Little Daddy

Little Daddy
Chapter 44


__ADS_3

Chapter 44


Happy readding...


🍁🍁🍁🍁


Ryan menghelah nafas sebelum mulai bicara. "Begini, Zain....."


Belum sempat Ryan untuk melanjutkan perkataannya, tiba - tiba pintu diketuk seseorang.


Tok tok tok...


Masuklah seorang wanita berpakaian semi formal kedalam ruangan Dewa dengan membawa seorang pria seusia Ryan.


"Permisi, Tuan. Tuan Anggara sudah tiba." Wanita yang berprofesi sebagai sekertaris Dewa itu, mempersilakan tamu atasannya masuk dan segera berlalu dari ruangan itu.


Wajah Ryan sumringah seketika melihat kedatangan seseorang yang sudah ditunggu - tunggunya sejak tadi.


"Tuan Anggara!" Ryan berdiri dan langsung menjabat tangannya, diikuti ketiga pria lainnya.


"Maaf, saya sedikit terlambat." Ucap Anggara tak enak hati atas keterlambatannya.


"Ah, tak masalah. Anak bungsu saya juga baru tiba." Ryan mencoba memaklumi.


Anggara menangkap sosok yang tidak pernah ia temui sebelumnya jika mereka sedang mengadakan pertemuan dengan Ryan.


"Pasti kamu yang bernama, Zain 'kan?" Tunjuknya pada pria muda yang duduk disofa tunggal dekat Dewa.


Zain hanya tersenyum dan mengangguk kecil saat tamu sang papa menebak dengan benar.


"Waah... Kamu benar - benar copy-an Ryan yah?" Tatapan Anggara beralih pada Ryan. "Bagaimana kalau malam ini kita adakan makan malam bersama?"


"Hahaha... Dengan senang hati, Tuan Anggara. Saya akan menunggu kedatangan Anda nanti malam di rumah kami." Sambut Ryan dengan antusias.


"Baiklah, baiklah. Saya akan membawa istri dan anak gadis saya." Pria itu menganggukan kepalanya sambil melirik kearah Zain. Dan itu tak luput dari tatapan Zain yang sejak tadi hanya menyimak obrolan kedua pria paruh baya yang ada disana.


Dewa merapat dengan sang adik. "Ada udang dibalik bakwan nih." Bisik Dewa ditelinga sang adik.


Mendapat bisikan itu, auto Zain menegakan tubuhnya dan langsung merubah raut wajahnya menjadi datar tak seramah saat pria asing itu memasuki ruangan Dewa.


Bukan hanya sekali dua kali kedua orang tuanya berusaha untuk menjodohkannya dengan putri dari teman bisnis sang papa, tapi tak sekalipun Zain menggubris niat kedua orang tuanya. Zain belum bisa menerima wanita manapun saat ini. Seakan - akan ia masih terjebak dengan kenangan masa lalunya


Pembicaraan pun berlanjut pada pembahasan proyek kerjasama antara Anggara GROUP dan Malik Company yang sedikit bermasalah akibat adanya kebocoran data perusahaan yang jatuh pada pihak Marin GROUP. Dan mereka mendapati indikasi bahwa ada seorang penghianat di dalam perusahaan.

__ADS_1


Pembahasan kali ini cukup serius bagi kedua belah pihak. bagaimana tidak, bila hal ini dibiarkan sampai berlarut - larut, maka perusahaan dapat dipastikan akan mengalami banyak kerugian.


Cukup lama pebahasan itu mereka bicarakan, hingga suara sebuah panggilan telefon terdengar dari ponsel Anggara. Dan setelah berbicara untuk beberapa saat dengan seseorang diseberang sana, Angagara memutuskan untuk pamit undur diri.


Tak lama saat Angagara keluar dari ruangan Dewa, Zain pun memutuskan untuk kembali kerumah pribadinya bersama sang putri.


Sebelum pemuda itu benar - benar keluar dari ruangan, terdengar suara Ryan memberi intruksi. "Pastikan malam ini kamu hadir diperjamuan makan malam nanti, Zain. Papa tidak ingin mendengar alasan apapun lagi dari kamu." Ucap Ryan dengan tegas.


Dengan masih memunggungi ketiga pria yang masih duduk dengan anteng, Zain menyahuti perkataan papanya. "Jangan coba - coba untuk menajodohkanku dengan wanita yang tak aku inginkan, Pa." Ucap Zain dingin dengan menolehkan sedikit kepalanya arah kebelakang. Sedetik kemudian ia meninggalkan ruangan itu.


