
Chapter 30
Happy reading....
🍁🍁🍁
*Masih flashback on ya bestie*
Setelah kejadian malam naas itu, Nara tak pernah lagi muncul di kediaman keluarga Malik.
Tak hanya itu, Nara juga tak pernah menghubungi sang kekasih, Dewa. Nara seakan menghilang bak ditelan bumi.
Sedangkan Zain, ia mulai menampakan perubahan akan sikapnya. Yang tadinya seorang pemuda ceria dan aktif, kini Zain sering tampak selalu murung.
Ada rasa bersalah dalam hatinya telah merusak masa depan seorang gadis. Apalagi itu adalah kekasih kakaknya sendiri.
"Kenapa Nara gak pernah main kerumah lagi, Wa?" Tanya Ayumi saat sarapan beberapa hari lalu. "Kamu udah putus sama Nara?"
Namun dengan entengnya Dewa menjawab. "Gak tahu dia kemana. Biarin aja lah."
Dewa tak ingin ambil pusing tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nara. Dewa malah bersyukur gadis itu tak mengganggunya lagi.
Tapi tidak untuk Zain. Pemuda itu berfikir, mungkin Nara tak pernah berkunjung lagi itu disebabkan oleh malam laknat yang telah mereka lalui berdua saat itu.
Dua bulan pun sudah berlalu, masih belum ada kabar dari seorang Nara.
Ingin sekali rasanya Zain mencari tahu tentang gadis itu, namun ia tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.
Hingga suatu siang, kediaman keluarga Malik kedatangan tiga orang tamu. Dua diantaranya dengan wajah penuh amarah, dan yang satunya dengan wajah sembab karena terlalu banyak menangis.
Brakkk brakkk brakk
Terdengar gedoran pintu yang cukup keras.
Brakkk brakkk brakkk
Gedoran pintu kini terdengar lagi.
Dengan langkah yang tergopoh - gopoh, seorang ART membukakan pintu tamu yang tak memiliki sopan santun itu.
Ceklekk
Pintu terbuka.
"Mana si Zain? Suruh dia keluar!" Seorang pria bicara dengan nada marah.
Sang ART yang melihat pria itu mengamuk seketika gugup. Namun belum sempat ia menjawab, sang majikan sudah menyusulnya terlebih dahulu.
"Ada apa ini ribut - ribut?" Muncullah Ryan dari dalam diikuti Ayumi, sang istri.
"Mana anak kamu, si Zain itu?" Pria itu masih terlihat berang.
"Ada masalah apa anda mencari anak saya, sampai marah - marah begitu?" Tanya Ryan.
Ia melihat tiga orang tamu yang datang kerumahnya dengan ketidak ramahannya. Tapi Ryan mengenal salah satu diantaranya. Nara, seorang gadis yang sudah lama tidak berkunjung kerumahnya.
"Nara?" Gumamnya saat melihat wajah kusut gadis cantik itu.
__ADS_1
"Anak anda harus bertanggung jawab atas perbuatannya pada anak saya." Ucap papa Nara yang sedikit menurunkan intonasi suaranya.
"Bertanggung jawab?" Ryan mengerutkan keningnya. Sedangkan Ayumi masih menyimak.
"Ya. Nara hamil karena anak anda?" Ucap papa Nara dengan suara yang terdengar lirih.
"Apa!" Ryan dan Ayumi terkejut. Mereka masih tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Mari kita bicarakan didalam saja." Ryan mempersilahkan tamunya masuk.
Kini mereka tengah berada diruang tamu untuk membahas hal yang benar - benar sensitif ini.
"Ma! Panggil Dewa." Perintah Ryan pada sang istri.
"Kenapa Dewa yang dipanggil?" Papa Nara bingung, kenapa malah dewa yang dipanggil? Kenapa bukan Zain?
"Terus? Bukannya Nara pacar Dewa?" Ryan pun jadi ikut bingung.
"Tapi Nara bilang, yang menghamilinya itu Zain." Papa Nara melihat pasangan suami istri itu secara bergantian.
"Apa!"
"Zain!"
Seru Ryan dan Ayumi bersamaan.
Bagaimana bisa anak bungsu mereka bisa melakukan hal sehina ini?
"Ap, apa benar itu, Nara?" Ayumi bertanya kepada Nara untuk memastikannya langsung pada gadis cantik ini.
Nara yang masih menangis dalam pelukan sang mama hanya bisa mengangguk. Ia tak hanggup untuk berkata, walaupun hanya berucap kata 'ya'.
Sedangkan Ryan yang mendengar fakta itu hanya bisa termangu. Ia terdiam beberapa saat. Mencerna semua hal yang telah didengarnya.
"Ini teh nya, Tuan." Kedatangan bibi ART menyadarkan Ryan dan Ayumi dari rasa keterkejutan mereka.
"Panggil Zain, Ma." Ryan memerintah Ayumi untuk yang kedua kalinya.
