
Chapter 38
🍁🍁🍁
Tiga tahun kemudian
"Daddy...! Ayo cepetan bangun. Nanti Sora bisa terlambat." Rengek Sora yang masih berusaha membangunkan sang daddy dari tidur lelapnya.
"Eeemm... Lima menit lagi sayang." Zain merubah posisi tidurnya.
"Gak bisa, Dad. Ayo bangun!" Teriak Sora ditelinga Zain. Ia mulai lelah untuk membangunkan sang daddy. "Makanya, jangan main terus tiap malam. Jadi susah bangun 'kan?" Gerutu bocah yang mulai duduk dibangku TK ini. "Daddy..." Sora masih mengguncang tubuh sang daddy. Dan kali ini ia naik keatas punggung Zain yang sedang telungkup di atas kasur.
Dan akhirnya dengan terpaksa Zain beranjak dari tidurnya, karena ia tak ingin lebih lama lagi mendengar rengekan sang princess.
"Aaaaaa..." Teriak Sora saat ia terjungkal kebelakang karena ulah sang daddy yang bangkit dari tidurnya.
"Eh? Jatuh ya anak Daddy?" Tanya Zain dengan sok polosnya dengan bibir yang mengulum senyumnya agar tak sampai meledakkan tawanya, melihat posisi Sora.
"Deddy iiihh...!" Sungut Sora dengan mata melotot lucu dengan pipi chubby-nya.
"Haha... Sorry, sorry. Habis kamu ngeselin, bangunin Daddy terus." Zain meraih Sora kedalam pelukannya dan mendaratkan ciuman di pipi chubby yang tak pernah berubah dari dulu hingga saat ini.
Sora melepaskan diri dari sang daddy dan berdiri dihadapannya. "Hari ini Sora mulai sekolah. Katanya mau antar Sora?" Ujar bocah itu sambil berkacak pinggang layaknya istri sedang memarahi suaminya.
"Iya, iya." Zain mengacak rambut putrinya dengan gemas. Makin hari, makin ceriwis saja putrinya ini. "Daddy siap - siap dulu. Sora tunggu dimeja makan ya? Sarapan duluan." Zain beranjak ke kamar mandi dan meninggalkan Sora yang mulai beranjak keluar.
Setelah bersiap beberapa saat, Zain mulai tampak menuruni tangga dan menuju keruang makan dimana anggota keluarganya sudah berkumpul.
"Pulang jam berapa, kamu?" Tanya Ayumi dengan wajah tak ramahnya.
"Biasa." Jawab Zain singkat dan padat.
"Sampai kapan kamu mau begini terus? Ini udah tiga tahun, Zain. Kamu harus move on." Omel Ayumi.
"Ma! Jangan mulai lagi." Ryan memberi peringatan saat sang istri mulai menyinggung seseorang yang pernah singgah dimasa lalu sang anak.
"Tapi--," ucapan Ayumi terhenti saat Zain beranjak dari kursinya.
"Daddy tunggu didepan. Sora habisi sarapannya, ya?" Ucap Zain pada sang putri.
Ia memutuskan untuk menunggu putrinya diteras depan hanya untuk menghindar dari obrolan yang akan menyinggung hatinya tentang sosok yang tak dapat ia lupakan sampai saat ini.
__ADS_1
Flashback on
Tampak beberapa petugas medis tengah tergesa - gesa yang sedang mendorong brankar dengan pasien luka tembak yang bersarang pada bagian perut dan dada sebelah kirinya.
"Zahwa! Sayang! Bertahanlah." Ucap Zain dengan wajah kalut penuh khawatir.
Saat sampai didepan ruang UGD, Zain dihentikan seorang petugas medis. Dan ia diminta untuk menunggu diluar, demi kelancaran penanganan terhadap pasien.
Zain terduduk di kursi tunggu depan UGD. Mengusap wajahnya dengan kasar dan menarik nafasnya dalam, mencoba untuk tenang.
Siapa sangka hal naas itu terjadi padanya dan sang istri tepat disaat hari pernikahan mereka.
"Zain!" Ayumi menghampiri putranya, dan diikuti oleh Dewa, Lily dan sahabat mereka.
"Ma!" Zain menatap Ayumi dengan mata yang berkaca - kaca menahan tangisnya.
Melihat keadaan kacau sang anak, Ayumi langsung memeluk putra bungsunya, mencoba memberi kekuatan pada Zain. "Kita berdoa untuk keselamatan Zahwa." Ucap Ayumi dengan air mata yang mulai luruh dipimpinnya.
