
Chapter 49
Happy readding...
🍁🍁🍁🍁
"Kenapa gak dimakan sarapannya, sayang?" Anye memperhatikan anak sambung dadakannya.
"Kak Anye beneran udah jadi istrinya daddy?" Tanya Sora yanag masih belum menyentuh sarapannya.
Anye tersenyum masam dan mengangguk sambil melirik suaminya yang hanya fokus pada sarapannya.
"Beneran?" Tampak wajah berbinar Sora. sepertinya anak ini sangat senang mendengar sang daddy sudah memiliki istri.
Dan lagi - lagi Anye hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Gak akan tinggalin Sora sama Daddy seperti mommy Nara dan mommy Zahwa 'kan?"
Anye tersentak mendengarkan ucapan bocah ini. Tampak raut wajah bahagia namun bercampur dengan kesedihan dan rasa takut didalamnya.
"Kak Anye gak akan tinggalin Sora." Anye merengkuh tubuh kecil itu kedalam pelukannya. "Kak Anye akan tetap sama - sama Sora, apa pun yang terjadi." Anye melirik sinis pada pria didekatnya itu.
Ternyata pemandanagan haru itu tak luput dari pandangan Zain.
Flashback on
Tenggorokan Anye kering seketika setelah mendengar ucapan suaminya barusan. Jadi ia memutuskan keluar kamar meninggalkan sang suami dan beranjak menuju dapur.
Keadaan rumah sudah kembali seperti sedia kala, yang tersisa hanya beberapa buket bunga yang tertata indah dibeberapa sudut ruangan.
The power of money kata orang. Cukup uang yang mengatur, maka selanjutnya pekerjaan pun beres.
Anye membuka kualkas, mengambil sebotol air mineral dingin yang tersimpan disana.
Saat berbaliak, Anye terperanjat ketika ia mendapati ibu mertuanya sudah berdiri tak jauh dibelakangnya.
"Tante!"
Ayumi tersenyum lembut melihat menantu barunya itu yang sedang terkejut karena kehadirannya yang tiba -tiba. Ayumi sengaja menunggu Anye keluar dari kamar bertujuan ingin membicarakan sesuatu kepada menantunya.
Ayumi menarik kursi meja makan yang tak jauh darinya. "kemarilah Anye, Mama mau bicara sama kamu." Titahnya.
__ADS_1
Tanpa perlu dipaksa, Anye bergegas menghampiri dimana Ayumi sedang duduk. Ia tetap berdiri diahadapan mertuanya itu.
"Duduklah dulu. Nanti kamu keburu capek sebelum Mama selesai ngomong." Ayumi mencoba untuk bergurau.
Anye menurut, dan duduk dikursi sebelah sang mertua. Menanti apa yang akan dibahas oleh mertuanya.
"Anye! Bisakah kamu bertahan dengan Zain apapun yang terjadi?" Pinta wanita paruh baya itu. "Mama sangat berharap padamu, Nak. Sembuhkanlah luka dalam hatinya. Limpahilah dia dengan kasih sayang dan cintamu, begitupun untuk Sora."
Anye menunduk. "Tapi, Ma. Mas Zain tidak menginginkan pernikahan ini. Dan sebenarnya kami tidak memiliki hubungan apapun. Anye hanya bekerja dirumah ini untuk membersiahkan rumah ini. Tapi Anye malah terjebak dengan situasi rumit ini."
"Mama tahu Nak, Mama tahu. Kalau kejadian tiga hari lalu tidak ada, mungkin sampai saat ini Zain belum menikah dan Sora belum punya mommy sampai sekarang. Maaf jika Mama memanfaatkan kejadian itu untuk memaksa kalian menikah." Ayumi menarik nafas. Dapat Anye lihat kepedihan diwajah wanita didekatnya ini.
"Bertahanlah dalam pernikahan ini. Bantu Zain keluar dari kenangan masa lalunya. Kalau tidak bisa, bertahanlah demi cucu Mama. Kasihan dia, tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu semenjak ia lahir." Akhirnya air mata yang sedari tadi Ayumi tahan kini luruh juga.
Anye merengkuh sang mertua kedalam pelukannya, mencoba untuk menenangkannya.
"Anye gak bisa berjanji, tapi Anye akan berusaha yang terbaik untuk rumah tangga Anye, Ma." Dari ujung ekor matanya, Anye dapat melihat sosok suami yang tengah mencuri dengar pembicaraan mereka didekat pintu dapur yang terhubung dengan ruang keluaraga.
