
Disaat Indra, Yudi, Porong, dan Kendit, sedang asyik bercanda sambil membakar ikan, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakkan seorang perempuan yang minta tolong.
"TOLONG...!! SIAPAPUN TOLONG AKU..!!"
"Hah.! Ada yang minat tolong, jangan-jangan itu.."
"LINA.! DEA.!" (bersamaan)
Indra dan Yudi yang kaget mendengar teriakkan itu segera bergegas melihatnya untuk mencari tau apa yang terjadi dengan Lina dan Dea, begitu juga dengan Porong dan Kendit yang begitu khawatir dengan Dea, mereka berempat pergi ke arah suara itu berasal dan setelah mereka sampai di tempat suara itu berasal mereka melihat seorang gadis yang sedang dililit seekor ular besar, gadis itu bukan Lina ataupun Dea, melainkan gadis yang tinggal di desa itu, Indra pun segera menolongnya dengan membunuh ular tersebut, gadis itu pun akhirnya selamat, kemudian para warga pun datang menghampiri mereka, karena para warga juga mendengar teriakkan gadis itu.
Awalnya para warga mengira bahwa Indra yang mau mencelakakan gadis itu karena melihat belati yang ada ditangannya, namun Indra dan Yudi berhasil menjelaskannya dan membuat para warga percaya berdasarkan bukti dan pengakuan dari gadis itu, tidak lama kemudian Lina dan Dea datang menghampiri mereka,
"Indra, Yudi, ada apa ini ramai-ramai??"
"Oh.! Lina, aku kira kau yang tadi minta tolong dan aku langsung kesini." ujar Indra
"Ya, Lina tidak ada apa-apa kok cuma masalah kecil, Indra sudah membereskannya" jelas Yudi
Beberapa saat kemudian datang seorang laki-laki tua menghampiri mereka kemudian mendekati si gadis, dan ternyata dia adalah ayah dari gadis tersebut.
"Anin kamu baik-baik saja nak, apa kamu terluka, apa yang terjadi padamu??"
Kemudian gadis itu menceritakan semuanya kepada ayahnya, dan ayahnya pun bersyukur karena tidak terjadi hal yang mengerikan kepada anaknya, dan beliau juga berterimakasih kepada Indra karena jasanya,
"Anak muda, saya sangat berterima kasih padamu karena telah menolong putri saya, tetapi saya tidak punya apa-apa untuk membalasnya"
"hmph, kalau paman itu tau yang sebenarnya, dia pasti tidak akan memanggil Indra anak muda lagi ckck..." ujar Lina dalam hati
"Paman, paman tidak perlu sungkan, kami melakukannya dengan ikhlas kok" jawab Yudi
"Baiklah anak muda, lain kali kalau kita bertemu lagi jangan sungkan untuk minta bantuan dari saya"
"Baik paman!" Jawab Yudi
"Eh ngomong-ngomong ikannya sudah matang apa belum?" tanya Dea
"Oh iya... IKANNYA..!!! (serentak)
Setelah mereka mengingat kalau mereka sedang membakar ikan mereka pun langsung pergi untuk melihat ikannya sudah matang atau belum, dan ternyata ikan itu sudah gosong semua,
"Yaaahh.. ikannya gosong." ujar Kendit dan Porong bersamaan
"Ini gara-gara kalian yang meninggalkan ikannya terlalu lama" marah Lina
"Kenapa kau menyalahkan kami, kami hanya ingin menolong dan tadinya aku kira itu kau makannya kami semua pergi.!" sahut Indra nada tinggi
Disaat mereka sedang cekcok, si paman dan gadis yang ditolong oleh Indra datang menghampiri mereka.
