
Chapter 25
happy reading....
🍁🍁🍁
Ting tong... Ting tong...
ART keluarga Malik berjalan tergopoh - gopoh untuk membukakan pintu.
"Tuan, Nyonya!" Sapa ya pada sang majikan.
"Gimana rumah, Bi? Aman?" Tanya Ryan pada sang ART.
"Aman terkendali, Tuan." Jawab bibi ART.
Ryan mengangguk, kemudian masuk kedalam diikuti sang istri.
"Glandma.... Glandpa...!" Sora berseru senang saat ia melihat sang nenek dan kakeknya sudah sampai dari perjalanan jauhnya.
Ayumi langsung mengangkat cucu kesayangannya kedalam gendongannya. Mengecup kedua pipi gembul itu.
"Eeemmm! Masih bau asem." Ayumi mengendus tubuh cucunya yang sebenarnya lebih pantas dikatakan sebagai anaknya.
"Sola bau asem?" Tanya bocah itu dengan polosnya.
"He'em. Gak dimandiin daddy kamu?" Ayumi belum melihat anak bungsunya itu.
Sora menggeleng. "Daddy masih bobo."
Kini gendongan itu beralih pada Ryan.
"Masih bobo?" Ayumi menautkan alisnya. Jam segini masih tidur? Berarti bungsunya itu tidak sekolah?
"Apa daddy Sora pulang malam?" Tanya Ryan.
"Gak tau." Sora mengedikan bahunya.
Astaga...!
Punya dua anak begini amat. Si sulung gemar belajar, sampai - sampai gemar mempelajari banyak wanita. Sedangkan bungsunya? Terlalu menganggap sesuatu itu sepele. Entahlah. Ayumi tidak bisa berkata - kata lagi.
"Kalau uncel?" Ayumi masih mencari informasi tentang keberadaan anaknya melalui Sora.
"Gak ada di kamal tuh." Jawab Sora acuh.
Gak ada dikamar? Apa si sulung tidak pulang? Ingin rasanya Ayumi berteriak melihat kelakuan dua anaknya itu.
Beginilah jika ia meninggalkan rumah begitu lama.
Ditinggal dua hari saja, cucunya sudah berkeliaran sendiri dirumah. Apalagi ditinggal sebulan?
"Mau dibuatin teh sekarang atau nanti saja, Nya?" Tanya bibi ART yang datang sambil menggeret koper majikannya.
"Nanti aja, Bi." Ayumi langsung berlalu menuju kamarnya
Sebelum kekamarnya, Ayumi menyempatkan diri untuk kekamar anaknya. Dan benar saja, kamar Dewa kosong tak berpenghuni, sedangkan Zain masih tertidur lelap di ranjang empuknya.
Wajah anak bungsunya itu terlihat lebih tampan ketika ia sedang terlelap. Hati Ayumi menjadi sedih, mengingat sebentar lagi anak bungsunya itu akan kehilangan cintanya karena sang kakak.
__ADS_1
Sebagai orang tua, Ayumi tidak bisa berat sebelah dalam memperlakukan kedua putranya. Ayumi hanya bisa memasrahkan diri kepada Tuhan untuk masa depan bungsunya ini.
Setelah puas memandangi wajah lelap putranya, Ayumi menuju kamarnya untuk membersihkan diri bersama Sora.
Tepat pukul sebelas, Zain turun dari kamarnya. Ia mencari - cari keberadaan sang anak.
Terdengar gelak tawa dari ruang keluarga. Ternyata kedua orang tuanya sudah pulang dari rumah temannya.
"Katanya cuma sehari? Ini baru balik hari ini." Protes Zain.
Ketiga orang yang ada disana menoleh ke asal suara.
"Baru bangun kamu? Pulang larut lagi?" Tanya Ayumi dengan wajah juteknya, tanpa menjawab pertanyaan Zain lebih dahulu.
Zain hanya menggaruk alisnya yang tak gatal.
"Udah mama kasih tahu, jangan tinggalin Sora tanpa pengawasan kamu dan Dewa. ini malah biarin Sora tadi pagi main sendiri. Bibi ART 'kan punya tugasnya sendiri." Omel Ayumi.
"Kan ada Dewa." Zain mencari pembelaan.
"Dewa gak pulang, asal kamu tahu." sewot Ayumi.
Alis Zain terangkat. Mulai berulah lagi kah kakaknya itu?
****
"Lo lagi cari siapa, Wa?" Tanya Rosa yang melihat Zahwa sedari tadi celingak - celinguk.
