Lina Dan Manusia 1000 Abad

Lina Dan Manusia 1000 Abad
Chapter 41. Zona bahaya


__ADS_3

Yudi dan Indra sedang menolong yang lain, mereka mendapatkan luka yang parah, dan mereka bertanya-tanya siapakah yang melakukannya, dan kenapa mereka masih bersama berada dalam satu ruangan sedangkan mereka telah berlarian kesana kemari di lorong yang gelap dan tak berujung.


*Sebelumnya disaat mereka memilih salah satu lorong*


Lina berkata kalau dia merasakan energi negatif itu berasal dari lorong sebelah kiri, dan Lina pun mengajak yang lain untuk masuk ke lorong itu, tapi ternyata disaat mereka baru sampai di ruang yang terdapat beberapa lorong disana mereka telah terkena ilusi, ya ruangan itu adalah ruangan ilusi, sehingga saat Lina mengajak semuanya untuk masuk ke lorong kiri, mereka mendengar kata yang berbeda dari Lina, Yudi mendengar kalau Lina berkata menuju lorong kanan, Indra mendengar menuju lorong tengah, Dea mendengar menuju lorong pojok kanan, Pendi mendengar lorong pojok kiri, dan Rendy yang penakut, dia dibuat mendengar untuk kembali, namun sebelum mereka masuk ke lorong lorong itu mereka dibuat seolah masuk bersamaan dan ketika sudah berada di dalam lorong itu mereka hanya sendirian tanpa jalan pulang, dan kemudian mereka juga merasa dihajar habis-habisan entah oleh siapa, kemudian saat Lina dan Yudi mengeluarkan kekuatan dari jimat senjatanya, mereka dapat mengembalikan keadaan dan kekuatan itu telah menghantam beberapa roh yang ada disana, dan mayat manusia yang mereka lihat itu adalah mayat yang telah dirasuki oleh roh pasukan Raja Imran dan merekalah yang telah menghajar Indra, Yudi dan lainnya, namun mereka sudah hancur setelah terkena hantaman dari kekuatan senjata Yudi dan Lina.


"Jadi dari tadi kita tidak beranjak sedikitpun dari sini, apa kita terkena pengaruh ilusi.?" Terka Lina dalam kebingungan.


"Benar Lina, sepertinya kita semua telah terkena pengaruh ilusi, dan mayat-mayat disana sepertinya mereka yang telah menghajar kita disaat kita terkena ilusi"


"Tapi siapa yang melakukan semua itu, apa jangan-jangan energi yang kuat itu.?" ujar Lina menerka dalang dari semua itu.


"Dasar licik, beraninya dia sembunyi,, kalau berani sini maju tunjukkan dirimu..!" teriak Indra penuh emosi.


Mereka pun beristirahat sejenak menunggu teman yang lain sadar.


Sementara itu di tempat kakek lebah berada, si kakek lebah sedang melihat dan meramal apa yang sedang terjadi dengan Indra dan lainnya.


"Aku harap mereka tidak masuk terlalu dalam dan bertemu dengan pimpinan roh jahat itu, karena kemungkinan selamat darinya sangatlah kecil bahkan tidak ada 5%." Gumam kakek lebah dalam hati yang bimbang


"Indra, cepat keluarlah dari situ..!" ujar si kakek lebah dengan penuh harapan.


Setelah beberapa lama kemudian, Dea, Rendy, dan Pendi akhirnya sadar dan mulai membuka matanya perlahan, setelah mereka sadar, mereka kaget bukan kepala ketika melihat tubuh mereka masing-masing yang penuh luka dan darah.


"Tubuhku.?? Apa yang terjadi padaku,? Mengapa tubuhku penuh luka.? ujar Rendy bertanya-tanya pada diri sendiri dan merasa kesakitan di seluruh badannya dan Rendy juga melihat Lina yang juga terluka parah.


"Lina.? Kamu juga terluka, apa yang sebenarnya terjadi, bukankah aku tadi ada di lorong yang gelap, apa yang terjadi di sini Lina.??"


Kemudian Indra berdiri dan dengan tegas mengatakan


"Baiklah jika kalian sudah bangun, berdirilah kita lanjutkan mencari roh sialan itu."


