Little Daddy

Little Daddy
Chapter 26


__ADS_3

Chapter 26


happy reading....


🍁🍁🍁


"Hey mas bruh!" Seorang pemuda melambaikan tangan keatas menyapa Zain yang baru saja tiba ditempat tongkrongannya.


"Bang!" Sapa Zain balik.


"Kenapa baru nongol?" Tanya Kenzo, pemuda yang menyapanya tadi.


"Lagi sibuk." Jawab Zain singkat.


"Ce ileh... Gaya lo sibuk. Sibuk apa? Cari cewek?" Cibir Kenzo.


Zain tergelak kecil sambil menggelengkan kepalanya. Baru dapat cem - ceman sebiji aja udah pusing.


"Tambah ramai, Bang." Zain mengamati suasana tempat tongkrongan pinggir jalan yang biasa ia kunjungi ini.


"Gimana gak ramai? Banyak cewek cantik dan seksinya." Kenzo menyeringai.


Yup, benar yang dikatakan Kenzo. Tempat ini memang benar - benar banyak ceweknya, tak seperti saat terakhir kalinya ia main ketempat ini.


Zain mengedarkan pandangannya. "Wuuiiidiiih... Cewek seksinya bohay bener bang." Celetuk Zain.


"Haha... Gue kira, lo gak doyan apem sama semangka." Kenzo menanggapi celetukan Zain.


"Gue normal, Bang." Sewot Zain. "Buktinya gue sampai punya Sora." Lanjutnya lagi dalam hati.


Namun tak selang berapa lama, netranya menangkap seseorang yang dia kenali. Zain memicing untuk mempertajam pengelihatannya lagi.


"Bukannya itu Riska?" Gumamnya lirih.


Zain kini tengah melihat Riska, teman sekelasnya sedang bermesraan dengan seorang pria yang terkenal sebagai player kelas wahid diperkumpulannya.


Zain menggelengkan kepala melihat kelakuan ekstrim teman sekelasnya itu. Tak menyangka, si polos bisa berubah si hot. Bagaimana tidak? Didepan umum Riska berani ber ciu man dengan begitu hot-nya, sampai ada adegan remas meremas.


"Gila nih cewek satu. Gue kira lugu plus polos. Ternyata udah suhu." Zain bermonolog sendiri, namun perkataannya itu bisa didengar Kenzo.


Kenzo ikut melihat arah pandangan Zain. Aaahhh... Ternyata dia sedang melihat adegan hot rupanya.


"Lo kenal tuh cewek?" Tanyanya pada Zain.


Atensi Zain teralihkan kearah Kenzo. Ia mengangguk. "Temen sekelas."


"Sebulan lebih dia nongkrong disini bareng tuh playboy cap kurap. Kalau lagi nongkrong, ya begitu kerjaannya. Gue 'kan jadi ikutan tegang lihat tuh cewek lagi horny." Ucap Kenzo memelankan suaranya pada kalimat bagian akhir.


"Nih tempat gak beres lama - lama. Apa tuh cowok gak punya duit buat ngelakuin begituan di hotel?" Zain tak habis fikir dengan orang - orang yang modelan begitu.


Kenzo yang menyimak omongan Zain hanya mengangkat kedua bahunya.


"Bukan urusan kita juga." Sahut Kenzo enteng.


"Emang gak ada yang negur?" Tanya Zain.


"Udah sering. Tapi ya kelakuannya tetep aja begitu. Malah yang negur jadi samsak tinju buat para pengawalnya tuh anak." Jawab Kenzo.


Zain menoleh lagi kearah Riska. Dan gadis itu terlihat masih terengah - engah untuk mengatur nafasnya. Dan sedetik kemudian, pandangan keduanya bersirobok.


Betapa terkejutnya Riska saat ia melihat seorang temannya yang sedang memergoki dirinya berbuat hal tak senonoh didepan umum.

__ADS_1


"Zain!" ucap Riska lirih. "Zain pasti bakal ilfeel sama gue."


Dengan kekikukannya, Riska merapikan pakaian bagian atasnya yang sedikit tersingkap.


Tampak dari kejauhan olehnya, Zain yang menggeleng - gelengkan kepalanya.


Melihat hal itu, Riska hanya melengos. Menghindari tatapan yang seakan sedang mencemooh dirinya.


Kalau gini caranya, ia akan lebih susah menarik simpati dari Zain Malik. Apa dia pakai cara ekstrim saja?


****


Akhirnya senin untuk yang kesekian kalinya telah tiba.


Setiap orang akan memulai aktivitasnya kembali setelah rehat dihari libur mereka.


Begitupun dengan keluarga Malik, yang memulai aktivitas paginya dengan keriwehan dari seorang Sora Yunara Malik.


"Pagi Daddy!" Sapanya pada Zain yang terlihat sedang melangkah kemeja makan. Ia sudah rapi dengan seragam sekolahnya, dengan rambut diberi pomade yang disisir rapi.


