Little Daddy

Little Daddy
Chapter 51


__ADS_3

Chapter 51


Happy readding...


🍁🍁🍁🍁


"Done. Cakepnya anak Mommy." Anye bangga atas karyanya pada hiasan yang ia sematkan pada rambut Sora.


"Sora 'kan memang cakep sejak lahir, Mom. Mommy Nara cantik, Daddy juga tampan. Dan terlahirlah Sora yang cakep ini." Ucap Sora dengan senyum jumawanya.


Anye mendengus dengan kenaraisan anak sambungnya ini. Anak sama daddy sama aja, punya kePDan tingkat tinggi. Mentang - mentang berasal dari bibit unggul, ya begini ini jadinya.


"Tugas sekolah udah selesai belum?" Anye bertanya sambil membereskan peralatan Sora.


"Udah Mommy. Tadi dibantu nenek." Jawab Sora sambil memperhatikan kegiatan Anye.


Anye mengangguk mendengar jawaban bocah itu. Syukurlah, jadi berkurang satu tugasnya.


Hari ini lumayan lelah baginya. Usai membersihkan rumah tadi, ia langsung memasak untuk menu makan malam mereka. Setelah tugas rumah selesai ia kerjakan, ia beralih membantu Sora untuk membersihkan dirinya.


"Ya udah. Sekarang giliran Mommy yang mandi. Biar wangi seperti Sora." Anye mencubit gemas pipi gadis kecil itu.


Sora mengangguk, tapi ia ikut melangkah keluar kamar untuk menonton kartun kesukaanya. "Dandan yang cantik, Mom. Biar daddy tambah terpesona sama Mommy."


Anye merunduk melihat Sora. Dari mana anak ini tahu kata - kata seperti itu? Astaga.... Anye hanya bisa geleng - geleng kepala.


Kedua wanita beda generasi itu berpiasah pada tujuannya masing - masing. Sora keruang keluarga, dan Anye kekamarnya.


Anye memasuki kamarnya bersama Zain dan melangkahkan kakinya kearah lemari untuk mengabil pakaian gantinya.


Cekkleek. Pintu kamar mandi terbuka.


Anye dapat menyadari bahwa tak hanya ia yang berada dalam kamar ini. Ia berbalik dan melihat seorang pria berpenampilan seksi dengan aroma yang terasa segar menguar dari tubuhnya. Seorang pria dewasa keluar dari kamar mandi, seorang pria yang sedang bertelanjang dada dengan handuk yang melingkar dipinggangnya sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil ditangannya. Namun sayangnya, pria itu belum menyadari bahwa Anye juga berada dikamar itu.


Melihat pemandangan luar biasa itu, seketika wajah Anye mulai memanas dan memerah. Sungguh ciptaan Allah yang luar biasa. Jantung Anye mulai berdegup dengan kencangnya.


Merasa cukup dengan kegiatannya, Zain berbalik arah menuju lemari. Ia berjingkat, karena ada seorang gadis dewasa tengah berdiri dihadapannya dengan memeluk buntalan baju ditangannya. Jangan lupakan wajah gadis itu yang sedang memerah tanpa berkedip memandang kearahnya.

__ADS_1


Zain bersedekap dada dengan gaya cool-nya. Menatap tajam gadis yang sedang terpesona oleh padanya. "Belum puas ngagumin gue?" Zain menaikkan sebelah alisnya.


Anye terasadar atas keterpakuannya. Ia gelagapan tengah terpergok menatapi pria yang ada dihadapannya ini.


"Ma, Ma-ss Zain udah pulang?" Tanya Anye sedikit terbata.


"Menurut lo?" Sahut Zain dengan wajah datarnya.


Tak ingin menunggu lebih lama lagi, dan tak ingin terlihat salah tingkah, Anye langsung bergegas menuju kamar mandi.


Braakk. Pintu kamar mandi tertutup sedikit keras.


Anye langsung menyalakan shower dan berbalik kearah cermin untuk melihat keadaan dirinya sendiri.


Anye menepuk - nepuk wajahnya yang memerah. "Haiiisss... Bisa - bisanya aku terpesona sama kanebo kering itu." Gerutunya sambil menekan kedua belah pipinya dengan kedua tangannya.


