
"Aku akan buat perhitungan dengan Cempaka!" Andika terlihat kesal saat sedang menunggu file rekaman cctv yang di kirim ke ponselnya.
"Satria, ajak papamu untuk segera menikahkan kalian," ucap Andika memerintahkan Satria.
"Saat seperti ini, kamu masih memikirkan pernikahan?" Satria menatap tajam ke arah Andika.
"Ayah Kasih sekarat dan dia butuh pelindung. Apalagi kini Kasih, sudah di usir dari rumah Cempaka." Andika terpaksa memberitahu Satria.
"Apa! Ada hubungan apa Cempaka dan Kasih?" tanya Satria.
"Cempaka saudara tiri Kasih dan semalam Kasih di usir oleh ibu tirinya. Aku mengantar ke rumahnya, saat Kasih meminta biaya rumah sakit." Andika menjelaskan pada Satria.
"Kamu sudah lihat rekaman cctv, mau mengelak dari tanggung jawab... Hah!" Andika membentak Satria seraya tangannya menggebrak meja.
"Dika, kenapa kamu begitu perhatian pada Kasih?" Satria menatap curiga ke arah sepupunya.
"Aku hanya teringat dengan Sonia, penampilan cupu seperti Kasih. Dia menjadi korban bully, dan harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri." Andika berucap lemas saat membayangkan adiknya.
Rekamannya sudah selesai, Andika pun pergi ke rumah Cempaka. Sedangkan Satria pergi menemui papanya, yang berada di kantornya.
"Tok, tok, tok..."
Andika mengetuk pintu rumah Cempaka. Pintu pun terbuka, terlihat mbok Iyem di hadapan Andika.
"Aden!" Mbok Iyem mengenali Andika. "Bagaimana keadaan non Kasih?" tanyanya dengan nada suara pelan.
"Kasih baik-baik saja, Mbok!" ucap Andika. "Ada Cempaka?" tanya Andika.
"Ada, baru saja pulang." Mbok Iyem langsung membuka pintu lebar
"Bisa panggilkan?" tanya Andika.
"Sebentar, Den!" jawab mbok Iyem. " Aden masuk dulu," ucap mbok Iyem yang menyuruh masuk Andika.
Andika pun masuk ke dalam rumah Cempaka. Kemudian Andika duduk di sofa, sementara mbok Iyem memanggil Cempaka.
"Non, ada temannya." Mbok Iyem sambil mengetuk pintu.
"Siapa?" tanya Cempaka
"Cowok," jawab mbok Iyem
"Iya, namanya siapa?" tanya Cempaka mengulang. "Satria?" tanyanya.
"Mbok gak nanya, Non!" jawab mbok Iyem.
"Lain kali, kalau ada tamu tanya siapa namanya." Cempaka keluar kamar sembari memarahi mbok Iyem.
Andika yang berada di lantai satu hanya menggelengkan kepalanya, mendengar jawaban Cempaka.
__ADS_1
Cempaka pun melangkahkan kakinya menuju lantai satu. Cempaka tidak mengenali sosok laki-laki, yang membelakanginya.
"Kamu siapa?" tanya Cempaka.
Andika pun berbalik, saat Cempaka tak mengenali fisiknya.
"Andika..." ucap Cempaka terkejut, karena saat di sekolah dirinya tak begitu memperhatikan Andika.
"Ma-u apa kamu ke sini?" tanya Cempaka ketakutan. Dia tahu jika Andika melihat mamanya mengusir Kasih semalam.
"Aku ingin memberikan foto ini!" Andika menunjukkan layar ponselnya.
Di layar ponsel, terlihat jelas Cempaka sedang memasukkan serbuk ke dalam minuman.
"Darimana kamu mendapatkan rekaman itu?" tanya Cempaka panik.
"Kamu masa gak tahu! Memangnya semalam kamu berada di mana?" tanya Andika dengan tatapan mengejek.
Cempaka terlihat panik dan ketakutan, kemudian dia mencoba berkilah, " Untuk apa kamu menunjukkan rekaman itu? Dan memangnya ada apa dengan serbuk itu?" tanya Cempaka.
"Serbuk itu, membuat Satria dan Kasih harus menanggung akibat dari perbuatanmu." Andika menegaskan.
"Tunggu, tunggu... kenapa kamu perduli sekali sama Kasih?" tanya Cempaka seraya menyipitkan kedua matanya.
"Kamu gak perlu tahu. Yang pasti setelah ayahnya Kasih sembuh, aku akan buat perhitungan denganmu!" Andika mengancam Cempaka. Lalu Andika pun bergegas pergi dari rumah Cempaka.
"Ish, sebenarnya siapa Andika?" Cempaka kesal melihat kepergian Andika.
