
Chapter 58
Happy readding.....
🍁🍁🍁🍁
Seminggu sudah berlalu, namun sikap Anye masih sama. Tetap tak banyak bicara pada sang suami. Hanya jika ada hal - hal penting saja, baru Anye mau buka suara. Selebihnya ia akan banyak bicara dengan Sora seperti biasa.
Anye celingukan mencari dua orang yang mulai berarti dalam hidupnya, Zain dan Sora. Ia melihat mobil masih terparkir dalam garasi, namun anak dan suaminya tak tampak Batang hidungnya disana. Padahal ia sudah bersiap menuju kampus sekalian mengantar anak sambungnya, dan sebentar lagi jam belajar Sora juga akan segera dimulai.
Breemmm breemmm....
Suara motor sport yang tak asing lagi di telinganya mengusik pendengaran Anye. Ia memutar badan kearah pintu gerbang, dimana Zain baru saja datang entah darimana dengan stelan rapinya.
Seketika Anye terpesona dengan paras tampan suaminya yang sangat menyebalkan itu. Namun segera ia tepis fikirkan itu jauh - jauh dengan menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin menambah lebih banyak lagi rasa cintanya pada Zain, dan berujung pada hatinya yang akan terluka lagi.
"Udah siap?" Tanya Zain sambil turun dari atas motornya dan berjalan menuju dimana ada sebuah helm lain yang berada tak jauh dari mereka dan mengambilnya.
"Sora mana?" Bukannya menjawab, Anye malah balik bertanya tentang keberadaan anak gadisnya.
"Udah disekolah." Ucap Zain langsung mendekat kearah anye dan memasangkan helm padanya.
"Loh, kog?" Anye mengerutkan keningnya.
"Tadi Sora mau diantar naik motor seperti temannya yang lain." Jawab Zain. Padahal itu hanya salah satu alasannya saja agar rencananya pagi ini untuk menaklukan hati Anye berhasil.
Mendengar jawaban suaminya, Anye langsung memicingkan mata. Tak seperti biasanya suaminya ini mengabulkan keinginan Sora untuk diantar ke sekolah menggunakan motor.
Mendapat tatapan penuh selidik itu, Zain malah menampilkan senyum menawannya. "Sekalian manasin mesin, biar gak perlu nunggu lama."
"Nunggu lama apa?"
"Biar kamu tinggal duduk di boncengan tanpa nunggu aku manasin mesin motor."
Klik... Helem terpasang sempurna di kepala Anye.
Tunggu! Aku, kamu? Sejak kapan ada aku kamu diantara mereka? Apakah ini pertanda baik? Oh, ayolah Anye. Jangan terlalu berharap lebih pada lelaki ini. Sanggahnya dalam hati.
Saat Anye sadar dari keterpakuannya, Zain sudah berada diatas motor sport-nya yang lumayan tinggi untuknya.
"Ayo!" Zain mengulurkan tangannya agar bisa menjadi pegangan Anye, saat ia naik keatas motornya.
Dengan sedikit ragu, Anye meraih tangan itu dan lekas naik keatas boncengan.
__ADS_1
Zain mulai menyalakan mesin, sebelum melaju ia menoleh kearah sang istri, memastikan bahwa Anye sudah duduk dengan aman dibelakangnya.
"Pegangan, sayang!" Titah Zain pada Anye.
Sayang? Anye tak salah dengar 'kan? Apa ia sedang bermimpi dipagi yang cerah ini?
Zain menarik kedua tangan Anye, karena tak mendapati pergerakan wanita itu, dan membawa tangan itu untuk melingkar ke perut sixpack-nya.
Anye hanya bisa mengedip - ngedipkan matanya. Ia belum sepenuhnya percaya dengan yang sedang ia alami saat ini.
Anye tersentak dan mulai sadar dari lambannya saat Zain dengan sengaja mengerem mendadak saat sudah berada dipertigaan gapura perumahan mereka, yang membuat tubuh Anye otomatis merapat ke punggung lebar Zain. Dasar modus.
Dari balik helm fullface-nya, Zain tersenyum lebar saat mendapati tubuh istrinya lebih merapat lagi dengan tubuhnya.
"Misi dimulai," gumamnya lirih yang hanya dia sendiri yang dapat mendengarnya.
****
Diparkiran, kini banyak tatapan tertuju pada pasangan yang baru saja akan menjalani babak baru kisah percintaan mereka.
