
Chapter 60
Happy readding....
🍁🍁🍁🍁
"Zain!" Seru seorang wanita yang terlihat seksi dan cantik. Kini ia tengah berjalan menghampiri Zain dengan senyum yang merekah.
Rosa mendengus sebal mendapati kehadiran wanita itu. Sedangkan Zain hanya menampilkan wajah datarnya. Dan untuk Anye, ia hanya bisa menghela nafas. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Bagaimana tidak, suaminya ini spesies makhluk tampan dengan penuh pesona, jadi wajar saja dimana pun ia berada pasti banyak mata wanita yang tertuju padanya.
"Zain! I miss you so much." Tanpa diduga Megan langsung memeluk Zain tanpa memperdulikan dua wanita yang berada didekatnya.
"Ck. Lepasin, Meg!" Zain langsung menepis pelukan itu.
Megan yang mendapati sambutan tak ramah itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya. "Gak penah berubah." Keluhnya.
"Sa! Gue kesana dulu." Pamit Zain pada Rosa yang masih menatap tajam pada Megan.
"Oh. Ok. Bentar lagi Ryo nyampe kog," ucap Rosa.
"Tuh anak udah ada kabar?" Zain mengurungkan langkahnya.
Rosa mengangguk dan tersenyum lebar. "Ternyata dia tahun ini dia jadi TKI di Jepang." Jelas Rosa.
"TKI?" Zain terkejut mendapati berita itu.
"Iya. Ngeselin gak tuh? Kita - kita khawatir ma tuh anak, eh... Dia malah kabur ke Jepang bareng sepupunya." Rosa mengerucutkan bibirnya.
Anye dan Megan masih mengamati interaksi keduanya.
Zain mengangguk samar mendengar penjelasan dari Rosa. Pantas saja ia tak bisa menemukan keberadaan pemuda itu.
"Ini siapa?" Rosa sedikit mencondongkan siri kearah Zain dengan sedikit berbisik.
Zain menoleh kearah Anye. Dan tersenyum hangat mendapati sang istri yang tampaknya mulai ngebul kepalanya.
"Ini Anye, istri gue."
Megan begitu terkejut mendengar penjelasan itu. Namun tidak dengan Rosa, gadis itu tersenyum hangat dan mengulurkan tangannya pada Anye.
"Hai! Gue Rosa. Sahabat almarhum istri kedua Zain, Zahwa."
Kali ini Megan terperangah mendengar ucapan Rosa. Jadi Zain dan Zahwa sempat menikah? Dan Zahwa adalah istri kedua? Dan wanita asing ini adalah istri ketiga? Wah... wah... wah... Megan sungguh tak menyangka mendapati kabar ini.
"Aku Anye." Ia tersenyum hangat.
"Ya udah. Gue ke yang lain dulu." Pamit Zain sambil menunjuk kearah sekumpulan teman - temannya yang cukup dekat waktu masih sekolah.
"Ok!" Rosa membentuk jarinya seperti huruf O.
Anye dan Zain berlalu dari hadapan dua hadis yang selalu tak pernah akur, Rosa dan Megan.
"Ngapain lo masih disini?" Ketus Rosa pada wanita menyebalkan yang ada didekatnya .
__ADS_1
"Siapa juga yang mau disini lama - lama, bareng cewek udik macam lo lagi." Sahut Megan tak kalah ketus dan sewotnya.
"Ya udah sana pergi!" Usir Rosa kepada Megan yang masih betah berdiri didekatnya.
Dengan gaya ingin mencakarnya, Megan berlalu dari hadapan musuh bebuyutannya sejak zaman sekolah dulu.
"Senengnya dikelilingin banyak cewek." Cibir Anye ketika ia dan Zain menjauh dari wanita yang tengah berdebat itu.
Zain menoleh dan sedikit menunduk melihat kearah sang istri yang lebih pendek darinya.
"Suami kamu tampan. Jadi jangan heran." Jawab Zain dengan wajah jumawanya.
Mendapati ke PD an Zain, Anye hanya bisa mencibir.
Selepas kepergian Megan, Rosa menoleh dimana mantan suami almarhum sahabatnya berada. "Semoga lo bisa bahagia, Zain. Dan semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek." Gadis itu bergumam sendiri.
"Aamiin!" Seru seseorang.
Rosa terperanjat mendapati suara yang tepat berada didekat telinganya.
Rosa memutar badan, dan mendapati sosok yang telah lama menghilang tanpa kabar.
"Ryo! Ngagetin aja." Rosa menepuk lengan Ryo cukup keras.
Pemuda yang tampak lebih glowing itu hanya cengengesan, karena berhasil membuat gadis yang pernah ia sukai dulu kini tengah bersungut - sungut.
"Udah nyampe, lo?" Ketus Rosa. Namun berbeda dengan suasana hatinya saat ini yang tengah berbunga - bunga.
"Ck. Menurut lo?" Ryo merotasikan matanya. Lalu beranjak dengan santai meninggalkan gadis yang sudah menunggunya dari tadi. Ia menghampiri teman - temannya yang kini tengah berkumpul.
