
Chapter 33
Happy reading...
🍁🍁🍁
Zahwa keluar dari pintu dapur kafe dengan membawa senampan pesanan pengunjung.
Kafe cukup ramai hari ini. Zahwa dan para rekan mulai kewalahan dalam melayani pengunjung.
"Kakak cantik!" Seru Sora sambil melambaikan tangannya saat Zahwa yang berada tak jauh darinya.
Mendengar sapaan yang cukup akrab ditelinganya, Zahwa menoleh ke sumber suara.
Tampak sosok bocah imut yang sedang dalam gendongan daddy-nya tengah melambaikan tangan dan sedang tersenyum padanya.
Dengan tak kalah manisnya, Zahwa juga menampilkan senyum indahnya dan ikut melambai kearah bocah imut itu.
Setelah selesai dengan pelanggannya, Zahwa menghampiri ayah dan anak itu dibangku pengunjung.
"Hay, Sora!" Sapa Zahwa pada bocah itu.
"Hay juga kakak cantik."
Zahwa melirik sekilas pada Zain yang duduk disamping Sora. Kemudian beralih kembali pada bocah imut ini. "Mau pesan apa, adik imut?"
"Eeuumm..." Sora tampak berfikir. "Kita mau pesan apa, Daddy? Sola 'kan udah kenyang. Udah makan tadi waktu Daddy mau ajak kemali buat jumpa mommy balunya Sola." Sora bertanya balik pada sang Daddy yang kini terlihat salah tingkah setelah mendengar ucapan putrinya.
Ukh... Dasar Sora. Kenapa anaknya ini terlalu polos sih? Kan gemes jadinya.
Zahwa hanya dapat mengulum senyumnya melihat pemandangan didepannya saat ini.
"Eeemm, kita pesan milk shake aja ya?" Ucap Zain yang berusaha menutupi sikap salah tingkahnya.
Dengan antusias Sora mengangguk setuju dengan pilihan sang Daddy.
"Udah, itu aja?" Tanya Zahwa. Kini pertanyaan ditujukan pada Zain.
"Hem." Zain berdehem dan mengangguk.
"Mau diantar kesini atau keruangan kamu?" Zahwa mencoba sedikit mengulur waktu untuk bisa lebih lama menatap wajah tampan ini.
"Disini aja, kakak cantik. Sola mau lihat hujan dari sini." Seru Sora.
Memang saat ini diluar sedang hujan dan mulai lebat - lebatnya.
"Sora suka hujan?"
"Suka suka suka." Sahut Sora girang. "Sola juga suka mandi hujan."
"Waah! Sama dong. Kakan juga suka mandi hujan. Ya udah. Kakak ambil pesanan milk shake kamu ya." Zahwa mengelus lembut pipi chubby itu.
"Oce." Sora menautkan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf O.
Dengan senyum yang mengembang, Zahwa meninggalkan ayah dan anak itu kedapur.
"Daddy!" Sora menarik ujung lengan baju Zain.
__ADS_1
"Ya?"
"Sola mau kakak cantik jadi mommy Sola, boleh?" Pintanya penuh harap.
Entah apa yang membuat sang anak sangat menyukai gadis itu. Jangankan Sora, ia saja juga sampai tak bisa bila tak memikirkan gadis itu.
Ikatan batin antara ayah dan anak ini memang kuat. Mereka tahu mana yang sama - sama mereka butuhkan sekarang.
"Boleh. Tapi kakak cantik mau enggak sama Daddy?" Zain berlagak bingung dengan meletakan jari telunjuknya didagu.
"Pasti mau." Jawab Sora cepat.
"Oh ya?" Kenapa anaknya jadi semakin ini.
Sora mengangguk mantap. "Daddy 'kan ganteng. Banyak duit lagi."
Zain menganga mendengar jawaban sang anak. "Kata siapa tuh?"
"Uncel Dewa." Jawab Sora cepat. "Kata uncel, pelempuan tuh suka laki - laki ganteng. Apalagi banyak duit. Sola juga suka Daddy yang banyak duit." Lanjut Sora dengan entengnya dan tanpa beban.
Aah... Lagi - lagi dewa berhasil mencuci otak sang anak.
Ketika sedang asyik bercerita dengan sang putri, tiba - tiba mereka dihampiri oleh seorang gadis.
"Zain!" Sapa Riska.
Ayah dan anak itu serempak menoleh.
"Kamu disini juga?" Serunya begitu riang. Ia senang bisa bertemu cowok incarannya disini. Dan tanpa rasa malu, Riska langsung duduk dihadapan ayah dan anak itu tanpa diberi izin untuk bergabung.
Melihat ketidak maluan gadis dihadapannya ini, Zain hanya memutar bola matanya malas.
"Ini keponakan kamu, Zain?" Riska mencoba meraih pipi gembul milik Sora.
Namun dengan refleksnya yang cepat, Sora langsung memundurkan kepalanya, tanda tak ingin disentuh.
Mendapat penolakan itu, Riska menggeretakan giginya. Ia sekarang benar - benar merasa tak suka mendapat penolakan dari siapapun.
Dengan mengacuhkan bocah didekatnya, kini Riska mulai mencoba menarik simpati seorang Zain.
Dan lihatlah. Dengan beraninya ia membusungkan dadanya yang berisi itu dihadapan Zain. Tampak dua bongkahan padat yang dapat mengusik jiwa kelelakian seorang pria. Karena saat ini, gadis tak tahu malu itu tengah mengenakan tank top dengan belahan rendah dan dilapisi jaket kulit yang terlihat dari barang bermerek.
