
Chapter 29
Happy reading...
🍁🍁🍁
Flashback on
Seorang gadis cantik dan imut tengah berlari memasuki gerbang sekolah.
Hari ini adalah hari hari pertama ia menyandang sebagai siswa SMA.
Hoosss hoosss...
Terdengar nafas terengah - engah dari gadis cantik itu. Ini adalah hari pertamanya bersekolah di SMA Bakti Bangsa. Dan saat ini tengah diadakan acara MOS disekolah ini.
Bruuugh
Sangking terburu - burunya gadis itu, tanpa sengaja ia telah menabrak seseorang.
"Maaf, maaf Kak." Gadis itu menunduk, tak berani melihat orang yang sudah ditabraknya.
"Hem. Lo murid baru?" Tanya Dewa, pemuda yang ditabrak gadis itu.
"Iya kak." Jawab gadis itu singkat.
Dewa masih memandangi gadis dihadapannya ini. "Cantik juga." Gumamnya dalam hati.
"Yu na ra." Dewa mengeja nama gadis itu.
Sontak yang disebut namanya pun mengangkat pandangannya.
Dapat Dewa lihat sepasang mata bulat dengan retina hitam legam dan disertai bulu mata indah nan lentik. Kening yang dibanjiri oleh keringat, menambahkan kesan seksi dari gadis mungil ini.
Cukup lama keduanya saling tatap. Hingga salah satu dari mereka mengalihkan tatapan kearah lain. Yunara, atau yang sering dipanggil Nara tak sanggup bila harus terus menatap wajah tampan satu ini. Hatinya tiba - tiba berdesir, merasakan seakan - akan banyak kupu - kupu yang sedang berterbangan diperutnya.
Dewa melirik jam tangannya. "Silahkan kelapangan langsung. Acara lima menit lagi dimulai." Perintah Dewa.
Yunara mengangguk patuh. Ia langsung menuju kelapangan untuk bergabung dengan temannya yang lain.
Waktu terus berlalu. Yunara belajar dengan giat, hingga ia bisa meraih juara umum di sekolahnya. Dan tak terasa sebentar lagi Yunara akan duduk di bangku kelas tiga SMA.
Dan selama itu pula seorang Yunara selalu memandangi Dewa Al Malik dari kejauhan. Memendam sebuah rasa kagum dan cinta.
Nara tak memiliki cukup keberanian untuk mengungkap isi hatinya pada seorang Dewa.
Nara tak memiliki kepercayaan diri yang kuat untuk mendekat kepada Dewa. Dewa yang selalu dikelilingi banyak gadis, Dewa yang selalu menjadi idola di sekolahnya.
__ADS_1
Hingga disaat - saat terakhir Dewa bersekolah, barulah Nara memberanikan diri mengungkap perasaannya pada Dewa.
"Kak Dewa!" Dengan nekatnya Nara mendatangi Dewa kekelasnya.
Dewa yang sedang bercanda dengan teman - temanya pun menoleh. Melihat kearah Nara yang kelihatanya sedang dilanda rasa gugup.
"Ya Nara, ada apa?" Sahut Dewa.
"Emmm, Nara suka sama kak Dewa. Nara mau kak Dewa jadi pacar aku." Ucap Nara dengan berani.
Awalnya Nara sedikit ragu, tapi akhirnya ia bisa mengungkapkan perasaan itu pada Dewa. Bahkan didepan teman sekelas Dewa. Diterima atau tidaknya, itu urusan nanti, fikirnya. Yang penting ia sudah mengungkapkan isi hatinya.
"Ok. Kita pacaran." Jawab Dewa lugas, tanpa rasa ragu.
Mendengar jawaban dari Dewa yang menerimanya, Nara tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya.
"Nanti pulang sekolah barengan ya?" Pinta Nara.
Dewa mengangguk dengan seulas senyumnya. Dan dengan hati riang, Nara meninggalkan kelas Dewa.
Kini Dewa dan Nara tengah duduk di bangku taman kota.
Tengah hari sore ini, suasana taman cukup ramai dengan cuaca yang sedikit mendung.
"Nara!" Panggil Dewa.
Dewa menghembuskan nafas pelan. Tak tahu harus membahasnya darimana.
"Maaf." Kata kedua yang terucap dari bibir Dewa.
Nara mengerenyit. "Untuk?"
"Mungkin ini akan sedikit menyakitmu. Gue gak maksud buat kasih harapan palsu sama lo. Tapi lo harus tahu ini. Sebenarnya gue gak punya perasaan spesial sama lo. Dan gue gak mau, lo berharap lebih dari gue." Ucap Dewa.
