
Chapter 17
happy reading....
💞💞💞
"Juliet! Sebenarnya aku mencintaimu saat pertama kali kita bertemu. Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku. Aku tak pernah berhenti membayangkan wajah cantikmu." Zain mengucapkan dialog pernyataan cinta Romeo pada Juliet dengan penuh penghayatan.
Meskipun hanya dalam dialog drama yang sedang ia perankan, tapi seakan - akan Zain sedang mengungkapkan isi hatinya sesungguhnya pada Zahwa.
Zahwa jadi sedikit gugup. Kenapa tatapan itu seperti tatapan seorang pria pada kekasihnya.
Zahwa jadi blank. Lupa dengan dialog yang akan dikatakannya.
Padahal waktu latihan wajah Zain tak seserius ini. Apa ini karena efek kemarin malam ya?
Hingga akhirnya kesadarannya mulai tertarik kembali berkat bisikan dari Zain.
"Hei! Dialog mu." Zain memperingati.
Zahwa jadi gelagapan sendiri.
"Aku... Aku sebenarnya juga mencintaimu, Romeo." Zahwa menatap wajah Zain. "Tapi bagaimana dengan keluarga kita? Mereka pasti tidak akan setuju." Zahwa melanjutkan dialognya.
"Kita akan merahasiakannya, Juliet."
"Baiklah."
Scene demi scene pun berganti. Kini tiba saatnya adegan dimana Romeo dan Juliet meminum racun.
"Demi kebahagiaan. Aku akan selalu menunggumu. Aku ingin menjadi cinta abadimu Romeo. Jemputlah aku dan kita akan menikah." Kemudian Zahwa membuka sebuah botol berukuran kecil. Dan melakukan adegan meminum sesuatu dari botol itu.
Scene terus berganti. Kini tiba saatnya Zain mengucapkan dialognya.
"Juliet! Bangunlah dari tidurmu. Aku telah membawakan bunga cinta untukmu." Zain mengelus pipi Zahwa yang sedang terpejam.
Sedangkan Zahwa, kini hatinya berdesir. Ada rasa yang menggelitik dalam dirinya.
Kemudian terdengar lagi dialog yang Zain ucapkan.
"Jika seperti ini. Aku akan meminum racun ini juga untuk ikut menjemputmu disana, Juliet. Kan kubawa cinta putih ini. Tak ada gunanya aku hidup tanpamu." Zain mengambil botol yang tadi dibawa Zahwa.
Seperti yang dilakukan Zahwa. Zain melakukan adegan seperti meminum sesuatu dari botol itu.
Kemudian Zain mulai tergeletak dan memejamkan matanya.
Zahwa terbangun dari rebahan cantiknya. Melihat Zain dan memangku badan Zain.
"Romeo, kekasihku. Mengapa kamu meninggalkanku? Aku takkan bisa hidup tanpamu. Aku akan menyusul mu." Zahwa meraih botol itu lagi, dan melakukan adegan sama seperti tadi.
Zahwa mulai tergeletak disamping Zain. Tirai tertutup, dan drama musikal itu pun selesai.
Tepuk tangan terdengar riuh dari para penonton. Tiba saatnya para pemeran memberikan selebrasinya.
Para pemeran berjalan ke arah bagian belakang panggung.
"Selamat anak - anak. Drama kalian berjalan sukses. Ibu akan memberikan nilai yang memuaskan untuk kalian." Seru Bu Yuni.
__ADS_1
"Wuhuuu..." Sorak anak anak.
****
Setelah mengganti kostum dengan baju biasa, Zain langsung menuju dimana Sora dan mamanya berada.
Ternyata dua orang beda generasi itu kini tengah menunggunya.
"Hay sayang!" Zain berjongkok didepan bangku yang diduduki Sora.
"Daddy..." Teriak Sora gembira. Dan itu berhasil memancing atensi dari orang - orang yang tak jauh dari mereka.
"Ssstttt... Ingat. Jangan panggil dengan sebutan daddy kalau lagi diluar rumah." Bisik Zain pada anaknya.
"Uppsss... Soli." Sora nyengir. "Uncle kelen." Sora mengacungkan kedua jempol mungilnya.
"Thanks sayang." Zain mengecup pipi chubby itu.
"Papa gak jadi ikut ma?" Kini pertanyaan beralih pada Ayumi.
"Papa ada meeting dadakan tadi, ditelepon asistennya." Jawab Ayumi. Zain mengangguk.
"Yuk. Kita cari makan. Udah kelar juga." Ajak Zain pada Sora dan ayumi.
"Sola mau ayam goleng kliuk, Uncle." Pinta Sora.