Sementara Satria sedang menuju kantor papanya. Dengan langkah tergesa-gesa dia memasuki lift. Satria bingung bagaimana dia harus me jelaskan tentang pernikahan pada papanya.
Setelah sampai di ruang papanya, Satria langsung masuk ke dalam namun di tahan oleh sekertarisnya.
"Mas Satria, mau menemui bapak?" tanya Kamelia, sekertaris papanya.
"Iya, Mbak. Penting!" ucap Satria tanpa menghiraukan Kamelia.
"Tapi, Mas!" Kamelia tak berhasil mencegah langkah Satria.
Karena di dalam ruangan papanya, sedang ada meeting dadakan. Yaitu pertemuan antara Nino dan Hendi.
Hendi berpesan untuk tidak di ganggu selama satu jam. Karena dia sedang membicarakan hal yang sangat serius.
"Pah..." Satria membuka pintu tanpa mengetuknya.
"Satria! Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu?" tegur Hendi.
"Ini mendadak, Pah!" ucap Satria tergesa-gesa. "Kak Nino! Ngapain kamu di sini?" tanya Satria yang terkejut melihat keberadaan kakaknya
"Yang pasti ada hubungannya denganmu," ucap Nino.
__ADS_1
"Pah, ayahnya Kasih memanggil papa untuk datang ke rumah sakit," ucap Satria memberitahu papanya.
"Untuk apa?" tanya Hendi yang pura-pura tidak mengetahui maksud dan tujuan Satria datang ke kantornya.
Karena sebelumnya, Nino sudah memberitahu Hendi jika Satria harus segera menikahi Kasih. Nino di beritahu oleh Amanda sang kekasih, jika Kasih benar telah di perkosa. Karena Amanda diam-diam melakukan visum pada Kasih.
Andika meminta Amanda agar melakukan tes visum pada Kasih. Karena Andika tidak ingin Satria lari dari tanggung jawab.
"Ayahnya Kasih, menginginkan aku menikahi anaknya." Satria tertunduk lesu saat mengucapkan kalimat pernikahan
"Apa kamu merasa melakukannya? Hingga harus menikahinya?" tanya Hendi meyakinkan putranya agar bertanggung jawab.
"Aku baru saja melihat rekaman cctv bersama Dika." Satria menjawab sambil menghela nafasnya yang terasa mulai berat.
"Lalu?" tanya Hendi.
"Cempaka menjebakku!" Satria tidak terima dengan perbuatannya, maka dia menuduh orang lain telah sengaja memaksanya memperkosa Kasih.
"Baiklah, papa akan bawakan penghulu dan akan segera menikahkan kalian!" ucap Hendi tanpa basa-basi.
Hendi langsung memakai jasnya, dan berjalan menuju pintu.
"Pah!" panggil Satria.
Hendi pun menoleh ke arah Satria. "Apa Papa marah sama aku?" tanya Satria.
"Papa hanya ingin punya anak laki-laki, yang bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya." Hendi menjawab singkat pertanyaan Satria
Semua sudah berkumpul, Hendi kini berada di rumah sakit. Ada Andika yang sedang menunggu di ruang ICU bersama Kasih.
"Boleh aku masuk?" tanya Hendi pada Kasih.
"Boleh, Pak!" jawab Kasih.
Hendi pun masuk ke dalam ruang ICU, dia memakai pakaian khusus rumah sakit.
Kemudian Hendi menghampiri laki-laki, yang kini sedang tidur di ranjang rumah sakit.
Hendi sudah berdiri di samping ayahnya Kasih. Dia memperhatikan dengan lekat, siapa ayahnya Kasih. Hendi mengerutkan keningnya, saat membaca tulisan di lengannya dengan nama Subroto. Hendi mengingat lagi, temannya sewaktu mereka tinggal satu sekolah yang sama sewaktu SMA.
"Broto? Apakah ini jalan dari Tuhan, untuk mempertemukan kamu dengan aku? Sudah sekian lama aku mencarimu, karena ingin berterima kasih atas semua jasa-jasa mu." Hendi memegang tangan Subroto sambil berurai air mata.
Segera Hendi keluar dari ruangan ICU, dan mencari penghulu.
"Cepat nikahkan, mereka!" perintah Hendi yang langsung di laksanakan oleh Satria dan Kasih di ruangan ICU.
Seketika kedua mata Broto terbuka, saat Satria mengucap ijab Kabul. Kedua mata Broto berbinar, kala melihat anaknya telah menikah. Dan juga, dia begitu bahagia bertemu dengan sahabat lamanya. Sahabat jaman putih abu-abu Hendi Wirawan.
Usai ijab Kabul, denyut jantung Broto berhenti. Kedua matanya langsung menutup dengan rapat.
__ADS_1