Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Jalan-jalan ala Satria


__ADS_3

"Sat, tadi kamu bilang dia mama?" ucap Kasih. "Atau aku yang salah dengar?" tanya Kasih.


"Nanti aku jelaskan," ucap Satria yang langsung naik ke atas motor. "Cepat naik!" perintah Satria


Kasih pun naik ke atas motor, lalu memakai helmnya. Kemudian Satria melajukan motornya meninggalkan mall termegah di ibukota.


Motornya pun berhenti di area taman kota. Banyak muda mudi berkumpul di taman kota. Ada yang sedang berfoto bersama model keliling, yang berpakaian ala Eropa. Ada yang naik sepeda dan menonton pertunjukan live musik yang di nyanyikan pengamen keliling.


Satria menuntun Kasih menuju ke area gedung tua. Di sana ada dua buah meriam sebagai simbol adanya perjuangan di daerah itu.


"Kita ngapain di sini?" tanya Kasih yang berjalan mengikuti langkah Satria.


"Bukankah kamu ingin mendengar penjelasanku tentang mamaku?" ucap Satria yang langsung duduk di emperan gedung tua.


Kemudian Kasih pun duduk di sebelah Satria, menikmati pemandangan yang berada di hadapannya.


"Yang tadi itu, adalah mama kandungku." Satria berucap lirih.


"Lantas mamamu yang pernah meriasku dulu?" tanya Kasih saat mengingat Manohara sangat baik kepadanya.

__ADS_1


"Dia mama tiriku, walaupun bukan mama kandung tapi dia sangat sayang kepadaku. Sekarang dia sedang ke Perancis untuk mengikuti kursus di sana." Satria menjelaskan.


"Iya, pantas saja aku tidak melihat keberadaan mamamu," ucap Kasih tersenyum tipis.


"Dia meminta ijin papaku untuk mengikuti stydy di Perancis selama setahun." Satria menjelaskan.


"Oh, pasti enak ya! Punya mama yang baik seperti mama tirimu." Kasih menoleh ke arah Satria.


"Kamu mau makan apa? Maaf ya, aku tidak jadi mengajakmu nonton film." Satria seraya memegang tangan Kasih.


"Enggak apa-apa, itu lebih baik daripada kamu harus--" Kasih nampak berpikir, dia belum bertanya kenapa mamanya meninggalkan Satria.


"Apa yang menyebabkan mamamu pergi?" tanya Kasih dengan nada ragu.


"Aku tidak tahu, itu urusan orang tua. Yang oasti saat itu, aku melihat dia di jemput oleh seorang laki-laki. Sedangkan saat itu papaku sedang berjuang mencari nafkah." Raut wajah Satria kembali bersedih kala mengingat kenangan masa lalunya.


"Iya sudah, tujuan kamu ke sini adalah mengajak aku jalan-jalan bukan untuk bersedih." Kasih langsung bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Satria.


"Mau kemana?" tanya Satria.

__ADS_1


"Aku mau foto bareng sama orang itu," ucap Kasih seraya menunjukkan jarinya ke arah wanita yang memakai baju pengantin ala eropa jaman dulu.


"Baiklah," jawab Satria yang langsung bangkit berdiri. Kemudian dia mengikuti langkah Kasih.


"Cepat foto aku!" teriak Kasih yang sudah berdiri di sebelah wanita memakai kostum pengantin.


"Sekalian aja sama pacarnya," ucap wanita yang merupakan model di taman itu. "Biar temanku yang fotoin," ucapnya.


"Satria, sini!" Kasih memanggil Satria.


"Ada apa? Bukannya kamu mau minta di foto?" tanya Satria.


"Kata Mbaknya, bisa sama kamu. Nanti di tolongin sama temannya buat fotoin kita." Kasih menjelaskan.


"Pake foto polaroid aja ya, Mas! Biar langsung jadi," ucap laki-laki yang membawa kamera polaroid di tangannya.


"Iya udah, Mas! Ambil gambar yang bagus, ya!" Kasih sangat bersemangat. Dia langsung memeluk Satria dan duduk di atas sepeda. Kemudian model wanita yang berkostum ala pengantin Eropa pun berdiri di sebelah mereka.


"Satu, dua, tiga, Ceesss!" Lelaki itu memberi aba-aba untuk tersenyum

__ADS_1


"Cekrek..." Satu foto telah tercetak dengan pose Kasih yang memeluk Satria sembari menaiki sepeda


__ADS_2