
Chapter 27
Happy reading...
🍁🍁🍁
Kini Zain sudah tiba disekolah. Ia berjalan dengan gaya cool-nya, serta tangan kanan yang dimasukan kesaku celana abu - abunya, sedangkan tangan kirinya memegang tali tas yang tersampir dipundaknya.
Pagi ini cuaca cukup cerah. Matahari mulai menghangat dengan langit yang dilapisi awan tipis.
Bug bug bug bug....
Seseorang yang ada dibelakang Zain sedang berlari mengejar waktu piket. Ia sedikit terlambat dikarenakan bangun kesiangan.
Bruuugh...
Sangking terburu - burunya orang itu tanpa sengaja menabrak Zain yang ada didepannya.
"Maaf, maaf Zain. Aku lagi buru - buru." Ucap Zahwa dengan langkah yang tergesa - gesa.
Zain hanya bisa melihat kepergian Zahwa yang seperti dikejar - kejar hantu.
Padahalkan Zain ingin sedikit berbincang dan menatap wajah cantik itu. Tapi... Ya sudahlah.
Zain terus menyusuri koridor dengan mengabaikan sapaan - sapaan dari para siswi yang ia lewati.
Hingga saat ia sudah meletakkan tas keatas mejanya, tiba - tiba seseorang menyapanya.
"Zain!" Terdengar suara seorang wanita yang masuk kegendang telinganya.
Zain menoleh tanpa menyahut. Dan tampaklah kini Riska tengah ada dihadapannya.
Dengan tatapan datarnya, Zain hanya melihat Riska. Menunggu apa yang akan dikatakan gadis ini.
"Eeeemmm, bisa bicara berdua sebentar?" Pinta Riska.
"Tinggal ngomong 'kan?" Sahut Zain yang masih mempertahankan wajah datarnya.
"Gak disini. Bisa kita bicara dibelakang sekolah?" Pinta Riska lagi. Kini dengan wajah yang memelas.
"Bentar lagi bel. Bakal baris kelapangan." Sebenarnya Zain enggan berurusan dengan teman sekelasnya ini. Apalagi setelah tahu kelakuan buruk Riska diluaran sana.
"Sebentar aja. Gak lama." Riska memaksa.
Menarik nafas kesal. Namun Zain tetap melangkah menuju kebelakang sekolah.
Dan kini keduanya sudah berada dibelakang sekolah. Tepat dibawah pohon beringin besar yang lumayan rimbun.
"Lima menit." Zain memberikan waktu kepada Riska untuk bicara.
__ADS_1
Sebenarnya Riska sedikit ragu membicarakan tentang tadi malam. Tapi demi tetap bisa mendekati Zain, ia harus membicarakan hal itu dengan pria yang disukainya ini.
"Zain!" Riska tertunduk. "Soal tadi malam..." Riska terhenti sesaat. "Aku mohon jangan sampai ada teman - teman sekolah yang lain tau, ya?"
Alis Zain bertaut. Buat apa dia peduli dengan urusan orang? "Lo kaya gitu bukan urusan gue 'kan?" Sahut Zain enteng.
Riska mengangguk. Ia cukup tau seperti apa seorang Zain Malik. Lelaki cuek, dingin dan sulit tersentuh oleh wanita.
"Makasih." Hanya itu yang dapat Riska katakan.
Zain merasa pembicaraan ini telah selesai. Ia memutar tubuhnya, ingin meninggalkan tempat itu.
Namun saat hendak melangkah, Zain merasakan sebuah pelukan berasal dari balik punggungnya.
Zain melihat sepasang tangan Riska kini sedang melingkar diperutnya. Ia mencoba melepaskan pelukan itu, namun tautan itu lumayan kuat.
"Jangan dilepas. Biarin aku peluk kamu." Pinta Riska. Akhirnya ia bisa memeluk tubuh kekar ini.
Tanpa memperdulikan permintaan dari gadis itu, Zain menyentak keras tangan itu, hingga Riska sedikit terhunyung kedepan saat Zain mengambil jarak darinya..
"Lancang banget, lo!" Murka Zain.
Riska yang tak berani melihat wajah marah Zain hanya bisa tertunduk. Kemudian dengan keberaniannya yang tersisa sedikit, ia berucap.
"Aku cinta kamu, Zain. Aku suka kamu sejak hari pertama kamu sekolah disini."
"Ceehhh." Zain menggeleng dan tersenyum sinis. "Sayangnya gue enggak." Zain memasukan kedua tangannya kesaku celana, bersiap hendak pergi.
