
Chapter 28
Happy reading....
🍁🍁🍁
Zahwa berlari menyusuri koridor sekolah dengan air mata yang luruh kepipinya. Dihapusnya dengan kasar air mata itu.
Zahwa tak menyangka, Zain akan melakukan hal itu dengan gadis lain. Ia kecewa, sangat - sangat kecewa dengan apa yang telah dilihatnya.
"Loh! Loh, wa? Kog nangis? Ada apa?" Ryo yang ingin menuju kelas dibuat kaget saat berpapasan dengan Zahwa yang berjalan sedikit berlari sambil menangis.
Tanpa menggubris pertanyaan dari Ryo, Zahwa terus berjalan. Kini tujuannya hanya satu, toilet.
Tak berapa lama dari kepergian Zahwa, tampak Zain dengan wajah panik disertai frustasinya.
"Eh! Lo lagi. Tadi Zahwa, sekarang elo. Lo berdua ada masalah?" Tanya Ryo menghentikan langkah Zain.
"Lo lihat Zahwa, Yo?" Bukannya menjawab, Zain malah balik bertanya.
"Ia. Tadi gue lihat dia jalan sambil nangis. Emang si Zahwa, lo apain?" Ryo mengintrogasi Zain.
"Zahwa nangis?" Zain terkejut mengetahui fakta itu.
"Ia. Doi nangis. Lo berdua bertengkar?" Ryo masih mencari tahu masalah yang sedang terjadi.
"Ck. Emang breng sek si Riska." Zain meninju udara dengan rasa kesalnya.
"Riska? Emang ada apaan sih? Penasaran gue jadinya." Ucap Ryo.
Zain menceritakan yang telah terjadi, dari awal Riska mengajaknya bicara berdua hingga akhirnya ia kepergok langsung oleh Zahwa sedang berci uman dengan Riska. Eh! Ralat. Bukan sedang berci uman, tapi dici um dengan paksa.
"Weeeehhh... Pagi - pagi udah dapet sarapan spesial aja, lo. Gimana? Enak gak rasanya?" Bukannya prihatin dengan nasib seorang Zain, tapi Ryo malah menggoda sahabatnya itu.
Plaakkk
Akhirnya Ryo mendapatkan hadiah dari Zain berupa timpukan dikepalanya.
Akkhhh...
"Sakit woi." Sungut Ryo.
Zain tak memperdulikan kesakitan Ryo. Ia hendak melangkah pergi, tapi ia urungkan. Dan bertanya lagi kemana arah Zahwa pergi. Setelah mendapat info tentang kemana arah tujuan Zahwa, Zain bergegas ingin menyusul gadis itu.
"Udah biarin Zahwa nenangin diri dulu. Lo jelasin sekarang juga percuma. Cewek kalau lagi emosi, merasa dirinya paling benar sedunia. Biar hatinya sedikit tenang dulu, baru coba lo jelasin perlahan." Ryo memberi nasehat.
Zain berfikir sejenak. Ada benarnya juga yang dikatakan sahabatnya ini.
Kriiingggg....
Bel berbunyi. Semua siswa dan siswi berbaris dilapangan untuk mengikuti upacara bendera.
Zain mengedarkan pandangannya dimana anggota kelas Zahwa berbaris.
__ADS_1
Tampak dibarisan kedua dari depan ada Zahwa yang sedang menatap lurus ke depan.
Tatapan Zain melembut saat menangkap sosok yang entah sejak kapan sangat ia cintai.
Ingin rasanya Zain berlari dan memeluk gadis itu. Menyampaikan permintaan maafnya dan menjelaskan atas kejadian yang telah gadis itu lihat. Namun apalah daya, tak mungkin ia melakukan itu sekarang bukan?
"Duuhhh panasnya." Terdengar gerutuan dari seorang siswi disampingnya.
"Enak gue dong. Lihat, gue ketutup nadanya si Zain." Pamer siswi satunya yang dapat menghalau teriknya matahari karena terlindung oleh badan kekar Zain Malik. "Makasih ya Zain. Untung badan lo gede. Jadi gue bisa nyempil dibelakang, lo." Cengir siswi itu.
Zain hanya menoleh sekilas. Namun tanpa sengaja, ia dan Riska saling bertatapan. Bukan tatapan cinta, tapi sebuah tatapan jijik dan benci pada gadis itu. Tapi berbeda hal dengan Riska. Ia memberi tatapan penuh kepuasan karena telah berhasil memberi sentuhan pada pemuda itu.
Jam istirahat pertama pun tiba. Sebenarnya Zahwa tak ingin ke kantin. Tapi sungguh, perutnya yang sudah keroncongan ini tidak dapat diajak kompromi.
"Semoga dia gak ada di kantin." Doa Zahwa penuh harap.
Saat ini Zahwa hanya ingin mencoba untuk menghindar dari seorang Zain. Tak ingin melihat wajah yang sudah berhasil membuatnya menangis hari ini.
Sayang sungguh disayang, ternyata Tuhan tak mengabulkan doanya.
Kini dua pemuda tengah duduk dihadapannya dan Rosa.
Ryo dengan tingkah tengilnya seperti biasa. Dan Zain, dengan tatapan yang tak putus terus mengarah padanya.
