Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Amarah Hendi


__ADS_3

Kasih pun berjalan menuju ke arah mobil bersama Satria.


"Kamu gak apa-apa, Kasih?" tanya Nino yang sudah menunggu di depan pintu klinik.


"Kak, sebaiknya kita pulang!" pinta Satria sambil menuntun tangan Kasih.


"Baiklah," ucap Nino yang langsung membuka kunci mobil nya dengan remote.


Kasih dan Satria pun masuk ke dalam mobil.


"Kasih, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Nino yang sudah duduk di bangku sopir.


Kasih hanya terdiam tak menjawab, dia masih syok dengan pertanyaan Amanda.


"Kak, sebaiknya kita bahas di rumah saja," ucap Satria.


Kemudian Nino melajukan mobilnya dan meninggalkan klinik. Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan di antara mereka. Karena semua jawaban ada pada Kasih, sedangkan Kasih tak mengeluarkan sepatah kata pun sedari tadi.


Sesampainya di rumah, Satria langsung menuntun Kasih menuju rumahnya.


"Loh, kok pulangnya cepat banget?" tanya Hendi yang sedang bersantai di ruang keluarga.

__ADS_1


"Ada sedikit masalah," ucap Satria seraya melirik ke arah Kasih.


"Kasih, apa kamu bisa menjelaskan pada kami saat ini?" tanya Nino yang sudah berdiri di belakang Satria dan Kasih


Kasih melirik ke arah Hendi, kemudian dia langsung menundukkan kepalanya.


"Nino, kamu abis ajak kemana mereka?" tanya Hendi dengan raut wajah penasaran.


"Aku mengajak mereka ke klinik milik Amanda," jawab Nino.


"Kamu mau ngapain ke klinik Amanda?" tanya Hendi yang menatap curiga ke arah Nino.


"Aku ingin memeriksa keadaan Kasih, apakah dia hamil atau tidak?!" pikir Nino menjelaskan pada papanya.


"Maaf, aku ingin kembali ke desa." Kasih memotong pembicaraan antara papa dan anak.


"Apa?" Hendi dan Nino terkejut lalu menoleh ke arah Kasih.


"Aku bukan cewek matre, dan aku gak tahu tentang harta kekayaan om Hendi. Aku gak pernah ingin menjadi bagian dari keluarga ini!" teriak Kasih sambil menangis, dia langsung berlari menuju kamarnya.


Sesampai di kamar, Kasih langsung mengunci pintunya. Kemudian dia menuju ke tempat tidur, lalu membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


"Kasih! Siapa yang bilang kamu cewek matre?" teriak Hendi dari arah pintu luar sambil mengetuk-ngetuk pintu nya.


"Kasih, dengar papa. Kalau saja kamu tidak di pertemukan dengan cara seperti ini! Pasti papa tidak akan pernah bertemu dengan ayahmu. Papa sangat menghormati nya, dialah penolong papa saat di sekolah dulu." Hendi mencoba menjelaskan pada Kasih.


"Kasih, siapa yang bilang kamu cewek matre?" tanya Hendi dari balik pintu. "Jelaskan pada papa!"


Kasih masih terus menangis, dia tidak ingin di cap sebagai cewek matre. Setelah tuduhan perebut pacar orang yang di tuduhkan Suzzana pada ibunya. Kasih tak ingin terus-terusan di cap jelek oleh orang-orang.


"Ayah, ibu, aku mau nyusul kalian aja! Aku gak kuat jika terus-terusan di tuduh oleh orang-orang." Kasih menutup wajahnya dengan bantal sambil menangis.


Hendi terus mencoba menjelaskan pada Kasih, jika memang Hendi ingin Kasih menjadi putri angkat nya. Bukan karena dia telah di perkosa oleh Satria.


"Nino, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa keadaan nya menjadi rumit seperti ini?" tanya Hendi sambil berjalan menghampiri Nino.


"Aku gak tahu, soalnya saat di periksa oleh Amanda, kami disuruh keluar." Nino menjelaskan.


Diam-diam Satria berjalan menuju ke arah jendela kamarnya. Satria sangat tahu jika jendela kamarnya tidak bisa di kunci.


Pelan-pelan Satria membuka jendela kamar yang masih tertutup dari dalam.


Dia melihat Kasih yang sedang tertidur sambil memeluk bantal di wajahnya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan berikan komentar mu


__ADS_2