
"Selamat pagi, Kasih!" Hendi menyapa menantu istimewanya.
"Pagi, Pak- eh, Pah!" jawab Kasih seraya membetulkan kacamatanya.
"Silakan duduk," titah sang mertua pada Kasih.
Kasih pun duduk di bangku kosong di hadapan Nino.
"Satria mana?" tanya Hendi pada Kasih.
"Dia baru saja mandi, Pah!" jawab Kasih.
"Baru mandi? Apa gak terlambat dia kesekolah?" pikir Hendi.
Nino merasakan nasi goreng yang tersaji di atas meja. "Kok rasa nasi gorengnya, beda?" ucap Nino seraya matanya melihat ke arah atas.
"Gak enak ya, Pak?" tanya Kasih yang masih memanggil pak pada kakak iparnya.
"Kalau di rumah, panggil kakak aja," ucao Nino seraya tersenyum ke arah Kasih.
Kasih pun tersenyum canggung, saat Nino menatapnya.
"Malah enak, banget." Nino memuji masakan Kasih.
"Bi Jum mungkin lagi coba resep baru," ujar Hendi sambil menyuap nasi goreng.
"Itu buatan Non Kasih, Tuan!" jawab Bi Jum yang baru saja datang membawakan teko berisi teh manis.
"Kasih? kapan kamu memasaknya?" tanya Nino sambil terus menyuap mulutnya dengan nasi goreng buatan Kasih.
"Tadi subuh, Kak." Kasih menjawab.
"Aku pikir tadi pagi-pagi sekali, Bi jum yang masak?" pikir Nino. "Enak dan cocok banget kalau buka kafe," puji Nino.
Satria pun datang, ketika para penghuni rumah telah menyelesaikan sarapannya.
"Wah enak ya, makan gak ngajak-ngajak!" Satria tiba-tiba mengambil sepotong chiken nuget.
"Makan pakai nasi, biar otak kamu ada isinya." Nino meledek Satria.
"Kak, perutku yang kosong bukannya otak!" Satria mendengus kesal saat kakaknya meledeknya.
"Bukanya otakmu itu kosong?" canda Nino.
"Ish," Satria mendengus kesal.
"Sudah cepat sarapan, setelah itu kalian berangkat ke sekolah." Hendi memerintahkan Satria untuk segera sarapan.
"Kasih, nanti kamu di antar Satria," perintah Hendi.
"Apa! Maaf aku gak bisa, karena aku mau ngebut." Satria menolak.
__ADS_1
"Satria, mengebut itu tidak baik. Lagipula, Kasih adalah istrimu. Jadi kamu harus mengantarnya juga ke sekolah," ujar Hendi.
"Tidak, ah! Apa kata temanku nanti, aku bisa di ketawain sama satu sekolah."
"Dari kemarin pun, kamu sudah di ketawain karena ulahmu. Masa hanya nganterin Kasih aja malu," sindir Nino.
"Baiklah," ucap Satria menurut. "Tapi kalau dia histeris saat aku ajak ngebut, pasti aku turunin di jalan." Satria mengancam dengan pandangan mata ke arah Kasih.
"Kasih, kamu jangan dengerin omongan suamimu. Dia itu otaknya kosong sama kayak perutnya sekarang. Ha, ha, ha..." Nino langsung pergi meninggalkan Satria seraya tertawa mengejek.
"Kakak..." Satria menatap kesal kepergian Nino
"Maaf, Pah. Aku naik angkot aja." Kasih langsung bangun dari duduknya dan menuju ke arah Hendi untuk mencium tangannya.
"Aku berangkat dulu," pamit Kasih pada Hendi.
"Kasih, papa antar ya!"
"Enggak usah, aku naik angkot aja." Kasih langsung pergi meninggalkan Satria dan Hendi.
"Satria, kamu sudah menyinggung perasaan Kasih. Apa salahnya kamu nganterin dia, toh sekarang dia..." Belum sempat Hendi meneruskan bicaranya, Satria langsung bangun dan pergi meninggalkan papanya.
"Ish anak itu, semoga aja Kasih dapat merubahnya agar bisa menghormati orang tua." Hendi menatap kesal kepergian Satria.
Satria langsung menuju motornya, dan pergi meninggalkan rumahnya.
Setelah melewati pintu gerbang, Satria tak melihat Kasih di sepanjang jalan komplek perumahannya.
