
Kasih pun masuk ke dalam rumah, lalu Andika pun pergi meninggalkan rumah Kasih.
" Hmmm, enak-enakan ya! Kamu pacaran di luar, sedangkan aku nungguin kamu sambil ke hausan." Cempaka menatap tajam ke Kasih.
" Bukankah, di kulkas banyak air?" celetuk Kasih.
" Jawab aja," ucap Cempaka mendengus kesal.
" Ini es kelapanya!" Kasih memberikan sebungkus es kelapa ke Cempaka.
Cempaka menerima bungkusan dari Kasih, lalu membawanya ke dapur.
Kasih pun berjalan ke arah dapur, lalu memberikan sebungkus es kelapa untuk mbok Iyem.
" Mbok, ini es kelapa." Kasih memberikan sebungkus es kelapa.
" Eits, aku cuma nyuruh kamu beli satu. Kenapa kamu jadi beli dua?" Cempaka melihat Kasih memberikan sebungkus es kelapa kepada mbok Iyem.
" Aku di belikan oleh, Andika!" jawab Kasih sambil menatap malas ke arah Cempaka.
" Kamu sudah mulai genit, ya? Dasar cewek gatel," umpat Cempaka seraya menatap tajam ke arah Kasih.
" Terserah," jawab Kasih yang langsung berbalik badan dan pergi menuju kamarnya.
Cempaka terlihat kesal, karena dia tidak berhasil mengerjai Kasih.
Kasih pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kakinya pegal, karena tadi habis berjalan mencari tukang es kelapa.
" Ibu, aku lelah, " ucap Kasih lirih dalam hatinya. Kasih membayangkan wajah ibunya, yang telah tiada.
Seketika lamunan tentang ibunya buyar, kala mengingat pertemuan nya dengan Satria.
" Jadi, Andika dan Satria itu saudara sepupuan?" gumam Kasih.
" Wajah mereka sama-sama tampan, tetapi Satria lebih tampan, si!" Kasih bermonolog sendiri. "
" Ah sudahlah, aku gak mau perduli." Kasih langsung memejamkan kedua matanya.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, Kasih terbangun dari tidurnya.
Terdengar dari arah ruang makan, suara dentingan sendok yang menyatu dengan piring.
" Ayah, apa dia sudah pulang?" Kasih segera bangun, dan berjalan keluar dari kamarnya.
Kasih menyaksikan sang ayah, sedang makan bersama dengan ibu tirinya dan saudara tirinya.
__ADS_1
" Kenapa ayah, tidak membangunkanku?" Kasih menatap nanar ke arah sang ayah yang terlihat bahagia, bersama istri dan anak tiri nya.
" Non, udah bangun?" Mbok Iyem menyapa Kasih yang sedang berdiri di balik dinding.
" Iya, Mbok!" Kasih hanya tersenyum pias, menjawab.
Suara mbok Iyem, terdengar oleh Broto. " Kasih, kamu sudah bangun?"
Kasih langsung menoleh ke arah sang ayah, yang memanggilnya.
" Iya, Yah!" Kasih langsung menghampiri sang ayah dan keluarga barunya.
" Ayah kenapa gak membangunkanku?" protes Kasih yang sudah berdiri di hadapan ayahnya.
" Kalau kami nungguin kamu, bisa kelaparan," ujar Cempaka sambil menatap sinis ke arah Kasih.
Kasih menatap malas ke arah Cempaka. Kenapa sang ayah tak lagi membela Kasih? Apakah ayahnya sudah tidak perduli lagi kepada nya?
" Iya sudah, sekarang kamu makan." Broto langsung menggeser bangku untuk Kasih.
" Mas, kita ke kamar duluan yuk!" Suzzana langsung bangun, dan menarik lengan Broto.
Broto tak menolak, dia menuruti keinginan sang istri.
" Kasih, kamu makan sendiri ya. Ayah mau ke kamar dulu," ucap sang ayah yang langsung bergegas pergi meninggalkan Kasih.
" Cuciin semua," ucap Cempaka dengan sikap angkuhnya, lalu pergi meninggalkan Kasih.
Mbok Iyem pun menghampiri Kasih, yang sedang duduk sendiri.
" Yang sabar ya, Non!" Mbok Iyem mendekati Kasih dan berdiri di samping nya.
" Iya, Mbok! Aku gak apa-apa," ucap Kasih sambil tersenyum miris menatap mbok Iyem.
