Little Daddy

Little Daddy
Chapter 13


__ADS_3

Chapter 13


happy reading....


🍁🍁🍁


"Daddy... Peluk." Rengek Sora yang menyusup kedada bidang sang daddy.


"Eeeem." Zain hanya bergumam, namun tetap memeluk putrinya dengan hangat.


Ceklek...


Pintu terbuka. Kini kepala Ayumi menyembul kedalam untuk melihat aktivitas yang terjadi di dalam kamar itu.


"Astaga..." Ayumi melangkah masuk kedalam. "Nih anak berdua, sama aja kelakuannya. Udah siang bukanya bangun. Untung hari libur." Gerutu Ayumi sambil berkacak pinggang.


Ingin membangunkan, tapi ia kasihan. Hingga akhirnya Ayumi mengambil ponsel Zain, lalu memotret sepasang anak dan daddy itu. Moment menggemaskan ini harus diabadikan, fikirnya.


Merasakan ada sinar seperti kilat yang masuk ke matanya, Zain seketika mengerenyit, ia merasa tidurnya sedikit terganggu. Namun ia enggan untuk terbangun. Hingga ia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya kembali dengan memeluk Sora dengan erat.


Ayumi yang melihat tingkah anak dan cucunya hanya bisa menggeleng. Dan dengan langkah perlahan ia meninggalkan Zain dan Sora yang sedang tertidur.


Ayumi menuruni anak tangga dan hendak menuju dapur. Tapi bertanya menangkap bayangan anak sulungnya yang baru saja pulang entah darimana sepagi ini.


"Dari mana kamu Dewa? Kamu gak tidur dirumah?" Ayumi menghentikan langkah Dewa yang hendak kekamarnya.


Dewa mengacak rambutnya. Dan berbalik menghadap mamanya. Ketahuan baginda ratu ini mah. Auto kena ceramah panjang kali lebar pasti.


"Dewa nginep dirumah Zaky, Ma. Tadi malam nobar sepak bola." Jawabnya dengan berbohong.


"Nginep dirumah Zaky, atau nginep di hotel kamu?" Sungut Ayumi. "Kamu fikir mama sama papa gak tahu kelakuan kamu diluaran sana?" Ayumi melotot garang.


"Ck. Mama ini kaya gak pernah muda aja sih." Cibir Dewa.


"Berani kamu jawab mama?" Bentak Ayumi dengan suara yang menggelegar.


Ryan yang sedang berada di kolam ikan kesayangannya pun terkejut. Ia menghampiri Ayumi yang kelihatan sedang marah.


Tampak Ayumi dan Dewa yang sedang bersitegang di ruang makan.


"Ada apa ini, Ma? Kenapa suaranya kedengaran sampai luar rumah?" Tegur Ryan.


"Lihat ini anak kamu." Tunjuk Ayumi tepat depan wajah Dewa.


"Anak kamu juga Ma." Sahut Ryan.


Ayumi melotot garang. Tak tahukah suaminya ini kalau ia sedang marah?


"Apa yang kamu perbuat, Dewa?" Tanya Ryan dengan muka datarnya.

__ADS_1


"Gak ada, Pa." Jawab Dewa singkat.


"Gak ada kamu bilang?" Ayumi berkacak pinggang. "Sering gak pulang malam hari, gak ada apa - apa kamu bilang? Mau jadi apa kamu? Kelakuan kamu makin hari makin liar. Apa tunggu ada korban lagi seperti adik kamu dan almarhum Nara, baru kamu berhenti berbuat sesuka hatimu?" Omel Ayumi dengan nafas memburu.


"Kamu gak pulang lagi tadi malam, Wa?" Tanya Ryan dengan raut wajah mulai berubah sangar.


Dewa hanya terdiam. Tak berani menjawab bila sang papa yang sudah bicara.


"Ok. Sepertinya peringatan papa beberapa waktu lalu kamu anggap sepele rupanya." Ryan menjeda ucapannya, lalu mengulurkan tangannya kearah dewa. "Kematian kunci mobil dan STNK nya. Jangan lupa kartu ATM dan kartu kredit jatah untuk kamu."


"Tapi Pa,-" ucapan Dewa dihentikan sang papa. Ryan mengangkat tangan tanda Dewa harus berhenti bicara. Ia tak ingin dibantah lagi. Sudah cukup ia bersabar menghadapi kelakuan buruk putra sulungnya itu.


