Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Pengakuan Kasih


__ADS_3

Kasih meminta Andika untuk mengantarnya ke tempat pemakaman sang ayah.


Sementara Satria sudah sampai rumahnya, dia langsung menuju ke kamarnya untuk mengambil baju. Karena tidak mungkin dia mengambil baju, jika Kasih sudah sampai di rumah.


Segera dia mengeluarkan beberapa pakaian, untuk di taruh di dalam lemari kakaknya. Baju sekolah dan juga semua peralatan sekolah, tak lupa dia bawa.


Setelah merapikan semua pakaiannya, Satria merebahkan dirinya di atas tempat tidur Nino. Tanpa terasa kedua matanya pun terpejam, akhirnya dia pun tertidur lelap.


Selang dua jam, Satria mendengar suara berisik dari arah ruang tamu. Kemudian dia pun terbangun dan berjalan menuju ke arah pintu.


Satria mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit.


"Dika! Mau apa dia ke sini?" gumam Satria melihat ke arah ruang tamu.


"Kasih..." Satria melihat penampilan Kasih yang berbeda dari biasanya saat di sekolah.


Kasih mengenakan kaos berwarna merah muda, dengan celana Jogger berwarna putih. Rambut panjang yang terikat asal, tanpa menggunakan kacamata tebalnya.


Kedua mata Andika tak berkedip dan terlihat sangat kagum dengan kecantikan Kasih.

__ADS_1


Seketika membuat hati Satria merasa panas, karena terbakar api cemburu. Ingin sekali dia menusuk mata Andika dengan jari tangannya. Agar kedua mata Andika tak lagi memandang istrinya.


Sementara Andika yang sudah duduk di hadapan Kasih, sedang asyik menikmati hidangan yang di sediakan oleh Kasih. Dia sengaja melihat ke arah Kasih untuk membuat Satria cemburu.


Andika sudah menganggap Kasih sebagai adik kecilnya, yang telah bunuh diri.


"Terima kasih, Dika. Kamu sudah mau menemaniku," ucap Kasih seraya menuangkan teh yang telah habis di gelas Andika.


"Buat kamu, aku akan melakukan apapun,"' ucap Andika.


Flashback on


"Aku hanya ingin membantumu, apa tidak boleh?" tanya Andika yang sudah duduk di sebelah makam Broto.


"Tidak, aku gak keberatan. Hanya saja, kini aku telah menikah dengan Satria." Kasih menundukkan kepalanya. "Jika saja kau mempunyai rasa kepada ku, sebaiknya kau urungkan!" ucap Kasih.


"Kasih, apa kamu mencintai Satria?" tanya Andika seraya menatap lekat ke arah Kasih.


Kini mereka duduk, di sebelah makam ayahnya Kasih. Andika ingin meyakinkan Kasih, jika dia benar mencintai Satria.

__ADS_1


Karena Hendi menyuruhnya untuk membuat Satria jatuh cinta pada Kasih. Hendi ingin membalas budi temannya Subroto. Karena Subroto lah yang sering mengajarkan Hendi belajar, tanpa memberikan uang imbalan.


Serta Subroto yang membantunya bekerja di kota. Berkat Broto, Hendi bisa di terima di perusahaan IT tempat ayahnya Kasih bekerja.


Kasih menundukkan kepalanya, dia bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Andika.


"Aku gak tahu, aku masih sangat membencinya karena kejadian malam itu," ungkap Kasih.


"Aku tahu, karena sejak pertama kalian bertemu, hubungan kalian memang tidak pernah akur." Andika memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Tapi aku akan membantu kalian, untuk mewujudkan keinginan om Hendi." batin Andika seraya tersenyum melihat Kasih.


Kasih hanya terdiam, dia tak menjawab pertanyaan Andika.


"Bantu aku, agar Satria bisa mencintaimu." Andika memegang kedua bahu Kasih.


"Seperti nya gak mungkin, karena sikapnya sangat dingin dan pemarah." Kasih memutar kedua bola matanya malas saat membayangkan Satria.


Flashback Off

__ADS_1


"Ehem..." Suara Satria berdehem dari arah kamarnya.


__ADS_2