Melihat pemandangan menggoda didepannya, Zain hanya melengos, mengedarkan pandangan kearah lain agar tak melihat buah segar itu.
Dikejauhan, sudah tampak Zahwa yang sedang menuju kearah meja mereka.
Alis Zahwa bertaut, melihat sosok perempuan yang sudah berada dibangku mereka.
Bukankah tadi mereka hanya datang berdua? Dan Sora bilang tadi bahwa mereka ingin jumpa mommy baru? Apakah yang dimaksud Sora adalah perempuan itu? Tapi, bukankah baru kemarin malam mereka sepakat menjalin hubungan? Apakah ia dipermainkan pemuda itu? Tidak. Zahwa harus bisa berfikir positif saat ini.
"Anak cantik. Ini pesanannya." Zahwa meletakan minuman pesanan Zain dan Sora, tanpa melihat sosok yang sedang duduk membelakanginya.
"Oh, Zahwa! Lo kerja disini?" Tanya perempuan itu.
Kini dapat Zahwa lihat dengan jelas, siapa perempuan dengan tampilan seksinya yang sedang duduk bersama pacar dan anak pacarnya ini. Sosok gadis yang pernah mencium paksa pacarnya dibelakang sekolah.
"Sayang!" Panggil Zain pada Zahwa.
__ADS_1
Namun yang menyahut bukan Zahwa, melainkan Riska. "Ya?"
Alis Zahwa dan Zain serempak terangkat sebelah. Keduanya saling pandang dengan tanda tanya yang bersarang dikepala mereka.
Waraskah gadis ini? Jelas - jelas yang ditatap dan dipanggil Zain itu adalah Zahwa, kenapa malah gadis ular ini yang menyahut? Apa sebenarnya yang ingin gadis itu tunjukan?
Zahwa hanya mengangkat kedua bahunya.
"Zahwa, sayang!" Kini Zain lebih memperjelas sebutannya. "Bawa minuman ini keruangan ku saja. Aku akan mengendong Sora. Aku gak mau malam kita bertiga diganggu oleh wanita ular ini." Zain menekankan kata 'wanita ular' dan mengalihkan pandangannya pada Riska.
Zain meraih Sora untuk digendongnya dan langsung beranjak keruangannya. Sedangkan Zahwa menunggu Zain menjauh sedikit dari mereka.
Kini pandangan kedua gadis itu bertemu, dengan Riska yang memandang tak suka penuh amarah pada Zahwa. Sedangkan Zahwa? Gadis itu malah menjulurkan lidahnya pada Riska yang kini tengah mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang merah padam menahan marah.
Dengan langkah penuh percaya dirinya, Zahwa pergi meninggalkan gadis yang disebut oleh Zain sebagai wanita ular itu.
****
Praaaang... Bunyi gelas dilempar.
"Breng sek!" Umpat Bastian. "Ternyata gadis ingusan itu sudah bertemu dengan keluarga Malik, dan sialnya gadis itu sedang menjalin hubungan dengan salah satu penerus dari keluarga itu. Pantas saja aku kesulitan mendapatkan informasi dari orang - orang ku."
Baru saja Bastian mendapat laporan dari anak buahnya tentang keberadaan Zahwa.
Dan sialnya, kini jalannya untuk tetap menguasai perusahaan besar milik kakak tirinya akan mengalami hambatan besar dengan adanya kedekatan Zahwa dengan keluarga Malik.
"Aaaaaakkhh." pekiknya penuh frustasi.
Seorang gadis belia masuk ke apartemen yang kini sudah ada Bastian berada didalamnya.
"Daddy! Daddy kenapa?" Tanya gadis itu.
"Kamu darimana saja, Riska? Aku sudah menunggumu dari tadi." Bukannya menjawab, Bastian justru kembali bertanya pada gadis itu.
"Dari kafe seberang apartemen." Jawab Riska dengan nada manjanya. "Kenapa tak memberi kabar akan datang?" Kini Riska sudah berada dalam pangkuan Bastian.
"Apa aku tak boleh menemui wanitaku kapan saja?" Alis Bastian naik sebelah.
"Uuhh... Serem banget mukanya." Dengan tangan nakalnya, Riska membelai dada bidang pria dewasa itu.
Cup. Riska mengecup singkat bibir tebal pria itu, bermaksud untuk meredam kemarahan sang sugar daddy.
Namun dengan ganasnya pria dewasa itu balas menyerang Riska dengan ciyuman dalamnya hingga nafas keduanya mulai tersengal.
"Puaskan aku, baby." Ucap Bastian yang sudah mengungkung gadis itu dibawahnya.
"Dengan senang hati, Daddy." Sahut Riska dengan suara seksinya dan sedikit mende sha.
Dengan lihainya kedua anak manusia beda generasi itu berbuat hal - hal yang melanggar norma - norma agama.
Terdengar era ngan dan de shaan diruang tamu dari keduanya, menandakan setiap kepuasan dan kenikmatan yang sedang mereka dapatkan saat ini.
Suara seorang pria dewasa yang tak pernah puas dengan satu pasangan, dan seorang gadis belia yang sudah lelah untuk menjalani hidup susah dan memilih langkah singkat untuk mendapatkan kesenangan.
Sungguh suatu perbuatan yang dapat menghancurkan iman.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...