
Kasih telah sampai di rumah sakit, kemudian dia langsung menuju ke kamar sang ayah. Sedangkan Andika pamit pulang, karena besok akan sekolah.
Kasih segera menuju kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.
Nino telah sampai di rumah, usai melihat kekasih nya bekerja yang mendapat giliran shift malam.
"Satria..." Suara Nino menggelegar, membangunkan semua orang yang sedang tertidur lelap.
" Nino, kamu kenapa baru sampai sudah marah-marah?" tanya Hendi yang terbangun karena teriakan Nino.
"Satria tadi pingsan dan di antar teman-teman nya. Sekarang ada di kamarnya, sedang tertidur." Hendi menjelaskan pada Nino.
Nino langsung bergegas ke kamar Satria. Langkah kakinya di percepat, karena dia sudah sangat emosi.
Pintu dibuka dengan kasar oleh Nino. "Brak..."
"Bangun..." teriak Nino yang langsung menghampiri Satria lalu membangunkannya dengan mencengkeram bajunya.
"Kak, apa yang kau lakukan?" Satria terkejut saat Nino mencengkeram bajunya.
"Kau telah memperkosa, Kasih!" teriak Nino yang di dengar oleh Hendi.
"Apa! Kamu jangan mengada-ada, Nino!" Hardik Hendi yang menghampiri kedua anaknya.
"Aku tidak mengada-ada, Pah! Kenyataanya, gadis yang di perkosa oleh Satria, kini sedang menunggu ayahnya di rumah sakit!" ucap Nino penuh penekanan.
"Apa betul itu, Satria?" Hendi menginterogasi Satria.
Satria menundukkan kepalanya, dia tidak ingat dengan kejadian yang dia alami tadi.
"Aku tidak ingat, Pah!" ucap Satria seraya mengacak rambutnya.
"Papa tidak mengajarkan anak menjadi bajingan, dan siapa yang mengajarimu memperkosa gadis?" tanya Hendi penuh penekanan.
"Aku tidak tahu, Pah!" Satria merasa frustasi, dia benar-benar tidak ingat. "Aku tidak ingat," ucap Satria sambil memukul-mukul kepalanya.
"Iya sudah, besok saja kamu jelaskan." Hendi pergi meninggalkan kamar Satria.
Begitu juga Nino, yang juga pergi meninggalkan kamar Satria dengan wajah kesal.
***
__ADS_1
Pagi pun tiba, Satria telah rapi mengenakan seragam nya. Dia bergegas menuju ruang makan untuk sarapan bersama-sama.
"Kak, siapa yang memberitahu soal aku yang memperkosa Kasih?" tanya Satria yang baru saja datang dari arah kamarnya.
"Aku tidak perlu menjelaskan, biar nanti saksi mata saja yang memberitahumu." Nino berkata sinis pada adiknya.
Nino memang tidak menyukai sikap Satria yang manja dan Badung. Satria sering sekali mem-bully teman-teman yang tidak dia sukai. Dan sudah banyak laporan tentang kenakalan Satria. Hanya saja para guru tidak berani menindak tegas Satria. Mereka takut di pecat, jika telah menghukum Satria.
Satria pun terdiam, dia langsung bergegas pergi ke sekolah menggunakan motor sportnya.
Sepanjang perjalanan, Satria terus memikirkan Kasih. Dan juga tuduhan dari sang kakak. Apakah benar, dia telah melakukan perbuatan sekeji itu pada Kasih?
Padahal untuk pacaran saja, Satria sangat malas. Karena memiliki trauma tentang perempuan. Apalagi harus menyentuh tubuh seorang gadis cupu.
Sesampai nya di sekolah, Satria langsung memarkir motor nya di halaman sekolah.
"Satria..." Suara yang tak asing di telinganya.
"Ada apa, Andika?" tanya Satria sambil melihat Andika dengan tatapan malas.
"Kamu harus bertanggung jawab! Karena ulah kamu, ayah Kasih jadi masuk rumah sakit..." ucap Andika seraya mencengkeram kerah baju Satria.
"Andika, aku benar-benar tidak mengerti tentang tuduhan itu!" Satria benar-benar lupa dengan kejadian semalam.
Satria pun masuk ke dalam kelas, dia menempati bangkunya. Terlihat bangku Kasih masih kosong. Hingga bel berbunyi, Kasih juga belum datang.