"Apa kurangnya aku, Zain? Aku juga cantik sama seperti Zahwa. Bahkan aku lebih baik dari Zahwa. Aku juga bisa kamu ajak buat senang - senang. Aku bisa kasih apa aja yang kamu mau. Kenapa kamu bisa lebih dekat dengan Zahwa yang baru kamu kenal, sedangkan aku? Kamu gak pernah lirik aku. Kenapa kamu nolongin aku supaya gak di DO dari sekolah? Bukannya itu pertanda bahwa kamu peduli sama aku 'kan?" Riska menarik nafasnya yang memburu.
"Lo, sama Zahwa jauh beda." Zain menatap intens wajah Riska. "Zahwa beda kelas sama lo. Segala yang Zahwa punya, itu lebih baik dari apa yang lo punya." Pandangan Zain masih jatuh pada Riska.
Tampak tangan Riska yang sedang terkepal. Ia benci Zahwa, ia akan balas penghinaan ini.
Tiba - tiba...
Cup
Dengan gerakan cepat, Riska menautkan bibirnya pada bibir Zain.
Zain yang mendapatkan serangan mendadak dari Riska hanya bisa tetpaku dan melotot.
Merasa tak mendapatkan perlawanan dari Zain, Riska mulai melanjutkan aksinya menjadi lebih berani lagi.
Riska mulai melu mat benda kenyal milik Zain dengan lihainya. Mencoba menggoda dengan lidahnya.
Seketika Zain tersadar saat mendengar ada suara dari sebuah benda yang terjatuh.
Bruuugh
__ADS_1
Keduanya menoleh ke sumber suara.
Tampak sebuah keranjang sampah yang menggelinding kearah keduanya. Dan tak jauh dari sana, kini tengah berdiri sosok gadis yang tadi tengah mereka bahas.
Dengan spontan, Zain mendorong tubuh Riska yang sengaja menempel ditubuhnya hingga terjatuh dengan kasarnya kelantai.
"Zahwa?" Lirih Zain.
Zain melangkah untuk mendekati Zahwa. Namun sebelum sempat ia mendekati gadis itu, Zahwa sudah berlalu terlebih dahulu meninggalkan tempat itu.
"Zahwa...!" Panggil Zain. "Wa, aku bisa jelasin." Zain berlari mencoba mengejar Zahwa.
Zahwa tak menggubris panggilan Zain. Ia terus berlari dengan hati yang mendadak jadi sesak.
Sakit rasanya melihat pria yang kita suka sedang berci uman dengan begitu panasnya dengan wanita lain.
Sementara, Riska yang sudah jatuh terduduk dilantai, kini tengah menampilkan senyum kemenangannya. Ia sudah berhasil membuat hubungan antara Zain dan Zahwa rusak.
"First step, done. Next, gue akan buat Zain jatuh ke pelukan gue." Riska bangkit dari duduknya. Mengusap air matanya yang tadi sempat keluar karena penolakan dari Zain.
Sebenarnya Riska tak berniat untuk mencium Zain. Ia tak ingin membuat lelaki itu tambah ilfeel dengan kelakuannya. Namun saat ia melihat Zahwa sedang berjalan kearah mereka, maka ia dengan nekatnya melakukan hal seberani itu.
Lagipula saat ke cupan pertama ia berikan, Zain tak menolaknya bukan? Maka dari itu, Riska mencoba peruntungannya kembali dengan benar - benar mencicipi bi bir seksi milik pemuda tampan itu.
****
Praaangggg...
Sebuah gelas dibanting begitu kuatnya oleh seorang pria berusia kisaran empat puluh lima tahun.
"Breng sek!" Pria itu tampak begitu murka.
"Apa yang harus saya lakukan, Tuan?" Tanya seorang bawahan setianya.
"Kau masih bertanya lagi?" Berang pria itu. "Cari gadis ingusan itu. Bawa dia kehadapan ku secepatnya. Bisa - bisanya dia masih hidup sampai saat ini." Pria itu mengenalkan tangannya.
"Baik, Tuan. Saya akan mencari gadis itu." Sang bawahan pergi meninggalkan ruangan sang tuan.
"Kalau sampai gadis itu menjadi menantu dikeluarkan Malik, maka usahaku selama ini untuk menguasai kekayaan keluarga Miran akan sia - sia saja." Pria itu bermonolok sambil menatap keluar jendela gedung tinggi tempatnya berpijak saat ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa tinggalkan jejak kamu ya.
beri like dan komentar kamu.
masukan ke list favorit mu juga ya.
__ADS_1
bila berkenan beri juga bunga atau kopi kamu biar aku tambah semangat buat update.