
Chapter 43
Happy reading...
🍁🍁🍁🍁
Tingnong tingnong
"Sebentar ya, Nenek lihat dulu siapa yang datang." Dira menghentikan aktivitasnya membuat susu untuk Sora, dan berjalan kearah pintu depan.
Ceklek...
Pintu terbuka. Tampak seseorang berjeket hitam hijau berdiri didepan pintu dengan menenteng sebuah bungkusan.
"Cari siapa, Mas?" Tanya Dira.
"Ini, Bu. Mau antar pesanan atas nama saudara Zain Malik." Pria itu menyodorkan bungkusan itu kehadapan Dira.
"Oh. Terima kasih, Mas." Dira meraih bungkusan itu dan berlalu untuk menghampiri Sora yang masih ada di ruang makan.
"Waahhh... Nenek bawa pesanan Daddy?" Tanya Sora dengan antusias.
"Ia. Emang Sora belum makan siang?" Dira mengeluarkan makanan dari tempatnya.
"Udah tadi di sekolah. Tapi Sora kepingin makan ayam goreng tepung. Tadi Daddy gak sempat temani Sora, udah keburu ditelefon uncel Dewa."
"Uncel Dewa?"
Sora mengangguk sambil meraih makanan kesukaannya yang disodorkan Dira. "Uncel Dewa itu kakaknya Daddy."
"Ooo..." Dira ber-O ria. "Terus, mama Sora mana?" Tanya Dira yang mulai kepo. Karena sejak kemarin ia tak melihat ada wanita muda berseliweran diwialaysh rumah ini.
"Mommy udah gak ada. Mommy Nara meninggal waktu Sora lahir, kalau mommy Zahwa meninggal ditembak teman Daddy." sora menjelaskan dengan wajah yang sendu.
Dira menutup mulutnya ketika mendengar jawaban bocah didekatnya ini. Ia tak menyangka, anak sekecil ini sudah pernah merasakan kehilangan orang yang dicintainya.
"Inalillahi. Ya ampun, sayang. Maafin Nenek ya. Nenek gak tahu." Dira mengelus kepala Sora.
Sora mengangguk, namun tetap fokusnya tetap pada makanan dihadapannya.
Tok tok tok...
Tok tok tok...
"Eh. Ada yang datang lagi?"
Tok tok tok...
Ketukan terdengar lagi. Dan kini Dira telah beranjak lagi kedepan.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu terbuka. Namun kini yang ada dihadapannya adalah sang keponakan.
"Lama benar Budhe bukain pintunya. Tangan Anye sakit tahu, ketuk pintu mulu." Anye mengerucutkan bibirnya.
"Ya kamu, ada bel kog malah pintunya yang diketuk." Tunjuk Dira pada benda kotak kecil bertombol yang ada disamping kirinya.
"Oh. Iya kah? Anye gak lihat tadi." Gadis itu cengengesan.
"Kamu ini." Dira menepuk lembut lengan ponakannya. "Udah mau beberes?"
Anye mengangguk sebagai jawaban sambil menunggu dipersilakan masuk.
"Ya udah, gih. Jangan sampai yang punya rumah balik, tapi kerajaan kamu belum siap."
Dengan langkah mantap, Anye menginjakan kakinya kedalam rumah yang terasa sangat nyaman itu. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling, memindai satu persatu yang ada disana.
Walaupun kelihatannya tampak sederhana dari luar, tapi jika sudah berada didalamnya, rumah ini tampak wah, dengan barang - barang yang berkuslitas terbaik. Terdapat beberapa lukisan bernilai tinggi di setiap sudutnya, namun tak ada satupun Anye dapati foto apapun yang berhubungan tentang penghuni rumah ini.
Kini arah tujuan pertamanya adalah dapur untuk mencari alat pembersih yang akan ia butuhkan.
Dimeja makan, ia mendapati Sora tengah menikmati makanannya dengan begitu lahap.
"Hai. Lagi makan?" Sapanya pada anak majikannya.
Mendengar suara wanita yang bukan milik Dira, Sora cepat menoleh. Ia tersenyum saat mendapati seorang gadis yang menyapanya tadi didepan. "Tante mau?"
