Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Ancaman Cempaka


__ADS_3

"Kasih, apa yang kamu adukan pada Satria?" Cempaka mendobrak pintu kamar Kasih, dia lalu mendekati Kasih sambil bertolak pinggang.


"Aku tidak pernah memberi tahu siapapun termasuk Satria," jawab Kasih sambil menundukkan kepalanya.


Cempaka tidak percaya, dengan perkataan Kasih. Dia langsung mendekati Kasih, lalu mencengkram rahang Kasih dengan jari-jari tangannya.


"Aku tidak ingin kamu mencari perhatian pada Satria, dan segera kamu menjauhinya. Kalau sampai aku melihatmu masih bersama Satria, aku tidak akan segan-segan membuat kamu dan ayahmu menderita." Cempaka mengancam Kasih.


"Ba-ik," jawab Kasih seraya menganggukkan kepalanya.


"Ingat sekali lagi, jangan pernah mendekati Satria. Dia hanya milikku," kecam Cempaka sambil menghempaskan wajah Kasih.


"Akh!" Kasih meringis kesakitan.


Cempaka langsung berjalan meninggalkan Kasih, keluar dari kamarnya.


Usai mengganti bajunya, Kasih langsung menghampiri mbok Iyem di dapur.


"Mbok, ada yang bisa aku kerjakan?" Kasih berdiri di belakang mbok Iyem.


"Enggak ada, Non!" jawab mbok Iyem sambil memisahkan sayuran dan ikan basah yang baru saja di pesan oleh Suzanna melalui aplikasi pasar online.


"Non, yang sabar, ya!" ucap mbok Iyem menguatkan Kasih.


"Iya, Mbok!" jawab Kasih tersenyum.


"Mbok, aku masuk ke dalam kamar dulu. Nanti kalau ada kerjaan, langsung kasih tahu aku." Kasih berpesan pada mbok Iyem.


"Iya, Non. Kalau siang gini, biasanya gak ada kerjaan. Paling sore, pas ibu sama bapak pulang," jawab mbok Iyem.


Kemudian Kasih langsung membalikkan badannya, dan bergegas menuju kamarnya.


Namun langkahnya terhenti karena di cegah oleh Cempaka.


"Eits, kamu mau kemana?" Cempaka mencegah Kasih yang ingin berjalan, menuju ke arah kamarnya.


"Aku mau kembali ke kamar, karena memang gak ada kerjaan di dapur," jawab Kasih.


"Siapa bilang gak ada kerjaan? Sekarang kamu tolong belikan aku es kelapa di ujung jalan," ucap Cempaka seraya memberikan uang lima ribu satu lembar. "Kamu harus jalan kaki, gak boleh pake motor." Cempaka menatap sinis ke arah Kasih.


Kasih langsung mengambil uang dari Cempaka, kemudian dia berjalan menuju pintu.


Kasih hanya bisa menghela nafasnya, dia pun berjalan menuju pintu gerbang.


Sepanjang perjalanan Kasih terus menyeka keringatnya. Cuaca terik di siang hari, membuatnya sering berhenti di bawah pohon rindang.


Kasih harus tabah menjalani hidupnya, sebagai anak tiri yang tidak pernah di harapkan oleh saudara tirinya. Padahal ibunya Cempaka sangat baik kepadanya. Atau hanya pada saat ada sang ayah, jadi Suzzana menjaga sikapnya?


Kasih masih terus membayangkan penderita anak tiri yang di siksa ibu tiri, pada acara sinetron yang di tontonnya.


Kasih bukan di siksa oleh ibu tiri, melainkan oleh saudara tirinya.


Kasih terus berjalan menuju ke arah ujung jalan. Hingga dia mengatur kembali nafasnya, yang sudah ngos-ngosan karena panas terik sinar matahari.


Saat di penghujung jalan, Kasih melihat kedai es kelapa tutup. Segera dia duduk di trotoar jalan, untuk meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal.

__ADS_1


"Kasih." Terdengar suara laki-laki yang memanggil namanya, segera Kasih mendongakkan kepalanya. Ingin melihat siapa anak laki-laki yang memanggil namanya.


"Andika ... " ucapnya lirih sambil memijat kedua kakinya.


"Kamu lagi, ngapain?" tanya Andika yang sedang mengendarai motor sportnya.


"Aku sedang mencari es kelapa, tapi warungnya tutup." Kasih berucap dengan nada kecewa.


"Iya, udah. Sekarang aku anterin beli es kelapa." Andika menawarkan bantuan.


