Little Daddy

Little Daddy
Chapter 40


__ADS_3

Chapter 40


Happy reading...


🍁🍁🍁


Zain berdiri didepan sebuah bangunan berlantai satu. Disebuah kawasan permukiman disalah satu daerah yang tak terlalu jauh dari sekolah sang anak. Sebuah rumah sederhana namun cukup luas untuk ditinggali dirinya dan Sora.


Rumah dengan halaman terdapat banyak pepohonan tinggi nan rimbun serta banyak tumbuhan berbunga tersusun rapih yang menjadikan suasana disekelilingnya tampak asri dan sejuk. Rumah ini sungguh terawat walau sudah lama tak berpenghuni.


"Bagaimana, Mas Zain?" Tanya seorang agen penjualan rumah. Saat mereka sudah melihat keadaan rumah tersebut.


Tampak Zain sedang menimbang keputusan akankah ia mengambil rumah ini atau tidak. Cukup lama ia berfikir sambil memperhatikan keadaan sekitar.


"Baik. Saya ambil. Hari ini juga kita selesaikan pembayarannya." Putus Zain.


"Alhamdulillah. Akhirnya rumah ini ada yang minat." Ucap sang agen.


Kening Zain mengerenyit mendengar ucapan pria disampingnya ini. "Memang selama ini, sudah banyak yang menawar rumah ini?"


"Banyak banget malah, Mas. Tapi ya gitu. Hari ini memutuskan akan ambil ini rumah, eh... besoknya tiba - tiba batal." Sang agen menjelaskan.


"Kenapa begitu?"


"Karena calon pembeli terdahulu terkena rayuan sama agen properti yang tinggal disebelah." Sang agen menunjuk rumah yang berada tepat disebelah kanan. "Dia menawarkan sebuah rumah dengan harga yang lebih murah dari harga rumah ini."


Zain manggut - manggut mendengar penjelasan pria itu.


"Mas Zain, gak berubah fikiran 'kan?" Tanya sang agen sedikit takut jika Zain membatalkan transaksi mereka.


Padahal ia sangat membutuhkan uang dari komisi penjualan rumah ini untuk tambah - tambahan kebutuhan keluarganya. Lumayankan?


Zain tersenyum mendengar pertanyaan pria ini. "Saya sudah cocok dengan rumah ini. Suasananya bagus buat tumbuh kembang anak saya."


"Anak Mas Zain?" Pria itu terkejut.


"Ya."


"Walah. Saya fikir masih lajang. Udah punya anak toh. Padahal kelihatan masih muda benar. Hehe..." Ucap sang agen.


"Nikah muda, Pak." Zain mengedarkan pandangannya lagi. Berfikir, rumah dengan halaman seluas ini, siapa yang akan membersihkannya?


"Pak!"


"Ya, Mas."


"Apa disini ada yang bisa bekerja untuk bersih - bersih rumah?" Tanya Zain.

__ADS_1


"Bersih - bersih rumah ya?" Pria itu berfikir sebentar. "Apa mau saya carikan sekalian, Mas? Soalnya yang tukang bersihin rumah ini adalah utusan yang punya rumah."


"Kalau ada, bisa Pak." Zain menerima bantuan pria ini.


Pria itu mengangguk. "Nanti akan saya carikan. Rencananya kapan mau pindahan?"


"Mungkin hari minggu, Pak. Setelah perabot tersusun rapi. Saya dan anak saya akan tinggal disini."


"Cuma berdua?" Pria itu mengerenyit.


Zain mengangguk sebagai tanggapan.


"Istrinya Mas Zain?"


Zain tersenyum masam mendengar pertanyaan itu. "Sudah meninggal, Pak."


Pria itu lagi - lagi terkejut. "Maaf Mas, saya tidak bermaksud mengingatkan dengan almarhum. Saya turut berduka ya, Mas."


Dan lagi, Zain hanya tersenyum. Mungkin kedepannya akan lebih banyak lagi yang menanyakan hal ini kepadanya.


"Pakdhe....!"


Tiba - tiba seorang gadis di depan rumah yang berada di seberang mereka berteriak dan melambaikan tangannya pada pria yang berada disamping Zain.


Sontak keduanya menoleh kearah suara terdengar.


Zain mengangguk mengerti. Namun pandangannya jatuh pada sosok pria disamping gadis itu. "Gilang?" Gumamnya.


"Mas kenal sama anak saya?"


"Gilang anak Bapak?" Zain malah balik tanya.


"Iya. Anak tunggal saya. Kenal dimana, Mas?"


"Teman kampus. Saya seniornya Gilang." Zain menjelaskan.


