
Chapter 31
Happy reading....
🍁🍁🍁
Ditempat yang sama dan dibangku yang sama pada sebuah taman yang pernah Zain dan Zahwa gunakan sebagai tempat kencan pertama kalinya bagi mereka. Tempat dimana pertama kalinya Zahwa mendapatkan ciu man pertamanya.
Dibawah langit malam bertabur bintang, seorang Zain untuk pertama kalinya menceritakan kisah pahit masa lalunya pada seorang gadis. Gadis yang mungkin akan selalu ia cintai. Seorang gadis kuat dan tangguh dalam menghadapi kerasnya kehidupan di ibu kota seorang diri tanpa mau menyusahkan kedua orang tuanya dikampung.
"Sekarang lo udah tahu masa lalu gue." Zain tertunduk menatap ujung sepatunya. "Apa lo masih suka sama gue? Gue udah punya anak. Kalau ingin sama gue, berarti lo juga harus bisa terima anak gue. Karena gue dan Sora itu udah satu paket." Zain mengangkat pandangannya dan beralih menatap Zahwa yang duduk disampingnya.
Zahwa tersenyum hangat pada pemuda tampan ini. "Aku juga punya masa lalu yang tak kalah suramnya." Zahwa menghembuskan nafas kasar. "Mungkin akan berkelanjutan hingga dikemudian hari. Dan mungkin juga bakal berimbas untuk pria yang bakal jadi pendamping hidupku. Masalah perebutan tahta dan harta."
Sambil mengayun - ayunkan kakinya, Zahwa menatap lurus kedepan. "Bahkan sampai sekarang aku harus rela hidup susah dan selalu bersembunyi dari kejaran dari keserakahan saudara tiri ayah kandungku." Zahwa tertawa kecil. Miris sekali hidupnya ini. Hidup serba kekurangan susah, hidup bergelimang harta lebih susah. Bisa - bisa nyawa jadi taruhannya.
Zain menghirup nafas panjangnya. Tersenyum pada gadis cantik yang sedang sendu ini. "Kita jalani apa adanya?" Ucap Zain.
Zahwa menatap pemuda itu. Mencoba mencari kesungguhan dalam diri dari wajah tampannya. "Dengan segala resiko buruk yang akan terjadi?" Tanya Zahwa.
Zain mengangguk dan memberi senyum manisnya. "Ya. Kita jalani apa yang bisa kita jalani."
"Tapi Sora? Aku gak mau terjadi hal buruk pada bocah imut itu." Zahwa mulai bimbang. Ia menunduk, tak tahu harus mengambil keputusan apa.
Zahwa sangat menyayangi bocah itu. Zahwa merasa, ia memiliki seorang adik bila ia berada didekat Sora.
Zain mengelus rambut indah itu. Menyalurkan rasa sayang pada gadis pemilik hatinya. "Semua akan baik - baik aja." Tutur Zain.
Zahwa mengangkat pandangannya. Menatap pemuda tampan yang kini tengah tersenyum padanya.
"Benarkah?" Sekali lagi Zahwa memastikan, agar ia bisa mengambil keputusan.
"Hemm." Zain mengangguk dan berdehem.
"Baiklah." Zahwa sudah mengambil keputusan.
"Jadi?" Tanya Zain.
"Jadi apa?" Zahwa balik bertanya.
__ADS_1
"Kamu mau jadi calon mommy buat Sora?" Pinta Zain dengan tulus.
Dengan hati yang mantap, Zahwa mengangguk, menyetujui permintaan dari Zain. "Aku akan berusaha jadi yang terbaik untuk kamu dan Sora."
Sungguh. Hati Zain begitu bahagia mendengar jawaban dari Zahwa. Dengan spontan pemuda itu mengecup ujung kepala gadis yang dicintainya.
"Terima kasih telah menerimaku sekaligus Sora." Ucap Zain dengan hati yang tulus.
****
Dengan hati riang gembira, Zain menuruni anak tangga sambil bersiul. Pagi ini ia merasa bertambah bahagia lagi dari hari - hari sebelumnya.
Zain sudah berhasil mendapatkan hati wanita pujaannya. wanita yang menurutnya pantas menjadi ibu dari anak semata wayangnya.
Zain berjalan dengan wajah tersenyum yang tak pernah luput sejak ia mulai bangun tidur tadi.