"Maaf jika Mama terlihat egois."
Flashback off
"Jadi, Sora boleh panggil Kak Anye, Mommy?" Sora mendongak untuk menatap Anye.
"Mommy!" Sora langsung menubruk dan memeluk Anye.
****
Saat ini keluarga kecil yang sudah lengkap itu sedang berdiri didepan sebuah gedung dimana Sora bersekolah.
Seperti biasa, banyak tatapan para wanita yang memandang kagum pada Zain. Dan itu sedikit membuat Anye merasa risih dan jengah. Dasar, kelakuan para emak zaman now. Tau aja mana yang bening - bening.
Seperti rutinitas sebelum - sebelumnya, Zain berjongkok dihadapan sang putri, memberi nasihat dan mengecup keningnya.
Anye tersenyum melihat pemandanagan itu. Ternyata dibalik sikap dingin dan kakunya, Zain adalah sosok yang penyayang dan bertanggung jawab.
"Dadah Daddy, dadah Mommy." Sora mulai berlari memasuki kelasnya.
Dan tinggallah Zain dan Anye yang betah didalam keheningan yang terjadi disepanjang jalan menuju kampus.
Mobil mulai memasuki parkiran yang lumayan luas untuk kendaraan yang mahasiswa bawa.
__ADS_1
"Tunggu." Zain menghentikan Anye yang menekan hendel pintu mobil. Tampak pria itu merogoh kantong dan mengeluarkan dompetnya. Disodorkannya sebuah kartu sakti berwarna hitam kearah istrinya. "Pakai ini untuk kebutuahan rumah sehari - hari dan kebutuhan pribadi mu."
Anye menerima kartu tersebut. meneliti dan membolak - balikan benda hitam tipis ditangannya. "Kartu doang, Mas?"
Zain menatap datar istrinya. Apakah ia menikahi wanita yang salah?
"Kalau untuk kebutuhan rumah, masih bisa dipakai. Karena bisa belanaja di supermarket atau minimarket. Kalau Anye belanja dipasar tradisional, masa bayar pakai kartu ini? Terus, kalau Anye lapar, mau makan bakso, 'kan gak mungkin bayar mamang bakso pakai kartu ini juga." Ucap Anye sambil menatap black card itu.
"Jadi?" Tanya Zain masih dengan wajah datarnya.
"Pakai uang tunai aja, Mas. Biar kalau mau beli sesuatu, gak perlu ditempat khusus." Sahut Anye.
"Ck." Zain berdecak, lalu mengeluarkan sebuah kartu debit dari dompetnya, dan menyerahkannya pada Anye lagi. "Uang tunai ambil dari kartu itu. PINnya gue chatt ke WA lo."
Anye mengembalikan black card kepada Zain. Dan menyimpan kartu debit yang diberikan Zain.
"Lo pegang dua kartu itu."
"Terus kalau dua kartu ini ada sama Anye, Mas Zain pakai apa?"
"Kartu gue banyak. Gue gak mau sampai nanti lo ngadu ke nyokap gue, kalau lo gak gue kasih nafkah." Ucap Zain acuh.
Anye memicing kearah Zain. "Anye bukan type cewek tukang ngadu ya." Ucap Anye sewot.
Zain mengangkat kedua bahunya. "Satu lagi. Jangan sampai orang - orang kampus tahu hubungan kita."
"Kenapa? Takut gak bisa ngecengin cewek kampus lagi?" Sewot Anye.
"Terserah lo mau ngomong apa. Kalau mereka pada tahu, lo harus terima resiko yang bisa aja datang dari para fans garis keras gue." Ucap Zain penuh percaya diri.
Anye mencibir melihat ke PD-an suaminya. Tapi masuk akal juga sih. Suaminya ini memang tampan dan penuh pesona. Apalagi salah satu dari pewaris Malik Company. Jadi sudah sewajarnya ia banyak dikelilingi oleh banyak wanita.
Apakah ia termaksud wanita yang beruntung bisa memiliki seorang Zain Malik? Mungkin bisa dikatakan seperti itu.
Apa gunanya bisa memiliki raganya saja, tapi tak bisa menyentuh dan memiliki hatinya?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tetap jangan lupa beri dukungan kamu buat Little Daddy ya.
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia sampai daat ini.