
Chapter 18
happy reading....
🍁🍁🍁
"Selamat datang di SoZi kafe. Masnya mau pesan apa?" Sapa Zahwa pada seorang pelanggan.
Pelanggan itu menoleh kearah karyawan kafe yang sedang menyapanya.
Matanya berkedip - kedip, ia tak percaya bahwa gadis yang ia lihat malam itu sedang berciuman dengan sang adik ditaman, kini berada tepat didepannya.
Seorang gadis yang terlihat lebih cantik bila dilihat dari dekat seperti ini, ketimbang saat malam itu yang tampak dari kejauhan olehnya.
Dewa speechless, ternyata adiknya menjalin cinta lokasi. Dan lebih hebatnya lagi gadis itu adalah karyawannya sendiri.
Zain... Zain...
"Pinter juga si Zain cari calon mommy buat Sora." Gumamnya dalam hati.
"Maaf Mas! Masnya mau pesan apa?" Tanya Zahwa dengan keramahannya.
"Ah. Iya, saya pesan cappucino latte dengan bubuk cinta, ya." Jawab Dewa ngawur.
Zahwa memandang heran pemuda yang lebih tua darinya ini.
Melihat respon Zahwa, Dewa hanya menampilkan senyum tengilnya.
"Hanya itu?" Zahwa memastikan pesanan pelanggan kafe dengan mengacuhkan kengawuran pesanan pelanggan itu.
"Air mineral jangan lupa. Terus nasi goreng spesial deh, satu. Dengan bumbu cinta juga ya?" Pesan Dewa yang memasang kembali senyum tengilnya.
"Baik. Silahkan tunggu sebentar. Pesanan akan segera diantar."
Tak mau ambil pusing dengan pelanggan sablengnya ini. Zahwa berlalu menuju dapur untuk meminta chef membuatkan pesanannya.
Dewa mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe.
"Lumayan juga." Gumamnya memuji kafe yang dikelola adiknya ini.
Sreeeekkk...
Bunyi kursi ditarik. Akhirnya yang sudah ditunggu - tunggu datang juga.
"Cepet ngomong. Ada perlu apa Lo ke kafe gue? Abis itu langsung pergi dari sini." Tanya Zain dengan wajah tak ramahnya pada sang kakak.
"Ya ampun. Belum juga pesanan gue dateng, udah main sat set sat set aja, Lo." Gerutu Dewa.
"Makan disini, Lo tetep bayar. Bisnis adalah bisnis. Gak pake nepotisme." Zain bersedekap dada duduk di kursinya.
Wah... Ternyata Zain perhitungan cuy.
"Ya elah. Pelit amat jadi adek. Lo pikir gue gak punya duit apa?" Sewot dewa.
__ADS_1
"Fasilitas Lo kan udah diambil bokap? Gak yakin gue, Lo punya duit." Sahut Zain dengan entengnya.
"Ck..." Dewa hanya berdecak, mengingat semua fasilitas mewahnya ditarik kembali darinya.
"Udah, buruan Lo mau ngomong apa?" Desak Zain sudah tak sabar.
"Huuhh dasar adek laknat." Sarkas Dewa. "Gue mau investasi di bengkel sama kafe Lo." Akhirnya Dewa mengatakan tujuannya datang ke kafe.
"Emang Lo punya duit?" Zain mencibir sang kakak.
"Ah, emang bang ke, Lo. Sepele bener sama gue." Dewa melempar gulungan tisu kearah Zain.
Dengan sigap Zain langsung menangkap tisu itu.
"Jangan buang - buang tisu bersih, Lo. Bisa rugi gue." Ucap Zain masih dengan wajah datarnya.
Seketika wajah Dewa menjadi cengkok. Sungguh mengerikan jiwa bisnis adiknya ini.
Dewa menarik nafasnya kasar. Ia harus ekstra sabar menghadapi adiknya yang kurang waras ini karena tiga tahun lebih tak mendapatkan vitamin kehidupan buat si pedang panjangnya.
"Gue serius, dan gue punya uang buat investasi di sini asal Lo tau. Ya... Walaupun gak gede - gede amat. Yang penting uang yang gue punya bisa berguna dan menghasilkan." Tutur Dewa.
"Lo yakin? Kafe dan bengkel gue baru berkembang. Belum sesukses kafe milik temen - temen hedon Lo." Tanya Zain.
"Lebih baik inves di tempat usaha adik sendiri kan? Daripada tempat teman yang belum tentu betul - betul bisa dipercaya?" Tutur Dewa.
"Lo percaya sama gue?" Tanya Zain lagi.
Dan itu berhasil membuat Dewa geram dan mengepalkan tangannya diatas meja.
Astaga... Adiknya ini sungguh - sungguh tiada duanya.
Zain yang melihat kakaknya emosi jadi tertawa kecil. Ia sungguh senang membuat kakak satu - satunya ini naik darah.