"Eee... Ada apa, kalian kenapa?" Tanya paman
"eh, idak ada apa-apa paman, cuma masalah kecil saja" sahut Yudi
"Masalah kecil?? sepertinya kalian sedang membakar ikan dan.... Ikan kalian gosong semua.?!" ujar paman sambil melihat ikan yang gosong
"Iya.. paman, tapi itu tidak masalah kami bisa menangkapnya lagi kok" sahut Yudi
"Kalau kalian lapar, kalian boleh ikut saya ke rumah dan makan di rumah saya"
"Tidak usah paman, kami tidak terlalu lapar" sahut Yudi
"Iya aku juga belum lapar banget" sahut Dea
__ADS_1
KRUUUKKK...... (Bunyi perut serentak)
"Perut kalian berbunyi, ikutlah dengan saya, kita makan bersama, kalian tidak usah malu anggap saja ini imbalan untuk kalian telah menolong putri saya"
"Hehe.. ba...baiklah paman, terimakasih banyak" sahut Dea
Setelah itu mereka pun ikut ke rumah paman itu untuk ikut makan bersama di rumahnya, setelah makan mereka pun akhirnya merasa kenyang dan bisa istirahat sejenak di rumahnya.
"Paman makanan ini sungguh membuat kami kenyang, saya sangat berterima kasih kepada paman atas makanannya" ujar Yudi
"Tidak perlu seperti itu, justru saya lah yang harus berterima kasih kepada kalian, kalau saja kalian tidak tepat waktu mungkin saya sudah kehilangan putri saya, tapi saya hanya bisa memberikan makanan seperti ini bukan makanan yang mewah, karena kami adalah keluarga tidak mampu"
"Aaahh.. paman terlalu merendah, makanan seperti ini sudah enak dan harus di syukuri, diluar sana bahkan banyak orang yang tidak bisa makan makanan seperti ini" sahut Yudi
"Iya kau benar anak muda, kalau boleh tau siapa nama kalian? nama saya Wahyu!"
"Namaku Yudi, mereka teman-teman ku Indra, Lina dan Dea"
"Salam kenal paman" (serentak)
"aku tidak diperkenalkan, hmphh..!" ujar Porong dalam hati
"Oh iya paman, kami mau minta sesuatu, apa paman bisa membantu?"tanya Yudi
"Katakan saja, jika saya bisa saya dengan senang hati membantu"
"Baiklah paman, apa boleh kami menumpang istirahat disini untuk beberapa waktu?"
"Oh itu ya, tentu saja boleh, tapi keadaan rumah saya seperti ini dan tidak menyiapkan tempat tidur untuk tamu"
"Tidak masalah, kami bisa tidur dimana saja kok"
"Baiklah kalau begitu kalian menginap disini untuk beberapa hari, tapi kalau boleh tau tujuan kalian mau kemana?"
"Oh jadi begitu, baiklah kalian beristirahat lah saya akan keluar dulu sebentar"
"Baik" (serentak)
"Lina, kau pandai juga yah?, pandai berbohong maksudnya" ejek Yudi
HAHAHAHA (menertawakan)
RRRRRR.......
Akhirnya mereka pun diperbolehkan untuk beristirahat beberapa hari di rumah paman Wahyu, dan selama mereka di sana mereka pun ikut membantu paman Wahyu dan keluarganya.
## Sekarang kita beralih ke desa Barong tempat tinggal Lina ##
Di desa Barong Dini dan Zilfa sedang pamer motor barunya kepada Rendi
"Hei Rendi kau mau kemana?" tanya Dini
"Bukan urusanmu" sahut Rendi
Tiba-tiba dari depan Zilfa sedang melaju motornya ke arah Rendi,
"AWAS RENDI.!!, jangan disitu nanti tertabrak.!" Teriak Zilfa
"Woi, woi apa-apaan kamu Zi? Kalo aku ketabrak gimana?"
"Hehe.. maaf motor baru belum bisa mengontrol" sahutnya
__ADS_1
"Hmphh, punya motor baru saja udah sombong apalagi mobil baru."
"Hei Rendi, kalo kamu iri bilang aja, bukan hanya Zilfa yang punya motor baru, motor ku juga baru loh, hehe.." ujar Dini
"Hmphh motor baru beli dari komisi YouTube aja blaga, mana kalian ambil videonya disaat keadaan bahaya lagi hmphh."
