
Chapter 61
Happy readding....
🍁🍁🍁🍁
"Dr. Aryan!" Seru Ayumi saat melihat dokter keluarganya menuruni anak tangga terakhir.
"Selamat pagi, Nyonya!" Dokter tersebut menyapa Ayumi dengan hormat.
"Siapa yang sakit?" Tanya Ayumi tanpa menghiraukan sapaan Dr. Aryan.
Dokter paruh baya itu tersenyum hangat. Ia mendekati Ayumi dan menyodorkan tangannya. "Selamat. Anda akan mendapat cucu lagi."
Ayumi terperangah sambil menutup mulutnya. Apa katanya tadi? Cucu lagi?
Sangking terkejut sekaligus senangnya, Ayumi langsung bergegas menuju kamar dimana anak dan menantunya berada, tanpa memperdulikan tangan Dr. Aryan yang masih menggantung di udara.
Dr. Aryan meremas udara. Ia menarik nafas pasrah. Ia benar - benar faham dengan seluruh anggota keluarga Malik.
"Aryan!" Kini giliran Ryan yang menyapanya.
Sepertinya lelaki yang tak lagi muda ini baru selesai berolahraga. Itu yang ditangkap oleh pengelihatannya dari penampilan Ryan saat ini.
"Hai!" Sapa Dr. Aryan.
"Siapa yang sakit?" Tanya Ryan sedikit bingung. Pasalnya tadi malam seluruh anggota keluarganya tampak baik - baik saja.
"Menantumu."
"Anye?"
Dr. Ryan merotasikan matanya. "Emang menantumu ada berapa saat ini?"
"Satu." Jawab Ryan dengan santai.
"Nah, itu tahu."
"Anye sakit apa?" Tanya Ryan dengan wajah yang mulai berubah serius.
"Bukan masalah serius. Cucumu akan bertambah satu lagi." Jelas Dr. Aryan.
"What!" Seru Ryan.
"Kenapa kaget? Seharusnya kamu senang." Sewot dokter tersebut.
Seperti halnya Ayumi, Ryan langsung ngeloyor menuju kamar anak dan menantunya, tanpa perduli pada dokter sekaligus temannya itu.
"Ck. Laki bini sama aja kelakuannya." Gerutunya. "Jangan lupa transfer bayaranku!" Teriaknya kemudian, dan dibalas acungan jempol oleh Ryan yang masih menaiki anak tangga.
Dan saat ini dikamar Zain sudah terjadi kehebohan karena ulah seseorang. Siapa lagi kalau bukan Ayumi yang begitu antusias dengan kabar yang didapatnya tadi dari Dr. Aryan.
__ADS_1
"Sayang... Mantu Mama... Akhirnya usaha Mama gak sia - sia buat kamu hamil." Ayumi menghampiri sang menantu sehingga membuat Zain yang berada didekat Anye bergeser dari posisinya.
"Yang buat Anye hamil itu aku, Ma." Tutur Zain saat mendengar omongan abstrud mamanya.
Ayumi mendengus tak suka. "Kalau kamu gak Mama paksa minum ramuan berkhasiat itu, mungkin sampai sekarang Anye gaka akan hamil." Sewotnya.
"Sekarang Zain udah ketagihan, Ma. Makanya bisa jadi tuh kecebongnya." Sahut Dewa yang sedari tadi sudah berada disana semenjak dokter keluarga mereka tiba.
"Iri bilang bos." Cibir Zain, yang dibalas plototan dari Dewa.
"Ma!" Panggil Anye pada sang mertua.
"Ya, sayang?" Sahut Ayumi dengan begitu lembut.
"Anak aku mana?" Tanya Anye yang tidak melihat Batang hidung anak sambungnya.
"Anak kamu?" Ayumi mulai ngebug. "Ya ampun..." Ayumi menepuk jidatnya. "Cucu cantik Mama ketinggalan didapur."
Astaga... Cucu baru mau dua, Ayumi sudah mulai pikun.
Ayumi bangkit dari duduknya dan pergi untuk menyusul Sora yang ia tinggal sendiri saat sedang memakan serealnya.
"Mama Mama." Dewa hanya bisa geleng - geleng kepala.
Bruukk...
Terdengar sesuatu yang besar telah terjatuh bertepatan saat Ayumi membuka pintu.
"Aduuhh...." Keluh Ryan yang kini tengah tersungkur tepat di gawang pintu kamar Zain, saat dirinya memutar hendel pintu dengan begitu semangat.
"Sakit, Ma." Ryan mengelus dagunya yang sedikit terbentur lantai.
