Little Daddy

Little Daddy
Chapter 35


__ADS_3

Chapter 35


Happy reading


🍁🍁🍁


Senin yang dinanti - nanti para sebagian besar seluruh siswa SMA tingkat akhir pun tiba.


Hari dimana mereka harus membuktikan hasil dari apa yang mereka pelajari selama kurang lebih tiga tahun yang telah mereka pelajari dibangku sekolah.


Tampak wajah - wajah tegang dan frustasi disini. Ada juga yang menanggapinya dengan santai, dan ada juga yang sudah memasrahkan semuanya pada keberuntungan.


"Ya ampun, gue betul - betul gugup nih." Ucap Rosa dengan gelisah. "Kayak mau kawinan aja."


"Emang kamu gak belajar?" Tanya Zahwa yang terlihat tenang.


"SKS." Jawab Rosa singkat.


"Hahaha... Makanya, kalau disuruh belajar itu, ya harus belajar. Jadi gak akan begini ceritanya." Tutur Zahwa.


"Iiisssh. Iya deh yang rajin belajar." Cibir Rosa.


"Udah yuk, masuk." Ajak Zahwa.


Keduanya mulai menuju ruangan dimana mereka harus berperang dengan lembaran - lembaran soal.


"Haisss, kita beda ruangan ya, Wa? Coba kita satu ruangan. Gue gak bakal ketar - ketir begini." Rosa masih saja mengeluh.


"Emang kenapa?"


"Ya... Kalau satu ruangan kan setidaknya gue punya sedikit harapan." Ucap Rosa sambil menerawang bila itu terjadi.


"Harapan?" Tanya Zahwa dan dibalas anggukan oleh Rosa. "Harapan nyontek?" Rosa mengangguk lagi. "Emang bakal aku kasi?" Zahwa menampilkan senyum mengejek.


"Iiissshh. Gak asik." Rosa menghentak - hentakan kakinya. Lalu masuk keruangannya.


Sedangkan Zahwa harus masih berjalan menuju ruangan yang paling ujung, sebagai tempat dimana ia akan melaksanakan ujiannya.


Saat hampir sampai diujung koridor, Zahwa berpapasan dengan Riska.


Gadis itu dengan terang - terangan menampakan wajah tak sukanya pada Zahwa.


Ketika gadis itu tepat berada didepan Zahwa, ia berhenti dan menatap Zahwa.


"Gue gak bakal biarin lo dapetin Zain. Ngerti?" Ucap Riska dengan nada terselubung ancaman.


Setelah mengucapkan itu pada Zahwa, Riska pergi meninggalkan tempat itu dengan sengaja menabrakkan bahunya pada bahu Zahwa dengan kasar.


"Aduh." Pekik Zahwa tertahan. "Gila nih cewek. Untung mau ujian, jadi dia selamat. Kalau enggak? Habis tuh mulut cewek aku ululek pakai sepatu." Gerutu Zahwa.


Tak mau ambil pusing dengan kejadian barusan, Zahwa melangkah lagi menuju ruangannya yang sudah hampir dekat.


Beberapa hari pun berlalu. Ini adalah hari terakhir Zahwa dan kawan - kawan melaksanakan ujian mereka.


"Aaaaaa... Akhirnya bebas." Pekik Rosa girang.


"Bebas sih bebas. Tapikan belum tau hasilnya." Sahut Ryo.


"Iya sih." Seketika Rosa menjadi lesu. Entah berapa hasil yang didapatnya nanti.


Kini Zahwa, Zain, Rosa dan Ryo sudah berada dikantin. Suasana juga tak seramai biasanya. Karena memang untuk kelas satu dan dua diliburkan pihak sekolah, demi kelancaran ujian kelas tiga.


"Ckk." Zahwa berdecak.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Tanya Zain yang sedari tadi tengah memperhatikan wajah cantik itu.


"Tuh." Zahwa menunjuk dengan menggunakan bibirnya. "Fans fanatik kamu. Kayak mau nerkam mangsa aja kalau lihat aku."


Zain menolehkan kepalanya kebelakang. Mencari siapa yang dimaksud sang kekasih.


Saat matanya sudah mendapatkan objek yang ditunjuk Zahwa, kini Zain malah merotasikan kedua bola matanya. Ia jengah melihat sosok wanita ular yang ada dibelakangnya saat ini.


"Udah, biarin aja. Sebentar lagi kita gak akan lihat muka tuh cewek." Ucap Zain sambil menyeruput minumannya.


Drrrttt... Drrrttt...


Ponsel Zain bergetar. Ia melihat kontak yang saat ini sedang meneleponnya. Dan itu ternyata adalah sang mama.


"Ya, Ma!" Sahut Zain.


