Little Daddy

Little Daddy
Chapter 52


__ADS_3

Chapter 52


Happy readding...


🍁🍁🍁🍁


Anye mulai membuka mata, mengerejab dan menyesuaikan sinar lampu yang masuk ke indra pengelihatannya. Menoleh ke sisi kanan untuk menatap sekilas wajah tampan yang ada disampingnya. Wajah yang sudah sebulan ini yang selalu pertama kali ia lihat ketika terjaga dari tidurnya lelapnya.


"Ganteng banget suami aku." Gumam Anye terdengar lirih. "Mulai hari ini, aku akan jalankan misi buat masuk ke hati kamu, Mas." Lanjutnya sambil tersenyum tipis.


Kemarin, genap sudah sebulan usia pernikahannya dengan Zain. Namun tak ada kemajuan apa pun dari pernikahan mereka.


Jadi, kemari ia putuskan menghubungi Ayumi, sang mertua. Anye meminta saran apa saja yang membuat lelaki bisa mencintai seorang wanita. Karena ini adalah pertama kalinya ia menjalin sebuah hubungan dengan seorang pria. Anye tak ingin menceritakan masalah rumah tangganya kepada sang ibu. Ia takut akan menambah beban pikiran dari ibunya.


Anye beranjak dari rebahannya dan pergi untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama baginya dengan kegiatan itu, karena Anye memang bukan tipe wanita yang terlalu ribet untuk masalah perawatan tubuh.


"Mas! Bangun. Udah pagi loh. Kamu ada jadwal kekampus 'kan hari ini?"


Melihat tak ada pergerakan dari Zain. Anye mencoba membangunkannya sekali lagi.


"Mas! Bangun." Kali ini disertai guncangan cukup keras pada pundak Zain.


"Eeeemmm...." Hanya gumaman yang keluar dari mulut Zain.


"Mas! Iiiihhh... Kebo banget sih. Anye mulai kesal. "Mas!"


"Apa sih, Nye? Gue masih ngantuk." Ucap Zain dengan memicingkan matanya, dan hendak menutup wajahnya dengan bantal, namun segera dicegah oleh Anye.


"Mas gak ke kampus? Udah jam delapan tuh."


Zain terlonjak dari tidurnya. Menoleh kearah jam dinding disebelah kirinya. Ia memicing, lalu menoleh kearah istrinya yang sedang mengulum senyum.


"Dosa kalau bohong. Apalagi sama suami." Sungut Zain.


"Hehehe.... Habisnya, Mas Zain susah banget dibangunin. Biasanya juga selalu awal bangun paginya. Ada kelas 'kan pagi ini?"


Zain mengangguk sebagai jawaban dan langsung beranjak ke kamar mandi.


Pria itu usai dengan ritual mandinya, dan melihat tumpukan bajunya sudah tersedia di atas tempat tidur.


Ia menarik nafasnya kasar. Demi menghargai perasaan istrinya, mau tak mau ia harus mengenakan pakaian yang sudah disediakan oleh Anye untuknya.

__ADS_1


Zain mematut dirinya didepan cermin, memberi sedikit Pomade pada rambut hitam lebatnya.


"Ck. Ternyata gue makin hari makin cakep aja." Pujinya pada diri nya sendiri.


Merasa tampilannya sudah cukup mempesona, Zain menuju ruang makan, dimana anak dan istrinya berada.


Tampak Sora yang sedang asyik dengan sarapanya, dan Anye yang tersenyum lebar kearahnya.


"Aku fikir, Mas gak mau pakai baju yang aku sediain." Ucap Anye saat Zain sudah duduk di kursinya.


"Menghargai seseorang biar gak nangis kalau gue nolak apa yang udah disediakan." Sahut Zain acuh tak acuh.


Anye melongo mendengar jawaban itu. Astaga... Suaminya ini benar - benar ya.


"Tapi Lo gak perlu repot buat urusin kebutuhan pribadi gue." Lanjut Zain lagi.


"Aku cuma mau ngelakuin kewajiban sebagai istri, biar bisa dicintai suami." Ucap Anye sambil tersenyum. Tapi percayalah, hatinya saat ini sedang dag dig dug dengan ucapannya sendiri. Entah dapat keberanian dari mana saat ia mengungkapkan kata - kata itu.


