Little Daddy

Little Daddy
Chapter 48


__ADS_3

Chapter 48


Happy readding...


🍁🍁🍁🍁


Ryan berjalan ke dalam rumah dengan langkah panjangnya dengan wajah yang menahan emosi. Ayumi yang mengikutinya sampai terseok - seok mengejar langkah suaminya.


Braaakkk


Terdengar suara bantingan pintu yang cukup keras berasal dari lantai atas. Dan ternyata suara itu berasal dari kamar Dewa.


Dan tak lama juga terdengar suara teriakan Helen disertai suara barang dibanting. Sepertinya kekacauan sedang terjadi diantara anak dan menantu mereka.


Ayumi mengetuk pintu kamar anaknya. Cukup lama ia menunggu untuk dibukakan pintu.


Ceklek...


Tampak wajah kusut dan merah padam karena amarah. Kini Dewa menatap sendu wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Ia merasa bersalah telah memberikannya seorang menantu seperti Helen.


"Ada apa ini, Wa?" Tanya Ayumi dengan wajah khawatirnya. Ini pertama kalinya ia melihat anaknya bertengkar dengan menantunya. Biasanya Dewa lebih banyak mengalah kepada sang istri bila keadaan antara keduanya mulai menegang.


Dewa tak menjawab pertanyaan mamanya. Ia menatap sang papa, kemudian berjalan kearah sofa yang tepat berada didepan kamar mereka.


Ayumi melongok kedalam kamar Dewa, mancoba mengintip kondisi menantunya. Tapi yang tampak hanya wajah datar tampa ekspresi yang sang menantu tunjukan.


"Ma!" Panggil Ryan pada istrinya.


Ayumi menoleh, menantikan kalimat selanjutnya dari sang suami.


"Suruh Helen keluar." Ucap Ryan dengan wajah dan suara datar.


Sebelum Ayumi memasuki kamar Dewa, Helen sudah berjaalan keluar lebih dulu. Mungkin ia mendengar perintah Ryan tadi, karena memang pria itu berkata dengan suara yang cukup keras.


Helen berjalan melewati Ayumi begitu saja tanpa rasa sungkan. Duduk dengan gaya elegan dan tampak angkuh. Ayumi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan menantunya ini.

__ADS_1


Derap langkah terburu terdengar menaiki anak tangga. Tampak Sam dengan sebuah amplop cokalat besar yang cukup tebal ditangan kirinya dan sebuah laptop ditangan kanannya.


Sam memberi benda - benda itu kepada Ryan untuk diperiksa. Pria itu menunjukan beberapa folder penting tentang video keterkaitan menantunya dengan masalah perusahaan mereka.


Tak hanya itu, ada beberapa video tak senonoh sang menantu dengan beberapa pria, dan salah satunya adalah Bastian Marin.


Ryan beralih pada amplop coklat dihadapannya. Terdapat laporan transaksi dari rekening pribadi milik Helen berupa trasferan uang cukup besar dari orang yang berusaha menjatuhkan bisnis mereka, yang tak lain adalah Bastian Marin.


"Jelaskan apa tujuan utamamu." Tanya Ryan masih dengan nada dinginnya.


Helen tak langsung menjawab pertanyaan itu. Dan sedetik kemudian, wanita itu tertawa sinis. Kemudian raut wajah itu berubah menjadi wajah penuh dendam.


"Membalas kalian atas kematian Riska." Ucap Helen dengan tatapan tajamnya. Berbohong dan menyangkal pun percuma untuk saat ini, mereka sudah mendapatakan bukti - bukti tentang keterkaitannya.


Mereka masih ingat dengan nama itu. Nama seorang gadis yang telah membuat Zain kehilangan istrinya. Dan membuat Zain berkubang dengan masa lalunya.


"Apa hubunganmu dengannya?" Tanya Ayumi. Namun Helen tetap bungkam dengan wajah tanpa ekspresinya.


"Kenapa diam? Jawab pertanyaan mama ku!" Dewa sudah berang, tak sabar menunggu Helen yang tak kunjung menjawab.