"Enggak usah, nanti malah ngerepotin kamu," ujarnya menolak.


"Enggak, sekalian aku traktir es kelapa, ayo!" Andika langsung turun dari motornya, lalu menuntun Kasih untuk naik ke atas motor.


Andika mengajak Kasih mencari tukang es kelapa. Sesampainya di persimpangan jalan, Andika melihat ada tukang es kelapa.


"Kita sudah sampai," ucap Andika yang langsung menghentikan laju motornya.


Kasih pun turun dari motor, lalu menghampiri tukang es kelapa.


"Bang, es kelapa satu bungkus!" Kasih memesan satu bungkus, lalu duduk di bangku plastik.


"Di bungkus?" tanya Andika


"Iya, ini pesanan --- " Kasih teringat dengan pesan Cempaka, kalau dia tidak mau teman-temannya tahu jika Kasih adalah saudara tiri Cempaka.


"Pesanan siapa?" tanya Andika.


"Pesanan nona aku," jawab Kasih.


"Iya, aku di sini bekerja sebagai asisten rumah tangga." Pengakuan Kasih mengejutkan Andika.


"Oh, " jawab Andika.


"Kenapa? Kamu gak suka berteman dengan pembantu?" tanya Kasih menatap ke arah Andika.


"Enggak, aku hanya salut sama kamu," ucap Andika memuji Kasih.


"Ini es kelapanya," kata tukang es kelapa sambil menyerahkan satu bungkus es kelapa.


"Bang, es kelapa dua pake gelas ya!" Andika memesan dua gelas pada tukang es.


"Loh, buat apa?" tanya Kasih


"Aku masih mau ngobrol sama kamu," ucap Andika.


"Tapi aku harus memberikan es ini pada, Cem-- "


"Cem-- siapa?" sambung Andika


"Cem-, cemana kalau es nya cair? Hah itu dia," canda Kasih


"Nanti aku belikan lagi," ucap Andika.


"Ini, es nya." Tukang es memberikan dua gelas kelapa.

__ADS_1


"Terima kasih," jawab Andika yang menerima dua gelas es kelapa.


Saat mereka sedang asyik menikmati es kelapa, terlihat Satria melintas.


"Heh, Cupu." Satria berhenti lalu memanggil Kasih dengan sebutan Cupu.


Kasih hanya terdiam tak menyahut, dia tidak merasa memiliki nama panggilan Cupu.


Kasih hanya melirik ke arah Satria, lalu mengacuhkannya.


"Heh, Kamu tuli?" Satria terlihat kesal saat di acuhkan oleh Kasih.


" Kamu manggil siapa, sih?" Andika menyahut.


" Tuh cewek cupu di sebelah kamu," ujar Satria.


" Dia Kasih, bukan cupu!" jawab Andika yang menatap sinis ke arah Satria.


" Kamu lagi pendekatan sama si cewek cupu itu?" ejek Satria.


" Aku bilang namanya, Kasih!" Andika terlihat geram saat Satria terus mengejek Kasih.


" Kayak gak ada gadis lain aja, yang cantik masih banyak." Satria langsung pergi meninggal Kasih dan Andika.


" Maafkan sikap Satria," ucap Andika.


" Kenapa harus kamu yang minta maaf?" tanya Kasih.


" Dia adik sepupuku, kerjanya hanya membuat ulah." Andika menjelaskan pada Kasih tentang status Satria dan dirinya.


" Adik sepupu?" Kasih tercengang mendengar penuturan Andika.


" Iya, " jawabnya seraya menyesap es kelapa.


" Pantas wajah kalian hampir mirip," sahut Kasih.


" Mirip darimana?" Andika mendengus saat Kasih menyamakan dirinya dengan Satria.


" Sama-sama ganteng," puji Kasih.


" Gantengan aku, kali!" ujar Andika yang telah menghabiskan es kelapa di gelasnya.


" Udahan, yuk!" Kasih langsung berdiri.


Kemudian Andika memesan satu bungkus lagi, untuk Kasih bawa pulang.


" Maaf ya, kamu pasti akan di marahi sama nona kamu," ucap Andika.


" Enggak apa-apa, aku udah sering kok!" jawab Kasih


Dia merasa senang saat ini, karena sudah mempunyai teman akrab. Andika mengantarkan Kasih ke rumah.


Sesampainya di depan rumah, Kasih langsung turun.


Dari dalam rumah, Cempaka melihat Kasih dari jendela kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2