
Chapter 10
happy reading....
🍁🍁🍁
Bruum bruum bruum...
Deru suara mesin beberapa motor hasil modifikasi memekakkan telinga penghuni sekolah yang sedang memarkir kendaraannya.
Dimas and the geng turun dari motornya masing - masing dengan gaya sok cool nya.
Ia menatap sinis pada Zain yang sedang menunggu Ryo diparkiran sambil memainkan ponselnya.
Walaupun kendaraan yang mereka tumpangi memiliki kelas level yang berbeda, tapi itu tak menyurutkan sikap pongah yang dimiliki oleh Dimas.
"Cih..." Dimas tersenyum sinis pada Zain. "Badan aja gede, motor ikut - ikutan gede. Tapi sayang gak pernah boncengin cewek. Belok nih kayaknya orang." Sindirnya pada Zain dengan mengajak bicara teman - temannya.
Belum tau aja nih si Dimas kalau Zain itu terlampau lempeng dan lurus, sampai - sampai ia sudah menghasilkan produk dengan kualitas premium.
Zain yang mendapat sindiran itu hanya merotasikan bola matanya. Ia jengah melihat laki - laki bermulut wanita ini.
Zain memasukan ponsel mahalnya kedalam saku celana. Turun dari atas motornya dengan gaya cool, menghampiri Dimas and the geng.
"Jangan asal ngomong brother, kalau Lo sendiri bisa pake dua - duanya." Ucap Zain dengan senyum devilnya sambil menepuk pelan bahu Dimas seolah sedang membersihkan debu.
Setelah berucap seperti itu, Zain langsung beranjak dari parkiran menyisakan Dimas dan teman - temannya yang masih tak mengerti ucapan dari Zain pada Dimas. Sedangkan Dimas sudah berubah raut wajahnya menjadi kaku dengan tangan terkepal.
Apakah Zain tau?
Niat hati ingin menunggu Ryo, ini malah didatangi anakan bebek yang tak ada hentinya berkoceh.
Brakkk
Zain meletakkan tasnya dengan kasar dimeja. Masih pagi, udah ada aja yang buat mood nya rusak.
Zain meraih tasnya dan memasukannya kedalam laci meja. Tapi ada yang aneh. Kenapa tasnya tak bisa masuk sepenuhnya ke laci? Zain terus mendorong paksa tasnya agar bisa masuk. Tapi tetap tidak bisa.
Zain mengeluarkan tasnya kembali dan merunduk melihat kedalam laci. Ternyata ada benda yang cukup besar dan tebal didalamnya.
Zain meraih dan mengeluarkan benda itu. Dan ternyata itu adalah sebuah kotak bekal berwarna biru dengan sebuah kertas dengan note.
"Aku buatkan sarapan untuk kamu. Semoga kamu suka."
Zain masih menatap kotak bekal itu. Berfikir siapakah yang sudah melakukan ini?
Ia mengangkat wajahnya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari kemungkinan siapa si pengirim bekal itu. Namun hasilnya nihil. Tak ada tanda - tanda si pengirim. Penghuni disana sedang sibuk dengan urusan masing - masing. Tanpa Zain sadari, ada seorang gadis yang sedang duduk dengan tersenyum senang sambil melihat kearah buku tanpa membacanya.
Bel masuk sudah berbunyi. Jam pertama dikelas Zain adalah pelajaran seni.
__ADS_1
"Baik anak - anak. Ibu akan mengumumkan pada kalian, bahwa sekolah kita akan mengadakan pentas seni dalam kurun waktu dua bulan lagi. Dan ini merupakan salah satu kegiatan yang akan ibu ambil sebagai nilai praktek kalian untuk mid semester, ya? Dan kelas ini akan bergabung dengan kelas bahasa." Bu Yuni menjeda ucapannya sesaat karena mendengar keriuhan para siswa.
"Ok. Tenang dan dengarkan ibu dulu." Bu Yuni mencoba menenangkan isi kelas. Lalu melanjutkan ucapannya.
"Setiap kelas akan diambil satu pemeran antagonis dan protagonisnya. Dan begitupun untuk peran pembantu, tapi peran pembantu mungkin akan diambil lebih banyak lagi nantinya sesuai kebutuhan. Dan untuk pertemuan hari ini kita akan melakukan cabut nomer untuk menentukan pemeran protagonis cowok aja dan antagonis ya. Untuk pemeran protagonis cewek udah dapet dari kelas bahasa" Tutur Bu Yuni.
"Ya Bu." Ucap serempak para siswa.
"Di depan ibu sudah ada kotak berisi nama dari siswa laki - laki di kelas ini. Karena ibu sudah dapat pemeran protagonis cewek dari kelas bahasa." Tunjuk Bu Yuni pada kotak yang dibawanya.
Diambillah gulungan kertas itu dari dalam kotak untuk menentukan pemeran protagonis terlebih dulu. Dan keluarlah nama Zain Malik. Dan untuk calon pemeran antagonis, dengan nama Ryonaldo.
Sorak terdengar kembali. Mereka begitu heboh karena nama seorang Zain Malik yang keluar. Bagaimana tidak heboh, prince nya sekolah akan mendapatkan peran protagonis cowok. Siapakah cewek yang beruntung jadi pemeran protagonis wanita?
