
Kasih menyesal terlalu berharap banyak dari hubungannya kemarin. Pastinya Satria akan melupakan kisah mereka, saat berjalan-jalan di taman.
"Huft, Kasih sebaiknya kamu jangan kepedean!" gerutu Kasih sambil berjalan keluar gerbang.
"Kepedean kenapa?" tanya Andika yang tiba-tiba ada di belakang Kasih.
"Andika, kamu mengagetkan aku aja!" gumam Kasih sambil menepuk bahu Andika.
"Auw, sakit tahu." Andika mengelus bahunya. "Ada apa sih, pagi-pagi udah cemberut gitu?" tanya Andika.
"Enggak ada apa-apa!" jawab Kasih yang langsung salah tingkah. Dia tidak mungkin menjelaskan perasaannya soal Satria kepada Andika.
"Udah yuk, jalan!" ajak Andika.
"Kamu mau ngojekin aku lagi?" tanya Kasih seraya naik ke atas motor Andika.
"Iya, karena kalau naik motor sendiri tuh gak enak," sahut Andika. "Udah siap?" tanya Andika seraya menoleh ke arah belakang.
"Sudah," jawab Kasih seraya menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba dari arah belakang Kasih, pintu gerbang terbuka. Memperlihatkan Satria yang akan keluar dari pintu gerbang.
__ADS_1
Sementara Kasih dan Andika telah pergi, saat Satria telah membuka gerbang.
"Ish, Kasih. Padahal tadi aku buru-buru makan, karena ingin mengantarmu," gerutu Satria yang menatap nanar ke arah Kasih.
Kemudian dia pun mengikuti Kasih dan Andika dari arah belakang. Satria hanya bisa menatap punggung Kasih.
"Harusnya saat ini Kasih yang memeluk aku," ucap Satria bergumam dalam hatinya.
Satria merasa gengsi apabila harus menghadang mereka, lalu menyuruh Kasih naik ke motor nya. Di pikiran nya pasti akan membuat Kasih ke ge-eran, dan mengira jika dirinya telah jatuh hati pada Kasih. Padahal kenyataannya, memang dia sangat menginginkan Kasih duduk di motor nya.
Sesampainya di sekolah, Andika telah memarkirkan motornya di halaman sekolah. Andika sangat tahu, jika Satria telah membuntutinya sedari rumah Satria. Hanya saja Andika pura-pura tidak mengetahui nya. Dia hanya ingin melihat reaksi dari Satria, apakah Satria akan menghadang nya? Ternyata dugaan Andika salah, Satria tidak mencegahnya.
"Eh, Satria! Kok bisa pas banget kita sampenya barengan?" sapa Andika yang melihat Satria memarkirkan motor di sebelahnya.
Akhirnya Andika mempunyai ide, ingin membuat Satria cemburu. Dia melepaskan helm yang di kenakan oleh Kasih
"Kasih, aku bukain helmnya." Andika menoleh ke arah belakang sambil membuka kaitan helm di leher Kasih.
Kasih hanya terdiam dan menurut, dia tak sekalipun melirik ke arah Satria.
Satria langsung memalingkan wajahnya, dia pun pergi dari parkiran dengan wajah tanpa ekspresi.
__ADS_1
Andika terlihat tersenyum puas, saat telah mengerjai Satria.
Kasih dan Andika pun berjalan bersama-sama, menuju kelas mereka.
Sepanjang jalan, Kasih menceritakan kisahnya bersama Satria.
"Kamu gak jadi nonton?" tanya Andika.
"Enggak, karena Satria bertemu ibunya." Kasih menjawab dengan nada polos.
"Bu Manohara? Memangnya dia sudah kembali dari Perancis?" tanya Andika antusias.
"Bukan, dia bertemu dengan ibu kandungnya," jawab Kasih.
"Apa?" Andika terkejut. Andika adalah keponakan dari Manohara, jadi dia tidak mengenal ibu kandung Satria.
Mereka pun sampai di depan kelas. "Kasih, nanti kita lanjutkan lagi ceritanya," ucap Andika seraya mengedipkan satu matanya ke arah Kasih.
Satria terlihat geram, saat Andika menggoda istri kecilnya. Kasih pun berjalan menuju kursi, di sana sudah ada Satria yang sedang menatap nya tajam.
"Satria..." Suara Cempaka tiba-tiba memanggilnya.
__ADS_1
Silakan berikan komentar