Dan tingkahnya itu tak luput dari pandangan keempat orang yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Bahagia bener." Dewa menggoda sang adik.
"Jangan kebanyakan senyum gitu, Zain. Ngerih Mama jadinya lihat kamu kalau senyum - senyum sendiri begitu." Ucap Ayumi.
"Kamu ikut balapan lagi, Zain?" Ayumi langsung melihat sang anak dan memelototkan matanya.
"Enggak, Ma." Jawab Zain cepat. Karena ia melihat sang mama sudah mengangkat sendok sayur dan bersiap memukulnya dengan benda itu.
"Yaaahhhh... Jadi, Daddy gak punya duit dong? Sola gak bisa jajan banyak lagi kalau gini." Ucap Sora terlihat lesu.
Kini keempat orang dewasa disana menatap pada bocah imut itu.
"Kamu tenang, Sora. Duit Daddy kamu masih banyak." Ucap Dewa pada sang ponakan. "Sepertinya Sora sebentar lagi bakal punya mommy baru." Bisik Dewa dari kursi diseberang bocah itu, namun dengan jelas bisa terdengar tiga orang lain yang ada disana.
"Benelan, Daddy?" Tanya Sora dengan mata berbinarnya.
Haaahhhh
Si Dewa, ada aja bahasannya untuk mengganggu ketenangannya.
Zain melihat sang putri. Begitu rindukah anaknya ini pada sosok yang dinamakan mommy?
__ADS_1
Zain mengecup ubun - ubun sang anak sambil berdoa untuk kebaikannya dan sang putri dikemudian hari.
"Selalu jadi anak baik dan penurut sama Daddy, pasti mommy baru Sora bakal datang buat sama - sama kamu dan Daddy." ucap Zain dengan lembut pada sang anak.
"Benelan?" Tanya Sora penuh harap. Zain hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tuh 'kan, apa uncel bilang. Mommy Sora lagi on the way." ucap Dewa. Ia juga berharap adik dan keponakannya mendapatkan wanita yang tepat dikehidupan mereka.
Ryan yang sedari tadi hanya memperhatikan anak dan cucunya hanya bisa menghela nafas. Ia jadi bingung akan mengambil keputusan apa untuk masa depan anak dan cucunya.
Bukan ia tak tahu bahwa anak bungsunya sedang bersama dengan gadis yang menjadi calon menantunya. Bahkan foto saat si bungsu mengecup ujung kepala gadis itupun ia punya.
Semua informasi tentang keluarga intinya dan gadis itu ia dapat dari orang kepercayaannya. Bahkan informasi tentang Bastian Marin pun ia miliki.
Lelaki licik itu sudah mulai bergerak mencari tahu keberadaan Zahwa dan orang terdekat gadis itu melalui orang - orang suruhannya.
Haruskah ia membiarkan anak bungsunya untuk bersama gadis itu?
Sedangkan yang dibutuhkan gadis itu saat ini tak hanya sebatas pendamping hidup, tapi juga sebagai pelindung yang benar - banar tangguh.
Memang keahlian bela diri Zain tak dapat diragukan lagi. Bahkan ia sudah memegang sabuk hitam taekwondo, sama seperti Dewa. Tapi kalau untuk mengurus perusahaan? Zain belum memiliki keahlian yang matang untuk memimpin perusahaan besar. Berbeda dengan Dewa yang sudah ia ajarkan dalam kepemimpinan di perusahaannya.
Tapi bagaimana dengan gadis itu sendiri? Apa gadis itu akan menerima perjodohan itu dengan anak pertamanya.
Bagaimana nanti jadinya bila Ryan mengalihkan aset berharga milik gadis itu, yang telah dititipkan orang tuanya kepada Ryan?
Bagaimana bila gadis itu malah salah memilih pendamping?
Bukankah Ryan sudah berjanji akan menjaga dan melindungi putri sahabat yang begitu berarti baginya apapun resikonya?
Cukup waktu sepuluh tahun ia kehilangan jejak dari gadis itu.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa beri dukungan kamu untuk karya aku ya.
Sambil menunggu up nya 'Little Daddy', kamu bisa mampir ke novel aku yang satunya yang berjudul 'Bidadari Sang Idol'.
__ADS_1
Thanks udah nyempetin baca karya red_rubby.