Lina Dan Manusia 1000 Abad

Lina Dan Manusia 1000 Abad
Chapter 50. Kematian Dea


__ADS_3

Setelah di grebek oleh polisi, Indra, Lina, Yudi dan Dea, mereka semua ditangkap oleh polisi dan dimasukkan kedalam penjara, namun Dea yang sedang terluka dia ditempatkan di ruangan lain, sedangkan Indra, Yudi dan Dea mereka berada dalam satu sel


"Pak polisi, lepaskan kami, kami bisa menjelaskan semuanya.!" mohon Lina


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, saksi mata sudah memberitahu pada kami, dan itu sudah jelas aksi pembunuhan, dan untuk pelaku harus dihukum mati dan para komplotannya akan di penjara selama 10 tahun" jawab polisi


"Tapi, pak polisi.?!"


Tidak lama kemudian datang seorang polisi yang lain dan dia membawa kurungan yang berisi Kendit dan Porong, polisi itu tampak berbicara kepada temannya dan kemudian polisi itu menyerahkan Kendit dan Porong pada temannya itu lalu membawanya pergi


Hal itu dilihat oleh Lina dan Yudi sehingga mereka juga cemas, namun ada sesuatu yang aneh terpikirkan oleh Yudi.


"Yudi, Kendit dan Porong juga ditawan, bagaimana ini?" tanya Lina


"Aku mempunyai pertanyaan untuk itu, yaitu apa tujuan mereka membawa Kendit dan Porong, seorang polisi seharusnya tidak peduli dengan binatang peliharaan, tapi untuk apa mereka membawanya..?!"


"Kau benar juga Yudi, aku juga sempat berpikir seperti itu"


"Mereka bukan manusia.!" sahut Indra


"Apa maksudmu Indra.?! tanya Lina


"Aku tidak tau kenapa, tapi aku merasakan sesuatu yang aneh dari mereka, aku merasakan jiwa mereka sangat kecil dan lemah, dan mereka juga merintih"


Di salah satu ruangan, yaitu ruangan tempat Dea berada di sana Dea sedang terbaring lemah tak berdaya, kemudian datang polisi yang membawa Kendit dan Porong,


Kendit dan Porong melihat Dea yang sedang tidak berdaya begitu cemas dengannya, selain itu Dea juga tidak mendapatkan pengobatan, Dea dibiarkan menderita dengan luka pada tubuhnya, lalu polisi itu meletakkan Kendit dan Porong di atas meja dan dia berbicara


"Duduklah dengan manis anak-anak, dan saksikan detik-detik terakhir orang yang kalian sayangi.!"


Betapa terkejutnya Kendit dan Porong mendengar ucapan polisi itu seperti tertusuk pedang berkarat, kemudian polisi itu mendekati Dea dan berbicara padanya,


"Kasihan sekali kau gadis manis, sepertinya aku memang harus mengakhiri penderitaan mu hihi.."


Di sebuah ruangan tepatnya di kantor polisi itu terlihat seorang remaja laki-laki datang menemui komandannya dan terlihat pria itu membawa sesuatu di tangannya dan memberikan barang itu kepada sang komandan


"Tuan, aku sudah mengambil botol milik gadis itu, apakah ini benar botol yang tuan maksud.?" (menunjukkan)


"Benar sekali, ini adalah botol penghisap roh yang kuat, aku akan menyimpannya terlebih dahulu nanti baru aku hancurkan," ujarnya, kemudian dia memanggil salah satu rekannya


"Dendra.!"


"Ya, ada apa guru.?"


"Beritahu semua anggota, kita akan mengeksekusi gadis yang terluka itu hari ini juga!"

__ADS_1


"Baik guru"


Kemudian polisi yang bernama Dendra itu memberitahu kepada semua anggota polisi untuk berkumpul dan menyiapkan sebuah panggung pengadilan dimana nantinya Dea akan di eksekusi dan di bakar


Di penjara tempat Lina, Indra dan Yudi berada terlihat Dendra datang untuk menyampaikan berita eksekusi Dea kepada polisi yang menjaga tahanan


"Kukuh.! Guru memerintahkan kita semua untuk menyampaikan panggung eksekusi.!"