"Maaf. Habis Papa gak ketuk pintu dulu pas mau masuk."
Ryan meringis memegang dagunya yang sedikit ngilu.
"Mama mau kemana?" Tanya Ryan.
"Mau ke Sora dulu. Lupa kalau dia lagi sarapan dibawah. Habis kaget plus seneng dengar kabar kalau Anye hamil." Tanpa menunggu sahutan sang suami, Ayumi langsung keluar menuju dapur.
Ryan berjalan menghampiri kedua anak dan mantunya yang sedang menahan senyum. Sebenarnya ia sedikit malu atas kejadian barusan. Namun Ryan tetap bisa menampilkan gaya cool dan berwibawanya
"Selamat. Akhirnya pedang kamu tidak berkarat lagi." Ryan memberi pelukan hangat pada Zain.
"Ck. Makin tua, makin abstrud omongan Papa." Keluh Zain, tapi tetap menyambut pelukan sang papa.
Pelukan terlepas. Dan kini perhatiannya teralihkan pada sang menantu yang tengah menyandarkan tubuhnya di headboard.
"Selamat, Anye. Akhirnya kamu bisa membuat hati Zain mencair dan kamu berhasil mengandung keturunan keluarga Malik berikutnya." Ryan mengelus lembut kepala menantunya.
"Terima kasih, Pa. Semua ini berkat dukungan dari Mama."
__ADS_1
Ryan mengangguk membenarkan. Kalau istrinya tidak ikut turun tangan, mungkin rumah tangga sang anak tidak mengalami perubahan.
Perhatian Ryan beralih pada putra sulungnya. Menatap Dewa dengan serius.
"Apa?" Tanya Dewa saat jadi bahan perhatian sang papa.
"Kamu kapan nyusul kasih Papa cucu?" Ucap Ryan.
"Ck. Lahan yang digarap aja gak ada, gimana mau buat anak." Keluh Dewa yang dibumbui dengan sedikit curhatan.
"Cari. Cewek banyak. Tinggal milih mau yang gimana. Percuma tampang Ok, kerjaan mapan, banyak duit tapi gak bisa buat cewek bertekuk lutut." Cibir Zain pada sang kakak. "Jangan bilang kalau lo belum bisa move on dari Helen."
"Ck. Gak usah bawa - bawa nama tuh perempuan. Eneg gue, mau muntah." Sahut Dewa.
"Gaya lo. Yang kemarin - kemarin bucin tuh siapa?" Zain mulai memprovokasi.
"Gue. Puas lo?" Sewot Dewa.
Tiga orang dewasa didekatnya terkekeh pelan. Dasar Dewa. Bisa - bisanya sang casanova bisa terjebak dengan wanita ular seperti Helen.
****
"Hai adik! Ini kakak Sora. Sehat - sehat ya didalam perut Mommy." Ucap Sora tepat didepan perut Anye yang masih rata.
"Siap kakak." Sahut Anye sambil menirukan suara anak kecil.
Anye mengelus lembut kepala Putri sambungnya yang sangat ia kasihi. Akhirnya ia bisa mengabulkan keinginan putri kecilnya ini.
Alis Anye bertaut saat melihat perubahan mimik wajah Sora. "Loh! Kakak kog malah sedih? Kenapa, hem?"
Sora menatap wajah wanita yang sangat ia sayang. Tampak ketakutan yang terpancar dari mata gadis kecil itu.
"Kenapa, hem? Bilang sama Mommy." Anye membujuk Putri sambungnya agar mau mengatakan kesedihannya.
"Kalau adik udah lahir, Mommy gak akan tinggalin Sora 'kan?"
"Ya Allah, sayang!" Anye merengkuh tubuh mungil itu dan mengecup ujung kepalanya. "Mommy gak akan ninggalin kamu. Mommy akan selalu sayang dan cinta kamu, nak." Anye mengeratkan pelukannya.
"Promise?" Sora mengacungkan jari kelingkingnya pada Anye.
"Janji." Anye menautkan kelingkingnya pada kelingking mungil milik Sora.
"I love yuo, Mommy."
"I love yuo too, my Sora."
Dari balik pintu, Zain tersenyum bahagia. Ternyata nikah paksa ini berbuah manis untuk keluarga kecilnya. Ia bersyukur bahwa Anye tak cepat menyerah untuk meluluhkan hatinya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Ho ho... sudah mendekati end ya.
Terus berikan dukungan kamu sampai episode akhir ya. Karena dukungan kamu sangat berarti buat aku.