Little Daddy

Little Daddy
Chapter 54


__ADS_3

Chapter 54


Happy readding....


🍁🍁🍁🍁


"Hai sayang!" Sapa Zain pada Sora yang tengah fokus mewarnai tugas sekolahnya di ruang keluarga.


Bocah itu mendongak, melihat sang daddy sedang berdiri menjulang tinggi tak jauh darinya sambil memegang laptopnya. "Hai Daddy!" Sahutnya kemudian kembali fokus pada gambarnya.


Anye tiba dan ikut bergabung dengan ayah dan anak yang tengah sibuk dengan kegiatannya masing - masing sambil membawa beberapa toples cemilan dan buku ditangannya.


"Wah... Udah pada ngumpul ternyata." Seru Anye.


Ya. Inilah rutinitas baru Zain dan Anye sekarang. Menemani Sora belajar sesaat habis magrib. Tampak bagai keluarga bahagia bukan?


"Lo mau belajar, apa mau gemukin badan?" Sindir Zain yang melihat Anye lebih banyak membawa cemilan daripada buku.


Anye mengerucutkan bibirnya. Suaminya ini tak ada manis - manisnya kalau sedang bicara padanya. Padahal kini usia pernikahan mereka sudah berjalan setengah tahun. Tapi perubahan sikap Zain padanya hanya seujung kuku jari kaki. Miris.


"Sora lagi gambar apa, sayang?" Anye melongokan kepalanya kearah buku gambar Sora. Tampak olehnya sebuah gambar beberapa orang didalamnya. Hasilnya cukup indah untuk ukuran anak TK.


Gadis cilik itu menghentikan aktivitasnya dan mengangkat sedikit tubuhnya dari lantai beralaskan karpet.


"Ini Daddy, ini Mommy, ini Sora dan ini adik Sora." Sebutnya sambil menunjuk satu persatu hasil gambarnya.


Zain dan Anye sama - sama terkesiap mendengar dua kata terakhir bocah itu, 'adik Sora?' Kini kepala keduanya mulai berdenyut, pasti akan ada permintaan Sora yang melampaui batas kesanggupan mereka untuk bisa memenuhinya.


"A, a-dik Sora?" Tanya Anye dengan terbata.


Bocah itu mengangguk. "Iya, adik Sora. Kata grandma sama uncel Dewa, Mommy dan Daddy akan kasih Sora adik bayi." Ucapnya dengan wajah polosnya.


Gimana caranya Sora? Daddy dan Mommy belum pernah buat adonan adik bayi kamu.


"Mama...!" Geram Zain tertahan. Sudah pasti otak anaknya ini sudah diracuni oleh sang Mama dan kakaknya.


Anye hanya bisa memijit pangkal hidungnya. Kenapa momennya pas begini? Kemarin mama mertuanya yang membahas soal bayi, dan sekarang? Anak sambungnya mengatakan akan mendapatkan adik bayi darinya dan Zain. Kompak bener cucu dan nenek ini.


"Jadi, kapan Sora punya adik?" Tanya Sora sambil menatap orang tuanya bergantian.


Zain dan Anye saling melirik. Tak tahu harus memberi jawaban apa.


Zain menghembuskan nafasnya. Baru kali ini ia merasa tak berdaya dalam hal mengabulkan keinginan putrinya.


"Sayang!" Ucap Zain dengan lembut. "Mommy dan Daddy belum bisa kasih Sora adik bayi."


"Kenapa?" Sahut Sora cepat.

__ADS_1


"Mommy masih terlalu muda untuk melahirkan adik bayi. Tubuhnya belum terlalu kuat." Zain menjelaskan dengan perlahan.


Anye salut dengan suaminya ini, daddyabel banget. Zain bisa dengan tenang menjelaskan segala sesuatu pada putrinya.


"Kenapa gak kuat?" Tanya Sora ingin tahu.


"Eemmm...." Zain bingung memilih kata yang tepat agar sang anak mengerti hal yang ia jelaskan. "Melahirkan diusia muda itu beresiko tinggi, Sora. Seperti Mommy Nara yang melahirkan diusia muda. Sora gak mau 'kan kalau ada apa - apa sama Mommy Anye?"


Sora tampak berfikir keras mencerna ucapan sang daddy. "Jadi kalau mommy Anye melahirkan adik bayi, mommy akan meninggal kayak mommy Nara, Dad?"


Anye melotot mendengar tanggapan anak sambungnya. Lalu ia menatap tajam pada sang suami yang menampakkan wajah datarnya. Entah apa yang sedang Zain fikirkan.


"Kamu doain aku meninggal, Mas?" Ucap Anye dengan wajah garangnya, namun sayang itu terlihat menggemaskan dimata Zain. "Senang benar jadi duda." Gerutunya lagi.