"Hei Dendra, apa kau tidak liat aku sedang santai, mengganggu saja"


"Tapi guru mengatakan dia akan mengeksekusi gadis yang terluka itu hari ini, kita harus menyiapkan semua yang diperlukan.!"


"Baiklah, baiklah aku akan segera ke sana.!"


Indra dan Yudi tercengang ketika mendengar pembicaraan polisi itu, mereka pun begitu gelisah dan berusaha untuk melepaskan diri, namun senjata mereka telah disita semuanya oleh para polisi, tetapi mereka juga memikirkan hal yang mencurigakan.


"Indra, Yudi, bagaimana ini, orang yang akan di eksekusi itu pasti adalah Dea apa yang harus kita lakukan sekarang, senjata kita telah disita, kita tidak bisa keluar dari penjara ini" cemas Lina


"Aku juga sedang memikirkan hal itu Lina, selain itu nama mereka juga tidak asing bagiku, aku seperti pernah mengenalnya" sahut Yudi


"Siaaall...." kesal Indra


"Indra kenapa? Apa kau tau siapa mereka?"


"Mereka,,, nama mereka seperti nama teman seperguruan ku sepertinya mereka semua adalah penduduk Lembah Biru.!"


"Dendra adalah teman baikku, dia selalu mendukung ku, lalu Kukuh, dia dulu membenciku bersama teman lainnya, dan orang yang mereka sebut guru tidak salah lagi itu adalah guru ku"


"Tapi jika mereka adalah roh kenapa mereka terlihat seperti orang yang masih hidup, selain itu aku tidak melihat adanya roh didalam tubuh mereka" sahut Lina


"Sudahlah.! kita pikirkan itu nanti saja, jika benar yang akan mereka eksekusi adalah Dea, maka kita harus secepatnya keluar dan menolongnya.!" ujar Yudi


Dan mereka pun begitu cemas dengan Dea, mereka terus berusaha mencari jalan keluar agar bisa menyelamatkannya.


Beberapa saat kemudian panggung eksekusi telah selesai dibuat dan saatnya untuk mengeksekusi Dea, kemudian sang komandan yang mereka sebut sebagai guru datang ke ruangan Dea untuk membawanya di eksekusi, namun setelah komandan masuk ke ruangan tersebut komandan melihat Dea sudah tidak bernyawa dan polisi yang di sana sedang memegang pisau dan tubuhnya penuh dengan darah, tubuh Dea penuh dengan luka dan begitu juga dengan wajahnya, ternyata polisi itu yang sudah membunuh dan menguliti wajah Dea, terlihat polisi itu tertawa jahat dan seperti merasa begitu senang..


"SIRHAS..!! apa yang kau lakukan, kenapa kau membunuhnya, aku belum sempat menikmatinya, malah kau sudah membunuhnya."


"Hahaha..!!! Guru.! Aku minta maaf padamu, aku terlalu bersemangat untuk membunuhnya, dan aku juga sudah menikmati tubuhnya, apa kau mau tau rasanya, guru.? HA-HA-HA..!"


"Dasar kau,! dari dulu kau tidak pernah berubah, selalu egois dan bertindak seenaknya.!"


"Hi-hi-hi... Guru, apa aku melakukan kesalahan lagi, kalau begitu aku minta maaf padamu guru,"


"Rrrrr,, sudahlah.! Kalau begitu karena kau yang membunuhnya dan tidak mengikuti perintah ku, maka kau akan ku hukum untuk mengurus mayatnya.!"

__ADS_1


Disitu Kendit dan Porong terlihat sedang menangis sejadi-jadinya, ingin melawan tapi tidak bisa melakukan apapun, kemudian polisi yang telah membunuh Dea yaitu Sirhas membawa mayat Dea untuk di bakar di panggung eksekusi yang sudah disiapkan.


Setelah semua itu selesai para polisi kembali ke tempat masing-masing, disitu terlihat Kukuh yang kembali ke penjara sedang bergumam dan terdengar oleh Indra, Yudi, dan Lina.