"Jangan berharap terlalu banyak buat perasaan gue." Ucap Zain dengan wajah datarnya.


"Anye harus punya harapan besar buat bisa menempati salah satu sisi dihati kamu, Mas. Asal Mas mau kasih kesempatan buat Anye." Sahut Anye optimis.


"Gak semudah itu. Karena sudah terlanjur ada nama yang tersimpan disini." Zain menunjuk dadanya sebelah kiri. "Dan gak bisa dilupain gitu aja."


Saat Zain ingin menyahuti ucapan Anye, namun terdahului oleh ucapan Sora.


"Hati Daddy luka? Berdarah?" Tanya Sora dengan wajah polosnya.


Dua orang dewasa didekatnya saling pandang mendengar pertanyaan itu. Mereka lupa jika ada seorang anak kecil didekat mereka, anak kecil yang selalu penasaran dengan pembicaraan orang dewasa didekatnya.


"Daddy gak sakit, sayang." Anye mencubit gemas pipi Sora.


"Tapi tadi Mommy bilang, Mommy mau balut luka hati Daddy?" Sora mengerejab - ngerjabkan mata bulatnya.


"Eeeemmm...." Anye garuk - garuk kepala. Gimana caranya menjelaskan pada anak sambungnya ini?


****


Mobil Zain sudah terparkir diparkiran kampus.


Seperti biasa, Anye selalu meraih tangan Zain untuk disalimnya sebagai tanda bakti istri terhadap suami.

__ADS_1


"Belajar yang rajin ya, suaminya Anye. Biar cepat lulus. Biar bisa lebih fokus sama kerjaannya. Karena kita bakal punya anak yang banyak." Ucap Anye dengan nada bercanda.


Ya ampun Anye...


"Kog aku terkesan genit gini ya?" Tanyanya dalam hati.


Masa bodoh lah. Tapi ia suka melihat wajah cengo dari Zain. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Anye langsung keluar dari mobil. Menghindari kalau - kalau Zain melihat wajahnya yang kini tengah memerah.


Anye langsung menuju kelasnya yang sepuluh menit lagi akan berlangsung. Namun langkahnya dihadang oleh seseorang.


"Pagi Anye...!" Sapa Roni, teman dari Gilang.


"Pagi kak." Sahut Anye singkat.


"Mau ke kelas?" Tanya Roni berbasa basi. Dan disahuti dengan anggukan dari Anye.


"Kalau gitu bisa bareng dong?" Roni menaik turunkan kedua alisnya.


"Ga---" Ucapan Anye terpotong dengan suara seorang pria.


"Anye bareng gue." Zain datang dan merangkul pundak Anye.


Anye dan Roni sama terkejutnya dengan perlakuan Zain pada Anye.


"Apa Bang Zain yang dimaksud sama Gilang?" Roni bertanya - tanya dalam hati.


Sedangkan Anye? Gadis itu mengerejab - ngerjabkan matanya. Ia merasa tak percaya dengan apa yang sedang ia alami. Zain merangkulnya?


Zain menyentil kening Anye, melihat gadis itu yang masih terbengong saat mendapat rangkulan darinya. "Ayo! Bentar lagi kelas lo dimulai." Zain menyeret Anye bersamaan dengan rangkulannya.


Merasa sudah cukup jauh dari jangkauan Roni, Zain melepas rangkulannya pada Anye. Sesaat Zain berdehem, "Gak udah salah faham. Gue cuma mau jauhin lo dari player seperti Roni."


Anye mengedip - ngedipkan matanya. "Anye fikir Mas Zain cemburu." Ucapnya santai.


Zain mundur selangkah dan bersedekap dada. Menatap serius gadis didepannya ini tanpa ada kata yang terlontar dari mulutnya.


"Ya, ya kirain aja 'kan?" Anye langsung buru - buru pergi meninggalkan Zain yang masih berdiri ditempatnya saat ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Like dan komennya jangan ketinggalan ya. Tambah ke daftar favorit kamu juga ya.


Thanks yang masih setia dikarya receh aku.


__ADS_2