Zain menghembuskan nafas dengan kasar. Istri dan anaknya ini sungguh membuatnya pusing.


"Gue gak doain lo meninggal, Nye. Sempat lo meninggal juga, apa tanggapan orang - orang? Bisa - bisa gue dituduh melakukan pesugihan."


"Kog larinya ke pesugihan sih?" Sewot Anye.


"Bukannya dua istriku terdahulu juga meninggal? Kalau ditambah lo yang meninggal, pasti ada orang akan berfikiran para istriku adalah tumbal buat gue dapetin kekayaan." Ucap Zain dengan entengnya.


Anye melotot mendengar perkataan pria paling tampan dirumah ini. Anye 'kan jadi berfikiran yang macam - macam.


"Anye bukan tumbal selanjutnya 'kan, Mas?" Tanya Anye sedikit was - was.


"Aaawwwss... Sakit." Anye mengaduh dan mengelus keningnya.


"Lo tuh kalau ngomong jangan ngawur. Tanpa melakukan hal terkutuk itu, gue udah kaya dari orok." Sewot Zain dengan pertanyaan konyol dari istrinya.


Anye mendengus. Tak hanya seperti kanebo kering dan memiliki tingkat kePDan yang tinggi, ternyata suaminya ini adalah pria yang sombong. Tapi Anye suka dengan sikap hangat Zain pada orang - orang terkasihnya.


Sora hanya bisa menyimak perdebatan kecil kedua orang tuanya. Gadis kecil itu hanya bisa geleng - geleng kepala. Pemandangan ini sudah biasa ia lihat selama enam bulan ini. Ia merasa bahagia memiliki keluarga yang lengkap.


Drrrrtt drrrrtt...


Ponsel Zain bergetar. Tertera nomor sang dilog panggilan.


"Ya, Ma." Panggilan tersambung.


"....."


"Ya udah."


Tuutt... Panggilan terputus sebelum Ayumi mengizinkan. Dasar anak kurang ajar.


"Besok grandma suruh kita semua nginap dirumahnya." Ucap Zain yang kembali fokus dengan pekerjaannya.

__ADS_1


"Yeeeyyy...." Seru Sora riang.


****


Flashback satu hari yang lalu


Ting tong.... Ting tong....


Ceklek...


"Mama!" Anye terperanjat ketika sang mama mertuanya sudah berada didepan rumahnya.


Ayumi tersenyum hangat pada menantu satu - satunya. Anye langsung memberi salim takzim pada Ayumi.


"Masuk Ma. Kog gak bilang mau kemari?" Anye membuntuti mertuanya yang sedang menuju ruang tamu.


"Mama tadi sekalian lewat aja. Terus mampir deh. Kog sunyi? Zain dan Sora kemana?" Ayumi memperhatikan kesekeliling ruangan.


"Mas Zain tadi katanya kekantor dulu sehabis antar Anye pulang. Kalau Sora, ada dirumah budhe. Lagi dapat mainan baru dia." Tutur Anye.


"Mainan baru?" Tanya Ayumi.


Anye mengangguk. "Semalam pakdhe beli empat ekor kelinci. Rencananya dua untuk pakdhe, dan dua lagi buat Sora. Karena berhubung dirumah belum ada kandangnya, jadi dititipin dulu ditempat pakdhe." Tutur Anye. Ayumi mengangguk mengerti.


"Nye!"


"Ya Ma."


"Bukannya Mama mau ikut campur urusan rumah tangga kamu. Tapi ini demi kebahagiaan keluarga kecil kalian. Dan sebisa mungkin Mama akan membantu untuk hubungan kamu dan Zain. Gimana keadaan rumah tangga kamu? Udah lama kamu gak cerita ke Mama. Apa sudah berjalan semestinya?" Tanya Ayumi.


Anye menunduk, kemudian menggeleng lemah. "Gak terlalu banyak perubahan, Ma. Kadang Anye bingung sendiri mau pakai cara apa lagi buat dapetin hati Mas Zain."


"Jadi calon adiknya Sora belum on the way?'"


Anye merasa telinganya gatal mendengar pertanyaan abstrud mertuanya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ragu - ragu sebagai jawaban.


Ayumi meraih tangan menantunya, mencoba menyalurkan kekuatan pada Anye. Ia tersenyum hangat. Ia tahu seberapa keras pendirian putra bungsunya itu. Dan tiba - tiba sebuah ide muncul di dalam kepalanya.


"Kamu tenang aja sayang. Mama akan selalu membantu kamu buat dapatin si beruang kutub itu."


Astaga... Anak sendiri dibilang beruang kutub, lalu dirinya sendiri apa?


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nah loh.... Mama Ayumi mulai beraksi.

__ADS_1


Jangan lupa beri like dan komennya ya...


__ADS_2