
Chapter 42
Happy readding...
🍁🍁🍁
Anye menatap bangunan luas yang ada dihadapannya saat ini. Mengedarkan pandangannya kesekeliling tempat yang dapat dijangkau oleh matanya.
"Gak akan ada masalah 'kan nih Mas, kemarin aku gak ikuti ospek?" Anye menatap sepupunya yang sedang membereskan helm mereka.
"Aman." Jawab Gilang dengan entengnya. "Yuk! Mas antar cari fakultas kamu."
Dengan senang hati, Anye mengekor dibelakang Gilang. Lumayan 'kan, Anye gak perlu lelah bertanya pada setiap orang?
Saat mereka jalan berdampingan, banyak tatap mata mengarah pada mereka berdua.
Maklum saja, Gilang cukup populer di kalangan mahasiswa karena ia menjabat sebagai ketua senat dikampusnya. Tak hanya itu, Gilang juga memiliki paras yang lumayan tampan.
"Mas, Mas!" Anye berbisik dan menarik ujung lengan kemeja Gilang. "Mereka kog pada lihatin kita, ya?"
Gilang melihat sekelilingnya. Dan memang yang dikatakan adiknya, banyak yang menatap mereka sambil berbisik - bisik. "Biasa, kalau lihat orang ganteng memang mereka selalu begitu." Jawabnya dengan penuh percaya diri.
Mendengar jawaban dari kakaknya, Anye hanya mencibir. "Sok ngartis."
"Loh. Emang benar kalau mas mu ini tuh terkenal di kampus." Sahut Gilang masih penuh dengan kepercayaan dirinya.
"Masa?" Anye masih mencibir. "Mereka kira, kita pacaran kali ya?" Anye mendongak meliha Gilang yang lebih tinggi darinya.
"Hahaaha..." Gilang terbahak mendengar ucapan adiknya, namun sedetik kemudian langkahnya terhenti dengan wajah yang tegang dan diikuti Anye yang juga menghentikan langkahnya. "Waduh...!" Gilang menepuk keningnya dengan tangan mengepal.
"Kenapa?"
"Alamat ngamuk si Winda, kalau sampai termakan berita hoax." Ucap Gilang sedikit panik.
Anye mengerenyit mendengar ucapan Gilang. "Winda? Pacar Mas Gilang?"
Dengan cepat lelaki itu mengangguk dengan wajah yang sedikit masam.
"Yang sabar ya, Mas." Anye menepuk pundak Gilang seakan dirinya ikut prihatin dengan keadaan kakaknya itu, dan berlalu dari sisinya, meninggalkan Gilang dengan wajah masamnya.
Anye berjalan menyusuri halaman kampus yang cukup luas, menuju kerah banagunan dimana fakultasnya berada, yaitu fakultas ekonomi.
Dari sekian banyak orang, entah mengapa tatapan Anye tertuju pada sosok yang sangat mencolok. Seorang pria blasteran yang tampak tampan dengan wajah rupawan dan tubuh yang proporsional.
Anye mengingat - ngingat sosok itu, wajahnya tampak tak asing baginya. Tapi siapa?
Anye menggeleng - gelengkan kepalanya cepat sehingga rambutnya yang terkuncir ikut menyabet - nyabet leher putih mulusnya. "Masa bodo ah." Ia melanjutkan langkahnyanya kembali menuju kelasnya yang sudah tampak di indra penglihatannya.
__ADS_1
****
"Daddy...!" Seru Sora sambil berlari ketika melihat daddy-nya telah menjemput.
Zain menyambut kedatangan sang anak dengan senyum yang terkembang. Ia meraih ualuran tangan sang putri untuk ia genggam.
"Gimana sekoalahnya?" Tanya Zain sambil mengandeng tangan Sora dan menuju mobil.
"Seru, Dad. Tadi Sora sama teman belajar menggambar dan mewarnai. Terus sebelum pulang, kita semua nyanyi dulu." Ucap Sora penuh antusias menceritakan kegiatannya di sekolah untuk hari ini.
"Waaahh... Pasti seru banget tuh." Seru Zain.
Sora mengangguk cepat, mendengar seruan sang ayah.
"Daddy kog udah pulang kuliah?"
Zain yang tadinya mulai fokus pada kemudi, menoleh sejenak ke arah sang putri. "Belum terlalu aktif belajar. Mungkin minggu depan baru seperti biasanya."
"Ooo...."
"Nanti kamu bareng sama nenek yang jadi tetangga kita ya? Daddy disuruh ke kantor sebentar sama uncel Dewa." Pesannya pada anaknya.
