
Chapter 15
happy reading...
🍁🍁🍁
"Ck. Apa lagi sih ini." Zain menggerutu, karena lagi - lagi ia mendapatkan sebuah benda dari dalam laci mejanya.
Sudah sebulan ini Zain selalu mendapatkan adanya bingkisan maupun bekal makan siang, yang entah siapa pengirimnya.
Zain mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas. Saat ini sudah banyak temannya yang sudah hadir dikelasnya. Sampai sekarang ia masih belum tahu siapa orang misterius itu.
Untuk kali ini Zain sudah mulai jengah dan muak. Ia berdiri dan membawa bingkisan itu. Dan dengan sadisnya ia langsung mencampakkannya kedalam tempat sampah yang ada didepan kelasnya.
Aksi Zain itu nyatanya tak luput dari pengelihatan sang empunya barang. Hatinya merasa teriris perih. Matanya mulai mengembun. Ia menahan laju air matanya agar tak luruh.
Zain berbalik dan kembali menuju ke kursinya. Duduk dengan tenang tanpa peduli dengan sekitarnya.
Pelajaran pertama usai, dan para siswa mulai berhamburan keluar menuju tempat yang menjadi spot ternyaman saat jam istirahat sekolah.
Kali ini Zain memutuskan untuk ke perpustakaan sekolah tanpa diikuti Ryo sang sahabat.
Zain menyusuri beberapa rak buku untuk mencari bahan bacaannya.
Suatu objek tertangkap oleh indra pengelihatannya.
Ya. Sosok cantik itu sedang duduk manis di kursi perpustakaan. Dengan kacamata yang bertengger diwajahnya, itu menambahkan kesan dewasa yang melekat pada gadisnya.
Gadisnya?
Zain tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Entah apa yang ada dalam fikirannya ini.
Semenjak malam itu, dimana ia bermimpi mesum dengan gadis itu, Zain seakan tak mampu mengusir gadis itu dari fikirannya. Apakah dia sudah tertarik dengan gadis yang bernama Zahwa Miran itu?
Langkahnya terayun kearah dimana Zahwa duduk. Ia menghampiri dan mendudukkan tubuhnya tepat dikursi seberang Zahwa.
Zahwa yang sedari tadi serius dengan bukunya, kini mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang sudah duduk didepannya.
Ternyata itu adalah Zain yang tengah memperhatikannya dengan serius dengan bersedekap dada.
"Zain? Ada apa? Kenapa kamu cari aku?" Tanya Zahwa yang sudah kePDan.
"Gue?" Tunjuk Zain tepat diwajahnya sendiri.
Zahwa mengangguk cepat. Kalau bukan Zain siapa lagi? Kan tadi yang Zahwa sebut itu namanya.
"Gak usah kePDan." Ucap Zain dengan mata tajamnya. "Gak lihat Lo, gue bawa buku?" Zain menggoyang - goyangkan buku yang dibawanya.
__ADS_1
Zahwa mengulum senyumnya. Yang seperti itu yang dibilang buku? Zahwa hanya menggeleng melihat bosnya ini.
"Kenapa?" Zain mengangkat dagunya dengan tatapan sinis, merasa disepelekan.
"Itu bukan buku Zain." Tutur Zahwa.
Zain melihat dan membolak - balik benda yang dipegangnya itu. Alisnya mengerenyit, bingung dengan ucapan Zahwa.
"Mata Lo itu rabun apa buta? Buku segede ini dibilang bukan buku. Dasar cewek aneh." Gerutu Zain.
Ikhhh... Si daddy. Gimana mau dapat mommy buat Sora? Gak ada manis - manisnya gitu sama cewek.
"Itu komik Zain, bukan buku." Zahwa mendebat.
"Sama aja kali. Ini tuh buku komik." Sewot Zain. Aneh nih cewek, pikirnya.
"Komik ya komik. Buku yang buku." Zahwa tambah ngotot.
"Bedanya buku sama komik apa coba?" Zain mengetes IQ Zahwa.
"Buku bacaan di gunakan untuk memberi kan ilmu atau informasi kepada pembacaa dan buku bacaan bersifat mengajar. Sedangkan buku komik memberikan hiburan kepada pembaca dan buku komik bersifat menghibur." Zahwa mengemukakan pendapatnya.
"Ck... ck... ck..." Zain menggeleng - gelengkan kepalanya. "Emang beda, pintrenya beasiswa sama pintrenya reguler."