Semua mata tertuju pada Satria, tetapi mereka tidak berani menyapa ataupun menegur Satria.
Karena para siswa akan tahu akibatnya, jika mengusik pemuda populer di sekolah.
Terlebih lagi Cempaka mengancam teman-temannya, untuk tidak menceritakan kejadian tadi malam. Karena Cempaka takut kejahatannya akan terbongkar.
Dari jauh Cempaka terlihat ketakutan, saat melihat wajah dingin Satria. Jika saja Satria mengetahui soal minuman yang dia habiskan adalah untuk Kasih, pastilah tamat riwayatnya.
Usai jam pelajaran, para siswa pun beristirahat. Andika mendekati Cempaka dengan raut wajah yang dingin.
"Cempaka, kenapa ibumu tega mengusir Kasih dari rumah?" tanya Andika saat Cempaka akan bergegas meninggalkan bangkunya.
"Apa maksudmu, Andika?" Cempaka berakting, dia adalah gadis yang pandai bersilat lidah.
Cempaka tidak tahu, jika Andika adalah sepupu dari Satria. Sehingga membuat Cempaka meremehkannya, walaupun wajah Andika tak kalah tampan dari Satria.
__ADS_1
"Kasih itu saudara tiri kamu, kenapa tak ada rasa kasihan padanya untuk saat ini!" Andika menegaskan.
"Maaf, aku gak ada urusan sama Kasih." Cempaka menggeser tubuh Andika dengan jari telunjuknya.
"Cempaka, kau akan terima balasannya jika menyakiti orang yang lemah." Andika mengancam Cempaka.
Cempaka bergidik ngeri, saat Andika mengancamnya. Dia langsung menuju kantin, sambil mempercepat langkah kakinya.
Satria tidak keluar kelas, dia masih menetap di bangkunya. Satria sedang berpikir, tentang kejadian semalam. Dia bertanya dengan teman satu kelas yang hadir di acara ulang tahun Cempaka. Namun teman-temannya menjawab tidak tahu menahu.
Teman-temannya tidak ada yang bergosip, dan gurunya pun tidak ada yang menegurnya. Satria benar-benar tidak tahu tentang kejadian semalam.
Yang Satria ingat adalah saat dirinya menarik tangan Kasih dan membawanya ke ruang karaoke.
Satria ingin meminta maaf pada Kasih, tentang sikapnya yang telah membuang bangku ke tempat sampah. Setelah itu, yang dia tahu telah berada di dalam kamarnya.
Bel pulang berbunyi, Andika menghampiri Satria yang sudah berkemas.
"Ikut, aku!" Andika menarik tangan Satria.
"Heh, sabar bro!" ucap Satria yang menepis tangan Andika.
"Ikut aku ke rumah sakit," ucap Andika yang menatap tajam ke arah Satria.
"Baiklah, aku akan ikut sama kamu." Satria langsung menggendong tasnya, dan berjalan mengikuti Andika.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran motor.
"Ingat, kamu jangan pernah kabur dari masalah yang satu ini. Berulang kali aku melindungi perbuatanmu, tapi tidak untuk kali ini!" ucap Andika penuh penegasan.
"Iya," jawab Satria dengan nada santai.
"Satria..." Suara Cempaka terdengar memanggil Satria.
"Hadeh, nih orang mau apalagi sih!" ucap Satria yang malas melihat kehadiran Cempaka
"Cempaka, kamu jangan mengganggu urusan kami!" ucap Andika penuh penekanan.
"Memangnya kalian mau kemana, sih?" tanya Cempaka seraya mengerutkan keningnya dan melihat ke arah Satria lalu Andika.
"Kamu tidak perlu tahu, Orang Jahat!" Andika berucap penuh penekanan pada kalimat akhir.
__ADS_1
Cempaka mendengus kesal ke arah Andika, ternyata dia telah salah saat marah pada Kasih semalam. Ada Andika yang menyaksikan perdebatan Cempaka dengan Kasih.
"Kenapa aku tidak menyadari kehadiran Andika semalam!" Cempaka menyesal, pastinya Satria akan membencinya jika Andika menceritakan kejadian semalam. Tentang Kasih yang di usir oleh ibunya.