Little Daddy

Little Daddy
Chapter 59


__ADS_3

Chapter 59


Happy readding....


🍁🍁🍁🍁


Ceklek...


Zain memasuki kamar, dimana istrinya sudah membaringkan tubuhnya namun tak memejamkan matanya.


Zain melihat sang istri tengah berselancar dalam dunia maya tanpa menyadari kehadiran dirinya.


"Ck. Segitu fokusnya kamu sama ponsel, sampai - sampai aku masuk dan berbaring di samping kamu pun tak dihiraukan." Gerutu Zain.


Ia sedikit mengintip, apa yang sedang istrinya lihat dengan raut wajah yang begitu serius.


Anye menoleh sesaat, namun ia mulai fokus kembali pada ponselnya. "Biasanya juga aku yang kamu cuekin." Anye ikut menggerutu.


"Maaf." Zain merebut paksa ponsel Anye.


"Eh eh, Mas. Kog diambil?" Anye mencoba merebut kembali ponselnya. Namun dengan gerakan cepat, Zain berhasil menyingkirkan benda kecil itu dari tangan sang istri.


"Waktunya tidur, sayang." Zain menelusupkan tangannya kebawah kepala Anye dan membawanya dalam dekapan lelaki itu.


Mau tak mau, wajah Anye merapat tepat didada bidang suaminya. Ada debaran yang tak dapat ia tepis. Bagai ada ribuan kupu - kupu yang menari - nari didalam perutnya. Sungguh sangat menggelitik. Saat ini Anye juga dapat merasakan debaran jantung Zain yang mulai tak normal.


Lelaki itu mulai mengeratkan pelukannya saat Anye ingin memberi jarak antara keduanya. "Jangan menjauh."


"Tapi sesak, Mas." Keluh Anye.


Zain sedikit mengendurkan pelukan itu, namun tak memberi jarak yang begitu kentara antara keduanya.


Dalam pelukan Zain, otak Anye terus berfikir. Ada apa dengan suaminya ini? Kenapa hari ini Zain begitu aneh? Tapi Anye suka dengan perubahan sikap lelaki itu untuk hari ini, gak tahu untuk hari esok.


"Kamu sehat 'kan, Mas?"


"Sehat," jawab Zain singkat.


"Kamu aneh,"


"Aneh gimana?" Zain mengerutkan alisnya dan merenggangkan pelukannya hanya untuk melihat wajah istrinya.


"Ya aneh. Sedari tadi pagi kamu tuh aneh. Kayak bukan kamu yang biasanya." Anye menatap wajah tampan itu yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Sayang!" Ucap Zain lembut.

__ADS_1


Blussss... Seketika wajah Anye berubah memerah mendengar panggilan sayang itu. Dan Zain mulai menyukai rona merah yang ada pada Anye saat wanitanya sedang tersipu malu.


"Mari kita mulai kisah ini dari awal. Apa kamu mau?" Tanya Zain sambil mengelus pipi Anye yang memerah.


"Kamu yakin, Mas? Kamu belum terbebas dari kenangan masa lalu kamu. Dan mungkin itu akan selalu nyakitin aku nantinya," sahut Anye.


"Beri aku kesempatan. Mungkin kenangan masa lalu aku gak akan pernah hilang dari fikiranku. Tapi aku juga ingin mengukir kenangan indah bersama kamu, Anyelir," ucap Zain penuh dengan keseriusan.


"Kamu yakin?" Anye memastikan dan menyakinkan hatinya lagi untuk memberi Zain kesempatan mengukir kenangan bersamanya.


"Yakin," jawab Zain dengan mantap.


"Jangan memaksakan hati kamu, Mas. Hanya karena kejadian malam itu," Anye masih ragu dengan perasaan Zain padanya.


"Aku lagi gak memaksakan hati aku untuk kamu. Kamu tahu? Hati aku lagi on the way ke hati kamu." Setelah mengucapkan itu, Zain merengkuh tubuh mungil itu lebih erat lagi.


Tak tahukah suaminya ini, kalau saat ini hati Anye sedang berbunga - bunga mendengar pengakuan suaminya?


Anye ikut mengeratkan pelukannya pada tubuh Zain dan menyurukkan wajahnya pada leher Zain. Dan itu berhasil membuat sang empunya leher merinding seketika, saat merasakan hembusan nafas hangat anye, hingga mampu mengusik libidonya yang mulai merangkak naik.