Kali ini Ayumi benar - benar beranjak dari duduknya. Dengan langkah gontai ia menuju ruang keluarga, dimana disana ada kedua putranya dan dua sahabat anak sulungnya, Yogi dan Dion.
"Zain!" Panggil Ayumi.
Tak hanya Zain yang menoleh, tapi ketiga pemuda lainnya juga ikut menoleh.
"Ya, Ma." Sahut Zain remaja.
"Ikut Mama." Ajak Ayumi dengan raut wajah yang serius.
Zain melirik ke arah tiga pemuda didekatnya, dan ia hanya mendapatkan respon mengangkat pundak dari ketiganya.
Tak menunggu waktu lebih lama lagi, Zain langsung mengikuti sang mama yang sedang menuju ruang keluarga.
Disana dapat Zain lihat ada tiga orang tamu. Dan salah satu diantaranya adalah, Nara.
Dengan langkah yang mulai berat, Zain terus mengayunkan kakinya kearah sofa dan duduk didekat sang mama.
Dapat Zain lihat pancaran api amarah dari lelaki dewasa didepannya saat ini yang ia yakini adalah papa dari Nara. Sedangkan gadis itu, kini tengah tertunduk dalam isak tangisnya.
__ADS_1
"Zain!" Suara Ryan terdengar datar dan dingin. Kalau sudah begini, pasti ada hal serius yang tengah terjadi.
Zain menoleh kearah sang papa.
"Nara hamil." Ucap sang papa.
Jedeeerrrr
Kini bagai ada petir yang tengah menyambar telinga Zain. Ia langsung menoleh pada gadis yang tengah menangis semakin kencang itu.
"Apa benar kamu yang melakukannya?" Tanya Ryan yang masih mencoba untuk bersabar.
Zain hanya menunduk. Tak tahu harus menjawab apa. Masa depannya sudah mulai hancur sekarang.
Melihat anaknya hanya tertunduk, Ryan mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya ia meluapkan amarah itu pada anaknya ini dengan menghajarnya habis - habisan. Tapi itu tak akan menyelesaikan masalah bukan?
"Jawab, Zain!" Bentak Ryan pada anaknya dengan suara lantang.
Dan itu berhasil membuat semua orang menjadi terkejut, termaksud pemuda yang sedang bermain PlayStation diruang keluarga.
"Kenapa tuh?" Tanya Doni pada Dewa.
Dewa hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian ia beranjak untuk melihat situasi diruang keluarga, dan diikuti kedua temannya.
Sampai diruang keluarga, Dewa melihat keadaan yang lumayan tegang sedang terjadi. Dan... Nara? Kening Dewa berkerut. Dewa mendekat, mencoba mencari tahu masalah yang tengah terjadi.
"Maaf, Pa." Terdengar permintaan maaf dari Zain.
"Ya Allah, Zain! Kamu masih kecil. Kenapa bisa menghamili anak gadis orang." Ayumi memijit keningnya.
Sedangkan ketiga pemuda yang baru saja datang hanya bisa memelototkan matanya mendengar berita itu.
Zain berusaha menjelaskan apa yang terjadi antara dirinya dan Nara. Mulai ia yang diminta untuk menggantikan dewa menemani Nara dipesta topeng yang diadakan Dion, kemudian keadaan mereka sebelum hal besar itu terjadi, hingga hal naas itu pun akhirnya terjadi. Semua Zain caritakan dengan sedetailnya.
Sedangkan Dewa tak menyangka bahwa kedua sahabatnya itu benar - benar merealisasikan rencana mereka.
Dan kedua tersangka lainnya hanya bisa merasa bersalah atas kejadian salah sasaran ini, dimana seorang remaja pria yang menjadi korbannya. Niat hati ingin menjebak Dewa, tapi yang terjebak malah adik temannya, Zain.
Hingga pembicaraan berakhir pada keputusan, Zain harus menikahi Nara. Dan keesokan harinya pun Zain dan Nara sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Beberapa bulan Nara lalui dengan masa kehamilan yang tak terbilang mudah, mengingat bahwa wanita seusianya memang sangat rawan dalam masa kehamilan.
Begitupun dengan Zain, dunianya seakan jungkir balik. Karena dengan usia yang begitu belia ia sudah memiliki tanggung jawab yang begitu besar. Semua hanya diakibatkan keegoisan beberapa orang yang tak bertanggung jawab.
Kini tiba saatnya masa persalinan. Terjadi ketegangan diruang persalinan, dimana keadaan Nara yang mengalami pendarahan hebat. Namun Nara harus tetap kuat, demi bayinya bukan?
Kehamilan diusia muda memiliki resiko cukup tinggi yang bisa dialami oleh ibu dan bayi. Bahkan bisa berujung pada kematian.
Hingga akhirnya tim medis hanya bisa menyelamatkan salah satu antara ibu dan bayinya. Dan yang dapat terselamatkan saat itu hanyalah bayinya, yang mereka beri nama 'Sora Yunara Malik'.
*Fl*ashback off
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like dan komen kamu ya
__ADS_1
Thanks udah baca karya aku