
Chapter 22
happy reading...
🍁🍁🍁
Senin pagi ini, Zahwa sungguh tak bersemangat. Ia masih enggan memulai aktivitasnya pagi ini. Tapi mau tak mau tetap harus melewati hari ini dan hari - hari berikutnya bukan?
Dengan langkah tak bersemangatnya, Zahwa mulai beranjak dari ranjangnya untuk memulai ritualnya dikamar mandi, dan segera bergegas bersiap sekolah.
Saat sampai tempat ia memarkirkan sepedanya pun, semangat itu tak kunjung muncul juga dalam dirinya.
Brumm brumm
Sebuah motor gede sang prince-nya sekolah sudah terparkir ditempatnya.
Kini Zahwa dan Zain saling lirik dan berpapasan.
Masih ada rasa kesal yang dirasakan oleh Zahwa atas bentakan yang Zain berikan padanya tadi malam.
Tanpa menegur bosnya itu, Zahwa langsung beranjak dari tempatnya. Dengan wajah cemberutnya, Zahwa terus melangkah, masa bodo dengan Zain yang masih menatapnya.
Melihat wajah jutek wanita yang sudah mengisi relung hatinya itu, Zain hanya bisa menarik nafas dan mengacak rambutnya kesal. Zain frustasi. Ingin minta maaf tapi gengsi.
"Haiiisss... Ngambekkan?" Gumamnya lirih.
Ketika Zain dalam perjalanan menuju klinik tadi malam, ia baru tersadar bahwa ia telah membentak Zahwa didepan karyawannya yang lain. Dan sekarang ia sudah mendapat akibat dari perilakunya tadi malam.
Sedangkan Zahwa yang masih kesal pada pemuda tampan itu hanya bisa berjalan dengan menghentakkan kakinya sambil komat - kamit.
"Emang dia siapa? Enak bener bentak aku didepan orang banyak." Gerutu Zahwa sambil berjalan.
Bruuukkk...
"Aduh..." Terdengar suara siswi mengadu. "Lo main tabrak aja sih? Gak liat apa ada orang jalan didepan lo?" Ucap siswi itu lagi.
Kening Zahwa berkerut. "Kog gue yang lo salahi?" Ketus Zahwa. Ia tak terima disalahkan jika memang ia tak salah.
"Jadi siapa lagi, kalau bukan lo?" Sentak Riska.
Ya, siswi itu adalah Riska. Cewek yang menjadi penggemar rahasia seorang Zain Malik. Siswi yang pernah ditolong oleh pemuda itu saat pelunasan biaya sekolahnya yang menunggak dan nyaris dikeluarkan dari sekolah.
Tapi sungguh disayangkan, Riska yang dulu dan yang sekarang sudah jauh berbeda.
__ADS_1
Riska yang dulu adalah gadis lugu dan polos. Sedangkan Riska yang sekarang ada dihadapannya saat ini adalah Riska yang sudah tercemar oleh para sugar daddy.
"Lah? Kan kamu sendiri yang nabrak aku. Aku jalan pada jalur yang tepat, jalur kiri. Kamu aja yang sengaja mepet kemari." Zahwa tak mau kalah.
"Heh! Cewek ganjen. Malah nyolot ya lo?" Riska mengambil ancang - ancang menjambak rambut Zahwa.
Namun sebelum itu terjadi, Zahwa sudah memelintir tangan Riska terlebih dahulu.
"Aaawwww, lepasin beg...-" Riska ingin mengumpat Zahwa, namun ia urungkan saat melihat seseorang mendekati mereka. "Aaawwww... Zain! Tolongin aku." Wajah menghibah Riska keluarkan.
Kening Zahwa berkerut. Sakit apanya? Zahwa hanya memelintir tangan Riska kebelakang tanpa menggunakan kekuatan yang berarti.
Zain yang melihat kedua gadis didepannya sedang adu kekuatan pun bergegas melerai.
"Zahwa! lepasin Riska!" Sentak Zain sambil melepaskan tautan kedua tangan gadis itu. "Lo apa - apaan sih? Lo tuh cewek. Jangan kasar bisa?" Bentak Zain pada Zahwa.
Zahwa yang dibentak hanya menatap sinis Zain, tanpa merasakan lagi rasa sakit pada lengannya yang dicengkeram Zain dengan kuat. Saat ini yang terasa sakit adalah hatinya.
Hati Zahwa terasa sakit dibentak untuk kedua kalinya dari orang yang sama membentaknya tadi malam. Ia kecewa dengan pemuda didepannya ini. Pemuda yang sudah berhasil mencuri ci yu man pertamanya. Matanya berkaca - kaca, mencoba menahan laju air matanya agar tak jatuh kepipinya.