"Nye!"


"Hemm?"


Anye mengerutkan keningnya, dan sedetik kemudian ia paham apa yang diinginkan suaminya. "Gak mau," tolak Anye.


"Nolak suami dosa loh," Zain mengingatkan.


"Nanti aku sakit hati lagi karena kamu salah sebut nama." Anye mengerucutkan bibirnya. Dan itu membuat Zain hampir saja mencium paksa bibir yang sedang manyun itu.


Nyeesss... Hati Zain terasa tertusuk anak panah. Begitu jahatnya ia menyakiti wanita baik hati seperti Anye, yang dengan ikhlas dan tulus merawat anak semata wayangnya.


"Maaf. Aku akan selalu berusaha gak akan menyakiti hati kamu lagi," ucap Zain dengan penuh kesungguhan.


Anye mencoba mencari kebohongan dari sorot mata tajam itu, namun sungguh begitu sulit baginya untuk menilai kesungguhan sang suami.


"Apa disini udah ada adiknya Sora?" Tanya Zain sambil mengelus perut rata Anye.


Dan sontak bulu kuduk Anye merinding mendapat sentuhan itu. "A, a dik?" Tanya Anye dengan terbata.


Zain mengangguk dan mengulas senyum menawannya. Mencoba menggaet hati wanitanya agar mau mengeluarkan keringat bersamanya malam ini.


"Ayo kita buat adik untuk Sora." Setelah mengucapkan kalimat itu, Zain langsung menyerbu Anye tanpa ampun dan tak membiarkan wanita itu menolak pesonanya malam ini.


Dan terjadi lagi...........

__ADS_1


****


"Emang ada acara apa sih, Mas?" Tanya Anye yang masih sibuk mengenakan gaun pesta sederhana namun nampak elegan ia kenakan.


"Reuni teman - teman waktu di SMA." Sahut Zain yang juga sibuk dengan kemeja pas body-nya.


"Emmm... Pasti aku bakal jumpa sama mantan - mantan kamu." Anye mengerucutkan bibirnya.


Zain terkekeh geli. "Bukan mantan, lebih tepatnya fans fanatik." Zain mengecup singkat pipi Anye, dan langsung berlalu keluar dari kamar.


Kini keduanya sudah berada dalam perjalanan setelah tadi mereka menitipkan Sora dirumah orang tua Zain. Dan memang kebetulan esok harinya adalah minggu, jadi mereka memutuskan untuk menginap sepulangnya dari acara reunian.


Zain memandangi bangunan yang didalamnya terdapat kenangannya dengan yang terkasih. Dan sayangnya, kisah cintanya dengan wanita itu tak berjalan dengan mulus dan berakhir tragis.


Ia menarik nafas perlahan dan kemudian menghembuskannya dengan pelan. Dan itu tak luput dari pengelihatan Anye.


Wanita itu mengelus lembut lengan Zain, dan tersenyum hangat kearahnya. Seolah - olah wanita itu mengerti apa yang sedang Zain rasakan.


"Kenangan kamu sama mbak zahwa gak harus kamu lupain, Mas. Tapi biarkan aku juga ikut mengukir kenangan baru dihari - hari kamu," ucapnya dengan tulus.


Zain tersenyum lembut kearah anye, sungguh ia sangat beruntung memiliki istri yang sabar dan pengertian seperti Anye, dan bisa memahami perasaannya selama ini.


Keduanya berjalan kearah dimana pesta reuni dilaksanakan. Ternyata sudah banyak temannya yang sudah tiba disana.


Saat memasuki aula, Zain disambut oleh Rosa, sahabat almarhum Zahwa.


"Zain!"


Lelaki itu menoleh kearah suara. Dan ia melihat senyum bahagia dari wanita yang lumayan dekat dengannya dan Ryo, sahabatnya ketika SMA. Dan kini rimba lelaki itu hilang entah kemana.


"Zain!"


Dan ternyata tak hanya Rosa yang menyambutnya. Ada sosok wanita lain kini tengah berjalan menghampinya dengan senyum sumringah mendapati kehadirannya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nah loh....


Para fans nya Zain udah pada nongol.


Ikuti terus ceritanya ya.


Jangan lupa like dan komentarnya.

__ADS_1


__ADS_2