Malam telah larut, seluruh penghuni rumah tertidur pulas.
Kasih belum bisa memejamkan kedua matanya, dia masih membayangkan sikap ayahnya yang kini telah mengacuhkan nya.
" Bu, aku kangen sama ibu. Ayah kini sudah bahagia bersama keluarganya, dan sudah melupakan aku. Aku gak kuat, Bu! Apa yang harus aku lakukan? Agar aku bisa bertahan di rumah ini." Kasih terus bergumam sembari memandang langit-langit rumahnya.
****
Pagi pun tiba, Kasih terbangun lebih awal karena harus membantu mbok Iyem.
" Mbok, apa yang harus aku kerjakan?" Kasih masih belum sepenuhnya tersadar dari tidur nya.
__ADS_1
Kedua mata nya masih mengantuk, dan terdengar suaranya yang serak.
" Non, biar mbok aja yang ngerjain. Baru jam empat pagi, nanti bisa ngantuk di sekolah." Mbok Iyem menyuruh Kasih untuk tidur kembali.
" Tapi Mbok, aku tidak ingin mbok kena marah. Kalau hanya aku, mungkin gak apa-apa. Tetapi mereka pasti akan memarahi Mbok juga, " ucap Kasih sambil menatap ke arah Mbok Iyem
" Iya sudah, Non duduk saja di bangku. Pura-pura aja lagi ngupasin bawang, nanti kalau ada ibu, Non langsung bibi bangunin. " Mbok Iyem berucap seraya mengatur rencana agar Kasih bisa tertidur.
" Ya udah, aku tidur sebentar ya. " Kasih langsung merebahkan kepalanya di atas meja makan.
Mbok Iyem sedang mencuci piring, setelah itu dia melanjutkan memasak nasi goreng.
Selang beberapa menit, Mbok Iyem berjalan keluar dapur. Dia ingin membuang sampah, yang sudah bau sejak kemarin.
Saat Mbok Iyem sudah keluar dari pintu belakang, datanglah Suzzana yang telah berdiri di depan pintu dapur.
" Heh, gadis kampung!" Suzzana membangunkan Kasih dengan menggebrak meja.
Sontak Kasih langsung terbangun, dan duduk dengan tubuh yang tegap.
" Mama," ucapnya lirih seraya mengusap kedua matanya.
Suzzana mendekati Kasih, lalu mencengkeram rahangnya dengan kuat.
" Jangan pernah panggil aku Mama, jika tidak ada ayahmu," ucapnya tegas seraya menajamkan pandangan nya.
" I- ya," jawab Kasih dengan rahang terkunci oleh tangan Suzzana, dia menganggukkan kepalanya pelan.
" Panggil aku, Nyonya!" ucapnya sambil menyipitkan kedua matanya.
" I-ya, Nyonya." Kasih menganggukkan kepalanya, menandakan mengerti.
" Bagus, asal kamu tahu. Jika ayahmu adalah pria yang sangat aku cintai. Dia memilih menikah dengan musuhku sewaktu kuliah, yaitu ibumu," ucap Suzzana penuh penekanan.
Kasih membulatkan kedua bola matanya, dia terkejut mendengar pengakuan dari ibu tirinya.
" Jadi sekarang, aku akan dengan senang hati membuat kamu menderita. Maka terbayarkan sudah balas dendam ku, pada ibumu." Suzzana terlihat tersenyum licik ke arah Kasih.
Kasih hanya terdiam, dia tak menyangka jika akan di pertemukan dengan keadaan yang membuat nya menderita.
" Cepat kerja, dan jangan pernah sekalipun mengadu pada ayahmu. Jika kamu mengadu, maka penyakit jantung ayahmu akan kambuh. Dan kamu tidak akan punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap Suzzana seraya menatap sinis ke arah Kasih.
" Iya, Bu!" Kasih menjawab dengan kepala menunduk.
Suzzana pun pergi menuju ke kamarnya. Terlihat mbok Iyem yang telah berdiri terpaku, di depan pintu belakang. Dia tidak berani masuk, saat Suzzana sedang memarahi Kasih.
__ADS_1
" Maafkan, Mbok! Tadi mbok buang sampah, dan gak tahu kalau nyonya besar akan bangun sepagi ini. " Mbok Iyem menatap nanar, lalu mendekati Kasih sambil mengusap punggungnya.