Tiga puluh menit kemudian, tampak Ryan, David dan Sam berjalan tergesa menuju Zain dan yang lainnya.
"Bagaimana keadaan Zahwa?" Tanya David pada Lily.
Dengan lesu dan air mata yang mulai luruh kembali, Lily menggelengkan kepalanya. "Belum dapat kabar dari tim medis." Lily mulai terisak. Takut terjadi hal buruk pada putrinya.
"Bagaimana dengan gadis itu?" Tanya Ayumi pada sang suami yang sudah duduk didekatnya.
"Kami sudah menanganinya. Dan gadis itu sudah berada ditangan polisi." Sahut Ryan. Ia melirik keadaan sang anak yang tampak kacau.
Keheningan mulai terjadi dan tak ada obrolan lagi kemudian. Hingga lampu diatas pintu ruang operasi padam. Keluar seorang dokter dan menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Zain tak sabar.
Sang dokter membuka maskernya. Dengan wajah penuh penyesalan, ia harus menyampaikan hal buruk ini pada keluarga pasien.
Sang dokter menatap seluruh anggota keluarga pasien, dan tak lama ia pun menggelengkan lemah kepalanya. "Pasien tak dapat tertolong."
"Kenapa?" Zain mencengkeram pakaian operasi yang masih dikenakan sang dokter. "Kenapa kalian tak menyelamatkannya?" Bentak Zain dengan amarah yang meledak - ledak. "Kalian tidak becus menyelamatkan nyawnnya."
Kini tubuh Zain merosot dan luruh kelantai. Ia tak bisa menerima kabar buruk ini. Zain mulai terisak dengan tangis pilunya.
Bagaimana tidak? Baru tadi pagi ia berhasil memperistri Zahwa. Dan sekarang? Ia harus mengalami kehilangan sosok istri untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Peluru yang bersarang di dada pasien tepat mengenai organ vitalnya. Peluru itu menembus jantung pasien hingga pasien tak dapat tertolong." Sang dokter tetap berusaha menjelaskan keadaan darurat pasien pada keluarganya.
"Zahwaaa...!" Teriak Zain frustasi.
Flashback off
"Sora bisa Daddy tinggal 'kan?"
Sora tak menjawab, namun kepalanya tetap mengangguk dengan bibir yang mengerucut.
"Terus kamu kenapa cemberut?" Zain berjongkok dihadapan sang anak.
"Besok - besok Sora mau diantar grandma aja." Ketus Sora.
Kening Zain berkerut. Bukankah kemarin - kemarin anaknya ini ingin ia yang selalu mengatarkannya kesekolah? Dan sekarang kenapa berubah fikiran? "Kenapa?"
"Sora gak mau Daddy dilihatin tante - tante centil." Jawab Sora dengan wajah tak sukanya saat mendapati banyak wanita yang menatap kagum pada sang Daddy.
Zain mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dan benar saja apa yang dikatakan sang anak. Banyak para wali murid lain yang menatapnya penuh rasa kagum. Lalu ia menoleh lagi kearah sang anak. Menatapnya penuh rasa sayang.
"Resiko orang tampan." Bisiknya ditelinga sang anak sambil memberi senyum bangganya.
Mendengar ucapan sang daddy, sontak saja Sora mendengus kemudian mencibir kenarsisan sang daddy. "Percuma ganteng, tapi gak laku." Setelah mengucapkan kata sadis itu, Sora meninggalkan sang daddy menuju kelasnya yang sudah ditunjukan oleh gurunya.
Mendapat cibiran dari sang anak, Zain hanya bisa melongo dan mengelus dadanya. Begini amat nasibnya, selalu menjadi sadboy.
Zain berdiri dari jongkoknya, menoleh pada seorang wanita yang sedang mengulum senyumnya mendengar percakapan ayah dan anak itu, yang diketahuinya sebagai guru sang anak. "Saya percayakan Sora kepada Anda, Miss Anisa."
Wanita itu mengangguk. "Baik, Tuan Zain."
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo - halo..... Aku balik lagi.
Mulai bab ini, kisah cinta Zain yang baru akan segera dimulai.
Pantengin terus kisahnya ya, biar gak penasaran.
Jangan lupa untuk like dan komen.
__ADS_1
Bagi - bagi hadiah juga author tampung kog 🤣 hehe...