Baaammm


Pintu ditutup sedikit kasar oleh Zain.


Ryan menghelah nafas dengan kasar dan memijit pelipisnya. "Sampai kapan dia mau hidup tanpa adanya sosok pendamping hidup?" Keluhnya pada Dewa dan Sam.


"Zain masih muda, Pa. Belum mau jadi kakek -kakek juga. Jadi jangan terlalu khawatir dan memaksanya." Dewa mencoba untuk berkelakar. "Biar dia memilih sendiri wanitanya." Dewa membela sang adik.


"Terus, bagaimana dengan Sora? Cucuku juga butuh figur seorang ibu." Sahut Ryan sambil menerawang nasib cucunya yang tumbuh tanpa seorang ibu yang ada disisinya.


****


Mobil yang Zain kendarai memasuki pekarangan rumahnya.


Melihat kedatangan daddy-nya, Sora langsung meloncat turun dan langsung berlari menyambut sang daddy.


"Daddy...!" Seru Sora dengan gembira.


"Hei! Hati - hati." Tegur Zain saat melihat sang anak melompat turun dari gazrbo yang lumayan tinggi untuk ukuran anak kecil.


"Hehehe.... Daddy udah selesai kerjanya?"


"Udah." Pria itu mengelus rambut anaknya. Ia melihat kearah dua wanita yang tadi bersama anaknya dan menghampiri mereka. "Terima kasih udah jagain Sora, Bu."


Dira tersenyum hangat dan mengangguk. "Udah tugas Ibu 'kan?" Dira melihat keponakannya sejenak, dan memperkenalkannya pada Zain. "Oh iya, ini Anyelir. Keponakan Ibu yang bertugas membersihkan rumah kamu."


Zain terperanjat. Tak menyangka bahwa keponakan yang dimaksud pak Bayu masih semuda ini. Ia fikir itu adalah seorang wanita yang usianya jauh lebih tua diatasnya.


Zain mengangguk kepada Anye untuk menyapanya.


"Nenek...!"


Kini perhatian tiga orang dewasa itu teralihkan pada Sora yang sedang menyusuni peralatan sekolahnya kedalam tas.

__ADS_1


"Sora boleh main kerumah Nenek?" tanya bocah itu penuh harap.


"Boleh." Sahut Dira.


"Boleh 'kan, Daddy?" Sora memberikan tatapan penuh harapnya pada sang daddy.


"Apa tidak merepotkan, Bu?" Tanya Zain pada Dira.


"Tidak sama sekali, Nak Zain. Ibu malah senang, rumah jadi lebih ramai. Lagi pula, Sora tipe anak yang manis dan penurut." Dira meremas lembut dagu Sora.


Zain menatap Sora, dan kemudian mengangguk setuju.


"yeeeyyy....!" Sora berseru riang. "Ayo, Nek." Sora menarik tangan Dira.


Kedua wanita beda generasi itu pun berlalu dari hadapan Zain dan hendak diikuti oleh Anye.


"Tunggu." Zain mencegah wanita itu yang hendak beralalu.


Langkah Anye terhenti. Ia menoleh kearah Zain dan menunggu pria itu melanjutkan ucapnya.


"Nanti malam bisa ikut gue dan Sora?"


"Kemana, Mas?" Tanya Anye.


"Kerumah orang tua gue."


Anye terperanjat mendengar ucapan Zain. Tapi dengan cepat Zain menjelaskan maksudnya membawa Anye bersama mereka agar tak jadi kesalah fahaman. "Untuk menggantikan Bu Dira menjaga Sora. Karena malam ini akan ada acara disana. Tidak mungkinkan, gue bawa Bu Dira malam hari? Bisa ngamuk Pak Bayu nanti."


Anye mengangguk mengerti. "Baiklah. Berangkat jam berapa, Mas?"


"Jam tujuh gue jemput."


"Ok. Kalau begitu aku balik dulu." Anye beranajak dari hadapan Zain. Dan lagi - lagi langkahnya terhenti saat Zain bersuara lagi.


"Berpakaianlah yang rapi." Setelah mengucapkan kalimat itu, Zain berlalu dari hadapan gadis itu yang kini tengah terpaku mendengar ucapannya.


"Emang selama ini pakaian aku gak ada yang rapi, ya?" Tanyanya pada diri sendiri dengan bodohnya. "Emang dandanan aku kayak gembel?" Anye mulai jalan dengan perlahan meninggalkan halaman rumah majikannya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beri dukungan kamu dengan like dan komen. Jangan lupa tambah ke list favorit kamu.

__ADS_1


__ADS_2