"Haahhh, dasar Sirhas brengsek, selalu saja bertindak seenaknya membunuh gadis itu, dia juga telah menikmati tubuhnya, sebenarnya aku juga ingin menikmatinya, tubuh gadis manis itu pasti rasanya sangat nikmat tapi si brengsek itu sudah membunuhnya lebih dulu, sial.!"


Indra, Lina dan Yudi tercengang begitu mendengar yang diucapkan oleh Kukuh, mereka pun langsung emosi ketika itu.


"apa.? Dea sudah dibunuh.??" ujar Lina


"Hei brengsek.! Cepat lepaskan aku, akan ku bunuh kau.!" emosi Indra


"Haaahhh,,?? apa yang kau katakan?, kau ingin membunuh ku? Hmphh, jangan mimpi kau, kau tidak akan bisa membunuhku karena sebentar lagi kau akan di segel oleh Raja Imran.! jadi bersiap sajalah INDRA.! Hahaha.!"


"jadi benar dugaan ku, kau adalah teman seperguruan ku Kukuh.!"


"haahh? teman?? memangnya sejak kapan kita berteman, jangan mimpi kau.!"


"Hei.! Aku adalah Yudi pemimpin utama pasukan Lembah Biru, aku mohon lepaskan kami segera, kalian bukanlah orang jahat, kalian hanya dipengaruhi oleh Raja Imran, jika kau melepaskan kami, kami akan membantu kembali ke jalan yang benar"


Kukuh pun mengabaikan perkataan Yudi dan kembali bersantai, disitu Indra terlihat sangat marah sehingga mengeluarkan kekuatan jiwanya dan mencoba untuk menghancurkan besi penjara, namun ketika Indra mengeluarkan kekuatannya saat itu Indra sangat marah dan tidak bisa mengendalikan dirinya, kekuatan yang ditimbulkan pun begitu besar sampai membuat seluruh penjara di sana bergetar seperti terkena goncangan gempa bumi dan membuat Lina dan Yudi terdorong hingga terluka karena tidak dapat menahan kekuatan itu, semua orang yang ada di dalam kantor polisi itu dibuat panik, Yudi dan Lina mencoba menahan dan menghentikan Indra.


"INDRA HENTIKAN.! KAU BISA MELUKAI BAHKAN MEMBUNUH KAMI SEMUA.! TOLONG HENTIKAN INDRA..!!"


Indra pun dengan sedikit kesadarannya menoleh ke arah Yudi dan Lina, Indra melihat mereka sedang kewalahan menahan kekuatannya kemudian Indra pun menghentikannya sebelum akhirnya penjara disitu ambruk.


"Maaf, aku telah membuat kalian terluka, aku tidak bisa menahan amarahku"


"Uhuk, uhuk, Indra, kau jangan gegabah, aku mengerti perasaanmu, tapi alangkah baiknya kita mencari cara yang lain agar bisa keluar dari penjara ini" ujar Yudi


Disaat mereka berfikir mencari jalan keluar, diluar sedang terjadi kegaduhan, terlihat segerombolan lebah yang dipimpin oleh si kakek lebah sedang menyerang para polisi di sana, ya, bala bantuan dari Kakek lebah telah datang mereka langsung menyerang para polisi di sana, Kukuh yang sedang menjaga penjara di sana, keluar untuk melihatnya, Setelah Kukuh keluar kemudian datang seorang laki-laki yang bercadar dan membebaskan Lina, Indra dan Yudi, orang itu bukan hanya membebaskan mereka tapi juga membawakan senjata mereka.


"Siapa kau.?" tanya Indra


"Terimakasih sudah membebaskan kami, tapi,, apa tujuanmu dan siapa kau?" sambung Yudi


"Nanti kalian juga akan mengerti, sekarang lebih baik kalian pergi dari sini" sahutnya


Kemudian Indra, Lina dan Yudi keluar dari penjara itu, namun ketika mereka keluar mereka bertemu dengan komandan polisi di depan pintu keluar.


"Halo Indra, lama tidak bertemu."


Tebak apa yang akan terjadi pada akhirnya, tulis di kolom komentar ya..!


__ADS_1


...****************...


__ADS_2