"Nenek?"
Zain mengangguk membenarkan. "Dan mulai besok dan seterusnya, bila kamu pulang sekolah akan dijemput oleh nek Dira."
"Nek Dira?" Sora membeo.
Zain tidak membawa sang anak kerumah mereka, melainkan ia membawa anaknya kesebuah rumah yang berseberangan dengan rumah mereka.
"Assalamualaikum..." Teriak Zain dari luar pagar.
Dan tak berapa lama, muncullah Bu Dira dari dalam rumah.
"Eh, Mas Zain sama Sora udah sampai." ucapnya dengan wajah yang semringah.
"iya Bu. Maaf karena selanjutnya saya akan lebih merepotkan dengan menitipkan anak saya pada Ibu." Ucap Zain.
"Gak apa - apa nak Zain. Sekalian Sora jadi teman Ibu dirumah. Soalnya Ibu sering kesepian waktu Bapak sama Gilang sibuk diluar." Dira mengelus lembut kepala Sora. "Kamu mau 'kan sama Nenek disini?" Tanyanya pada Sora.
Tampak anak itu tengah berfikir, dan selanjutnya mengangguk. "Mau."
"Ya udah, Daddy berangkat dulu ya? Gak lama kog." Kemudian Zain mengecup kening sang anak.
Zain menyerahkan kunci cadangan rumahnya pada Dira.
"Kunci apa toh ini, Mas Zain?"
__ADS_1
"Kunci cadangan rumah saya, Bu. Untuk semua keperluan Sora, Ibu bisa ambil dirumah saya."
"Loh? Gak apa toh ini kalau Ibu masuk, kalau tuan rumahnya gak ada?" Dira meraih kunci itu dengan sedikit ragu.
Zain memberi seualas senyumnya. "Gak apa, Bu. Gak ada barang berharga juga. Lagi pula setiap sudut udah dipasang cctv dan langsung terkoneksi ke handphone saya."
Dira mengangguk mengerti. Benar juga. Tak mungkin sang empunya meninggalkan rumah begitu saja tanpa adanya pengawasan. Apa lagi Zain termasuk dari kalangan elit yang mungkin sudah bosan dengan kehidupan mewahnya.
"Baik, saya pergi dulu." Pamit Zain pada dira.
"Daddy pergi dulu ya, sayang." Zain mengecup kening anaknya.
"Dadah Daddy... Cari duit yang banyak ya..." Sora melambaikan tangannya saat Zain hendak melakukan kendaraannya.
"Hahaha... Kamu ini." Dira tertawa mendengar ucapan Sora.
Dan tak lama dari kepergian Zain, muncullah Anye dengan wajah putih yang memerah karena diantar oleh kang ojol ditengah teriknya matahari.
"Assalamualaikum, Budhe." Anye mendekati budhe-nya yang tadi hendak kerumah Zain, dan menyalim tangan budhe-nya.
"Wa allaikumussalam. Loh? Kog naik ojol? Gilang-nya kemana?"
"Mas Gilang lagi ada rapat dengan anggota BEM. Jadi Anye pulang duluan deh. Daripada nunggu kelamaan." Anye menampakkan susunan gigi putihnya. "Lagian 'kan, Anye udah ada tugas tambahan sekarang, buat beresin dan bersih - bersih rumah depan." Tunjuknya dengan menggunakan dagunya pada rumah diseberang mereka.
Dan ketika Anye hendak meneruskan ucapannya, ia baru tersadar bahwa tak hanya ada mereka berdua saja saat ini. Ternyata ada sosok anak perempuan yang terlihat menggemaskan yang pernah ia lihat saat anak itu tiba disini untuk pertama kalinya.
"Oh! Hai..." Anye menyapa anak kecil itu.
"Hai..." Sora membalas sapaan itu.
"Nama kamu siapa?" Anye mencoba mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan anak itu.
"Nama aku Sora."
"Namanya cantik, kayak orangnya." Ucap Anye mencoba menarik hati Sora.
Mendapat pujian seperti itu, sora jadi senyum - senyum malu.
"Iiihh... Tambah gemesin kalau malu - malu gitu." Anye memencet lembut hidung kecil Sora.
"Ya udah, Budhe mau kedepan, mau gantiin baju Sora dulu." Dira menyela intersksi keduanya.
"Ya udah. Nanti kalau Anye udah selesai, nanti nyusul buat beberes rumahnya Sora. Dadah..." Anye meninggalkan Dira dan Sora yang masih didepan rumah.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Beri like dan komentar kamu.