
Chapter 56
Happy readding....
🍁🍁🍁🍁
"Apa ini fungsi minuman berkhasiat itu, Mas?" Tanya Anye disela - sela nafasnya yang terengah.
"Heemm. Membangkitkan libido." Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Zain mulai kembali menikmati benda kenyal istrinya yang sedikit membengkak akibat ulahnya.
Ditengah sesapan itu, tangan Zain mulai ikut aktif menyusuri setiap jengkal bagian tubuh sang istri. Membawanya lebih merapat kearah tubuhnya hingga menempel pada dada bidangnya.
"Euugh..." Anye melenguh tertahan ketika Zain mulai menyusuri leher putihnya dan memberi sebuah tanda kepemilikannya disana.
Kini Zain sudah merubah posisi menjadi diatas tubuh Anye, mengungkung tubuh yang lebih mungil dibanding tubuhnya itu dan ******* habis bibir sang istri dengan penuh gai rah.
Tak sampai disitu, Zain mulai melepas satu persatu apa yang melekat pada tubuh mereka. Hingga terpampang nyata sebuah keindahan yang selama ini tersembunyi dibalik kain pelindung sang istri.
"So beautiful, Anye." Ucap Zain dengan suara serak tertahan akibat gai rah. Dan tak menunggu lama, Zain mulai bermain dengan keindahan Anye yang sudah mengeras dan menantang.
"Sssssst..." Desis Anye saat merasakan sensasi berbeda yang diberi sang suami. "Maassss..." Anye meremas rambut belakang Zain dan mulai menggeliat karena rasa geli yang timbul dari lidah Zain yang sedang memilih lembut puncak indahnya.
Si bule Turki mendongak, menghentikan kegiatan susu menyusunya. Menatap wajah sayu yang kini tengah memerah karena terbakar naf su yang mulai membara.
Dua tatapan gai rah bertemu, seolah memberi isyarat untuk melanjutkan rasa yang sedang tertunda.
Tanpa ba bi bu lagi, Zain langsung melu mat kasar bibir Anye yang sedikit terbuka. Menyusupkan lidahnya dan mengeksplor apa yang ada didalam rongga Anye.
Walaupun keduanya adalah sang amatir dalam hal hiya hiya, tapi mereka tetap menikmati apa yang sedang mereka rengkuh saat ini.
"Gue gak sanggup buat nahan lebih lama lagi, Nye." Setelah berkata seperti itu, Zain mulai memposisikan tubuh mereka untuk kegiatan inti hiya hiya mereka.
"Akkh... Sakit Masss..."
"Hem. Hanya sesaat." Zain tetap melanjutkan kegiatan bobol membobolnya.
"Uuhhh... Per la han" Ucap Anye terbata sambil menahan rasa sakit dan perih dibawahnya.
Zain sedikit memaksa masuk, ia mulai frustasi karena belum berhasil melesak ke dalam. "Susah, Nye." Keluhnya.
Zain membuka lebih lebar lagi kaki Anye untuk mempermudahnya mendapatkan akses masuk ke goa sang istri. Hingga akhirnya kesabarannya mulai setipis kulit bawang, Zain menekan lebih keras lagi. "Akhh..." pekik Anye tertahan. Dan akhirnya Zain berhasil pemirsa.
__ADS_1
Ia melihat ada cairan berwarna merah yang menempel pada pedang panjangnya saat ia mulai sedikit menariknya keluar.
"Bersiaplah, Anye." Zain mengambil ancang - ancang dan memulai aksinya untuk bermandikan keringat.
Awal terasa sakit dan perih bagi Anye. Namun lama kelamaan ia mulai bisa merasakan intinya sedikit berkedut seiring ritme yang mulai Zain naikan dengan tetap melakukannya secara perlahan.
De sah mulai terdengar dan peluh mulai bercucuran dari keduanya seiring hawa kamar yang mulai memanas.
Zain menatap wanita yang ada dalam kungkungannya saat ini. Terbib senyum samar dari bibir yang telah melu mat habis bibir wanita ini.
"Oouugh..." Zain mendongak. Merasa nik mat pada intinya. Dan lebih cepat menambah ritme gerakannya hingga wanita itu mulai kewalahan.
"Masss... Eeeemmm." Anye furstari merasakan rasa ini.
"Oouughhh..." Zain menggempur semakin cepat.
Desa han dan pekikan tertahan Anye tak terelakan lagi. Hingga tiba pada puncaknya, kedua insan yang sedang terbuai naf su itu melenguh bersamaan.
"Ah... Masss."