"Aku akan mengurus surat perceraian kita. Aku tak ingin hidup dengan penghianat sepertimu." Dewa sudah mengambil keputusan.


Helen ingin bersuara, namun sudah terpotong lebih dulu oleh ucapan Dewa. "Dan aku pastikan, kamu tidak akan mendapatkan dan membawa apapun dari rumah ini."


Mendengar ucapan Dewa, seketika Helen melotot. Tidak bisa begini, ia sudah melangkah sejauh ini.


"Kemasi barang - barangmu sekarang juga. Dan langsung angkat kaki sekarang juga." Titah Ryan. "Atau kau pilih untuk mendekam dipenjara seperti Riska yang mengakhiri nyawanya sendiri didalam sana?"


Nyali Helen mulai menciut. Jangan sampai Ryan merealisasikan ucapannya. Ia masih ingin hidup dan bersenang - senang.


"Tenang Helen, masih ada si tua bangka Bastian yang bisa menjamin hidup mu." Batin Helen menenangkan dirinya.


"Dan jangan berharap meminta bantuan dari Bastian. Karena ku paastikan dia mendekam dipenjara untuk selamanya." Ucap Ryan lagi.


Luruh sudah harapan wanita pengahianat itu, tak ada gunanya lagi untuk bertahan. Ia bangkit dari duduknya, bersiap untuk mengemasi barangnya.

__ADS_1


Belum sempat Helen meninggalkan mereka, Dewa buka suara lagi. "Helen Sanjaya binti Sanjaya, aku Dewa Al Malik, menalak kamu detik ini juga. Dan mulai detik ini, kau bukan istriku lagi."


Setelah mendengarkan ucapan Dewa, Helen berjalan gontai dengat tatapan kosongnya menuju kekamar dan mengemasi barang - barangnya.


Tidak ada lagi yang dibahas oleh mereka. Dewa memutuskan keluar untuk menenangkan diri. Ayumi dan Ryan memutuskan merehatkan diri mereka dikamar. Hari ini cukup melelahkan bagi mereka. Belum selesai masalah Zain, kini mereka harus mendengar kabar bahwa sang menantulah yang menjadi penghianat dikeluarga mereka, hingga berakhir dengan perceraiannya dengan Dewa.


Sedangkan Sam, pria itu memutuskan pulang untuk berkumpul dengan kealuarganya dirumah.


****


"Bagaimana para saksi? Sah?" Ucap seorang penghulu.


"Sah." Seru para saksi pernikahan dadakan antara Anye dan Zain.


Tak ada raut kebahagiaan dari wajah keduanya. Yang satu dengan wajah murung, dan yang satunya dengan wajah tanpa ekspresi.


Setelah melalui acara tangis menangis antara Anye dengan keluarganya, Ayumi menyuruh pengantin baru itu untuk beristirahat.


Dan disinilah keberadaan sepasang pengantin baru itu, dimana lagi kalau bukan dikamar pengantin mereka.


Keduanya diam mematung ditempat masing - masing. Tak tahu harus melakukan apa dengan keadaan secanggung ini.


Baru beberapa hari kenal, kini keduanya sudah terjebak dalam pernikahan yang tak mereka inginkan sama seakali.


Cukup lama keheningan dalam ruangan itu. Hingga akahirnya Zain mulai membuka suaranya. "Aku harus menegaskan satu hal padamu. Aku tidak ingin memberikan harapan palsu untukmu." Zain menjeda ucapannya. "Aku tidak akan pernah bisa mencintai wanita lain, selain almarhum zahwa, istriku. Jadi kamu jangan menaruh harapan apapun padaku." Ucap Zain dengan serius.


Mendengar penuturan suami barunya ini, seketika hati Anye menclos seketika. Bukankah sekarang ia juga sudah menjadi istri dari pria dihadapannya ini? Kenapa begitu sakit mendengar ucapan suaminya ini? Mampukah ia bertahan dalam pernikahan ini?


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa beri dukungan kamu ya.


Terima kasih udah sempatkan mampir kekarya aku.

__ADS_1


__ADS_2