Little Daddy

Little Daddy
Chapter 37


__ADS_3

Chapter 37


Happy reading...


🍁🍁🍁


"Assalamualaikum!"


Tok tok tok...


"Assalamualaikum!" Lagi, Zahwa mengucap salam karena tak mendapat sahutan dari sang empunya rumah.


Tok tok tok...


"As--" Tangan Zahwa menggantung di udara saat pintu terbuka.


Ceklek.


Tampak Rosa dengan wajah bantalnya. Melihat siapa yang datang, ia melirik jam dinding dibelakangnya. Ternyata sudah jam dua siang.


"Baru bangun, Sa?"


Dengan wajah lesunya, Rosa mengangguk dan mempersilahkan Zahwa untuk masuk.


"Aku fikir gak jadi datang." Rosa mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.


"Hehe... Tadi ada urusan sebentar. Makanya sedikit telat." Tutur Zahwa. "Nih." Zahwa menyodorkan sebuah bungkusan kepada Rosa.


"Apa nih?" Rosa melongokan kepalanya untuk melihat isi bungkusan itu, dan tak lama ia mengeluarkan benda itu dari dalamnya.


"Bahan kebaya?" Tanya Rosa. Ia heran, kenapa ia diberi benda ini oleh sahabatnya. Seperti mau nikahan saja.


Zahwa tersenyum malu - malu sebelum menjawab keheranan sahabatnya. "Tiga minggu lagi, aku bakal nikah sama Zain."


"What!" Pekik Rosa. "Serius?" Tanyanya lagi tak percaya.


Zahwa mengangguk dengan senyum terkembang di bibirnya.


"Aaaaaa... Selamat." Rosa menghambur dalam pelukan Zahwa. "Gak nyangka gue, kalau tuh bule Turki serius sama lo."


"Apalagi aku." Sahut Zahwa. "Tadi awalnya bukan Zain yang bakal nikah sama aku, tapi kakaknya." Ucap Zahwa.


"Loh? Kog bisa?" Tanya Rosa heran.


Kemudian Zahwa menceritakan dari awal sampai akhir yang telah ia lalui hingga ia lebih memilih Zain untuk menjadi pendamping hidupnya kelak.


"Rumit juga jalan hidup, lo ya?"


"Hem, begitulah." Sahut Zahwa.


"Gue gak nyangka, kalau sahabat gue ini keturunan Sultan. Ck ck ck..." Rosa menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Hahaha... Aku juga gak yakin itu. Udah terlalu lama hidup aku selalu nyungsep." Zahwa menerawang, mengingat seberapa berat beban hidup yang harus dijalaninya selama ini sebelum bertemu dengan keluarga Malik.


Ditinggal untuk selamanya oleh kedua orang tuanya, menjalin kehidupan sulit dan lumayan keras di kota besar, belajar keras agar dapat beasiswa untuk meringankan biaya yang harus dikirimkan oleh ayah angkatnya, serta rela bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah hingga pernah berurusan dengan preman jalanan. Hingga akhirnya ia mengenal sosok pemuda ketus namun memiliki hati yang hangat nan lembut penuh kasih sayang. Sosok penolong yang sangat ia cintai, Zain Malik.


****


"Mau kemana kamu, Zain?" Tanya Ayumi saat melihat anaknya berdandan rapi dengan membawa kunci motornya.


"Eeemm... Mau ke kafe sebentar, Ma."

__ADS_1


Ayumi memicingkan matanya. Sedikit curiga dengan sang anak. "Seminggu ini kamu 'kan gak boleh keluar. Kamu masih dipingit."


"Zain mau ngecek kafe sebentar, Ma."


"Ngecek kafe atau ngecek Zahwa?" Cibir Ayumi.


"Ng-ngecek kafe lah, Ma." Ucap Zain terbata.


Kenapa mamanya ini bisa tahu niatnya yang sebenarnya sih? Kayak cenayang saja.


"Yakin?" Kini Ayumi berjalan mendekati putranya dengan tatapan penuh selidik.


"I-i-ya." Jawab Zain gugup. Duh...


"Gak boleh." Ucap Ayumi dengan tegas. "Kamu masih dipingit. Kamu harus bertahan tiga hari lagi buat jumpa Zahwa."


"Tapi, Ma."


"Gak ada tapi - tapian. Awas kamu kalau keluar rumah. Biar Dewa aja yang Mama nikahkan sama Zahwa." Ancam Ayumi.


Zain menghirup nafas dan membuangnya dengan kasar. Ingin rasanya ia menghilang saat ini dan berpindah ketempat sang kekasih berada untuk mengobati rasa rindunya.


****


Hari yang dinantikan pun tiba. Tampak kesibukan yang sedang terjadi dikediaman Zahwa saat ini.


Tampak dekorasi sederhana namun terlihat elegan disetiap ruangan untuk acara akad nikah Zahwa dan Zain nanti.


"Duh... Cantiknya calon pengantin." Ucap Rosa yang berusaha menggoda Zahwa yang terlihat tegang.


"Ma kasih." Sahutnya dengan senyum bahagia.