Lina, Yudi dan Dea pun mulai bangkit walaupun mengalami luka yang parah, namun tidak dengan Rendy dan Pendi, mereka berdua tidak mampu berdiri lagi.


"Kalian mau kemana,? Jangan tinggalkan aku disini aku bisa meti." seru Rendy memohon untuk tetep disana.


"Oh ya, memangnya kami peduli denganmu hah, aku kan sudah bilang dari awal, orang lemah hanya menjadi beban saja" ujar Indra yang tidak begitu menyukai Rendy.

__ADS_1


Kemudian Lina berfikir kalau dia meninggalkan Rendy atau membawanya ikut bersama mereka, maka itu akan menjadi beban berat dan apabila Rendy meninggal Lina akan di cap sebagai gadis pembawa musibah atau sejenisnya.


Karena takut hal itu terjadi Lina pun memutuskan untuk kembali terlebih dahulu dan membawa Rendy dan Pendi ke R.S sekalian untuk mereka memulikan luka yang mereka alami.


"Indra, aku ingin kita kembali terlebih dahulu"


"Haaahh, kenapa kau tiba-tiba jadi ikutan seperti dia..?


"Bukan begitu Indra, aku cuma tidak mau kalau sampai Rendy meninggal disini dan aku akan di cap sebagai gadis pembawa musibah oleh semua orang."


"Lina ada benarnya juga Indra, kita juga harus menjaga nama baik kita semua, selain itu kita juga teluka parah, kita perlu memulihkan kondisi kita dulu." ujar Yudi memberi pengertian kepada Indra


Kemudian mereka pun kembali ke desa dan mengantarkan Rendy dan Pendi ke R.S dan memberi kabar kepada orang tua Rendy untuk menjenguknya.


Kakek lebah yang sedang memantau mereka dari jauh sudah merasa lega karena mereka tidak jadi masuk lebih dalam di bangunan kuno itu.


"Huuhh, syukurlah kalian bisa kembali, dan itu pilihan yang tepat." gumam kakek lebah menghembuskan nafas lega.


Sementara itu Lina sedang berada di R.S dan berbicara dengan Rendy.


"Rendy, aku sudah menelfon orang tuamu dan dia akan kesini secepatnya, setelah itu lebih baik kau kembali saja ke rumah tidak usah ikut denganku lagi," ujar Lina membujuk Rendy untuk tidak ikut lagi bersamanya.


"Tidak usah mencemaskan aku, sekarang kamu bisa lihat sendiri siapa yang lebih mencemaskan, aku atau kamu..??"


Rendy pun terdiam tak dapat menjawab perkataan Lina lagi, karena pada kenyataannya yang lebih menghawatirkan adalah Rendy, Rendy pun hanya pasrah jika memang Lina memintanya untuk kembali.


"Baiklah Rendy aku pergi dulu, tapi ingat jika nanti kamu dirumah jangan mengatakan tentang hal ini kepada siapapun, dan kamu tidak perlu membayar biaya rumah sakit, karena aku sudah membayar semuanya." ujar Lina seraya ia meneteskan air mata di depan Rendy dan kemudian pergi.


"Lina.? Kenapa dia menangis, apa dia menghawatirkan aku, apa dia masih mencintaiku, sampai dia mau menanggung biaya pengobatan ku, Lina memang sangat berbeda dengan dengan dia yang egois dan royal" gumam Rendy dalam batinnya menyesal.


Kemudian pada keesokan harinya Rendy keluar dari rumah sakit bersama orang tuanya, dan melihat Pendi yang juga telah keluar dari rumah sakit bersamaan dengan Rendy.


"Hei kau pria tengkorak, kau juga disini rupanya.."


"Kau lupa ya kita kesini kemarin bersamaan, masa lupa?"


"Aku tidak lupa, tapi aneh saja, kau kan tidak punya apa-apa dan kau hanya sendirian, mana mungkin kau dapat membayar biaya pengobatan mu,.?"

