
Chapter 19
happy reading....
🍁🍁🍁
Usai menerima telepon dari ayahnya, Zahwa kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas.
Namun lagi - lagi langkahnya harus terhenti.
Saat ini tengah berdiri sosok Megan dan kedua anteknya, Mayang dan Silvi. Mereka sedang menghadang jalan Zahwa.
Tak ada kata yang keluar dari mulut Zahwa. Ia hanya menatap serius ketiga cewek calon tante - tante menor. Sebab saat ini, wajah ketiganya tebal dengan make up.
"Eh, Zahwa!" Megan membusungkan dadanya seolah menantang Zahwa. "Sebelumnya udah gue peringatin sama lo buat jauhi Zain. Kenapa masih Lo pepet aja tuh cowok?" Ucap Megan dengan lantang.
Alis Zahwa naik sebelah dengan seringai tipis di bibirnya.
"Daripada elo marah gak jelas kayak gini, mending lo terus pepet si Zain. Mana tau besok - besok dia kecantol sama lo." Ucap Zahwa.
"Ya makanya, elo jauhi dia. Biar perhatian dia gak ke elo." Megan masih menampakkan wajah garangnya.
"Hhhaaaahhh. Capek ngomong sama lo. Yang dibahas Zain melulu." Zahwa berlalu dari hadapan Megan, dengan menandakan bahunya kebahu Megan.
"Akkhhh.... Ni cewek kayak banteng aja sih? Main tabrak gue." Sarkas Megan.
Megan menghentakkan kakinya dan pergi menuju ke kelasnya dengan diikuti dua dayang setianya.
Jam istirahat ini Zahwa putuskan keperpustakaan sebentar untuk meminjam buku. Karena besok adalah hari minggu, Zahwa akan mengisi waktu kosongnya dengan membaca.
Sudah seminggu ini jam kerjanya sudah kembali normal sesuai perjanjian kerja yang sudah disepakatinya dan Zain.
Usai dari perpustakaan, Zia singgah ke kantin untuk membeli jajanan dan minuman. Ia berniat untuk nongkrong ditaman sambil baca buku.
"Bu akuwa satu sama jajanan dua." Zahwa menyodorkan uang pada penjaga kantin.
Zahwa langsung berlalu, dan ingin segera merealisasikan niatnya tadi.
Saat berbalik, sengaja atau tidak dia ditabrak seorang siswi. Dan minuman yang dipegang siswi itu tumpah mengenai seragam putihnya.
"Eh. Sorry sorry, gue gak sengaja." Ucap Riska dengan paniknya.
"Huuuhhh! Kotor deh." Gerutu Zahwa dengan gumaman kecil.
"Sekali lagi sorry ya?" Ucap Riska sekali lagi.
"Ya gak apa - apa. Bisa dibersihkan kog." Zahwa tersenyum kecut memandang seragamnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zahwa langsung menuju kamar mandi dan membersihkan seragamnya.
__ADS_1
Sedangkan Riska menampilkan senyum devilnya tanpa ada satu orang pun yang tahu.
Didepan kantin, Zahwa berpapasan dengan Zain dan Ryo.
"Loh loh. Seragam lo kenapa, Wa?" Tanya Ryo.
"Ketumpahan minuman orang tadi." Jawab Zahwa.
"Untung lo pakai daleman lagi. Kalau enggak..." Ryo menjeda ucapannya.
"Kalau enggak kenapa?" Tanya Zahwa penasaran.
"Pasti kaca mata lo keliatan." Ucap Ryo sambil nyengir.
Awalnya Zahwa tak memahami ucapan dari Ryo. Namun perhatiannya teralihkan kearah tatapan Ryo yNg mengarah kedadanya. Zahwa dengan spontan memeluk tubuhnya sendiri. Ia sudah mengerti maksud dari ucapan Ryo.
Wajah Zahwa seketika memerah, mendengar penuturan mesum dari Ryo.
Plaakk...
Zain menimpuk kepala Ryo sedikit keras, lalu berlalu begitu saja tanpa peduli dengan Ryo yang meringis.
Kan Zain jadi ikut membayangkan yang dibalik kaca matanya Zahwa yang itu.
Dasar cowok.
Pagi ini, keceriaan benar - benar terpancar dari wajah imut princess cilik dikediaman keluarga Malik.
Sora berlari dengan riangnya mengejar bola yang sedang ditendang oleh uncel nya.
"Unceeel... Jangan jauh - jauh. Sola kan capek kejal bolanya." Rengek Sora dengan teriakannya Dan mulut yang mengerucut lucu. Namun ia tetap mengejar bola itu.
Dewa yang berhasil mengerjai ponakannya itu hanya tertawa melihat cara Sora yang berlari.
Sora sudah mendapatkan bola itu. Ia hendak berlari menuju kearah uncel nya, namun berbelok arah karena melihat sang daddy.
"Daddy..." Rengek Sora saat melihat Zain menuju kursi taman.
"Kenapa sayang?" Tanya Zain dengan lembut.
Pasti anaknya telah dikerjai kakak durjananya ini lagi, pikirnya.
"Uncle buat Sola lari - lari kejal bola. Kan Sola capek jadinya. Nih nih... Kaki Sola kan gak jadi tinggi." Adu Sora.
Zain menatap Sora dan Dewa bergantian.
"Ngadu terooosss. Dasar bocil." Cibir Dewa pada sang ponakan.
"Daddy... Uncle bilang bocil tadi tuh." Ucap Sora sambil bersedekap dada.
__ADS_1
"Emang Sora bocil kan?" Zain ikut menggoda sang anak.
"Iiiihhh Daddy." Mata kecil itu mulai berkaca - kaca dengan bibir mencebik.
"Uluh uluh..." Zain memeluk putrinya.
Huuwaaa aaaaa....
Tangisan kencang Sora terdengar hingga ke tempat Ayumi berada.
Ayumi bergegas melihat apa yang sedang terjadi pada cucunya.
"Sora kenapa, Zain?" Tanya Ayumi. "Pasti kalian usilin, iya kan?" Tuduh Ayumi dengan mata yang melotot.
Zain hanya bisa tertawa melihat reaksi dua wanita beda generasi ini.
"Sini sayang, sini sama grandma." Ayumi mengambil alih Sora dari Zain.
"Glandma... Uncel sama daddy nakal. Masa Sola dibilang bocil." Adu Sora pada Ayumi.
"Oh ya?" Ayumi pura - pura terkejut. Dan dengan polosnya Sora pun mengangguk.
Sebenarnya Ayumi ingin tertawa. Namun ia tahan, demi cucunya agar bisa cepat terdiam dari tangisnya.
"Nanti biar grandma sunat burung mereka. Biar gak bisa terbang lagi." Ayumi mulai berbicara abstrud.
"Daddy sama uncel punya bulung?" Tanya Sora yang mulai menghentikan tangisannya. Ia merasa tak pernah melihat kalau ada burung dirumah ini.
Ayumi mengangguk.
"Mana? Sola mau lihat."
"Eh? Gak boleh." Ayumi menggerak - gerakan jari telunjuknya.
"Why?" Sora memiringkan kepalanya.
"Nanti burungnya keluar dari sangkar. Daddy sama uncel gak punya burung lagi dong?" Pungkas Ayumi.
Mendengar pembicaraan dua wanita itu, Zain jadi menghela nafas kasar sedangkan Dewa menepuk jidatnya.
Ternyata cucu dan nenek sama saja.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa tinggalin jejak kamu.
...thanks udah mampir 🙏...
__ADS_1