijik melihat tingkah Andika.


Kemudian Satria kembali ke tempat duduknya. Dia menunggu Kasih membuatkan jus jeruk.


"Ini jusnya," ucap Kasih seraya memberikan segelas jus pada Satria. "Loh, Andika mana?" tanya Kasih


"Aku sudah suruh pulang," ucap Satria seraya tersenyum licik.

__ADS_1


Kemudian Kasih langsung memutar badannya, ingin pergi meninggalkan Satria. Namun langkah Kasih terhenti, saat tangannya di tarik oleh Satria. Sontak membuat tubuh Kasih terhuyung jatuh ke pelukan Satria. Membuat kedua netra mereka saling bertemu, dengan jarak yang begitu dekat.


Kini Kasih telah duduk di pangkuan Satria. Ada perasaan yang berbeda saat Satria, memandang kedua mata Kasih.


"Kenapa, matanya begitu indah!" Satria berucap dalam hati seraya menatap kedua mata Kasih dengan kagum.


Namun tidak bagi Kasih, dia masih sangat membenci Satria karena telah memperkosanya.


Kasih langsung berdiri, dan pergi meninggalkan Satria.


Segera Kasih berjalan menuju kamarnya, lalu menutup pintunya rapat-rapat.


"Oh Tuhan, kenapa jantungku tiba-tiba berdebar kencang? Aku tidak ingin berhubungan terlalu jauh dengan Satria. Sesudah lulus nanti, aku akan meminta cerai darinya. Lalu memilih jalan hidupku sendiri," gumam Kasih seraya menyandarkan tubuhnya di balik pintu.


Kemudian Kasih langsung berjalan menuju tempat tidur nya. Dia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Berharap degupan jantung nya yang sedari tadi berdebar-debar, lekas berdenyut normal.

__ADS_1


"Ayah, ibu, sekarang aku hanya hidup sendiri. Aku rindu belaian ibu, di saat aku sedang bersedih. Walaupun ayah hanya sesekali menemui ku, namun saat dia hadir di hadapan ku, mampu menjadi teman curhat ku. Aku rindu kalian, kenapa kalian tega meninggalkan aku sendiri di dunia ini!" Kasih menatap langit-langit kamarnya, dengan mata yang telah berembun. Setitik demi setitik mulai jatuh membasahi pelipis nya. Sungguh amat sedih saat membayangkan kedua orang tuanya, yang telah tiada.


Tak terasa kedua matanya mulai terpejam, dan Kasih pun sudah tertidur pulas.


Satria merasa gelisah, memikirkan wajah Kasih yang tadi begitu dekat dengannya.


Kenapa bayangan Kasih tak juga hilang dari ingatannya? Padahal Satria sudah menutup wajahnya dengan bantal. Namun kedua matanya tetap tak bisa di pejamkan.


Karena perasaan gelisah itu, akhirnya Satria berniat untuk melihat Kasih. Ingin mengetahui keberadaan Kasih, apakah dia sudah tertidur atau belum?


"Ish, kenapa aku gak bisa ngelupain wajahnya?" gumam Satria seraya mengacak-acak rambutnya.


Akhirnya Satria bangkit dari tidurnya, dan berjalan menuju kamar Kasih.


Kebetulan waktu masih menunjukkan pukul delapan malam. Nino dan Hendi belum juga kembali dari aktivitas mereka masing-masing.

__ADS_1


Langkah nya terhenti, saat sudah sampai di depan pintu kamar nya. Satria membuka pintunya dengan perlahan. Kemudian kepalanya sedikit masuk untuk mengintip Kasih.


"Kasih!" Satria mencoba memanggil Kasih dengan suara berbisik.


__ADS_2