"Tante! Sini kalau mau. Makan bareng Sora. Wuadi beli banyak kog ayamnya."
"Eh, gak usah. Tadi kakak udah makan dirumah." Tolak Anye dengan halus.
"Kakak?" Kenapa gadis ini menyebutkan dirinya kakak?
"Iya, Kakak. Sora panggilnya kak Anye aja ya? jangan panggil tante. Berasa tua banget aku tuh." Anye mengerucutkan bibirnya.
Sora tampak berfikir sejenak dan kemudian mengangguk. "Ok."
"Ya udah, kamu lanjut makannya. Kakak mau bersihin rumah dulu." Tanpa menunggu sahutan dari Sora, gadis itu menuju ketempat biasanya orang - orang menyimpan alat pembersih rumah.
Dengan cekatan Anye melakukan tugasnya dengan rapih. Sedangkan Dira menemani Sora bermain dihalaman depan yang terlihat sejuk dan asri setelah bocah itu menyelesaikan makannya.
Hingga akhirnya dibagian terakhir tugasnya, ia mendapati sebuah kamar yang terkunci.
"Ck. Kelihatannya aja nih rumah sederhana, gak taunya didalam keadaannya wah banget, sampai - sampai pintu kamar majiakan aja pakai pintu yang ada kodenya. Ckckck..." Anye berdecak.
Ia pergi meninggalkan kamar yang tak dapat ia masuki untuk dibersihkannya. Dan menyusul dimana Budhe-nya dan Sora berada.
"Udah siap?" Tanya Dira saat Anye menghampirinya dan Sora di gazebo depan rumah.
__ADS_1
"Udah. Tinggal satu kamar yang belum."
"Loh? Kenapa?" Tanya Dira.
"Kamarnya dikunci."
"Oh..." Dira mengangguk mengerti. Tak mungkinkan orang asing bisa bebas keluar masuk rumah kita? Apalagi masuk keruangan yang cukup privasi bagi kita.
"Gemesin banget sih nih anak." Anya menatap Sora yang tengah menyusun lego.
"Keingat almarhum Kinar ya, Nye." Dira menatap Sora dengan mata yang sendu.
"Iya, Budhe. Kalau Kinar masih ada, pasti dia udah beranjak remaja sekarang. Pasti Anye bakal ngalami hal yang namanya rebutan segala sesuatu." Anye jadi teringat kenangan tentang almarhum adiknya.
"Pasti dia bakal ceriwis juga kayak kamu." Dira menoleh pada Anye.
Mendengar ucapan budhe-nya, Anye tertawa miris mengingat sang adik harus meregang nyawa saat hendak membeli jajanan kesukaannya saat pulang sekolah. Kinar tertabrak kasendaraan yang melaju kencang, ketika hendak menyeberang jalan. Dan sialnya, sang penabrak lari dari tanggung jawab saat itu.
****
MALIK COMPANY
Zain memasuki lobi perusahaan dengan disambut ramah para pegawai yang barpapasan dengannya.
Walau jarang ke kantor, Zain cukup populer diakalangan para pegawai. Apa lagi dikalangan pegawai wanita. Maklum saja, selain anak dari pemilik perqusahaan dan salah satu pemegang saham disana, wajah tampan Zain-lah yang membuatnya terkenal dikalangan pegawai wanita. Udah tampan dengan tubuh yang atletis, kaya tapi tetap sederhana, ditambah dapat label hot duda juga. Gimana gak banyak pegawai yang kelepek - kelepek saat melihatnya?
Zain memasuki ruangan Dewa. Disana juga sudah hadir sang papa dan sang asisten.
"Apa ada masalah serius? Sampai aku harus datang?" Zain langsung menodong orang yang ada diruangan itu dengan pertanyaannya.
"Duduklah dulu, Zain." Sahut Ryan.
Setelah duduk, Zain memandangi satu persatu dari mereka. Tampak wajah - wajah serius yang ada dihadapannya.
Ryan menghelah nafas sebelum mulai bicara. "Begini, Zain....."
****
Eng ing eng...
Ada masalah apa ya?
Yuk ikuti terus kisahnya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan jejak kamu. beri like dan komentar kamu.
__ADS_1
Terima kasih buat yang masih setia di Little Daddy.