"....."


Kening Zain berkerut.


"Ya udah, iya. Ini juga udah selesai. Lagi nongkrong dikantin."


"....."


"Iya Ma." Zain mengakhiri panggilannya.


Kemudian perhatiannya teralihkan pada Zahwa.


"Wa!"


"Ya?"


"Mama suruh aku buat ajak kamu kerumah." Ucap Zain.


Zain mencebik dan mengedikkan kedua bahunya.


"Mau bahas masalah lamaran kali, Wa." Sahut Rosa.


Plakk...


Zahwa menepuk lengan sahabatnya itu. "Jangan asal ngomong."


"Ya kali aja kan?" Rosa menaik turunkan alisnya tanda menggoda.


"Apaan sih?" Entah mengapa wajahnya seketika jadi memanas.


Memang Zain pernah membahas soal pernikahan dengannya tempo hari. Zain akan menjadikan dirinya sebagai pendamping pria itu setelah lulus sekolah.


"Yuk." Zain berdiri dan menarik pelan tangan Zahwa, agar gadis itu segera mengikutinya.


"Cie... Cie... Yang mau dilamar." Goda Rosa pada pasangan itu dengan suara yang cukup keras.


Ia sengaja mengeraskan suaranya, hanya sekedar untuk memanas - Manado Riska yang sedari tadi mencuri pandang kearah mereka.


Dan seruan Rosa itu berhasil membuat Riska murka. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya dengan sumpah serapa yang ia layangkan untuk Zahwa.


Melihat reaksi dari Riska, Rosa merasa senang. "Rasain lo. Panas, panas deh lo."


Ryo yang sedari tadi disampingnya hanya menggelengkan kepalanya. Gadis satu ini, benar - benar senang mancing keributan.


Namun ternyata, bukan hanya Riska yang tamak tak senang. Disudut lain ada seorang Megan yang takalah marahnya dari Riska, mendengarkan ucapan Rosa.


****

__ADS_1


"Ayah, Ibu!" Zahwa terkejut ketika mendapati orang tua angkatnya juga berada di rumah Zain.


Apa yang dikatakan Rosa tadi benar, ya? Pikirnya.


"Sayang!"


"Nak!"


Seru David dan Lily berbarengan.


Dengan senyum terkembang, Zahwa menghampiri kedua orang tuanya. Ia salim takzim kepada keduanya.


"Kamu sehat nak?" Lily menanyakan kabar putrinya.


"Sehat, Bu. Ibu sama ayah, kenapa bisa ada disini?" Zahwa heran, apakah orang tua angkatnya dan orang tua Zain saling kenal?


"Inilah yang akan kita bahas, Zahwa." Bukan Lily yang menjawab, melainkan Ryan.


"Duduklah dulu." Ucap Ayumi dengan nada lembut sambil tersenyum.


Kedua muda mudi itupun menurut dan duduk berdampingan.


Melihat pemandangan itu, kelima orang dewasa yang disana hanya bisa menarik nafas beratnya.


"Zahwa!"


Tak hanya Zahwa, kini tatapan semua orang beralih pada sosok Ryan.


"Apa ayah kamu pernah cerita tentang perjodohan dengan mu?" Tanya Ryan dengan wajah yang serius.


Deg.


Jantung Zain berdegup. Memperkirakan apa yang akan disampaikan papanya.


"Eummm..." Gumam Zahwa, namun tak ayal ia pun mengangguk.


Kini hari Zain mulai tak tenang.


"Kamu tahu siapa orang itu?" Tanya Ryan lagi.


Zahwa menggeleng. Ia tak ingin buka suara. Tangannya menggenggam erat tangan Zain.


"Mungkin ini akan menyakitkan untuk kalian berdua." Ucapan itu Ryan tujukan untuk Zahwa dan Zain.


Zain memejamkan matanya. Sudah bisa Zain tebak apa yang akan disampaikan sang papa.


"Laki - laki itu adalah Dewa, kakak dari Zain, putra pertama Om."


Refleks Zahwa langsung melihat sosok pemuda dewasa yang duduk tak jauh dari mereka.


"Terus?" Jawab Zahwa dengan tenang dan menatap Ryan dengan berani.


Melihat respon dari Zahwa, kelima orang dewasa itu hanya diam dengan fikirannya masing - masing.


"Ckk. Kamu benar - benar keturunan Marin." Ryan menggelengkan kepalanya. Tak percaya bahwa calon mantunya ini akan menuruni sifat sang ayah.


"Itu benar." Zahwa masih menjawab santai.


Ryan menarik nafas dalam - dalam. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan sebulan lagi."


"Apa?" Pekik Zahwa, Zain dan Dewa berbarengan.


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2