Little Daddy

Little Daddy
Chapter 21


__ADS_3

Chapter 21


happy reading...


🍁🍁🍁


"Daddy! Kita mau kemana?" Tanya Sora yang sudah duduk anteng di jog penumpang samping Zain.


"Kita mau jalan - jalan dulu sebentar, habis itu kita mampir ke bengkel." Jawab Zain yang sedang fokus dengan stir bulat yang dipegangnya.


"Ke bengkel? Ada kakak cantik? Sola kangen kakak cantik." Tanya Sora dengan tatapan polosnya.


Tampak binar bahagia dari wajah imut nan menggemaskan itu.


"Emmm...?" Zain sedikit ragu untuk menjawab. Namun tak ayal Zain mengangguk. Ia tak ingin melihat wajah murung putrinya.


Walaupun ia sedikit gengsi untuk mendekati Zahwa secara terang - terangan, tapi demi Sora, ia akan menghilangkan sedikit rasa gengsi itu. Lumayan kan? Sambil menyelam minum air.


"Iyeeyyy... Sola jumpa sama kakak cantik." Seru Sora.


Zain ikut bahagia melihat keceriaan putri satu - satunya untuk saat ini. Raut wajah cantik dan imutnya sungguh menurun dari gen sang mommy.


Seandainya sang istri masih bersama mereka, apakah kebahagiaan keluarga kecilnya akan sama seperti ini? Atau bahkan lebih bahagia dari saat ini?


Setelah berkeliling sebentar, mobil yang dikendarai kedua orang beda usia dan gender itu mulai memasuki kawasan dimana bengkel dan kafe Zain berada.


"Daddy!" Panggil Sora dengan suara khas balitanya.


Zain menoleh kearah sang anak, menunggu kelanjutan kalimat yang akan diucapkan balita itu.


"Sola mau ayam tepung." Pinta Sora.


"Ayam tepung?" Zain mengulang permintaan sang anak. Sora mengangguk. "Nanti daddy pesankan ke paman chef kafe ya?"


Sora menggeleng. "Sora mau yang ada gambal kakek - kakeknya, Daddy!"


"Ada gambar kakek - kakek?" Alis Zain bertaut mendengar permintaan anaknya.


Sora mengangguk cepat. "Ia, yang ada gambal kakek - kakek. Yang tempatnya walna melah sama putih."


Zain menghentikan laju mobilnya kepinggir jalan. Ia mulai berfikir. Ayam tepung yang ada gambar kakek - kakek? Bungkusnya warna merah dan putih? Apa yang merk nya KF* kah? Astaga! Anaknya ini ada - ada saja. Kenapa baru bilang sekarang?


Zain menarik nafasnya. Mau tak mau ia harus putar balik untuk mencari tempat penjual ayam tepung yang dimaksud sang anak. Kalau tidak dituruti, Zain takut Sora akan ngambek, kan gawat. Pawang sesungguhnya sedang berkunjung kerumah temannya diluar kota. Padahal bengkel dan kafenya tinggal berjarak sepuluh meter lagi dari tempat mereka menepi ini.


Setelah mendapat apa yang Sora inginkan, Zain melajukan kembali mobilnya menuju bengkel.


Keduanya turun dari mobil dan langsung masuk ke bengkel. Dengan Sora yang ada dalam gendongan di lengan kekar daddy-nya.


"Bang!" Sapa Zain pada Tomy, saat berjumpa didepan kasir.


Yang disapa pun menoleh. "Zain? Tumben jam segini udah nongol?"


"Iya. Lagi gabut dirumah."


Kini atensi Tomy teralihkan pada sosok mungil yang ada dalam gendongan Zain.


Zain yang tahu arti tatapan itu langsung menjawab. "Ponakan gue."


Tomy mengangguk sebagai tanda mengerti.


Zain keruangannya dan diikuti oleh Tomy, mungkin saja bos kecilnya itu akan meminta laporan bengkel minggu ini.

__ADS_1


Zain mendudukkan Sora di sofa. "Nah, Sora makan ayamnya disini ya? Daddy mau kerja sebentar." Kemudian Zain menata makanan yang dibawanya. Dan tak lupa Zain mengambilkan air minum untuk Sora.