Zahwa hanya melongok mendengar jawaban abstrud cowok didepannya ini.
Zain hanya mengedikkan kedua bahunya karena zahwa tak memberi tanggapan ucapannya lagi.
Cukup lama mereka berada di perpustakaan sekolah. Dari mulai jam istirahat sampai akhir jam istirahat.
Keduanya kini berjalan seperti gerbong kereta api, Zahwa didepan dan Zain tepat dibelakang Zahwa. Mereka menuju kelas masing - masing.
Dari kejauhan, ada sosok yang selalu memperhatikan keduanya. Mulai dari Zain memilih buku dan menghampiri Zahwa dan saling bercerita, hingga kini merek menuju kelas masing - masing pun tak luput dari pantauan orang itu.
Sosok itu mengepalkan tangannya sampai buku - buku kukunya memutih. Ia tak suka Zain nya dekat dengan wanita lain.
Jam sekolah untuk hari ini sudah berakhir. Tapi tidak untuk anak - anak yang sedang berlatih untuk pentas drama yang akan mereka tampilkan sebulan lebih lagi.
Mereka berlatih dengan serius demi mendapatkan nilai bagus untuk pelajaran seni kali ini.
Sungguh menambah beban fikir mereka. Belum lagi mereka harus mulai fokus belajar untuk ujian akhir mereka beberapa bulan kedepan.
Di parkiran kini sedang terjadi perdebatan antara Zahwa dan Zain.
"Ngerepotin aja sih?" Gerutu Zain sambil menatap tajam Zahwa.
"Ya sorry. Namanya juga lupa." Cicit Zahwa.
__ADS_1
"Kaya nenek - nenek Lo. Masih muda udah pikun." Cibir Zain.
Zahwa hanya bisa mengerucutkan bibirnya yang seksi itu.
Zain jadi terfokus ke bibir pink alami itu. Ingin rasanya ia melu mat bibir kenyal itu seperti mimpinya saat itu.
Lagi - lagi Zain langsung menghalau fikiran kotornya itu.
"Astaga! Kenapa gue jadi mesum gini kalau dekat nih cewek sih?" Gumamnya dalam hati
Sungguh, begitu banyaknya cewek yang mencoba mendekatinya, kenapa hanya Zahwa yang bisa membuatnya panas dingin atas bawah.
Dengan masih melihat bibir itu, pedang panjangnya sudah mulai bereaksi.
"Apakah seperti ini semua lelaki yang sudah pernah merasakan nik matnya hiya hiya? Berarti bokap gue juga gini dong?" Fikir Zain.
Zain membuka jaketnya, dan menyodorkan pada Zahwa.
"Pakai." Ketus Zain. "Awas, jangan sampai paha Lo kelihatan yang lain."
Zain tak akan pernah rela bila tubuh gadisnya dinikmati mata lelaki lain.
"Biarin. Aku sedekah sama mereka. Biar mata mereka tambah sehat dapat vitamin yang bisa nyebarin mata mereka." Jawab Zahwa memprovokasi.
Mendengar jawaban enteng Zahwa, Zain langsung melotot tak suka. Sama seperti seorang kekasih yang memberi peringatan pada pacarnya.
Zain menyentil kening Zahwa. "Jangan mimpi."
Zahwa sudah mulai terbiasa mendapat tatapan horor itu pun tak mau ambil pusing. Ia langsung mengikat jaket Zain kepinggsngnya untuk menutupi pahanya bila duduk diboncengkan motor gede nya Zain yang lumayan tinggi.
Haisss... Ternyata Zahwa tak peka dengan sinyal yang diberikan oleh Zain padanya.
Zain mulai menstater dan melajukan motornya, meninggalkan lingkungan sekolah.
Saat mereka melintas, banyak tatapan sinis dari banyak siswivyang mengarah pada Zahwa. Mereka iri, kenapa Zahwa dengan mudahnya bisa dekat dengan Zain. Kenapa mereka begitu sulit untuk mendekat pada cowok tampan itu?
Mereka tak berani mengganggu Zahwa, karena mereka tahu keahlian bela diri yang Zahwa miliki.
Bila mereka berani mengganggu cewek itu, sama saja mereka harus menghadapi singa betina yang lagi tidur.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa beri dukungan kamu ya. beri like, komen dan tambah ke list favorit kamu.
jangan lupa vote kary aku ya.
__ADS_1
...thanks udah mampir 🙏...