"Kemana si cupu? Kok cepat banget jalannya!" Satria tidak melihat keberadaan Kasih.
Kebetulan rumah Andika berada di tikungan tak jauh dari rumah Satria. Karena ayahnya Andika adalah adik dari ibunya Satria.
Mereka pun berangkat bersama-sama, sedangkan Satria merasa bersalah karena tak menemukan Kasih.
"Aku turut berduka, atas kematian ayahmu, ucap Andika yang sedang fokus mengendarai motornya.
"Iya, terima kasih." Kasih menjawab. "Andika, terima kasih kamu sudah membantuku. Entah apa yang harus aku lakukan jika Satria tak menikahiku," ujar Kasih.
"Oh, jadi kamu sudah menikah?" tanya Andika.
"Iya," jawab Kasih seraya menganggukan kepala, walaupun Andika tak melihatnya.
"Syukurlah," ucap Andika.
Sesampainya di sekolah, mereka berpapasan dengan Satria.
Satria hanya terdiam tanpa berkata, namun tatapan matanya sangat tajam ke arah Kasih.
Kasih terlihat tak perduli dengan kehadiran Satria yang berada di sebelahnya.
"Terima kasih, ya!" ucap Kasih yang langsung memberikan helmnya kepada Andika.
__ADS_1
"Iya sama-sama, besok aku jemput lagi." Andika berucap seraya melirik ke arah Satria.
Kasih pun tersenyum lalu berbalik ingin pergi menuju kelasnya.
"Kasih!" panggil Andika
"Iya," jawab Kasih sambil menoleh ke arah Andika.
"Tunggu aku! Kita bareng," panggil Andika.
Kasih menunggu Andika yang sedang menaruh helmnya di atas motor. Andika pun menghampiri Kasih, kemudian mereka berjalan bersama menuju kelas.
Satria terlihat geram saat Kasih mendapatkan perhatian dari Andika.
"Ish, pagi-pagi udah bikin kesal." Satria menggerutu. " Padahal tadi aku mencemaskannya, eh ternyata mereka malah asyik berangkat ke sekolah berduaan," kesal Satria.
Bel pelajaran berbunyi, seluruh siswa masuk ke dalam kelas. Kasih masih bersembunyi di dalam toilet, dia malu untuk menampakkan diri di depan teman-temannya yang datang ke pesta Cempaka.
"Aduh, aku pasti menjadi bahan gunjingan teman-teman, nih!" ucap Kasih cemas seraya menggigit bibir bawahnya.
Sementara Satria bingung, melihat tas Kasih tak ada di bangkunya.
"Ish, ini cewek kemana, sih?" tanya Satria dalam hatinya seraya menatap bangku Kasih yang masih kosong.
Lalu Satria menghampiri Andika. "Dika, Kasih dimana?" tanya Satria.
"Aku gak tahu," jawab Andika dengan menatap malas ke arah Satria.
"Bukannya tadi sama kamu?" tanya Satria dengan tatapan menyelidik.
"Aku, bukan suaminya!" ucap Andika penuh penekanan.
"Apa maksud kamu?" tanya Satria seraya mencengkeram kerah baju Andika.
Seluruh siswa melihat Satria sedang berselisih dengan Andika. Untungnya ada guru yang datang untuk mengajar di kelas mereka. Dan terlihat Kasih yang mengikuti bu Viola di belakangnya.
"Hey, kalian! Ada apa ribut-ribut?" tanya Viola guru bidang studi Fisika.
Satria melihat Kasih yang ikut masuk bersama bu guru Viola. Kemudian dia melepaskan tangannya dari leher Andika.
"Kamu, kenapa baru datang?" tanya Viola yang menegur Kasih.
"Habis dari toilet, Bu!" ucap Kasih seraya menundukkan kepalanya.
"Iya udah, sana duduk." Viola memerintahkan Kasih untuk duduk di bangkunya.
Satria pun kembali ke bangkunya bersama dengan Kasih.
Cempaka terkejut saat melihat Kasih masuk sekolah.
Kemudian Kasih maju ke depan, "Bu, aku ingin memberitahu jika kemarin ayahku meninggal." Kasih berucap di depan Viola.
__ADS_1
"Ibu turut berduka cita, nanti ibu sampaikan pada wali kelasmu," ucap Viola. "Kamu yang sabar, ya!"
Cempaka terkejut saat mengetahui ayahnya Kasih meninggal.