Setelah selesai dengan urusan Sora, dan memastikan anaknya mulai makan makanan kesukaannya, Zain menuju ke kursi kebesarannya.


Tomy yang baru saja masuk dengan map berisi laporan bengkel dan kafe, langsung menuju kemeja bos nya itu.


"Ponakan dari mana?" Tanya Tomy sambil menyodorkan map laporan pada Zain. "Bukannya kakak Lo belum nikah?"


Zain tak memperdulikan pertanyaan dari Tomy. Ia lebih memilih fokus terhadap berkas yang sedang dipegangnya.


Hingga menunggu beberapa saat, Zain mulai membuka pembahasan tentang bengkel dan kafenya.


Sangking asyiknya kedua pria tersebut dengan hal yang sedang mereka bahas, tanpa mereka sadari ketidak beradaan balita yang seharusnya mendapat pengawasan dari mereka.


Diluar ruangan Zain.


"Astagfirullah!" Doni, salah satu montir dibengkel Zain terkejut hingga terduduk kelantai, karena kehadiran sosok kecil yang sedang berjongkok disampingnya.


"Hay uncel!" Sapa Sora tanpa rasa bersalah sudah hampir membuat jantung Doni lepas dari tempatnya.


Tanpa menghiraukan sapaan Sora, Doni celingak celinguk mencari orang tua dari balita ini. Namun yang ada hanya ada empat montir, satu kasir dan satu pelanggan yang sudah ada dibengkel sejak satu jam tadi.


"Apakah ini anak memedi? Atau anak ini penunggu bengkel ini?" Fikir Doni.


"Hey adik kecil! Kamu sama siapa kesini?" Akhirnya Doni memutuskan untuk berinteraksi dengan anak kecil yang tak diketahui asal usulnya ini.


"Sama dad...eh, uncel." Sahut Sora yang masih menatap kotak alat tempur seorang montir. "Ini apa, uncel?" Sora menggenggam sebuah benda ditangannya.


"Itu namanya obeng." Doni menanggapi pertanyaan Sora. Lalu ia berdiri. "Woy... Ini anak siapa dah? Kog ada anak kecil dibengkel?" Teriaknya pada orang yang ada disekitarnya.


"Itu tadi datang bareng si bos." Teriak Tika dari meja kasir.


"Ponakan si bos?" Tanya Doni memastikan.


Doni berjongkok lagi. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat bocah ini sedang mengetok - ngetok body motor yang sedang diperbaikinya dengan obeng yang Sora pegang tadi.


Tok tok tok tok


"Astaga!" Doni dengan cepat mengambil obeng yang dipegang Sora. "Jangan ya adik kecil. Nanti kalau motornya lecet, gue yang dimarahi si bos."


"Uncel dimalahin si bos? Si bos itu apa?" Tanya Sora dengan wajah tanpa dosanya.


"Yang punya bengkel ini." Jawab Doni sambil melihat dan mengelus body motor yang sedang ditanganinya. Untung tak sampai tergores.


Tanpa memperdulikan orang dewasa yang sudah dibuatnya ketat - ketir ini, Sora berpindah ketempat yang bisa mencuri perhatiannya.


Sora mendekati mesin kompresor dan mengambil selang yang tergeletak dibawah. Ia menekan - nekan selang itu. Daaaannn...


Ppssssss....


Udara keluar dari selang yang sedang ia pegang tepat diarahkan ke wajahnya. Menerbangkan anak rambut Sora yang tak terkuncir. Sora terpaku dengan hal yang baru saja terjadi. Seolah nyawanya ikut terbang bersama angin yang keluar dari selang mesin kompresor itu.


Sedangkan Doni yang ditinggal Sora, seketika terkejut tak mendapatkan bocah itu disampingnya.


"Mati gue. Kemana tuh bocah? Bisa diomeli si bos gue." Gumamnya dengan rasa was - was.


Ia mengedarkan pandangannya, mencoba mencari bocah yang sudah menganggu waktu kerjanya.


