Kisah Kasih Untuk Satria

Kisah Kasih Untuk Satria
Pengakuan Satria


__ADS_3

Satria dan Andika telah sampai di rumah sakit.


"Rumah sakit?" tanya Satria.


"Ayahnya Kasih terkena serangan jantung, saat mendengar anaknya telah di perkosa olehmu," ucap Andika sambil menaruh helm di motornya.


"Huft," Satria menghela nafasnya kasar. Dia masih belum mengingat tentang kejadian semalam.


Andika dan Satria berjalan menuju kamar rawat inap Broto. Satria terlihat cemas, saat telah menaiki lift.


Satria hanya takut, jika dirinya akan di hajar oleh ayahnya Kasih.


"Dika!" panggil Satria sambil mengepalkan tangannya karena cemas.


"Ada apa?" jawab Andika dengan nada ketus.


"Apakah ayah Kasih, galak?" tanya Satria dengan nada ragu.


"Dia sangat galak, dan bisa saja membunuhmu!" ucap Andika menakuti.


Satria menghentak-hentakkan kaki kanannya, dia merasa takut dan cemas.


Andika tersenyum miring, saat melihat kaki Satria yang terus bergoyang.


"Biar tahu rasa, kau!" Andika merasa puas karena telah mengerjai Satria.


Sesampainya di kamar rawat, Andika dan Satria menunggu di ruang depan. Karena hanya satu orang yang di perbolehkan untuk masuk.


"Masuklah, aku menunggu di sini!" ucap Andika yang sudah duduk lesehan di lantai.


"Kamar nomor berapa?" tanya Satria


"1100." Andika menjawab sambil memainkan game online di ponselnya.


Satria lalu masuk mencari kamar dengan nomor 1100.


"1095, 1096 --, 1100. Ini dia," ucap Satria seraya menunjuk jarinya ke arah pintu.


Satria berhenti sejenak, mengatur nafasnya. Lalu menyiapkan kata-kata, yang akan diucapkan untuk memberikan alasannya.


Satria menarik nafas dalam-dalam, lalu mendorong pintu untuk membukanya.


Kepalanya melihat ke arah dalam kamar, menoleh ke kanan lalu ke kiri. Dia melihat tirai yang menutup setiap brankar. Satria bingung, dimanakah ayahnya Kasih?


Lalu dia masuk perlahan, mendekati brankar yang tertutup tirai dengan letak di sebelah kanan pintu.


"Kasih..." Satria membuka tirai yang pertama.

__ADS_1


"Maaf," Satria salah orang, dia langsung menutup kembali tirainya.


Kembali dia menghela nafasnya, dan mencari keberadaan ayahnya Kasih.


"Kasih..." Satria memanggil dengan suara pelan. Tak ada juga jawaban, dia kembali mencari ke arah seberangnya. Saat akan membuka tirai kedua, tiba-tiba ada yang memanggilnya dari arah belakang.


"Kamu siapa?" tanya Kasih yang berdiri di belakang Satria. Kasih tak melihat jelas, seseorang yang ingin membuka tirai tempat ayahnya tertidur.


"Aku Satria," jawab Satria


"Satria?"


"Kasih!" Satria menoleh ke arah Kasih.


"Kamu, mau apa kesini?" tanya Kasih dengan tatapan sinis.


"Aku ingin meminta penjelasan tentang kejadian semalam," ucap Satria yang memelankan suaranya dengan nada ketakutan.


"Penjelasan soal apa?" tanya Kasih seraya melipat kedua tangannya di dada.


Penampilan Kasih sangat berbeda, walaupun hanya memakai kaos longgar berwarna putih dan celana pendek, Kasih terlihat sangat cantik. Ditambah rambutnya di kuncir ke atas dengan asal, dan tanpa menggunakan kacamata tebalnya.


"Lihat," Kasih menarik tangan Satria lalu mendekati tempat tidur Broto.


"Ayahku sakit, mendengar anaknya telah di perkosa." Kasih menangis di hadapan Satria.


"Banyak saksi mata, kenapa aku harus menjelaskan lagi kepadamu?" tanya Kasih seraya memalingkan wajahnya


"Ka-sih..." Broto terbangun dari tidurnya, karena terganggu oleh suara Kasih yang sedang menangis.


"Ayah." Kasih memeluk ayahnya.