"Aaakkhh..." Pekik Zain tertahan. Zain merunduk dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher sang istri. "I love yuo, Wa. Jangan tinggalkan aku lagi, Zahwa Marin. Aku merindukanmu." Ucap Zain masih diceruk leher Anye.
Deg.
Hati Anye seperti teriris silet yang begitu tajam. Kenapa? Mengapa? Air mata mulai luruh dari pelupuk matanya. Ini benar - benar sakit, sakit tapi tak berdarah.
Ditengah terkeengahannya, Zain mulai menyadari ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya. Ia memberanikan diri mengangkat wajah untuk melihat wanita yang sudah memberikan rasa nik mat yang begitu luar biasa padanya barusan.
Zain melihat wajah merah dan sayu sisa - sisa has rat yang mereka lakukan bersama. Dan alangkah merasa bersalahnya ia saat mendapati wajah itu sudah dialiri air mata kesedihan yang diakibatkan olehnya.
"Nye. Gu gue..."
Anye memalingkan wajah, tak ingin melihat pria yang masih berada diatas tubuhnya.
"Maaf. Gue..."
"Anye mau ke kamar mandi, Mas. Bisa turun dari tubuh Anye?" Ucap Anye masih memalingkan wajahnya.
Tak ingin memperburuk keadaan, Zain langsung bangkit dari atas tubuh Anye dan terduduk tak jauh dari gadis yang bukan lagi perawan itu.
Zain menatap Anye yang sedikit kesulitan saat ingin bangkit dan melangkah. "Biar gue bantu." Zain bangkit dan berniat membopong Anye kekamar mandi, namun anye mengangkat sebelah tangan tanda menolak bantuan dari Zain.
__ADS_1
Anye berjalan sedikit tertatih akibat rasa perih diinti tubuhnya dengan tubuh terbalut selimut. Tapi itu tak seberapa perih dibanding rasa sakit dihatinya.
Zain mengusap dengan kasar rambutnya. Merutuki kebodohan besar yang telah ia lakukan. Kebodohan saat ia menyebut nama wanita lain saat sedang ber cinta dengan istri sahnya saat ini.
Setibanya Anye dikamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dibawah guyuran air shower yang deras. Menumpahkan air mata yang mengalir bersamaan dengan air yang mengalir dari shower. Berharap nanti rasa sakit itu akan sedikit berkurang.
Nyatanya cukup lama Anye berada dibawah guyuran air, rasa sakit itu tak berkurang sedikitpun. Anye menyudahi mandi besarnya dan memutuskan keluar walau hanya berbalut handuk hingga terlihat jelas beberapa bekas per cinta an nya dengan sang suami.
Ceklek...
Anye keluar, dan mendapati Zain dengan tubuh tanpa baju namun masih ada bokser yang melekat pada bagian bawah tubuhnya, tengah duduk di sofa sambil menatapnya yang baru keluar dari kamar mandi.
Tampak raut wajah bersalah yang tergambar disana. Namun tak Anye hiraukan, hatinya masih sakit saat ini.
Dengan sikap masa bodohnya, Anye menuju lemari dimana beberapa cadangan bajunya sudah tersimpan disana dan kembali lagi kedalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka dan membuat Anye tersentak kaget mendapati Zain masuk kedalam dan mendekat padanya.
Tatapan keduanya bertemu pada pantulan cermin dimana Anye tengah berdiri dengan mata sebabnya.
Zain berjalan mendekat sambil tertunduk. "Anye!..." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Anye meninggalkan Zain sendiri. Lebih baik ia menghindar, daripada hatinya tersakiti kembali saat mendengar ucapan suaminya.
Zain menghela nafas kasar. Dan tak lama, ia memutuskan untuk pergi mandi.
Dalam guyuran air, Zain merasakan perih di bagian pundaknya akibat cengkram Anye yang cukup kuat saat kegiatan panas mereka tadi.
Kilasan kegiatan panas itu terlintas dalam otaknya. Sungguh, rasa itu membuatnya kembali menginginkannya lagi. Tapi mungkin ia takkan mendapatkannya lagi untuk waktu dekat ini karena kebodohannya. Mungkin tak kan mendapatkannya untuk selamanya?
"****!" Umpatnya.
Ia mempercepat mandinya dan ingin cepat langsung beristirahat. Semoga besok ia bisa mendapat maaf dari sang istri yang tengah mengibarkan bendera perang padanya.
Zain keluar dari kamar mandi dan mendapati Anye tengah berbaring memunggunginya dengan mata terpejam. Entah benar tertidur, atau pura - pura tidur, untuk saat ini Zain tidak ingin mengganggu istrinya.
Dan akhirnya malam ini mereka tidur dengan saling memunggungi satu sama lain.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
😁
Jangan lupa like dan komennya