__ADS_1


"Aku memang tidak punya dan aku bukan siapa-siapa kalian, tapi aku beruntung bertemu dengan teman sebaik Lina, dia telah menanggung semua biaya pengobatanku, aku sangat berterimakasih padanya, dan suatu hari nanti aku akan membalas kebaikannya."


"Haaahh,, jadi kau juga dibayarin oleh Lina.?" ujar Rendy terkejut mendengar ucapan Pendi


"Aku kira Lina hanya peduli denganku dan menghawatirkan aku saja" keluh Rendy dalam batinnya.


Di pagi itu Lina, Yudi, Indra dan Dea sedang berencana untuk masuk kembali ke bangunan kuno itu, karena masalah belum terpecahkan dan mereka masih penasaran dengan energi negatif yang mereka rasakan waktu itu, dan akhirnya mereka pun pergi kesana bersamaan.


Dari kejauhan si kakek lebah yang masih kuatir dengan mereka, kakek lebah mencoba menerawang dan melihat apa yang sedang mereka lakukan.


"Hah.!! Celaka! Dasar bodoh, kenapa mereka kembali lagi kesana, apa yang mereka lakukan.? akan sangat berbahaya jika mereka sampai bertemu dengan pimpinan roh jahat itu, aku harus melakukan sesuatu, tapi jika aku kesana mungkin aku sudah terlambat, aku tidak bisa kesana dengan cepat, apa yang harus aku lakukan sekarang,.?" ujar kakak lebah dalam hati yang bimbang serta cemas


Kemudian mereka pun masuk dan berada di dalam ruang ilusi itu lagi, dan lagi-lagi mereka melihat banyak lorong disana, namun karena mereka takut hal seperti kemarin terjadi lagi, mereka mencari cara untuk mematahkan ilusi itu, Yudi dan Lina yang sudah mengetahui caranya, mereka langsung melakukan cara itu untuk mengeluarkan kekuatan dari senjata mereka secara bersamaan, dan setelah mereka melakukannya, mereka berhasil mematahkan ilusinya dan kemudian mereka masuk ke lorong yang ada didepan mereka.


Di dalam lorong itu mereka merasakan energi negatif itu semakin kuat dan mereka terus mengikutinya, dan akhirnya mereka sampai di ujung lorong, namun sesampainya disana, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Hah, apa itu, apa aku tidak salah lihat.?" ujar Lina yang kebingungan melihat sesuatu yang ada disana.


"Apakah ini mimpi.? Kenapa ada..."


"Hei kalian sadarlah.! Kalian jangan percaya dengan semua ini, bisa saja ini adalah ilusi.!" ucap Yudi seraya memotong ucapan Dea


"Lina! Kita satukan lagi kekuatan kita untuk mematahkan ilusi ini.!" ujar Yudi mengajak Lina mengeluarkan kekuatan dari senjatanya lagi.


"Dasar bodoh, apa yang kalian lakukan, jangan gegabah, lebih baik kalian kembali dari sana.!" ujar kakek lebah yang masih memantau mereka dan kemudian


BOOOMMM...!!!


Yudi dan Lina melepaskan kekuatannya hingga memporak-porandakan semua yang ada disana, Yudi dan Lina pun terkejut melihat semua itu bukanlah ilusi.


"Yudi, sepertinya ini bukan ilusi, semua ini nyata.!" ujar Lina terkejut melihat semua itu


"Tapi kenapa ada ruangan semegah dan semewah ini di dalam bangunan kuno seperti ini, dan semua hidangan itu, makanan itu, itu semua adalah makanan para bangsawan." ujar Dea yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat, ya, itu adalah ruangan megah dan mewah para bangsawan, dan disitu tampak ada seorang kakek-kakek yang sedang duduk di kursi besar didepan meja makan yang panjang, Lina melihat roh yang ada didalam tubuh kakek-kakek itu, dan roh itu juga seorang kakek-kakek yang sudah tua seperti tubuh yang dia rasuki, dan kakek itu berkata.


"Kenapa kalian menghancurkan singgasana ku.?" Tampak kakek itu berkata sangat marah.


"Bodoh..!!! Kalian cepat larilah.! kalian tidak akan selamat disana, cepat lari..!!" ujar kakek lebah terus memantau mereka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2