
Kasih pun berjalan menghampiri Nino yang sedang duduk di sofa.
"Duduk, ada hal penting yang harus aku bicarakan sama kamu."
"Mau bicara soal apa, Kak?" tanya Kasih.
"Soal, kamu yang kemarin periksa di klinik Amanda."
Kasih terkejut tentang Nino yang menanyakan dirinya saat berada di klinik Amanda. Kemudian Kasih pun menunjukkan ekspresi wajah yang biasa saja. Karena bagi Kasih jika Amanda berkata jujur tentang kegadisan, hal itu tidak harus dia takutkan. Jika memang keluarga Wirawan menuduhnya berbohong itu tidak mungkin, karena Kasih tidak pernah memberikan pernyataan jika Satria telah memperkosanya. Kasih hanya bersedih dan marah saat itu ketika tubuhnya sudah di sentuh oleh Satria. Walaupun kenyataannya mereka tidak pernah melakukan penyatuan tubuh.
"Iya, memangnya kak Amanda cerita apa soal aku?" tanya Kasih.
Nino melihat wajah Kasih tanpa ekspresi, sepertinya adik iparnya itu tidak terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.
"Apa kamu gak takut ketahuan, kalau Satria tidak pernah menyentuhmu?" tanya Nino
"Kak, pernah gak terpikir di benakmu jika kekasihmu sudah di raba-raba sama laki-laki lain?" tanya Kasih
Nino menggelengkan kepalanya, karena memang hal itu belum terjadi.
"Iya, sudah. Sekarang kakak berpikir jika tubuh kakak sudah di raba-raba oleh orang? Apa kakak tidak kesal atau marah?" tanya Kasih menekankan.
Bagi kaum pria seperti Nino, jika tubuhnya di raba mungkin akan menimbulkan hasrat untuk melakukan hubungan intim. Tetapi saat dia berpikir jika tubuh Amanda sudah di jamah oleh orang lain, maka dia akan marah.
__ADS_1
"Iya, aku marah. Akan aku bunuh orang yang sudah meraba-raba tubuh Amanda."
"Iya, seperti itulah perasaan aku. Jadi gak usah menanyakan tentang status kegadisanku."
Kasih langsung bergegas pergi meninggalkan Nino yang terlihat seperti sedang berpikir.
Walaupun Nino adalah seorang guru, dia tidak pernah pandai mencari solusi suatu masalah.
"Aku harus meminta maaf pada Kasih, karena telah membuatnya marah."
Nino ingin bergegas menuju kamar Kasih, tiba-tiba ada Manohara.
"No, maafkan Mama." Manohara berjalan mendekati Nino.
"Bukan mama ingin ikut campur dalam urusan kamu dan Amanda. Hanya saja ada yang mengirimkan foto ini tadi pagi," kata Manohara memberikan amplop berwarna coklat kepada Nino.
Nino pun mengambil amplop dari tangan Manohara, lalu membukanya.
Nino sungguh terkejut saat melihat foto Amanda bersama ibu kandungnya.
"Apa maksudnya, Ma?" tanya Nino yang melihat beberapa foto di tangannya.
"Ada hubungan apa Amanda dengan ibu dan laki-laki ini?" geram Nino.
__ADS_1
"Mama juga gak tahu, tapi apakah kamu mengizinkanku untuk menyelidikinya?" tanya Manohara.
"Biar aku saja," kata Nino.
"No, apa kamu kuat menghadapi semuanya?" tanya Manohara.
"Biar aku saja yang menangkap basah Amanda," kata Nino
"Tapi menurut pengalaman mama ikut papa kamu selama lima tahun, kayaknya kamu bukan orang yang tegaan. Jadi biar mama saja yang menunjukkan ke kamu, tentang siapa Amanda."
"Iya, sudah. Nanti aku akan berpura-pura saja, agar penyelidikan mama berhasil."
"Mama pergi ke butik dulu, karena sudah di tunggu pelanggan. Adik-adik kamu sudah pulang?" tanya Manohara
"Sudah," jawab Nino dengan ekspresi lemas karena mengetahui tentang Amanda
"Suruh makan, karena mama sudah masak."
Manohara langsung bergegas pergi meninggalkan Nino.
"Iya, Ma."
Silakan berikan komentar
__ADS_1