"Ma-af, Pak!" Satria gelagapan saat Broto mulai membuka kedua matanya. Satria merasa takut, jika Broto akan menghajarnya.


"Ka-mu," Broto memanggil Satria.


Kemudian Satria mendekati Broto, dengan berjalan memutar.


"Aku percayakan anakku padamu," ucap Broto dengan suara pelan namun masih di dengar oleh Satria. "Li-ndungi dia, ja-ngan bu-at men-de-rita." Broto berucap dengan suara terbata-bata.


"Pa-nggil o-rang tua-mu, aku i-ngin ka-lian se-gera me-nikah." Broto mulai tidak fokus, pandangan matanya mulai kabur. Dan nafasnya mulai tersengal-sengal.


"Ayah..." Kasih panik, dia memanggil ayahnya sambil memegang erat tangannya.


"Aku panggilkan dokter," ucap Satria yang langsung keluar dari ruang rawat inap.


Satria berlari menghampiri perawat yang berjaga dibagian depan ruangan.

__ADS_1


"Sus, pak Broto sesak nafas dia di kamar 1100." Satria terlihat sangat panik.


"Baik, Mas saya ke sana!" Perawat langsung menelpon dokter yang menangani Broto.


Selang beberapa menit, Amanda datang ke ruangan Broto.


"Kak Amanda?" Satria terkejut saat pacar sang kakak yang menangani ayahnya Kasih.


"Satria, ngapain kamu di sini?" tanya Amanda yang langsung memakai stetoskop di telinganya.


"Dia temanku," ucap Satria yang mendekati Amanda.


Kemudian Amanda fokus memeriksa Broto. "Bawa ke ruang ICU, dia butuh perawatan intensif." Amanda menyuruh perawat memindahkan Broto.


"Dok! Aku tidak punya biaya, jika ayahku di pindahkan ke sana!" Kasih mencegah Amanda keluar dari ruangan.


"Ada dia!" Amanda melirik ke arah Satria. "Bukankah, kalian sebentar lagi akan menikah?" tanya Amanda yang menatap sinis Satria. Kemudian Amanda bergegas pergi meninggalkan Satria dan Kasih.


"Apa maksud dokter itu?" Kasih menyandarkan tubuhnya di dinding. Dia melihat kepergian sang ayah menuju ruang ICU.


Satria segera keluar meninggalkan Kasih, dia berjalan menemui Andika.


"Dika, kita ke kafe. Aku ingin melihat kejadian semalam di kamera cctv." Satria menuntun tangan Andika. Andika melihat ayahnya Kasih keluar dari ruang rawat.


"Ada apa dengan ayahnya Kasih?" tanya Andika yang sedang di tuntun oleh Satria.


"Dia ingin aku menikahi anaknya dan hari ini aku harus membawa kedua orang tuaku," ucap Satria dengan nada tergesa-gesa.


Mereka telah naik motor masing-masing, dan melajukannya ke arah kafe.


Sesampainya di kafe, mereka langsung menuju bagian kantor. Awalnya keberadaan Satria dan Andika tidak di perbolehkan masuk. Namun karena ada salah satu pelayan yang mengenali mereka, akhirnya Satria dan andika di perbolehkan masuk.


Pelayan yang mengenali Satria adalah pelayan yang di suruh oleh Cempaka.


"Semalam saya di suruh memberikan minuman kepada seorang gadis yang berkacamata tebal. Hanya saja, jus jeruk itu di minum oleh Mas ini," ucap pelayan menjelaskan.


"Siapa yang memberikan jus jeruk sama kamu?" tanya Andika.


"Gadis yang semalam merayakan ulang tahun," ucapnya.


"Cempaka!" ucap Andika seraya mengepalkan tangannya. "Kita keruang cctv, untuk melihat gerak-gerik Cempaka," ujar Andika.


Kemudian mereka memutar kembali rekaman semalam. Terlihat Cempaka dari arah meja pemesanan sedang menuangkan serbuk ke dalam jus jeruk. Lalu memberikannya pada pelayan. Pesta ulang tahun Cempaka dia adakan di ruang depan, sehingga bisa terpantau kamera cctv. Sedangkan ruangan karaoke, tidak di pasanh karena privat room.


"Kurang ajar!" Satria terlihat geram.


"Apa yang akan Cempaka lakukan jika Kasih yang meminum jus jeruk itu?" gumam Andika

__ADS_1


__ADS_2