"Ok."
Ketiganya berjalan keluar aula untuk menuju tempat mereka nanti makan. Tempat makan favorit Sora lebih tepatnya.
Saat didepan aula, Zain bertemu dengan Zahwa.
Ah... Ternyata bocah ini masih mengenalinya ternyata.
"Hay." Zahwa menyapa balik. "Wah... Lihat uncel tampil ya?"
Sora mengangguk cepat.
Terjadi perbincangan kecil antara Sora dan Zahwa.
Ayumi yang sedari tadi menyimak, kini mulai menyadari sesuatu.
"Kenapa wajah ini begitu familiar ya?" Batin Ayumi yang sedang memperhatikan dengan seksama wajah Zahwa.
Ia terus menggali ingatannya. Mencari sosok yang memiliki wajah seperti Zahwa.
Namun nihil. Seakan ingatan itu semua telah pudar, Ayumi masih tak mendapatkan jawaban.
"Udah yok." Ajak Zain. Ia tak mau lebih lama lagi berada didekat gadis ini. Sungguh. Jantungnya tak akan menjadi aman.
"Teman kamu sekalian diajak aja Zain? Sora juga sepertinya dekat dengan Sora."
"Ah. Gak usah Tante. Habis ini mau langsung kerja." Tolak Zahwa dengan halus.
"Bentar aja. Ayok!" Paksa Ayumi.
Zahwa memandang kearah Zain, seakan meminta persetujuan bosnya itu. Zahwa jadi tak enak sendiri. Apalagi bayangan malam itu masih melekat dengan jelas difikirannya.
__ADS_1
Tanpa diduga, Zain mengangguk setuju. Dan berlalu lebih dulu bersama Sora. Kemudian diikuti Ayumi dan Zahwa.
"Kamu teman sekelas Zain?" Tanya Ayumi berbasis - basi.
"Enggak, Tan. Kita beda kelas dan jurusan." Sanggah Zahwa.
"Kamu kog bisa kenal Sora?" Ayumi mulai mengintrogasi.
"Zain pernah bawa Sora kekafe tempat aku kerja. Dan tempat kerja aku dikafenya Zain, Tante." Jawab Zahwa.
"Ooohhh... Pantes. Soalnya Sora emang jarang keluar dan bersosialisasi dengan yang bukan anggota keluarga."
Kini keempat orang itu sudah sampai diparkiran.
"Kamu bareng Tante atau Zain?" Tanya Ayumi pada Zahwa.
Zahwa yang ditanya jadi bingung sendiri.
"Zahwa bareng Zain, Ma." Putus Zain.
Ayumi melihat putranya. Memandanginya penuh arti. Dan mengangguk cepat sambil mengulum senyum.
Melihat reaksi sang mama, Zain menaikan sebelah alisnya. Ia takut sang mama akan merencanakan sesuatu.
"Sola mau sama de, eh... Uncel juga." Rengek Sora melihat daddynya.
"Sora sama grandma aja ya? Biar uncle sama kakak cantik." Bujuk Ayumi.
"Enggak. Sola mau sama uncle." Kekeh Sora.
"Sora sama grandma dulu ya? Uncle bawa motor itu." Tunjuk Zain pada motor gedenya. " Nanti Sora kejepit. Gak jadi besar badannya nanti." Zain menakut - nakuti Sora.
Tak apa lah. Yang penting dia bisa bonceng Zahwa, fikirnya.
"Iiii... Sola gak mau gecil telus. Sola mau ceper gede."
"Ya udah yuk sama grandma." Ajak Ayumi. Tanpa menunggu lama, Sora sudah berada dalam mobil bersama Ayumi.
Kini tinggal Zain dan Zahwa diparkiran.
"Naik." Perintah Zain yang sudah diatas motornya.
Dengan terpaksa, Zahwa naik dan mendudukkan dirinya dijok belakang.
"Yakin gak mau pegangan?" Zain memastikan.
Dengan ragu Zahwa menaikan tangannya ke pundak Zain. Kepundak ya, bukan kepinggang.
Zahwa tak ingin memeluk pinggang itu. Ia tak ingin debaran pada hatinya bisa dirasakan oleh Zain.
Zain melihat sekilas pundaknya. Ia menarik nafas. Kenapa Zahwa memegang pundaknya? Kenapa tak memeluk pinggangnya? Zain sedikit kecewa pemirsaaa....
Dari dua tempat yang berbeda. Ada dua gadis yang tengah mengepalkan kedua tangannya, melihat kedekatan antara Zain dan Zahwa.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
jangan lupa beri dukungan untuk karya aku ya
...thanks udah mampir 🙏...