****
"Mas!" Anye mengguncang tubuh sang suami cukup keras. "Mas, iiisss... Bangun!" Anye mengguncang kembali ketika tak mendapati respon dari suaminya.
"Eeeemmm..." Gumam Zain dengan mata yang masih setia untuk terpejam.
"Iiikh... Au ah." Dengan hati kesal, Anye beranjak keluar kamar menuju dapur.
Entah mengapa tengah malam begini perutnya benar - benar terasa lapar dan ingin makan nasi goreng seafood.
Anye melongokan kepala kedalam ricecooker, melihat masih adakah nasi yang tersisa didalamnya.
"Yaahh... Habis." Raut kecewa kini tampak di wajah gadis yang tak lagi perawan itu.
"Adik ipar, lagi ngapain disitu?" Tanya Dewa yang tiba - tiba sudah berada didepan kulkas.
Anye meningkat kaget mendengar ada orang yang bertanya padanya dikeadaan sunyi seperti ini. "Eh! Kak Dewa. Buat kaget aja." Anye mengelus dadanya seperti habis ketahuan mencuri.
"Kamu lapar?" Tanya Dewa karena melihat penutup ricecooker yang dihadapan Anye sudah terbuka.
Anye mengangguk dengan bibir manyunnya.
"Emang masih ada nasi sama lauk?" Dewa masih setia berdiri didepan kulkas, lalu melihat isinya.
__ADS_1
Anye menggeleng lemah.
"Lauk dikulkas juga habis." Gumam Dewa saat melihat kulkas yang tak ada stok makanan. "Mau deliveri?" Tawar Dewa.
Mendapat tawaran itu, seketika wajah Anye berbinar cerah. "Boleh. Anye laper bener soalnya."
"Ok. Gue order dulu." Dewa mulai sibuk dengan ponselnya. "Emang tadi lo gak makan malam?" Tanyanya disela - sela memesan orederannya.
"Makan. Tapi tadi kebangun karena perut bener - bener keroncongan." Ucap Anye sambil melangkah kemeja makan.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesanan keduanya sudah sampai.
Anye dan Dewa duduk berdua di ruang makan dan menikmati makanan cepat saji yang tadi dipesan Dewa.
"Kalian berdua lagi ngapain?" Tanya Zain yang tiba - tiba sudah berdiri didekat mereka dengan tatapan datarnya.
Anye dan Dewa serempak menoleh kebelakang, dan mendapati Zain dengan air muka yang gelap karena menahan emosi.
"Bini lo kelaparan. Jadi gue pesan makanan diluar." Jelas Dewa sambil mengangkat makanan yang ada ditangannya. Ia tak ingin sang adik salah faham dengan dirinya dan Anye.
Zain menoleh kearah sang istri, meminta penjelasan darinya.
"Tadi Anye mau buat nasi goreng, tapi kehabisan nasi dan stok bahan lainnya. Untung ada kak Dewa yang pesanin Anye makanan." Tanpa perduli wajah keruh Zain, Anye melanjutkan makannya dengan lahap seperti orang yang tidak makan berhari - hari.
Uuukkhuuk uuukkhuuk...
Anye tersentak makanannya.
"Makanya, makan itu pelan - pelan. Gak akan ada yang minta bagian lo." Dumel Dewa, namun tetap menyodorkan gelas minuman kepada Anye.
Zain langsung duduk disebelah kanan istrinya dan menepuk perlahan punggung mungil Anye. "Kenapa gak bilang kalau kamu lapar?" Tanya Zain dengan entengnya.
Mendapati pertanyaan itu, Anye sontak melotot horor pada suaminya. "Yang tadi dibangunin, tapi gak mau bangun itu siapa?" Sewot Anye.
Zain hanya nyengir mendengar ucapan istrinya. "Maaf, sayang. Ngantuk berat."
Anye hanya mengerucutkan bibirnya, lalu sedetik berikutnya ia melanjutkan makannya dengan penuh semangat. Ada ya, orang baru bangun tidur bisa makan dengan lahap begitu?
Dewa memperhatikan Anye dengan begitu intens, dejavu.
"Jaga pandangan lo dari bini gue." Ucap Zain tak suka dengan cara Dewa menatap istrinya.
"Ck. Apaan sih. Cemburuan banget. Kemarin - kemarin aja cuek 45, sekarang jadi bucin 45 lo." Cibir Dewa dan ditanggapi Zain dengan mengedikalkan kedua bahunya.
"Eh, Zain! Lo ngerasa pernah ngalamin hal yang serupa kaya gini gak?" Tanya Dewa.
Dan seketika Zain berfikir dengan apa yang dikatakan kakak sablengnya itu. Ya benar, seperti?
Dewa dan Zain saling pandang. Lalu mengalihkan tatapan mereka pada sosok wanita yang kini tengah asik menyantap makanannya.
"Hamil!" Seru Zain dan Dewa berbarengan.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like dan komennya.