Dengan kasar, Zahwa menyentak tangan Zain agar melepaskan genggamannya dari tangan Zahwa. Tapi usaha Zahwa tak berhasil. Dengan penuh rasa yang berkecamuk dalam hatinya, Zahwa langsung menggunakan ilmu bela diri yang dikuasainya untuk membanting Zain kelantai.
Badan kekar itu terangkat dan sedikit melayang. Dan...
"Aaakkkhhh..." Pekik Zain. Badan Zain telentang ke lantai.
"Zain..." Teriak Riska sambil menutup mulutnya. Ia tak percaya Zahwa melakukan hal itu pada Zain.
Setelah genggaman tangan Zain terlepas, dengan amarahnya, Zahwa langsung pergi meninggalkan kedua manusia yang sudah merusak moodnya pagi ini.
"Zahwaaaa..." Teriak Rosa dari kejauhan. Ia berlari mengejar sang sahabat yang tengah dilanda rasa emosi. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat Zahwa membanting badan kekar Zain, bos tempatnya bekerja.
Sedangkan Ryo yang tadi yang sedang bersama dengan Rosa, langsung mendekati Zain.
"Lo gak apa - apa bro?" Tanya Ryo sedikit khawatir. Karena sampai saat ini Zain masih tak bergerak dari pembaringannya.
Zain terpaku. Baru kali ini ada yang berhasil mengalahkannya tanpa adanya perlawanan. Dan itu adalah wanita yang menjadi incarannya untuk dijadikan mommy-nya Sora.
Dikelas, Zahwa yang masih berusaha untuk meredam emosinya tak memperdulikan Rosa yang tengah mengejarnya.
Entah bagaimana nasibnya nanti di kafe. Apakah dia akan dipecat atau tidak? Zahwa sudah tak peduli lagi.
"Enak bener dia bentak - bentak aku, tanpa bertanya permasalahannya lebih dulu. Emang dia siapa?" Gerutu Zahwa sambil bersedekap dada di kursinya.
__ADS_1
"Ya ampun, Wa." Rosa mengatur nafasnya yang sedikit tersengal. "Lo kog bisa ngebanting Zain tadi? Dia itukan bos lo. Kalau lo dipecat dari kafe gimana? Cari kerja susah loh, Wa." Cerocos Rosa.
"Bodo." Ucap Zahwa acuh.
"Emang kenapa lo bisa banting si Zain, sih?" Rosa tak habis fikir dengan sahabatnya ini.
Zahwa menceritakan kejadian tadi malam dan kejadian pagi ini pada Rosa.
Sebenarnya Rosa sedikit takjub dengan keberanian cewek satu ini. Tapi untuk saat ini, nasib pekerjaan Zahwa yang jadi taruhannya.
"Sebel tau gak? Aku dibentak - bentak didepan orang lain sama dia. Pingin nonjok aja bibir tuh orang yang suka - sukanya aja ngebentak aku." Zahwa masih menggerutu.
"Ya jangan sampai ditonjok dong, Wa. Nanti gak seksi lagi dong bibir si Zain." Ucap Rosa, ia berusaha mengajak sahabatnya itu sedikit bercanda agar amarahnya mereda.
"Biarin. Biar gak asal nyosor bibir orang lagi." Ketus Zahwa.
Rosa mencerna ucapan Zahwa. Berfikir sejenak. "Emang bibir lo pernah dicium sama Zain?" Tanya Rosa dengan hati - hati, takut jika sahabatnya bertambah emosi.
"Sekali doang." Jawab Zahwa spontan.
"Wooaaahhhh..." Rosa takjub pemirsa... Ia sudah mengetahui sebuah fakta yang mencengangkan.
Zahwa pun tersadar atas ucapan terakhirnya, langsung menyembunyikan wajah cantiknya dibalik kedua tangannya.
"Lo sama Zain pacaran, Wa?" Tanya Rosa yang mulai kepo dengan kehidupan Zahwa.
Zahwa menggeleng.
Entah hubungan apa yang sedang mereka jalani. Kadang saat bertatap muka, Zain seperti memberi sinyal cinta padanya. Terkadang juga Zain tampak acuh tak acuh padanya.
Tapi....
Ciuman itu?
Bolehkah Zahwa berharap lebih tentang perasaan pemuda itu untuknya?
Nyatanya saat ini tidak ada komitmen untuk menjalin hubungan antar keduanya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa beri dukungan kamu ya....
__ADS_1
terima kasih udah mampir kekarya receh aku.