****
"Lo mau kemana?" Tanya Ryo yang melihat Zain beranjak dari bangkunya.
"Kantin." Jawab Zain singkat.
Alis Ryo terangkat sebelah. Tak biasanya orang ini nongkrong di kantin, pikirnya. Pasti ada daging dibalik bakso nih.
"Tunggu, gue ikut." Ryo mengekor dibelakang Zain yang berjalan dengan langkah lebarnya.
Di kantin, bangku - bangku sudah dipadati oleh para siswa. Namun netra zain menangkap dua bangku kosong disudut kantin. Dan lagi - lagi tepat didepan gadis yang hadir didalam mimpi mesumnya tadi malam.
Bagai terhipnotis Zain melangkah kearah meja dimana ada Zahwa disana.
"Hai Zain..." Sapa Rosa kegirangan dengan lambaian tangannya.
Zain hanya melirik sekilas tanpa membalas sapaan Rosa.
"Yo, gue pesen bakso sama teh botol dingin." Pesannya pada Ryo.
"Kog gue berasa jadi pelayan ibu kantinnya?" Gumamnya tak ayal bangkit dari duduknya untuk memesan makanan.
Zain menatap dua gadis didepannya yang sedang menikmati semangkuk bakso dengan kuah berwarna merah karena kebanyakan sambal dan saos.
Enggak, bukan kedua gadis itu yang ditatapnya. Tapi Zahwa.
Kini pandangan Zain terfokus pada bibir Zahwa yang merona menahan pedas. Begitu seksi dan mengga irahkan untuk di *****.
Ooouwww sh it.
Zain jadi teringat mimpi mesumnya dengan gadis ini. Sehingga tanpa disadarinya, pedang panjangnya mulai bereaksi dan memenuhi segitiga bermuda yang ia kenakan.
Zain memalingkan pandangannya kearah lain untuk menghilangkan rasa sesak yang dirasakannya. Dan untungnya Ryo sudah datang membawa pesanan mereka.
"Silahkan dinikmati hidangannya tuan." Ryo menyodorkan pesanan Zain ala pelayan kafe. Dan kemudian ikut duduk bergabung dengan ketiga orang itu yang sedari tadi hanya diam.
__ADS_1
Zain dan Ryo mulai menyantap makanannya tanpa banyak basa - basi pada kedua gadis didepannya ini. Hingga keheningan terpercah karena suara Zahwa.
"Zain!" Panggil Zahwa.
Zain mendongak, melihat ke arah Zahwa yang sedang bicara padanya.
"Emmm..." Zahwa sedikit ragu. Tapi ia harus membicarakan ini dengan Zain.
"Bisa tidak untuk dua bulan ini aku minta toleransi waktu kerja?" Ucap Zahwa sedikit takut.
Karena ia belum lama bekerja di kafe Zain. Bahkan belum mulai bekerja. Kini ia sudah meminta waktu toleransi untuk kerjanya.
"Kenapa?" Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Zain.
"Aku terpilih sebagai pemeran utama dalam pentas drama sekolah. Jadi harus latihan setiap hari disekolah selama satu jam. Bisa kan kasi aku tenggang waktu? Untuk dua bulan ini aja. Dan sebagai gantinya, setiap hari minggu aku akan kerja full seharian." Pinta Zahwa.
"Woaaahhh, kebetulan." Celetuk Ryo sambil memukul pelan meja didepannya.
"Kebetulan apanya?" Tanya Rosa yang tak mengerti maksud Ryo.
"Asal Lo tau, Sa. Zain yang dapat pemeran utama cowoknya. Keren gak tuh? Cowok dingin beradu akting dengan cewek garang?" Ucap Ryo. Dan langsung mendapat hadiah timpukan tisu dari Zahwa.
"Enak aja bilang aku cewek garang." sungut Zahwa.
"Beneran? Demi apa?" Rosa kaget. "Wa, Wa. Ganti posisi dong. Bisa gak sih gue aja yang jadi pemeran utama ceweknya?" Rengek Rosa tanpa memperhatikan wajah Zain yang berubah tak suka dengan perkataannya.
"Ya bilang sono sama Bu Yuni. Biar aku gak tambah capek. Kalau bukan karena nilai mid, aku gak mau ikut acara beginian." Tutur Zahwa.
"Yah... Gak berani gue." Nyali Rosa menciut.
"Ok. Lo bisa kerja mulai jam empat. Dan minggu Lo full kerja sampai malam.
Zahwa tersenyum senang karena Zain memberinya izin.
Seketika hati Zain berdesir melihat senyum itu. Bibir itu sungguh menggoda. Seolah - olah memanggil Zain untuk mengecup dan melu matanya.
Zain menggelengkan kepalanya. Ada yang tidak beres dengan otaknya saat ini.
Masih bisa Zain rasakan kekenyalan bibir merah itu. Rasanya begitu nyata dan belum hilang hingga sekarang.
Ingin rasanya Zain mengulang mimpi indah itu bersama wanita yang ada didepannya ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa like, komen kamu ya.
tambahkan ke list favorit mu juga.
__ADS_1
dan jangan ketinggalan untuk vote karya aku.
...thanks udah mampir 🙏...