"Ok." Hanya satu kata.
Astaga... Dari tadi Dewa mengeluarkan kalimat panjang kali lebar, hanya di jawab 'ok'?
Dewa memandang tak percaya pada adiknya ini. Hingga pesanan dewa datang.
"Silahkan dinikmati pesanannya, Mas." Zahwa meletakan pesanan Dewa.
Dewa memandang Zahwa dengan penuh arti. Dan itu tak luput dari pengelihatan mata tajam Zain Malik.
Setelah meletakan pesanan pelanggan, Zahwa berlalu untuk menghampiri pelanggan yang baru saja datang.
Dewa terus memperhatikan kemana arah Zahwa berjalan.
Dan kali ini Dewa yang mendapatkan lemparan gulungan tisu.
Buukkk
"Aduh" Dewa mengaduh. Gulungan tisu itu tepat mengenai keningnya. Ia memelototkan matanya. Namun yang dipelototi tidak ada takut - takutnya sama sekali, melainkan seakan menantang Dewa.
__ADS_1
"Jangan buang - buang tisu bersih. Nanti Lo bisa rugi. Gue belum sempat investasi disini, Lo udah bangkrut duluan." Dewa membalikan kata - kata Zain.
"Jangan macem - macem, Lo." Zain memberi peringatan.
"Tenang brother, gue gak kan ganggu calon mommy nya Sora." Dewa menyeruput cappucino latte nya.
Zain hanya memberi tatapan datar untuk orang didepannya ini.
****
Zahwa melangkahkan kakinya dikoridor dengan hati yang begitu riang gembira. Seakan - akan kicauan dan keributan teman sekolahnya sebagai backsound yang sangat merdu untuknya.
Bagaimana tak bahagia? Kalau tadi malam ia sudah menerima gaji pertamanya yang lumayan dari kafe tempat ia bekerja.
Drreeettt.... Drreeettt...
Ponsel di saku Zahwa bergetar. Tertera nama sang ayah dilayrnya. Zahwa segera menerima panggilan itu. Ia sedikit menepi, karena memang ia belum sampai di kelasnya.
"Assalamualaikum, Yah!" Sapa Zahwa.
"Wa allikumussalam, Nak. Gimana kabar kamu dan sekolah mu?" Tanya ayahnya dari seberang sana.
"Alhamdulillah, baik Ayah. Ayah sama ibu gimana? Sehat kan?"
"Ayah sama ibu sehat." Ayah menjeda ucapannya. "Oh iya. Ayah udah kirim uang buat kebutuhan kamu disana. Ayah kirim lebih buat kamu. Pergunakan dengan sebijaknya."
"Loh, kog Ayah kirim lebih? Terus nanti Ayah sama ibu gimana dikampung?" Tanya Zahwa.
Zahwa takut kedua orang tuanya menjadi kesusahan karenanya. Sudah cukup ia membebani kedua orang tua angkatnya yang sangat menyayanginya itu.
"Jangan pikirkan kami. Uang itu sebenarnya memang milik kamu. Ayah rasa sudah cukup perjuangan kamu dua tahun ini hidup jauh dari kami. Maafkan ayah yang dengan sengaja hanya mengirimkan biaya hidup tanpa memberi biaya untuk sekolah mu." Ucap ayah dengan lirih diakhir kalimatnya.
Zahwa jadi bingung maksud dari ucapan ayahnya itu. Sengaja tak ingin membiayai sekolahnya? Kenapa?
"Kenapa begitu, Ayah?"
"Ayah hanya tidak ingin kamu keluar dari desa. Karena diluar sana sungguh bahaya buat keamananmu. Jika sudah waktunya, Ayah akan katakan yang sebenarnya padamu. Yang terpenting kamu jaga diri baik - baik. Jika ada sedikit saja keganjalan yang terjadi sama kamu dan lingkungan sekeliling kamu, kamu cepat beri tahu Ayah, ya?" Ucap ayah. Ia sungguh menghawatirkan anaknya ini.
"Memangnya ada apa, Yah?" Tanya Zahwa heran dengan pesan sang ayah.
"Nanti libur sekolah, pulanglah ke desa. Akan ayah ceritakan sama kamu semuanya." Jawab ayah. "Baiklah. Sudah dulu, Ayah mau ke kebun dulu. Kamu jaga diri baik - baik. Terus latih ilmu bela diri mu." Pesan ayah Zahwa lagi.
"Ia Ayah. Assalamualaikum." Zahwa mengakhiri percakapan mereka, setelah mendapat jawaban dari salamnya.
Zahwa memerhatikan layar ponselnya yang sudah mati.
Sebenarnya apa yang sedang dirahasiakan oleh sang ayah? Zahwa jadi was - was kalau begini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa tinggalin jejak kamu dikarya aku ya
__ADS_1
...thanks udah mampir 🙏...