"Walopun aku mengambil videonya saat kita diserang oleh para orang-orang yang berjubah tidak jelas itu, aku berhasil meliputnya dan jadi viral, kita jadi dapat duit banyak deh, ya ngga Din?" ujar Zilfa
"Sudahlah lebih baik aku pergi saja daripada ngobrol tidak jelas dengan kalian.!"
Rendi pun pergi begitu saja, Dini dan Zilfa pun ngobrol berdua, dan mereka juga sedang menghawatirkan Lina.
Si kakek lebah juga sedang beterbangan ke sana kemari sambil mengeluh tidak jelas.
"Aduuhh membosankan sekali, kembali juga seperti ini, tidak melakukan apapun, bersama mereka juga bahaya apa lagi bocah tua itu selalu bikin kesal, menyebalkan sekali" gumam kakek lebah.
Dua hari kemudian mereka berencana untuk melanjutkan perjalanannya, namun mereka masih belum jelas pergi kemana, dan di saat itu orang yang misterius itu datang kembali menghampiri mereka disaat paman Wahyu dan keluarganya keluar rumah.
"Hei kau kenapa kau datang lagi pada kami, dan kenapa kau tau kami ada disini?" Tanya Indra keras
"Aku kesini untuk membawa kalian semua ikut denganku"
"Hah apa maksudmu, apa kau ingin membawa kami ke Raja Imran?!" sahut Indra
"Jangan salah faham seperti itu, aku bukanlah orang yang seperti kalian pikir"
"Lalu apa tujuanmu membawa kami?!" Tanya Lina
"Nanti ku ceritakan setelah kalian ikut denganku"
"Hmphh aku tidak percaya denganmu bisa saja kau ingin mencelakakan kami!" ujar Indra
"Apa aku terlihat ingin mencelakakan kalian, kalau memang ada niat seperti itu, untuk apa aku membantu kalian?"
"Indra sepertinya dia orang baik, kita ikuti saja" ujar Lina
"Baiklah, tapi apa jaminan mu tidak akan mencelakakan kami.?!" tanya Indra
"Jika aku berbuat seperti itu, bunuh lah aku dengan senjata Lading Suci mu itu" sahutnya
"Dia mengetahui senjata Lading Suci, dia juga tau semua tentang Brata, orang ini sangat misterius, siapa dia sebenarnya.?" gumam Yudi dalam hati,
"Baiklah kami ikut.! Tapi berjanjilah pada kami.!" ujar Lina
"Aku tidak akan mengingkarinya.!"
Kemudian mereka pun pergi ikut bersama dengan orang misterius itu.
Tidak lama kemudian setelah Indra dan lainnya pergi paman Wahyu dan keluarganya pun pulang dan tidak melihat siapa-siapa dirumahnya.
"Hah, kemana mereka.? Mereka pergi kemana, kenapa tidak bilang-bilang, dasar anak muda jaman sekarang."
Paman Wahyu pun membiarkannya saja dan ketika paman Wahyu hendak makan, paman Wahyu membuka tudung saji yang ada di meja makan dan dia melihat ada beberapa keping emas dan selembar kertas, paman Wahyu pun kaget bukan kepala dengan apa yang dia lihat, kemudian dia mengambil kertas itu dan membaca tulisannya, dan itu ternyata adalah kertas yang berisi salam perpisahan dari Lina dan Lina memberikan emas itu sebagai tanda terimakasihnya, paman Wahyu pun seakan tidak percaya dengan semua itu, tapi dia sangat bersyukur telah mendapat rezeki yang tak terduga, beliau sekeluarga pun terharu dan mengucapkan terimakasih kembali serta mendoakan mereka baik-baik saja.
Disebuah tempat yang jauh dari pemukiman, terdapat sebuah gubuk di tengah hutan dan itu adalah tempat orang misterius itu tinggal, di sana orang misterius itu sedang menjelaskan tentang kenapa dia ingin membawa Lina dan lainnya untuk ikut bersamanya.
"Sekarang jelaskan pada kami apa tujuanmu.?" ujar Lina
"Baiklah, aku akan menjelaskannya, yang pertama aku mempunyai kabar buruk untuk kalian."
"APA.! KABAR BURUK..!!!"'
__ADS_1
...****************...