Tampak Gilang menghampiri Zain dan ayahnya. "Bang Zain! Ngapain?"


"Lihat rumah." Jawab Zain singkat sambil menunjuk rumah yang akan dibelinya.


"Waaahh... Tetanggaan dong." Gilang berseru senang.


"Seneng bener kamu?" Cibir sang ayah yang dikenal dengan nama Bayu.


"Iya dong, Yah. Biar aku punya teman main di komplek ini. Masa sepanjang lorong gak ada pemudanya selain Gilang."


"Iya, ya?" Bayu mengangguk. "Untung kamu gak ikutan jadi perempuan. Bisa bahaya kalau anak ayah yang paling tampan bertransformasi menjadi waria."

__ADS_1


Mulut Gilang auto menganga mendengar omongan ayahnya. Sedangkan Zain hanya tertawa kecil mendengar kelakaran dari dua pria didekatnya ini.


Kini pandangannya terangkat dan tertuju pada sosok gadis manis yang sedang berdiri didepan gerbang rumah yang ia ketahui adalah rumah dari pak Bayu dan Gilang.


Untuk sesaat keduanya saling pandang, setelahnya perhatian Zain kembali lagi dengan obrolan dengan dua pria didekatnya.


****


"Zain!" Helen, istri Dewa tampak sumringah saat mendapati adik iparnya sudah tiba dirumah.


Dengan mengacuhkan sambutan kakak iparnya, Zain terus melangkahkan kakinya menuju kamar.


Namun bagai kehilangan urat malunya, Helen tetap menghampiri Zain dan menghadang jalannya.


"Kamu udah makan? Tadi aku masak makanan kesukaan kamu loh." Helen mencoba untuk menarik simpati adik iparnya itu.


"Sorry, tapi gue udah makan diluar." Tolak Zain dan tetap melanjutkan langkahnya.


Mendapat penolakan itu, Helen merasa tak terima. Ia semakin tertantang untuk mendapatkan perhatian hot duda itu.


Bukankah lelaki yang bersikap dingin seperti itu malah dengan mudahnya bisa menarik minat kau hawa yang suka dengan tantangan? Hal itu juga berlaku untuk seorang Helen Pramudya. Mumpung suami dan kedua mertuanya sedang ada urusan, ia harus bisa mencuri kesempatan untuk lebih dekat dengan Zain.


Saat untuk pertama kalinya Helen menginjakan kakinya di rumah keluarga Malik, ia sudah menaruh minat terhadap Zain, walaupun ia sudah berhubungan dengan kakak kandung pria itu. Apalagi untuk ukuran penampilan fisik, Zain lebih unggul dari Dewa. Meskipun tak dapat dipungkiri, Dewa juga memiliki pesona tersendiri yang dimilikinya. Definisi wanita serakah dan kufur nikmat. Sudah diberi yang halal, malah mencari yang haram. Dan seperti itulah Helen, ia berniat memiliki keduanya.


Helen menarik tangan Zain hingga langkahnya terhenti.


Mendapatkan sentuhan yang tak semestinya ia terima, wajah Zain berubah seketika menjadi lebih dingin dengan amarah yang mulai mencuat.


"Lepasin tangan lo dari tangan gue." Ucap Zain sambil melihat tangannya yang dipegang oleh Helen.


Helen mengacuhkan penolakan zain meski ia melihat perubahan dari wajah adik iparnya yang tampak tak suka dengan aksinya.


"Kamu cobain masakan aku dulu ya?" Helen mencoba menarik Zain kearah ruang makan. Namun aksinya itu tak berhasil. Tak sedikitpun Zain bergerak dari tempatnya semula.


Dan dengan sadisnya pria itu berkata "Lo tahu? Setiap perempuan yang berhubungan secara langsung dan tak langsung dengan gue dan dewa sekaligus, akan segera berhadapan dengan kematian? Dan mungkin sebentar lagi adalah giliran lo, KA KAK I PAR." Ucap Zain dengan menekankan kata 'Kakak Ipar' pada Helen.


Mendengar ucapan Zain, sontak Helen melepaskan tangan Zain yang tadi ditariknya.


Bukannya ia tak tahu tentang kisah adik iparnya ini. Percaya atau tidak, apa yang dikatakan pria ini memang benar adanya. Kedua istri Zain memang ada kaitannya dengan sang suami, Dewa.


Apakah ini sebuah kebetulan? Atau sebuah kutukan? Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih untuk yang masih setia ngikuti cerita Little Daddy.

__ADS_1


jangan lupa untuk like dan komen ya.


__ADS_2