Zahwa yang kepergok Rosa pun jadi gelagapan. "Eng, enggak ada cari siapa - siapa."
"Pasti lagi cari Zain, 'kan?" Alis Rosa naik turun naik turun.
"Masa?" Cibir Rosa.
Zahwa hanya melirik tajam sahabatnya itu. Namun yang dilirik hanya cengengesan sambil menyeruput es teh manisnya.
"Kan lo tau, Zain memang jarang kekantin. Jadi gak usah dicariin." Ujar Rosa.
Tak lama kemudian Ryo pun muncul dengan semangkuk soto dan teh botolnya. Dan duduk didepan kedua cewek yang lagi gibahin sahabatnya.
"Hay cewek! Numpang duduk ya?" Ucap Ryo dengan gaya tengilnya.
Rosa hanya mengangguk mempersilahkan. Sedangkan Zahwa, ia mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang.
Beberapa minggu ini, memang Ryo mulai dekat dengan dua sosok wanita didepannya ini.
Apalagi Ryo tahu kalau sahabatnya menaruh hati pada Zahwa, gadis galak yang super super mandiri.
"Zain gak masuk." Ucap Ryo yang seakan tahu apa yang sedang dicari oleh Zahwa.
"Apaan sih?" Zahwa tertunduk malu, kan ia jadi malu kepergok untuk kedua kalinya.
"Iya juga gak pa pa, Wa." Sahut Ryo dengan entengnya.
"Emang Zain kenapa sampai gak masuk?" Bukan Zahwa yang bertanya, melainkan Rosa-lah yang bertanya.
"Sibuk ngurusin Sora." Jawab Ryo sambil menyendokan soto kemulutnya.
"Sora? Siapa? Pacarnya Zain?" Tanya Rosa penasaran.
__ADS_1
"A... Keponakan." Hampir saja mulut Ryo keceplosan.
"Oh." Sahut Rosa singkat.
"Emang luka Sora belum sembuh?" Zahwa jadi teringat kalau lutut bocah imut itu terluka.
"Tinggal pemulihan. Lagi pula lukanya bukan luka serius juga." Jawab Ryo.
Zahwa mengangguk. Syukurlah Sora tak kenapa - kenapa, fikirnya.
"Lo kenal ponakan Zain?" Rosa tak menyangka, kedekatan antara Zahwa dan Zain sudah sejauh ini.
Zahwa mengangguk. "pernah beberapa kali ketemu di kafe."
"Ooohh, kirain." Sahut Rosa lesu.
Ia fikir sahabatnya ini sudah sampai ketahap berkenalan dengan keluarga Zain.
"Yo!" Rosa merapatkan tubuhnya kemeja.
Ryo yang tertunduk sambil menikmati makanannya pun mengangkat kepalanya yang menatap Rosa.
"Zain punya pacar gak?" Ucap Rosa sedikit berbisik.
"Pacar?" Ryo memastikan pertanyaan dari Rosa.
Rosa mengangguk. "Iya."
Zahwa seketika memasang kuping mencoba mencuri dengar pembicaraan kedua orang itu.
Ryo tampak berfikir. Seolah - olah ia sedang menimbang - nimbang akan berbagi informasi atau tidak.
"Gak ada." Jawab Ryo sambil menggeleng.
Seketika raut wajah kedua gadis itu jadi berbinar. Terutama wajah binar Zahwa tak dapat ia sembunyikan lagi.
"Tapi cem - ceman ada. Mungkin lagi OTW." Lanjut Ryo lagi.
Bagai terjun payung dari sebuah ketinggian, raut wajah zahwa berubah derastis. Yang tadinya bahagia, kini sudah berubah menjadi murung. Dan itu tak luput dari pandangan dua orang yang ada didekatnya.
Rosa hanya bisa menepuk punggung sahabatnya. Menyalurkan kekuatan agar Zahwa bisa menerima keadaan.
Cem - ceman? Lagi OTW? Jiwa Zahwa seolah - olah ditarik keluar secara paksa dari tubuhnya.
Jadi, arti ciuman itu apa? Terus, perkataan 'aku gak suka kamu senyum sama yang lain' itu apa?
Apakah Zahwa di PHP-in oleh seorang Zain?
Kini kedua tangan Zahwa tengah terkepal. Ternyata ia seperti sedang dipermainkan oleh bule Turki sableng itu.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih udah nunggu update Little Daddy.
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kamu ya, biar aku semangat buat up nya.
Maaf gak bisa up banyak. aku bagi waktu buat reader, tiga bocil dirumah dan bayi gede aku.
__ADS_1