Tampak raut wajah kecewa dari sosok cantik disampingnya ini.
"Terus kenapa kakak terima aku tadi?" Tanya Nara dengan rasa kecewanya.
"Gue gak mau aja, lo malu didepan teman sekelas gue, karena penolakan dari gue." Jawab Dewa.
Nara mengangguk. Paham apa yang dikatakan Dewa.
"Bisakah Nara dapat kesempatan untuk dapetin hati kak Dewa?" Pinta Nara penuh harap.
Dewa masih memandangi gadis ini. Ada rasa tak tega untuk menolak permintaan gadis baik hati ini.
Dewa memberikan seulas senyumnya, dan kemudian mengangguk. Dewa akan memberi kesempatan pada Nara untuk memiliki hatinya.
__ADS_1
Dan dari saat itu lah, Nara mulai berusaha membuat Dewa agar dapat mencintainya. Namun itu menjadi sedikit sulit, karena Dewa sudah lulus dari sekolah dan melanjutkan pendidikannya di kampus yang masih satu wilayah dengan sekolahnya.
Nara terus berjuang untuk meluluhkan hati Dewa, walaupun saat ini ia memiliki saingan yang cukup berat.
Banyak mahasiswa di kampus Dewa yang tertarik pada pemuda tampan itu. Bahkan beberapa kali Nara memergoki Dewa tengah berkencan dengan seorang wanita disebuah kafe. Tapi itu tak menyurutkan tekad Nara untuk merebut hati dewa.
Bahkan Nara mencoba mendekati keluarga Dewa. Dan betapa beruntungnya Nara, keluarga Dewa menyambut kehadiran Nara dikeluarga itu dengan tangan terbuka.
Namun segala usaha Nara seakan sia - sia. Dewa masih juga belum bisa mencintainya sampai saat ini.
Hingga akhirnya Nara memutuskan akan mengakhiri hubungan ini saat setelah acara pesta topeng yang akan diadakan oleh Dion, teman dekat Dewa.
Kini Dewa dan Nara sudah berada dalam pesta itu. Duduk berdua menikmati alunan musik yang tersaji. Hingga sosok pemuda hadir diantara keduanya. Pemuda yang berperawakan tak jauh berbeda dari Dewa.
"Zain!" Panggil keduanya serempak.
"Gue gak bisa lama - lama, Bang." Ucap Zain, adik dari Dewa.
"Jam seuluhan aja baliknya." Ucap Dewa pada sang adik.
Setelah Dewa berpamitan dengan Nara dengan alasan pekerjaan mendadak yang diberikan sang papa, Dewa memberikan topeng yang dipakainya kepada Zain untuk dipakainya. Zain yang tak tahu menahu rencana Dewa pun hanya patuh.
Tak lama setelah kepergian Dewa, seorang pelayan menghampiri Zain dan Nara, memberi minuman. Tanpa menaruh rasa curiga, keduanya menerima dan langsung menenggaknya.
Lima menit diawal, keadaan masih aman. Zain dan Nara masih bisa berbincang dan bercanda. Namun setengah jam kemudian reaksi dari obat yang dicampur keminuman mereka mulai bereaksi.
"Kog gak nyaman banget ya, Zain?" Ucap Nara sedikit gelisah.
Hal yang Zain rasakan saat ini pun sama. Ia merasa mulai tak nyaman dan gelisah. Seperti ada yang meledak - ledak dalam dirinya.
Cukup lama keduanya merasakan ketidak nyamanan itu. Hingga tanpa keduanya sadari ada beberapa orang yang sedang membopong mereka kesebuah ruangan dan menguncinya disana.
"Bagaimana?" Tanya Dion pada pelayan yang ditugaskannya untuk membawa Nara dan Dewa kekamar yang sudah ia siapkan untuk keduanya.
"Beres bos. Keduanya sudah ada didalam." Lapor sang pelayan.
Dion merogoh kantongnya, meraih amplop berisi uang bayaran para pelayan yang sudah menyelesaikan tugas yang ia berikan.
Para pelayan pergi meninggalkan tempat itu. Sedang Dion dan Yogi masih menatap pintu dimana ada sepasang sejoli sedang dibakar oleh has rat yang harus segera dituntaskan.
"Gue yakin, kali ini Dewa gak bisa berkutik lagi. Dan Nara? Dia bakal dapatin Dewa secara utuh." Ucap Dion dengan penuh rasa percaya diri bahwa rencananya akan berhasil.
Tanpa keduanya sadari, mereka telah melakukan kesalahan fatal yang dapat merusak masa depan seorang lelaki beranjak remaja, dan seorang gadis beranjak dewasa.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1