"Tapi wajar sih. Mas Zain kan tampan paripurna. Pasti banyak nih fans-nya. Tapi aku lebih beruntung 'kan daripada cewek - cewek itu? Mereka cuma bisa mengagumi, sedangkan aku udah jadi istrinya." Anye masih bermonolog didepan cermin dan membiarkan air shower terus mengalir.


"Tapi, apa gunanya bisa memiliki raga, tapi gak bisa memiliki hatinya? Gini amat nasib rumah tangga aku. Aku kalah dengan orang yang udah meninggal." Ucap Anye dengan nada lesunya.


Tak ingin berlarut - larut dengan perasaannya saat ini, Anye memutuskan untuk segera menyelesaikan ritual mandinya.


****


"Mulai besok pagi akan ada ART yang bakal beres - beres rumah, dan dia akan pulang jam lima sore. Jadi lo gak perlu - perlu capek buat bersihin rumah lagi." Ucap Zain diselah - selah kunyahannya.


"Gak perlu ada ART, Mas. Anye masih bisa buat urus rumah. 'Kan sayang uangnya."


"Gue gak mau dibilang suami kejam, biarin istri buat ngurusin kerjaan rumah yang seabreg. Dan gue gak mau dibilang pelit, padahal gue bisa bayar ART buat beresin rumah." Ucap Zain dengan entengnya.


Anye mendengus mendengar ucapan suaminya. Selain punya tingkat kePDan yang tinggi, harga diri suaminya ini juga cukup tinggi.


"Terserah kamu aja deh Mas. Anye ngikut aja." Sahut Anye sambil membersihkan mulut Sora. "Yang penting tugas buat masak jangan diambil alih. Biar itu jadi tugas Anye."


"Lo yakin gak nyerahin tugas itu ke ART juga?" Zain menatap Anye dengan serius.


"Kalau masak biar Anye aja. Biar Anye yang manjain perut kalian berdua. Anye gak mau ada orang lain yang manajain perut anak dan suami Anye." Ucapnya mantap. "Karena kata seorang ibu, suami juga bisa jatuh cinta pada istrinya melalui makanan yang disediakan sang istri kepada suami." Lanjut Anye, namun ia hanya berani mengungkapkannya dalam hati saja.

__ADS_1


Zain dapat melihat keseriusan dan kerulusan yang terpancar dari mata wanita yang sudah menjadi istrinya ini.


****


Hiikksss hiikksss hiikksss


Samar - samar Anye mendengar suara isak tangis dalam tidurnya.


Hiikksss hiikksss hiikksss


Isakan itu terdengar lagi. Dan sepertinya ini bukan mimpi. Tidur Anye jadi sedikit terganggu, karena isak tangis itu seakan nyata adanya. Ia tak bisa mengabaikannya lagi.


Anye mengerejapkan mata dan sedikit memicing untuk menormalkan bias cahaya yang tertangkap retina matanya.


"Hiikksss hiikksss hiikksss. Jangan tinggalin aku, Wa." Kini isakan itu disertai dengan gumaman.


Anye menoleh kesisi kanan. Ternyata sang suami kini tengah berurai air mata dengan mata yang terpejam.


"Zahwa!" Pekik Zain dan langsung terlonjak dari tidurnya diikuti Anye dengan wajah khawatirnya.


"Mas!" Anye mencoba menenangkan Zain. "Mas mimpi buruk?"


Zain menoleh kearah seseorang disampinnya. Dan ia mendapati sang istri dengan wajah khawatirnya.


Zain menarik nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar. Mimpi itu datang lagi, dimana Zahwa yang tertembak dengan dua peluru melesak kedalam tubuhnya.


Tanpa memperdulikan Anye, Zain bergegas kekamar mandi dan membiarkan Anye dengan berbagai pertanyaan yang bersarang dikepalanya.


"Segitu besar rasa cinta kamu sama almarhum istri kamu, Mas? Sampai - sampai saat ini kamu gak bisa lepas dari bayang - bayang masa lalumu." Ucap Anye dengan wajah sendunya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa beri dukungan kamu ya.


Beri like dan komentar kamu.

__ADS_1


Tambah kedalam list favorit kamu juga ya.


Untuk reader setia aku, makasih banget udah setia tunggu up nya Little Daddy.


__ADS_2