"Pagi sayang!" Zain menghampiri Sora yang ikut mondar - mandir bersama Ayumi.


Haaap.


Zain mengangkat Sora dalam gendongannya.


"Jangan ngikuti grandma kesana kemari. Nanti tertabrak grandma, bisa penyet kamu, jadi kayak ayam penyet." Zain menyentil hidung mancung Sora.


"Sola mau bantu glandma." Ucapnya sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Zain.


Sesampainya dimeja makan, Zain mendudukkan Sora dikursinya. Zain merasa ada yang kurang disini. Seakan - akan ada suatu hal yang hilang.


"Papa sama Dewa kemana, Ma?" Tanya Zain.


"Tumben?" Zain meraih nasi goreng dihadapannya. "Ada proyek baru?"


Ayumi menggeleng.


"Perusahaan lagi ada masalah?" Zain mulai bertanya dengan mimik serius.


"Masalah pribadi." Jawab Ayumi singkat.


"Buat ulah apa lagi emangnya si dewa?"


"Zain! Dewa itu kakak kamu. Coba kamu yang sopan sama yang lebih tua." Tegur Ayumi.


Zain hanya acuh saja mendapat teguran sang mama.


"Dewa bentar lagi mau nikah." Tutur Ayumi.


Ukhuuuk ukhuuuk


Zain tersedak potongan roti yang sedang dikunyahnya.


Buru - buru Ayumi menyodorkan minum kepada bungsunya.


"Dewa mau menikah?" Tanya Zain memastikan bahwa pendengarannya tak salah.


"Iya." Jawab Ayumi singkat.


"Udah hamil berapa bulan tuh cewek?"

__ADS_1


Plaaak


Ayumi menepuk pundak anaknya. "Jangan ngomong sembarangan kamu." Ayumi memelototkan matanya.


"Ya mana tau 'kan?" Zain meneruskan kunuahannya.


"Dewa dijodohin sama anak almarhum sahabatnya." Ketus Ayumi.


Ukhuuuk ukhuuuk


Zain tersedak lagi. Kali ini Sora yang memberikannya minum.


"Hati - hati Daddy. Makan jangan sambil ngomong. Kesedak 'kan?" Kata Sora menasehati daddy-nya.


Zain hanya melirik putrinya yang sedang menampakkan wajah garangnya ala anak kecil. Namun itu lebih terlihat lebih menggemaskan daripada menyeramkan.


"Dewa mau?" Zain tak yakin kakaknya menerima begitu saja keputusan sang papa.


"Mau gak mau. Belum final juga." Ayumi kemudian berlalu kedapur untuk mengambil sesuatu.


Flashback on


"Dari mana saja kamu?" Ryan menegur Dewa yang baru saja pulang dan hendak menuju kamarnya.


"Pa!" Dewa terjingkat kaget mendapati sang papa yang duduk dalam kegelapan diruang keluarga.


Cttaaakk


Saklar lampu dinyalakan. Ternyata tak hanya ada sang papa, mamanya juga ada disana rupanya.


"Papa sama mama ngapain gelap - gelapan disini?" Alis dewa bertaut. "Jangan - jangan papa sama mama lagi berbuat hal mesum ya?"


Ryan dan Ayumi tak menanggapi candaan anak badungnya itu.


Kini tampak Ryan dengan wajah marahnya dan Ayumi yang sedang bersedekap dada.


"Duduk." Perintah Ryan dengan tegas.


Kalau sudah begini, Dewa sudah tak bisa berkutik lagi.


Dewa melangkahkan kakinya mendekati kedua orang tuanya. Ia duduk di sofa tunggal yang jauh dari papanya. Hanya sebagai jaga - jaga saja bila nanti dirinya terancam, Dewa bisa dengan leluasa dan cepat untuk menghindar.


"Mulai sekarang, berhenti bermain - main dan bersenang - senang." Ucap Ryan dengan tatapan dinginnya.


"Papa sudah memutuskan, beberapa bulan lagi kamu akan segera menikah." Ucap Ryan dengan tegas.


"Apa?" Dewa kaget dengan keputusan sepihak papanya. "Ta...-" ucapan Dewa terputus saat Ryan mengangkat tangannya.


Papanya tak ingin dibantah lagi. Dewa menoleh kearah sang mama. Namun yang tampak hanya wajah datar dan acuh dari sang penguasa rumah.


Ryan dan Ayumi beranjak meninggalkan Dewa yang masih termangu sendiri.


Apa - apaan ini? Kenapa seperti zaman Siti Nurbaya saja sih?


Kalau ini memang zaman Siti Nurbaya, berarti dia 'Datuk Maringgi-nya' dong?


Flashback off


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kamu.


beri dukungan berupa like, komen kamu. masukkan juga ke list favorit kamu.


__ADS_2