Dan ternyata yang dicarinya kini tengah berdiri terpaku didepan mesin kompresor dengan selang ditangannya.


Dengan panik Doni berlari kearah bocah itu. Jangan sampai ada hal yang dilakukannya kembali dan mengacaukan seisi bengkel.

__ADS_1


"Kamu ngapain? Jangan main disini, bahaya." Doni melepaskan genggaman Sora pada selang itu.


"Uncel! Tadi ada angin banyak keluar dari situ." Tunjuk Sora pada selang yang tadi dipegangnya.


"Hah?" Astaga... Anak ini sungguh - sungguh membuatnya pusing.


Sayup - sayup terdengar suara seorang wanita yang Sora kenali. Ia mencari asal suara itu.


Senyum Sora terbit begitu saja saat melihat Zahwa yang sedang meletakan pesanan seorang pelanggan bengkel.


"Kakak cantik..." Seru Sora dengan suara yang cukup keras. Namun Zahwa tak juga menoleh.


Sora putuskan untuk menghampiri Zahwa. Ia berlari meninggalkan Doni lagi.


"Eh eh eh, jangan lari - lari." Seru Doni dan langsung mengikuti bocah itu lagi. "Nanti kamu ja...-" Belum sempat Doni meneruskan ucapannya, kini Sora sudah tersungkur terlebih dahulu.


Bruuukkk


"Waduh!" Langkah Doni terhenti.


Sedetik, dua detik dan... " Huwaaaa... Daddy.... Sakiiit..." Terdengarlah tangisan kencang Sora.


Zahwa yang mendengar ada benda terjatuh diiringi tangisan anak kecil didekatnya langsung terkejut. Ia langsung menolong anak itu.


Tanpa Zahwa duga, ternyata anak kecil ini adalah balita yang beberapa hari lalu selalu menempel dengannya.


"Ya ampun, sayang! Kog bisa jatuh gini?" Tanya Zahwa khawatir.


"Sakit kakak... Huwaaaa..." Jawab Sora disela tangisnya.


"Ya ampun, berdarah begini." Gumam Zahwa pelan. "Kita obatin ya?"


Zahwa meletakan nampan yang dibawanya tadi keatas meja. Kemudian ia menggendong Sora. Saat Zahwa berbalik, ia dikagetkan dengan keberadaan Zain yang ada dibelakangnya tadi.


"Sora kenapa?" Tanya Zain dengan wajah paniknya. Dan mengambil alih Sora dari gendongan Zahwa.


"Sakit Daddy! Kaki Sola ada dalah nya." Adu Sora disela isak tangisnya.


Zain meneliti kaki Sora. Dan benar saja, lutut Sora berdarah karena terbentur lantai yang terbuat dari batako.


"Kog bisa begini?" Gumam Zain. "Lo gimana sih jaga Sora, Wa?" Bentak Zain dengan suara yang menggelegar pada Zahwa.


Sontak semua orang yang ada disitu menjadi kaget. Terlebih Sora dan Zahwa yang berada paling dekat dengan Zain.


"Dasar gak becus. Awas aja kalau anak gue kenapa - kenapa." Ketus Zain pada Zahwa dengan wajar marahnya. Kemudian ia berlalu membawa Sora keklinik terdekat.


Zahwa jadi terpaku seketika setelah mendapat luapan amarah Zain.


"Kog hati aku sakit banget ya?" Ia menekan bagian atas dadanya. Ada rasa sesak dalam hatinya saat ini. Ingin menangis, tapi karena apa?


Dengan langka gontainya, Zahwa pergi meninggalkan bengkel dan kembali ke kafe.


Sedangkan para pegawai bengkel Zain, mereka masih mencerna ucapan Sora dan Zain tadi. 'Daddy'? 'Anak gue'? Apakah bocah imut itu anak dari bos mereka? Seperti itulah yang sedang ada dalam otak mereka disana.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya....


Bisasa update juga. Terima kasih buat yang udah nungguin.

__ADS_1


Jangan lupa untuk dukung karya aku.


__ADS_2