Dengan tanpa perlawanan lagi, Dewa memberikan yang diminta oleh papanya. Mulai dari kunci mobil, STNK, ATM dan terakhir kartu kreditnya


"Mulai sekarang, kalau kamu mau dapat uang, kamu harus kerja. Terserah kamu mau kerja dimana. Yang penting kerjaan itu menghasilkan yang halal. Dengar kamu?" Tanpa menunggu jawaban dari Dewa, Ryan pergi meninggalkannya, dan disusul oleh Ayumi.


"Yahhh... Jadi gembel gue." Dewa sudah pasrah dengan nasibnya sekarang. "Apa gue minta bantuan aja sama Zain, ya?" ia bermonolog sendiri.


Tignong tignong


Bel rumah keluarga Malik berbunyi. Bik Asih lari tergopoh - gopoh membukakan pintu untuk tamunya.


Ceklek...


"Eh. Den Ryo. Cari den Zain ya?" Sapa bik Asih.


"Iya Bik. Zain belum kebengkel kan?" Tanya Ryo.


"Ya udah. Aku langsung kekamarnya Zain aja." Ryo langsung menuju kamar Zain setelah dipersilahkan masuk.


Tap tap tap tap


Ryo melangkahkan kakinya. Tepat dilantai atas ia berpapasan dengan Ayumi yang kebetulan baru keluar dari kamar Sora.


"Tante! Apa kabar?" Ryo menghampiri Ayumi dan meraih tangannya untuk disalim.


"Kabar Tante baik. Kamu cari Zain?" Tanya Ayumi.


Ryo mengangguk. "Iya Tan. Zain ada dikamar kan?"


"Ada. Masih tidur sama Sora tuh. Gak tau pulang jam berapa mereka tadi malam tuh. Dah sana samperin." Sewot Ayumi.


"Ya Tan. Aku kekamar Zain dulu." Ryo beranjak dari tempatnya.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka.


"Ck. Dasar kebo. Hari gini belum bangun. Gue kerjain aja kali ya?" Ryo berjalan menuju ranjang Zain.

__ADS_1


"Woooiii..." Teriak Ryo disamping Zain sambil melompat keatas kasur.


Karena kaget, Zain langsung terduduk. Ia mengumpulkan kesadarannya secara utuh.


Ia menoleh kearah pelaku kejahatan dalam tidurnya. Zain langsung mendorong wajah Ryo yang tersenyum senang karena berhasil menganggu tidurnya.


"Daddy...!" Rengek Sora dan mulai mencebik, dan satu, dua, tiiigaa...


"Huuuwwaaaaa.... Daddy..." Sora menangis kencang.


Kedua remaja didepannya seketika panik mendengarnya tangisan anak kecil itu.


"Kan. Gara - gara elo sih ini, Sora jadi nangis kan. Resek Lo." Ketua Zain.


"He he he... Sorry! Gue gak tau Sora bakal nangis." Cengir Ryo.


Ia langsung mengangkat putrinya masuk kedalam gendongsnnys untuk ditenangkan. "Cup cup cup... Kaget ya?"


Sora masih menangis. Takmau lepas dari pelukan dalam gendongan sang daddy.


Setelah tak selang berapa lama, tangis Sora mereda dan menyisakan sengugukannya.


"Maafin uncel ya my Sora. Tadi uncle cuma mau bangunin daddynya Sora kog." Ucap Ryo dengan tulus. Sora hanya mengangguk.


Huuuffftt. Akhirnya, Sora diam juga.


"Ngapain Lo pagi hari gini udah nongol di kamar gue?" Ketus Zain.


"Ya elah Zain. Gue bosen dirumah kalau libur. Gak ada teman. Jadi gue putusin kesini buat ikut elo kebengkel." Tutur Ryo.


"Lo lupa ini hari apa?" Tanya Zain.


"Minggu kan?" Ryo balik tanya.


"Iya. Dan Lo lupa kalau hari minggu bengkel gue libur?" Alis Zain terangkat sebelah.


"Oouuww sh it." Ryo menepuk jidatnya. "Ya udah lah gak apa. Gue mau main PS aja sama Lo." Ucap Ryo sambil tersenyum lebar.


Ck. Alamat keganggu waktu istirahat nya ini. Tapi tak apalah, demi kawan.


Ia jadi gagal pergi ke kafe, hanya sekedar untuk melihat gadis kuat itu yang selalu masuk dalam fikirannya.


Haaahhhh....


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


haloha.... jangan lupa beri dukungan kamu ya. beri like, komen dan tambah ke list favorit kamu.

__ADS_1


thanks udah mampir 🙏


__ADS_2