Zahwa menoleh pada sahabatnya dan mengangguk.


"Hahaha... Masih akad loh. Gimana malam pertama nanti?"


Mendengar ucapan Rosa, seketika wajah Zahwa bersemu merah. Malam pertama? Dengan Zain?


"Cie.... Malu nih ye...?" Rosa tak henti - hentinya menggoda sahabatnya itu.


"Iiisssh, apaan sih?" Andai tak tertutup makeup, sudah dapat dipastikan terlihat wajah Zahwa yang sudah semerah tomat saat ini.


Ditengah godaan yang dilayangkan Rosa pada Zahwa, kini mulai terdengar suara mic yang akan segera digunakan.


Sayup - sayup terdengar seseorang wali hakim mulai mengucapkan ijab yang ditujukan kepada seorang pria muda yang sangat Zahwa cintai.


Dan dengan lantang dan satu tarikan nafas, pria itu berhasil mengucapkan qobul yang berhasil membuat dada Zahwa bergemuruh hebat.


Kini ia sudah sah menjadi seorang istri dari pria yang bernama Zain Malik.


"Alhamdulillah..." Seru Zahwa dan Rosa.


Dan tak lama pintu kamar terbuka. Masuklah Lily dengan wajah bahagianya. "Akhirnya, nona muda Ibu sudah memiliki pendamping. Ibu merasa lega sekarang." Lily mengecup kening putrinya.


"Yuk keluar. Suami kamu udah nunggu." Ajak Lily.


Saat Zain selesai membacakan shigat ta'lik, kini netranya beralih pada sosok wanita yang mulai mendekatinya.


Wanita cantik yang sedang diapit oleh sahabat dan ibunya. Sosok cantik dengan kebaya krem dengan senyum menawan yang berhasil membuat hati Zain jadi menghangat.


Kini sosok cantik itu sudah duduk tepat berada disampingnya dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


Ingin rasanya saat ini Zain memeluk wanita yang sudah sah menjadi istrinya ini, untuk mencurahkan kasih sayang dan rasa bahagia yang tengah ia rasakan saat ini.


"Udah, nanti lagi ditatapnya ya mas Zain. Nanti dipuas - puasin natapnya setelah tanda tangan dokumen ini." Goda pak penghulu, dan mendapatkan gelak tawa tamu undangan.


Langsung saja Zain tersadar akan kelakuannya yang tak putus menatap sang istri.


Dengan berusaha untuk tetap tenang, Zain mengambil berkas yang tadi disodorkan oleh penghulu.


Setelah serangkaian acara akad selesai, kini tamu undangan mulai berbaur satu sama lain untuk saling bercengkrama.


Memang tamu yang datang tak terlalu banyak, karena mereka akan mengadakan resepsi setelah mereka menerima kelulusannya dari sekolah.


"Daddy!" Sora menghampiri Zain.


"Hay sayang." Zain mengangkat Sora kedalam gendongannya.


"Akhilnya, Sola jadi punya mommy baru." Ucap bocah imut itu. "Nanti Daddy sama Mommy, buat adik yang banyak ya? Bial Sola punya banyak teman main dilumah."


"Tenang Sora. Daddy sama mommy kamu pasti bakal sering buat adik bayi." Ryo menanggapi ucapan Sora.


"Benelan?" Tanya Sora penuh antusias.


"He'em." Ryo mengangguk.


Pllaaak


Zain menepuk leher sahabatnya yang asal bicara itu.


"Lo pikir gampang buat bayi?" Sungut Zain.


"Ya gampang lah. Tinggal sat set sat set doang. Buktinya waktu Lo buat Sora, sekali cetak langsung jadi." Sahut Ryo dengan konyolnya.


"Ah elo sok tahu. Semua itu butuh proses, Yo." Rosa ikut nimbrung pembicaraan konyol itu. Sedangkan Zahwa hanya bisa tersipu malu mendengar obrolan abstud mereka.


"Sola boleh ikut buat adik bayi?"


Mendengar ucapan Sora, keempat orang yang berada didekatnya hanya saling pandang.


Ryo mengambil alih Sora dari gendongan Zain. "Kalau Sora ikut buat adik bayi, bisa - bisa adik bayinya gak jadi." Ryo berjalan menjauhi pengantin baru itu diikuti oleh Rosa disamping mereka.


"Oh, ya?" Masih sayup - sayup terdengar obrolan unfaedah antara ketiga orang yang baru saja meninggalkan pengantin baru itu.


Kini kedua orang itu hanya saling pandang. Seakan -akan mereka bisa mendengar suara isi hati mereka masing masing. Hingga...


"Zahwa!" Pekik seorang gadis dengan suara lantang dan menggelegar. Tampak wajah marah dari gadis yang bernama Riska itu.


Seketika seluruh perhatian tertuju pada gadis itu.


Dor...


Dor...


Semua orang terperangah dengan hal yang baru saja terjadi.


"Zahwa...!" Pekik semua orang.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kita memasuki season 2 ya say....

__ADS_1


__ADS_2