Zahwa tak ingin ambil pusing untuk saat ini. Yang terpenting baginya, perut mungilnya bisa terisi oleh nasi soto yang telah dipesannya.
Melihat keanehan sikap antara Zain dan Zahwa, Rosa menyenggol kaki Ryo dan memberi kode kepada Ryo dengan mengangkat dagu dan lirikan mata mengarah pada Zain dan Zahwa.
Ryo yang diberi kode pun hanya mengangkat kedua bahunya. Ia tak ingin ikut campur dengan masalah dua sejoli yang memiliki hubungan tak jelas ini. Tidak pacaran, tapi saling cemburu dari sama lain.
Masih tetap sama. Tak ada yang memulai pembicaraan. Zahwa yang sibuk dengan bukunya, dan Zain yang teris sibuk memandangi Zahwa.
Lima menit duduk tanpa adanya obrolan, kini Zain memberanikan diri untuk mengajak Zahwa bicara. "Wa!"
Sreeekkk
Suara kursi bergeser. Zahwa berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Zain.
Zain hanya bisa menarik nafasnya. Ia mulai frustasi kembali. Gadis itu menghindar lagi darinya.
Bukan Zahwa tak tahu diri dan tak menghormati Zain sebagai bosnya, tapi ini bukan jam kerja 'kan?
Tak jauh berbeda saat masih disekolah. Ketika dikafe pun sama, Zahwa masih mendiamkan Zain.
Sekarang Zain benar - benar sudah frustasi. Kenapa jadi sesulit ini untuk mendekati dan bicara pada gadis itu?
Zain mengambil gagang telepon diruang kerjanya. Menghubungi Inah agar Zahwa mengantarkan makanan dan minuman untuknya.
Kali ini ia bertekad, akan menjelaskan kesalah fahaman yang tengah terjadi antara ia dan Zahwa.
Sepuluh menit berlalu, pintu terbuka. Tampak Zahwa membawa nampan berisi pesanan Zain.
"Ini pesanannya bos." Zahwa meletakan pesanan itu dimeja sofa yang ada di ruangan Zain.
__ADS_1
Zain masih memperhatikan wajah cantik yang sedikit murung itu. Tapi tidak dengan Zahwa, ia tak ingin melihat wajah tampan yang menyebalkan untuknya saat ini.
Saat Zahwa hendak beranjak dari tempatnya, Zain bangkit dari duduknya.
"Wa!" Zain menarik lembut pergelangan tangan Zahwa.
"Apa yang terjadi tadi pagi antara gue dan Riska itu gak seperti yang lo fikirin." Zain mencoba mengajak Zahwa bicara.
"Emang apa yang aku fikirin?" Zahwa bertanya dengan membelakangi Zain.
Zain diam. Bingung untuk menjawab pertanyaan Zahwa.
"Riska yang ngelecehin gue." Ucap Zain.
Zahwa tertawa sinis. "Kamu yang dilecehin? Yang benar aja." Zahwa tak langsung percaya.
Zain mengangguk. Padahal Zahwa masih tak melihat dirinya.
"Tapi kelihatannya kamu nikmatin banget tuh." Sewot Zahwa.
"Gue cuma terkejut, Wa. Riska tiba - tiba aja cium gue." Zain memberi alasan.
Zahwa membalikan badannya. "Terkejut?" Alis Zahwa terangkat sebelah. "Lama bener terkejutnya? Sampai gak sadar tuh cewek udah merem melek cium tuh bibir. Untung gak jontor." Gerutu Zahwa.
Ingin rasanya Zain tertawa mendengar ucapan gadis yang sedang cemburu padanya saat ini.
"Yang penting aku gak ada hubungan, apalagi perasaan sama dia 'kan, sayang." Zain masih mencoba meluluhkan hati Zahwa.
"Apa! Zain panggil aku 'sayang'?" Tanya Zahwa dalam hati.
Tidak, tidak bisa. Zahwa tidak bisa luluh secepat ini pada kata - kata manis playboy Turki ini.
"Ada hubungan sama tuh cewek juga gak apa - apa. Gak ada sangkut pautnya juga sama aku." Ucap Zahwa dengan wajah cemberutnya dan mata yang mulai berkaca - kaca.
Zain menarik Zahwa. Ia merengkuh gadis itu kedalam pelukannya. Memeluk dengan begitu posesif, seakan - akan tak ingin melepasnya. Diusapnya lembut surai indah nan lurus itu yang kini tengah terikat dengan rapi.
"Aku gak mungkin sembarangan pilih wanita buat jadi mommy dari putri ku, Wa." Ucap Zain.
Zahwa sedikit mendorong Zain agar mengendurkan pelukannya. Ia mendongak, melihat wajah tampan itu. Meminta penjelasan dari kalimat yang baru saja diucapkannya.
"Putri kamu?" Alis Zahwa tertaut. " Kamu punya anak?" Tanya Zahwa tak percaya.
Zain menunduk. Melihat kearah wajah gadis yang memiliki tinggi hanya sebatas pundaknya.
"Iya. Sora adalah anak aku. Anak kandung."
****
Nah loh.... Zain udah jujur sama Zahwa tuh. Gimana reaksi dan tanggapan Zahwa? Bakal nerima keadaan Zain gak ya?
Cus... terus ikuti kisah Sora, Zain dan Zahwa ya.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa beri dukungan untuk karya aku ya.