Semenjak malam panas itu dan berakhir dengan Zain yang didiamkan Anye karena salah sebut nama saat - saat kilimaks, Zain memutuskan akan mengukir dan memberi tempat untuk nama wanita itu dihatinya. Dan itu ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Karena sejatinya Anye sudah berhasil masuk ke hatinya secara perlahan selama ini kedalam hatinya.
Berkat kesabarannya menanti cinta Zain dan rasa sayangnya pada Sora, Anye sudah memiliki tempat tersendiri dihati pemuda keturunan Indo - Turki itu.
"Ayo! Mas antar ke kelas." Ucap Zain sambil menggandeng tangan Anye dan melangkah pergi dari parkiran.
Anye mengangkat pandangannya dan menatap wajah lelaki tampan yang ada didepannya saat ini sambil menggandeng tangannya. Apa Zain mulai membuka hatinya? Apa rencana mertuanya benar - benar berhasil? Bila ia, Anye sungguh bersyukur dan berterima kasih atas bantuan sang mertua yang baik hati itu.
Zain dan Anye tidak memperdulikan kasak - kusuk dan bisik - bisik tentang kedekatan mereka yang terdengar disepanjang jalan menuju kelas Anye.
Hingga kini keduanya sudah berada didepan kelas Anye yang sudah ramai dengan teman - teman sekelasnya. Dan sialnya, atensi semua teman sekelasnya menuju kearah mereka berdua. Karena tak biasanya senior sekelas Zain Malik mau mampir ke kelas mereka hanya demi hal remeh temeh.
"Belajar yang rajin," ucap Zain saat keduanya saling berhadapan.
Lagi - lagi, Zain memberikan senyum penuh pesonanya. Ia mengelus lembut rambut Anye yang terkuncir. Dan tak lupa memberi kecupan ringan dipucuk kepalanya, yang berhasil membuat semua orang didalam kelas memekik heboh.
Sungguh. Ingin rasanya Anye menenggelamkan wajahnya saja kedalam ember berisi air, agar rona merah pada wajahnya memudar.
Zain mengulum senyum melihat raut wajah istrinya yang tampak memerah. Ia sendiri tidak menyangka bisa melakukan hal semacam ini didepan orang banyak. Seakan ini bukanlah dirinya. Tapi biarlah. Demi dapat meluluhkan hati istrinya yang mulai membeku, apapun akan ia lakukan selama itu dalam batas yang wajar.
Zain berlalu dan menuju ke fakultasnya sendiri. Sedangkan Anye? Ia merasa sedikit horor saat hendak membalikan badan dan memasuki ruangan kelas. Namun mau tidak mau, ia harus mengikuti kelas hari ini bukan?
"Cieeee..."
__ADS_1
"Cuit...cuit...."
"So sweet..."
"Ehem... Ehem..."
"PJ PJ."
Masih banyak lagi godaan - godaan yang diberikan teman sekelasnya. Sungguh, ingin rasanya Anye kabur dari sini saat ini juga.
"Sejak kapan? Kata lo, kak Zain udah sold out...?" Yuli bertanya dengan hebohnya dan ia tersentak setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. "Jangan - jangan?" Tunjuknya pada Anye.
Sang tersangka hanya bersikap cuek agar pembahasan tak berlanjut lebih panjang lagi.
****
Siang ini entah mengapa Anye merasa sangat lapar sehingga ia memesan bakso dengan porsi jumbo.
Yuli yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Pelan - pelan makannya," ucapnya.
"Lapar banget aku,Yul." Sahut Anye sambil menyeruput jus jeruknya. "Dari waktu dikelas tadi kepingin banget makan nih bakso."
"Idih. Kayak gak pernah makan bakso aja." Cibir Yuli. "Eh... Jangan - jangan?"
"Jangan - jangan apa?" Alis Anye bertaut.
"Jangan - jangan lo hamil?" Tebak Yuli.
Plaak... Anye menepuk lengan temannya itu.
"Gak usah ngaco. Gak mungkin." Sanggah Anye.
"Kog gak mungkin? Lo punya suami juga." Sewot Yuli.
Anye menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. "Baru juga seminggu yang lalu buka segel. Masa iya langsung jadi." Anye melotot dan langsung membekap mulutnya sendiri setelah mengucapkan kalimat itu. Ia kelepasan bicara.
Melihat reaksi temannya, Yuli hanya bisa terbahak sambil memegang perutnya. Ia tak menyangka Anye bisa serandom ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa beri dukungan kamu ya.
__ADS_1
Beri like dan komentarnya.
Thanks yang masih setia nunggu up nya Little Daddy.